Selasa, 10 Januari 2017

Mengendalikan Tiga Penyakit Utama pada Kakao

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP

A.      Hama penggerek buah Kakao (PBK)

Hama penggerek buah kakao (Conophomorpa cramerella) atau sering disebut PBK merupakan salah satu hama yang paling sering dijumpai dalam budidaya kakao. Hama ini menyerang buah dan menyebabkan turunnya kuantitas dan kualitas hasil. Pengendalian hama PBK dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan sanitasi, pemangkasan, panen sering, pemupukan dan sarungisasi serta pengendalian secara biologi (Karmawati et al. 2010; Widodo, 2010; Sudarto et al., 2010; Anonymous, 2010). Sanitasi dilakukan pada buah terserang yang baru dipanen dengan cara menimbun buah–buah terserang tersebut ke dalam lobang tanah kemudian ditutup tanah setebal 20 cm. Hal ini dilakukan agar PBK yang ada pada buah tersebut mati. Pemangkasan dilakukan untuk mengatur kondisi lingkungan pertanaman kakao agar tidak terlalu lembab sehingga tidak mendukung perkembangan populasi PBK. Pemangkasan dilakukan terhadap tanaman kakao maupun tanaman penaung pada awal musim hujan. Pemotongan cabang tanaman kakao dilakukan terhadap cabang yang arahnya ke atas, diluar batas 3-4 m. Luka bekas potongan harus ditutupi dengan obat penutup luka. Panen sering dilakukan dengan tujuan untuk memutus siklus perkembangan hama PBK. Panen dilakukan seminggu sekali terhadap buah yang sudah masak baik masak sempurna maupun masak awal, kemudian segera dipecah atau diproses (Siswanto et al. 2012)

Setelah dilakukan pemangkasan, tanaman dipupuk, untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan PBK dengan jenis, dosis dan waktu yang tepat. Sarungisasi dilakukan untuk mencegah serangan PBK, dengan menggunakan kantong plastik yang dilobangi bagian bawahnya agar air bisa keluar dan tidak lembab sehingga tidak terjadi pembusukan. Penyarungan dilakukan pada saat buah berukuran 8-10 cm.

Pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan menggunakan semut predator, jamur Beauveria bassiana dan parasitoid telur Trichogrammatoidea spp. Peningkatan populasi semut khususnya semut hitam dapat dilakukan dengan memasang lipatan daun kelapa kering atau daun kakao kering dan koloni kutu putih (Siswanto et al. 2012).

B.       Hamahelopeltis

Untuk mengendalikan Helopletis spp. dapat dilakukan beberapa cara telah dilakukan antara lain dengan menggunakan semut hitam, Dolichoderus thoracicus (=D.bituberculatus). Semut hitam mengganggu Helopeltis spp. Keberadaan semut ini pada permukaan buah menyebabkan Helopeltis tidak bisa meletakkan telur atau mengisap buah karena diserang oleh semut-semut tersebut. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa diletakkan di atas jorket dan diolesi gula. Pengendalian hama ini dapat juga dilakukan dengan menggunakan jamur B. bassiana. Dengan penyemprotan ini Helopeltis akan mati setelah 2-5 hari (Sulistyowati et al, 2003).

Serangga ini mempunyai tipe metamorfosa sederhana, terdiri dari telur, nimfa dan imago. Telur berbentuk lonjong, berwarna putih, pada salah satu ujungnya terdapat sepasang benang yang tidak sama panjangnya. Telur diletakkan pada permukaan buah atau pucuk dengan cara diselipkan di dalam jaringan kulit buah atau pucuk dengan bagian ujung telur yang ada benangnya menyembul keluar. Stadium telur berlangsung antara 6-7 hari. Nimfa mempunyai bentuk yang sama dengan imago tetapi tidak bersayap, terdiri dari 5 instar dengan 4 kali ganti kulit. Stadium nimfa berkisar antara 10-11 hari. Imago berupa kepik dengan panjang tubuh kurang lebih 10 mm. Lama hidup serangga betina berkisar antara 10-42 hari, sedangkan jantan 8-52 hari. Seekor imago betina mampu meletakkan telur hingga 200 butir selama hidupnya.

Serangga muda (Nimfa) dan dewasa (imago) menyerang pucuk dan buah muda tanaman kakao dengan menusukkan alat mulutnya (stilet) ke jaringan tanaman kemudian mengisap cairan di dalamnya. Stilet membentuk dua saluran, yaitu saluran makanan dan saluran air liur. Ketika stilet melakukan penetrasi ke tanaman inang maka air liur akan dipompa ke bagian tersebut menyebabkan jaringan tanaman menjadi lebih basah sehingga lebih mudah untuk diisap. Pada kelenjar ludah dan midgut Helopeltis dijumpai enzim amylase, protease, dan lipase. Adanya enzim ini akan membantu merombak jaringan tanaman dan penetrasi stilet serta melawan pertahanan kimia tanaman inang

C.      Penyakit busuk buah.

Penyakit busuk buah kakao adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cendawan Phytoptora palmivora pada buah kakao. Infeksi dapat terjadi pada buah-buah yang masih pentil muda hingga buah-buah yang sudah siap petik. Penyakit ini menyebabkan kerugian yang sangat besar karena serangan langsung ditujukan pada buah yang notabene menjadi sumber penghasilan petani dari bisnis budidaya tanaman kakao.

Gejala serangan awal berupa bercak coklat pada permukaan buah, umumnya pada ujung atau pangkal buah yang lembab dan basah. Selanjutnya bercak membesar hingga menutupi semua bagian kulit buah. Saat kondisi cuaca lembab, pada permukaan bercaktersebut akan tampak miselium dan spora jamur berwarna putih. Miselium dan spora inilah yang akan menjadi alat reproduksi P. palmivora untuk melakukan penyebaran dan penularan penyakit busuk buah ke buah-buah kakao yang masih sehat.

Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan sanitasi kebun, mekanis (mengumpulkan dan membakar buah yang terserang) dan kultur teknis. Pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan tanaman kakao merupakan hal yang penting dilakukan terutama pada musim hujan (Hindayana et al. 2002).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERKEMBANGAN POPULASI HAMA TIKUS

Ichsan Kurniawan,SP, M.Si Tanaman padi ( Produsen ) akan lebih cepat habis karena jumlah tikus banyak sedangkan pemangsa tikus ( Ular ) mu...