Rabu, 20 Mei 2015

Mubarakah Susun Rencana Kerja Sukseskan Pengembangan Cabe

Menegaskan kebulatan tekad untuk tetap konsisten dengan pertanian pola budidaya cabe sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Kelompok Tani Mubarakah, Jorong Kampuang Baruah, Nagari Sungai Landia bersama penyuluh pertanian serta jajaran UPT BP4K2P Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat mulai merancang format kegiatan pengembangan cabe ke depan. 
 
Bentuk kegiatan kelompok tersebut berpegang teguh pada kaidah pertanian PHT yang telah juga dilaksanakan tahun lalu namun diarahkan pada bagaimana tercipta kemandirian kelompok berusaha tani yang sudah tentu berorientasi bisnis dengan tingkat produktivitas yang meningkat dari sebelumnya.
 
Pasca menyelesaikan pendidikan non-formal melalui sekolah lapang tahun lalu, kelompok yang berdiri penghujung tahun 2008 ini mencoba mengaplikasikan hasilnya dengan pengembangan ditunjang aneka ramuan nabati beberapa jenis tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati tambahan. Hal ini sebagai tahap lanjut dalam meminimalisir pemakaian bahan kimia berbahaya yang terdapat dalam pestisida sintetis setelah kelompok mampu meramu sendiri pupuk organik.

“Sebagai langkah selanjutnya bagi kami adalah menyiapkan amunisi tambahan berupa pestisida nabati dengan meramu dari beberapa jenis tanaman, kami berharap selain bisa meramu pupuk sendiri, kami juga menghasilkan pestisida sendiri ke depannya Jadi, di lahan ini selain tempat berproduksi, juga dilengkapi pabrik pupuk dan pestisidanya.” ungkap Junaidi- Sekretaris Kelompok yang juga bertindak sebagai Ketua Pos Informasi Pengendalian Agen Hayati (Pos IPAH) Sungai Landia.
 
(Dok. Mubarakah, Pertemuan Penyusunan Rencana Kegiatan Kelompok bersama PPL Ichsan Kurniawan,SP)
 
Tanaman-tanaman tersebut memang populer sebagai pestisida botani. Misalnya saja daun dan biji mimba. Bagian tanaman bernama ilmiah Azadirachta indica  ini mengandung bahan azadirachtin, salanin, nimbenin dan meliantriaol. Kandungan azadirachtin sendiri merujuk berbagai penelitian memiliki multi-fungsi dalam mengatasi masalah hama penyakit di lapangan. Zat ini terbukti sebagai pengendali lebih dari 200 jenis serangga dan ulat pengganggu bagi tanaman pangan dan hortikultura. Sebut saja pengganggu yang tenar seperti belalang, wereng, kumbang hingga thrips. Selain itu, zat ini juga dapat mengendalikan bakteri dan jamur penyebab penyakit busuk, karat, layu daun dan embun tepung (powdery mildew).  Potensi tanaman ini sampai bertindak sebagai antivirus. Akar tuba juga merupakan tanaman pestisida nabati yang mengandung unsur seperti rotenon yang efektif untuk mengendalikan hama.
 
Kelompok sendiri menegaskan rencana akan mengembangkan penanaman tanaman pestisida ini dari jenis lain. Kami akan usahakan lahan kami juga lengkap dengan ditanami paling kurang empat atau lima jenis lagi tanaman yang mempunyai potensi sebagai pestisida alami.
 
Hal ini mendapat apresiasi dari Ichsan Kurniawan,SP yang ikut membidani kelahiran kelompok ini 2008 silam di sela diskusi pada pertemuan kelompok Selasa siang (19/5). "Hanya berawal dari perkenalan dan pembicaraan mendalam dengan sebagian anggota yang merupakan pengurus mesjid yang berkeinginan membudidayakan cabe tanpa merusak lingkungan, alhamdulillah Ustad Junaidi Imam Sati dan kawan kawan saat ini masih konsisten bahkan pada setiap pengajian Imam pun memotivasi masa untuk ikut berbudidaya dengan memperhatikan keseimbangan ekosistem" 
 
Semoga kelompok Mubarakah dapat menjadi barometer dalam pengembangan dan budidaya cabe berbasis ramah lingkungan sesuai harapan meninmbang eksistensi yang diperlihatkan sampai hari ini. Sukses terus Bapak bapak. (IchsanK)