Selasa, 27 Desember 2011

Pertanian Organik I, Petani Kreatif dan Logika Situasi

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP
foto : ICHSAN KURNIAWAN
 
Pertanian Organik. Istilah ini terasa mulai akrab belakangan ini di telinga kita. walaupun sebagian pihak masih meragukan keeksisan pertanian organik di tengah teknologi mutakhir yang notabene justru menghasilkan beragam pupuk siap pakai yang membuat petani tak perlu lagi bersusah payah membuat pupuk.

Pertanian organik sebenarnya apa sih ? Pertanian organik secara garis besar yakni pemanfaatan sumber daya lokal yang ada di sekitar petani guna petani memenuhi kebutuhan sarana produksi. Selain itu pertanian organik sendiri merupakan konsep pertanian ramah lingkungan yang meminimalisir bahkan menghilangkan pemakaian bahan kimia sintesis yang terbukti dapat merusak tanah dan lingkungan sekitarnya.

Sekarang mari kita coba renungkan. Kita ambil contoh persawahan. Apakah dewasa ini sawah sawah yang ada tidak semakin dangkal. Kenapa bisa terjadi demikian?
Beragam pupuk sintesis yang ada misalnya saja urea dianggap sebagai biang permasalahan ini. Mari kita tinjau. Urea sendiri merupakan pupuk dengan kandungan nitrogen 46 %. Lalu apa kandungan 54 % lagi sementara petani dengan memberikan urea artinya mengharapkan kandungan nitrogen yang 46 % itu sendiri (sesuai dengan yang tertera pada karung/ kemasannya).

Yup. Ini dia logikanya. Nitrogen 46 % membutuhkan pembawa atau kemasan berupa butiran yang kuat yang dapat menjadi tempatnya berada sebelum menyerap dan menyatu dengan tanah. Ibarat tabung gas. Lebih berat kemasannya yang berupa tabung besi dari pada gas nya. demikian juga dengan urea dan nitrogen di dalamnya.

Kenapa sawah menjadi dangkal. Mari kita ambil kembali analogi dengan tabung gas tersebut. Pemberian urea yang notabene mempunyai kemasan yang seperti dianalogikan. Kemasan urea sendirilah yang padat tersebut lama-lama menumpuk dan membuat tanah sawah menjadi keras walaupun memang nitrogen menyerap dan dipakai padi dalam perkembangannya. Namun efek terhadap tanah tersebut menyebabkan petani dari tahun ke tahun menjadi merana karena tanah menjadi semakin keras.

Dalam upaya untuk mengembalikan kondisi tanah tersebutlah, harus ada pengembalian kondisi seperti sedia kal sebelum tanah tersebut terkontaminasi. Pertanian organik dengan pemberian/ pengembalian bahan-bahan organik tanah akan lambat laun mengembalikan tanah sehingga tanah menjadi gembur dan subur kembali. 
Bahasan sedrhana di atas merupakan latar belakang kenapa Pertanian Organik ada. Hal tersebut tak lain dan tak bukan didasarkan dari logika situasi saat ini.

Selain itu penggunaan pupuk organik justru membunuh mikro organisme yang tadinya sangat berperan besar dalam menunjang kesuburan tanah.

Saatnya petani berpikir lebih kreatif demi masa depan. Jangan dininabobokkan oleh sarana prasarana siap pakai yang bermasalah dalam jangka waktu panjang. Permasalahan yang dihadapi petani saat ini baik dari segi lahan, hama penyakit dan lainnya harus dikaji secara logika. Demikian juga dengan ledakan hama penyakit. InsyaAllah akan kita bahas pada sesi dua secara mendalam.

Minggu, 09 Oktober 2011

Kecamatan IV Koto Tetap Usulkan Dua Kelompok Pertanian Organik


Memulai Tahun baru 2011, kecamatan IV Koto melalui UPT BP4K2P mengusulkan dua kelompok tani (poktan) sebagai calon pengembang sayuran organik. Usulan dan rekomendasi tersebut mendapat tanggapan positif dari Dinas Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Agam.
Hal ini terlihat dari kunjungan pihak Dipertahor pekan lalu meninjau kedua poktan tersebut sembari melakukan identifikasi calon petani dan calon lokasi (CP/CL). Dalam rencananya, kedua kelompok akan diberikan bantuan penguatan modal untuk pengembangan komoditi hortikultura yang dibudidayakan secara organik. Tak lain dan tak bukan kegiatan tersebut ditujukan sebagai suatu bentuk program demi peningkatan kesejahteraan petani melalui peningkatan kualitas dan kuantitas hasil pertanian hortikultura dengan tetap menjaga keseimbangan alam secara berkesinambungan.
Dua kelompok tani usulan tersebut yakni kelompok Subarang Sepakat, Jorong Subarang, kenagarian Balingka dan Kelompok Tani Mubarakah Jorong Kampuang Baruah, Nagari Sungai Landia Kecamatan IV Koto. Kelompok tani tersebut diusulkan berdasarkan pemantauan dan hasil binaan penyuluh di lapangan. Keduanya dianggap berpotensi dalam pengembangan pertanian organik ke depan.
Seperti diungkapkan saat pertemuan bersama kelompok tani Mubarakah dan Subarang Sepakat tersebut, pihak Dipertahor (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortiukultura) Kabupaten Agam menjelaskan bahwa kegiatan yang termasuk ke dalam pengembangan kawasan sayuran dan biofarmaka program peningkatan produktivitas dan mutu produk tanaman hortikultura berkelanjutan ini mengarahkan kelompok pada sertifikasi lahan yang merupakan tahap lanjut dari penerapan sistem budidaya yang baik dan benar selama kelompok tetap konsisten menggelutinya minimal dalam waktu 4 tahun. Dan kelak akan melahirkan sertifikat organik yang merupakan pegangan yang mampu menjadi modal kelompok untuk memasarkan hasil pertanian tersebut dengan jangkauan pasar yang lebih luas dan besar. Hal ini karena animo masyarakat luas terhadap produk pertanian sehat kian hari cenderung meningkat.
“Pengembangan ini akan menuntun kelompok untuk dapat disertifikasi oleh lembaga khusus sesuai prosedur yang ada. Selama kelompok tetap teguh untuk menerapkan pola ini dengan baik dan mampu mengantongi sertifikat organik, maka peluang pasar yang lebih bagus dan menggiurkan menantinya.”
Hal ini juga disambut hangat oleh Wali Nagari Sungai Landia Refli Suhemi menimbang pertanian organik masih cukup langka diminati masyarakat tani. Beliau tetap menghimbau masyarakat tani atau kelompok tani lain yang ada di Nagari Sungai Landia mempedomani semangat dari Kelompok Tani Mubarakah dan berharap kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik serta tujuan jga esensi darinya dapat tercapai.

Catatan Lomba Nagari Berprestasi Nagari Sunga Landia



Tim Penilai Nagari Berprestasi Kabupaten Agam Rabu (23/3) menilai kenagarian Sungai Landia yang maju mewakili Kecamatan IV Koto. Diringi dengan penyuguhan air tabu panggang, walinagari menyampaikan eksposnya terkait bidang ekonomi masyarakat.
Seperti diungkapkan Refli Suhemi- walinagari Sungai Landia bahwa salah satu sektor andalan yang menjadi tumpuan harapan ekonomi masyarakat selain sektor pertanian dan peternakan bidang lain yang dianggap urgen yakni sektor perkebunan, khususnya komoditi tebu. Sektor ini dianggap mampu mengangkat ekonomi masyarakat daerah ini. Puluhan tahun silam, komoditi ini adalah komoditi yang memasyarakat dan rata-rata masyarakat nagari ini mempunyai parak tabu. Namun semakin lama semakin terjadi penurunan dengan peralihan komoditi ke komoditi lain. Kendati demikian geliat kebangkitannya kembali mulai dirasakan. Bekerjasama dengan penyuluh serta jajaran UPT BP4K2P serta pihak kecamatan IV Koto, hal ini menjadi target. Saat ini, mulai ada petani yang membuka lahan baru. Selain itu juga ada bentuk lain dari usaha terkait komoditi ini. Bahkan walinagari sendiri menstimulasi masyarakat dengan melakukan penanaman lahan tebu baru sebanyak 1000 batang.
Dengan pertambahan luas 154 Ha di tahun 2009 menjadi 159 Ha pada tahun 2010, hasil produk dari komoditi ini memberikan kontribusi dengan nilai produksi sebesar lebih dari Rp. 900 juta/tahun. Dan angka ini masih berpotensi lebih dalam memberikan kontribusi untuk perekonomian apabila terdapat optimalisasi peran dari komoditi ini.
Demi peningkatan ekonomi masyarakat nagari, dukungan pemerintah untuk sektor dan komoditi ini sangat dibutuhkan. Peralihan pengolahan hasil dari tradisionil ke mekanisasi adalah tuntutan perubahan yang diperlukan. Hal ini mengingat kebutuhan pasar yang membutuhkan gula tebu/ saka dengan kualitas serta kuantitas yang ditentukan. Dan pengolahan tradisionil cenderung belum mampu mencetak produk sesuai permintaan tersebut.
Selain itu, dari kuantitas pun jauh berbeda, kilangan mekanik bekerja lebih efektif dengan mampu menghasilkan produk olahan 3-4 kali lebih banyak dibanding tradisionil dalam sehari. Dan tak ketinggalan sarana serta prasarana seperti pembanguna jalan usaha tani juga sangat dibutuhkan menimgbang geografis dan topografis wilayah yang berbukit-bukit.
Bak gayung bersambut, hal ini mendapat tanggapan positif dari pihak tim penilai. Menurut Safriandi, salah seorang anggota tim dari dinas koperindag setelah mendengar penjelasan dari wawancara di kelompok bidang ekonomi masyarakat, dukungan tersebut akan diberikan dinas koperindag. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa dinas koperindag juga meliputi penjembatanan antara petani tebu selaku produsen dengan konsumen atau pengumpul melalui acara lelang. Hal tersebut memang telah dirasakan petani tebu yang rutin mengikuti program lelang dinas koperindag tersebut.
Meski demikian agaknya petani tebu juga berpeluang masuk pasar melalui penjualan produk hasil berupa minuman tabu panggang. “Memang warga kami telah ada yang melakoni, namun kami harapkan juga permodalan untuk usaha kecil menengah ini dibantu oleh dinas koperindag” jelas walinagari.

Dengan semangat basamo mangkonyo manjadi, bekerjasama dengan seluruh elemen, baik penyuluh dan jajaran BP4K2P, dinas pertanian, perkebunan kehutanan dan dinas koperindag peningkatan eknomi masyarakat melalu sektor-sektor ini dapat terwujud.

Jumat, 30 September 2011

TEKNIK KREATIF PEMANFAATAN KETERBATASAN LAHAN

Oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP
 
Pekarangan merupakan lahan terbuka yang terdapat di sekitar tempat tinggal. Lahan ini jika dipelihara dengan baik akan memberikan lingkungan yang menarik, nyaman dan sehat serta menimbulkan kebetahan bagi empunya rumah. Selain itu pemanfaatan yang optimal walaupun sebagai manifestasi penyaluran hobi akan mendatangkan beragam keuntungan. Untuk pemenuhan kebutuhan dapur sehari-hari, estetika, hobi bahkan untuk keuntungan materil yang komersil, penanaman pekarangan dapat dilakukan. Selain itu hal ini tak lain dan tak bukan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui kemandirian masyarakat tani dengan pemberdayaan potensi yang ada termasuk pekarangan.
Lantas, bagaimana apabila lahan pekarangan atau di sekitar rumah sempit, bahkan yang tersisa hanya halaman depan/ belakang yang minim atau juga berupa teras rumah dengan ukuran yang tak seberapa luas yang telah dicor dengan semen. Lalu, dimana dan bagaimana bisa menanam sementara dalam kondisi dalam keterbatasan seperti ini.
Ada beberapa teknik yang dapat dijadikan rujukan dalam pemanfaatan agar tetap produktif di lahan sempit. Talampot dan vertikultur adalah dua diantaranya yang dapat dipedomani. Teknik ini bisa menjadi solusi dalam masalah keterbatasan lahan.

1.   Tampot/ Talampot
Tampot/ talampot dalam aplikasinya merupakan istilah untuk penanaman ragam tanaman termasuk hortikultura yang dilakukan dalam pot. Hal ini memang sudah akrab sejak lama. Selain tanaman hias, beberapa tahun silam misalnya tabulampot (tanaman buah dalam pot) menjadi trend dengan bermacam komoditi buah seperti mangga, jambu biji, belimbing, jeruk dan lain sebagainya. Bukan hanya sekedar menyalurkan hobi atau pemenuhan kebutuhan buah di rumah, namun tak jarang hasil tabulampot juga menjadi penambah penghasilan (dijual).
Foto by Ichsan Kurniawan
Selain tanaman buah penanaman dalam pot/ polybag dengan komoditi sayuran juga kerap dilakukan. Paling tidak demi mencukupi kebutuhan dapur rumah tangga. Jenis sayuran yang dapat ditanam di pot atau polybag di antaranya bawang-bawangan, jahe, seldri, cabe, pakchoy, bayam dan lain-lain.

2.   Vertikultur
Sementara teknik kedua yakni vertikultur yang merupakan tampot/ talampot yang teknis pemposisian pot/ polybag lebih diatur dengan tingkat produktivitas lebih tinggi daripada penanaman di pot biasa untuk lahan sempit. Hal ini dikarenakan adanya pengaturan posisi dari letak pot-pot tanaman secara vertikal agar lebih dapat memuat banyak tanaman pada lahan yang terbatas.
Pada teknis vertikultur selain penggunaan pot, wadah penanaman sayuran juga bisa dilakukan dengan mensubstitusinya dengan paralon atau memanfaatkan barang-barang bekas seperti keranjang, bambu/ betung, kaleng-kaleng bekas biskuit dan bahan lainnya.
Vertikultur sendiri diambil dari bahasa Yunani. Kata “vertical” yang berarti ke atas/ bertingkat dan “culture” yakni bertanam. Jika diartikan sepenuhnya vertikultur adalah penanaman bertingkat/ ke atas. Sebenarnya teknik ini hanya sebagai bentuk pengoptimalan pengusahaan budidaya di tengah lahan yang terbatas.
Beberapa keunggulan dari penerapan teknik ini yaitu tetap bisa produktif meski lahan terbatas, dapat memenuhi kebutuhan pangan tertentu secara mandiri, merangsang kreatifitas dan inovasi serta membuat keindahan tersendiri karena vertikultur mengandung seni pengaturan posisi tanaman agar bisa maksimal. Selain itu yang tak kalah penting, membuat lingkungan yang asri yang konon katanya dapat memberikan sebuah lingkungan terapi (healing) tersendiri dalam hal psikologis.
Teknik ini sendiri sangat fleksibel dan dapat dilakukan siapa saja dengan beragam usia mulai dari anak sekolah sampai usia tua. Keaplikatifannya membuat teknik ini menjadi trend dikalangan perkotaan yang notabene memang mengalami keterbatasan lahan untuk menanam sayuran. Selain itu pemanfaatan ragam barang bekas dapat dilakukan misalnya saja paralon, bambu (betung), bekas minuman gelas dan lain-lain. Pekakas yang dapat digunakan antara lain gergaji, paku linggis dan bor.
Berikut salah satu contoh sederhana pembuatan :
1. Sediakan bambu (untuk lebih sederhana dan bermodal rendah bagi petani) berdiameter 10-15 cm sepanjang 1-2 m
2. Pembatas bagian dalam antar ruas bambu (betung) dilobangi.
3. Buat belahan pada masing-masing ujung yang diberi bahan serupa kayu sebagai tegakan bagi bambu.
5. Buat lobang berdiameter + 2 cm secara bertingkat dan berselangan.
6. Atur jarak sedemikian rupa sehingga kita bisa mendapatkan jarak tanaman yang tak terlalu rapat. Hal ini disesuaikan dengan jenis sayur yang akan kita tanam.
7. Masukkan komposisi media pertanaman.
8. Media juga dapat kita sesuaikan dengan keinginan kita (organik atau konvensional)
8.Tanaman siap ditanam sesuai dengan pilihan kita.
Ctt : kita dapat mengkreasikan jenis dan model pertanaman sesuai dengan selera dan estetika yang kita inginkan

Vertikultur memiliki beberapa varian teknis penerapan di antaranya :
-          Vertiding
-          Vertigar
-          Vertirak
-          Vertitambat
-          Verti gantung
-          Verti keranjang dan
-          Vertikultur dengan talang

Vertiding (vertikultur di dinding) yakni memanfaatkan dinding luar rumah dengan wadah pot. Berbeda sedikit, vertirak (vertikultur rak) memanfaatkan dinding luar namun dengan wadah rak. Teknik ini dapat dilakukan dengan menyusun tiga atau empat baris tanam dalam rak. Rak sendiri dapat mempergunakan bambu, talang air atau paralon sebagai wadah. Selain itu juga teknik vertikultur ini ada yang dimanfaatkan untuk tanaman merambat (vertitambat) dengan memanfaatkan pagar sebagai fasilitas rambat tanaman dengan menjejerkan pot tanaman sejajar dengan pagar.
Pengaturan posisi jarak antar tanaman ke atas bisa diatur sedemikian rupa tergantung tanaman yang ditanam dengan batas ketinggian. Pengaturan ini menjadi seni tersendiri yang akan mendatangkan kesan keindahan dalam tata letaknya.
Pemenuhan kebutuhan pupuk terhadap budidaya skala ini tidaklah sulit. Sampah organik yang berasal dari dapur kita dapat diolah dan dijadikan nutrisi bagi tanaman. Mulai dari air cucian beras, cangkang telur, sisa-sisa sayur dan buah, cucian daging/ ikan dan segala macam sampah organik. Dengan memberdayakan bahan lokal tersebut, kebutuhan akan sarana produksi juga tidaklah menjadi kendala dan menimbulkan biaya yang banyak. Sementara hasilnya untuk kebutuhan dapur juga sudah dapat dinikmati tanpa merogoh kocek.

TEKNIK KREATIF MENGENDALIKAN ANCAMAN BREKELE

Oleh : Ichsan Kurniawan,SP

Brekele. Begitulah salah satu istilah populer di kalangan petani Sumbar dan sebagian Bengkulu untuk menyebut penyakit virus kuning yang kerap membayang-bayangi pertanaman cabe mereka. Serangan penyakit ini kerap mengganggu tidur para petani cabe karena gangguan yang ditimbulkan berpotensi menggagalkan panen komoditi ini. Ditambah lagi modal pertanaman cabe yang tak sedikit cenderung membuat gamang masyarakat tani yang mengandalkan salah satu komoditi hortikultura bernilai ekonomis ini.
Beberapa tahun ini penyakit ini mendominasi pertanaman cabe di Indonesia dan menjadi masalah besar dalam hal pengendaliannya. Misalnya di tahun 2004, berdasarkan data dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat yang gencar meneliti langkah-langkah pengendalian pertanian termasuk terhadap masalah ini, provinsi ini mendapat garis merah untuk luas serangan penyakit ini yang mencapai 234,6 berganding dengan provinsi Jawa Tengah dengan angka 216,7. Sementara pada tahun 2009, menurut data tersebut, hampir 80 % dari pertanaman cabe Sumbar terserang penyakit ini, baik kategori ringan sampai berat.
Khusus untuk wilayah Sumbar beberapa tahun belakangan, virus kuning sendiri masih menjadi ancaman utama bagi pembudidayaan cabe di Sumatera Barat. Seperti baru-baru ini dirilis melalui situs resmi Provinsi Sumatera Barat, Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) itu diperkirakan akan menyerang 61 wilayah pengamatan dari 71 wilayah yang tercatat Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Sumbar. Serangan mulai kelompok ringan hingga berat akan mengancam produksi dan diperkirakan khusus kriteria berat akan menimpa Kab. Limapuluh Kota. Kendati demikian, hampir semua wilayah produsen cabe mendapat serangan virus Gemini ini
 Virus Kuning dan Vektor
Penyakit virus kuning mempunyai beberapa gejala serangan antara lain daun keriting, warna menguning, pertumbuhan terhambat dan buah pendek. Penyakit ini ditularkan melalui vektor (pembawa) tertentu. Berbagai penelitian menyatakan bahwa kutu kebul (whitefly) merupakan salah satu pembawa tersebut. Penyebaran spesies yang bernama ilmiah Bemisia tabaci ini sendiri mulai dari Nangro Aceh Darussalam, sepanjang pulau Sumatera hingga hampir seluruh pulau Jawa ditambah beberapa daerah di wilayah Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi.
Penyakit ini memiliki inang yang luas dengan kekuatan patogenik tahan terhadap pesisida. Namun bukan berarti tidak dapat dikendalikan, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan demi mengendalikan keganasannya serta efek merugikan yang ditimbulkannya.
Penularan yang dilakukan kutu kebul tersebut berproses mulai dari menghisap tanaman cabai yang sudah terkena virus kuning kemudian menghinggap pada tanaman cabai yang masih sehat dan setelah itu mengeluarkan lendir yang terapat idapan virus kuning di dalamnya. Kemudian virus tersebut menyebar didalam tubuh tanaman yang bersamaan dengan cairan yang ada didalam tubuh tanaman tersebut. Jadi virus ini yang berbentuk Gen pada tahap selanjutnya akan merusak jaringan-jaringan pada tanaman yang berupa kromosom (RNA/DNA). Pendeknya virus kuning tersebut menghentikan kerja gen kromosom / klorofil tersebut yang berupa asam amino sehingga tanaman tersebut dikuasai oleh gen virus kuning
 Langkah Pengendalian
Menurut BPTPH Sumbar, beberapa langkah dapat dilakukan untuk pengendalian virus kuning misalnya, pada fase pra tanam, petani bisa mengendalikan dengan penggunaan benih sehat dan tidak berasal dari daerah terserang, perlakuan benih, penggunaan varietas tahan, pergiliran tanaman dengan bukan Solanaceae dan cucurbitaceae serta menanam pinggiran lahan dengan bunga matahari dan jagung sebagai barrier.
Penggunaan pestisida sintetis merupakan langkah akhir yang dilakukan mengingat berbahan tidak “ramah” terhadap lingkungan. Karena sedapat mungkin beberapa tahapan pengendalian secara dini demi menjaga kelestarian alam dan keseimbangan lingkungan mesti dijalani mengingat banyak ragam masalah yang timbul akibat pemakaian pestisida berbahan kimia buatan.
Pemakaiannya dianggap melahirkan problema jangka panjang pertanian ke depan. Pestisida sintetis dituding “membabi buta” dan tak pilih-pilih dalam “membunuh”. Sebenarnya ini memang sebuah kesalah pahaman yang harus diluruskan. Kita kerap salah sangka dan menganggap semua makhluk “imut” yang terbang masuk ladang selalu dituduh sebagai hama. Sementara bisa saja mereka musuh alami yang sama sekali tak menimbulkan gangguan dan justru malah membantu mengusir, memakan dan mengurangi intensitas serangan hama yang sebenarnya.
Berbagai penelitian terus dilakukan berkaitan cara tepat dalam mengendalikannya. Berbagai lembaga penelitian termasuk Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) merilis langkah-langkah tersebut. Tak terlepas juga pelaku-pelaku lapang kemudian menerapkan atau bahkan tak tertutup kemungkinan mengujikan sendiri di lapang mulai dari penyuluh dan petani mencobakan berbagai cara dari paket PHT, organik ataupun juga ragam pestisida yang dituding mampu mengendalikannnya.
Banyak penelitian dilakukan berkaitan dengan pengendalian terhadap penyakit ini. Beberapa langkah pengendalian yang dapat dilakukan. Merujuk berbagai sumber berikut teknis yang bisa dilakukan :
a)     Langkah Kultur Teknis
  1. Penggunaan bibit yang sehat merupakan langkah awal yang dapat diambil yakni menggunakan bibit dengan riwayat bukan dari daerah/area yang bekas diserang
  2. Pemakaian kelambu / sungkup kasa halus pada persemaian sejak penyebaran benih dapat dilakukan demi memperkecil kemungkinan serangan
  3. Pemberian pupuk kandang/ kompos
  4. Pengaturan jarak tanam agar tak terlalu rapat
  5. Sanitasi lingkungan terhadap gulma dan eradikasi tanaman yang terserang dan pemusnahannya. Hal ini ditujukan untuk meminimalkan sumber infeksi dan untuk aerasi tanah
  6. Pergiliran tanaman cabai dengan tanaman yang bukan inang dari penyakit tersebut
  7. Penanaman tumpang sari dengan kubis dan tomat yang seperti dilaporkan sebagai inang alternatif/ perangkap
 b)     Langkah Fisik/ Mekanis
Penanam jagung 2-3 minggu sebelum tanam dapat dilakukan sekaligus untuk mengundang musuh alami datang. Penanaman dilakukan dengan jarak rapat (15-20 cm) pada pinggir di sekeliling kebun sebanyak 5-6 baris, selain itu penanaman bunga tahi ayam juga dapat dilakukan.
Selain itu penggunaan Pseudomonad flurescens sebanyak 20 ml/ltr air selama 6-12 jam dengan perendaman benih juga dapat dilakukan. Beberapa point lain yang dapat dilakukan yakni “imunisasi” tananaman muda dengan ekstrak bunga pukul empat dan bayam duri, untuk mengaktifkan gen pertahanan tanaman.
Selanjutnya pemasangan perangkap likat kuning +  40 lembar pada ketinggian 30 cm di atas kanopi tanaman dengan digantung atau dijepit. Tujuannya mengurangi atau “menyaring” kembali hama vektor (kutu kebul) yang lepas dari barrier jagung.
c)     Langkah Biologis
Secara biologis pelepaskan predator Menochilius sexmaculatus (1 ekor/10 m2) dapat mengendalikan gangguan hama vektor penyakit ini. Menurut Nusyirwan dari BPTP Sukarami yang menyampaikannya sebagai salah satu materi penerapan Good Agricultural Practices pada sosialisasi GAP/SOP beberapa waktu lalu bahwa predator ini akan memangsa kutu kebul baik dalam bentuk imago atau larva dengan kemampuan 200-500 larva/hari dan 10-50 imago/hari. Dan disini juga lah letak fungsi tanaman jagung yang polennya sebagai sumber makanan alternatif bagi sang predator.
 d)     Langkah Kimiawi
Foto by Keltan Sawan Liek Ranah
Secara kimia penggunaan pestisida nabati dengan mencampur +100 lembar daun sirsak atau daun tembakau ke dalam 5 liter air ditambah 15 gram sabun colek/1 liter air atau (20 gram biji atau 50 gram daun nimba + 1 grm sabun colek / 1 liter air mampu difungsikan sebagai pestisida botani. Ramuan tersebut ditumbuk halus, dicampur air, disaring, dan direndam 1 malam. Pestisida nabati lainnya antara lain bunga pukul empat, bayam duri dan eceng gondok. Seperti dilaporkan Kardinan (2002) bahwa larutan sirsak saja dengan 50-100 lembar dalam 5 liter air dan 15 gr sabun colek dan disaring sangat efektif mengendalikan hama penyerang tanaman cabai.