Jumat, 23 Maret 2012

Membuat Saos Cabai



Jika panen raya tiba dan pasokan di pasaran melimpah, biasanya harga buah cabai yang murah tersebut, sebenarnya kita dapat mengolah canai menjadi berbagai produk yang dapat menambah nilai jualnya misalnya dengan membuat saos cabai. Saos cabai banyak digunakan dalam masakan sehari-hari, dari gorengan, mie, fast food, sampai sea food. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat saos cabai adalah
-Cabai merah segar
-Tomat
-Bawang putih
-Garam
-Gula pasir
-Asam benzoate
-Tepung maizena untuk mengentalkan
Cara Pembuatan:
Pertama-tama buang biji cabai dan tomat. Buah cabai dan tomat yang sudah dibuang bijinya kemudian dimasak dalam air mendidih selama kurang lebih 15-20 menit. Setelah itu, buah cabai dan tomat dihaluskan dan dicampur dengan bahan-bahan lainnya sesuai dengan selera masing masing. Setelah dicampur bahan bahan tersebut dimasak lagi sampai kental, lalu ditambah dengan asam cuka secukupnya. Saos yang sudah jadi kemudian dimasukkan ke dalam botol yang steril dan dikukus pada 100oC selama 15 menit supaya bebas kuman.
Sumber : Wiryanta, 2002. 

Membuat Bambu Menjadi Lampu Hias

Mempunyai lampu hias di ruang tamu atau foyer tidak harus mahal. Bahkan Anda dapat membuatnya sendiri, yakni dengan memanfaatkan bambu besar atau bambu petung. Ruang Anda akan tampil eksotik bahkan romantis.
Lampu hias / wood lamps semacam ini dapat diletakan di berbagai sudut ruang, seperti ruang tamu, foyer atau di sudut taman. Selain menjadi lampu hias / Wood Lamps, lampu semcam ini dapat juga dipakai sebagai accent lighting untuk membimbing orang ke tempat tertentu, misalnya koridor restoran,
Anda mau mencoba membuat Lampu Hias ?
Bahan: Bambu, Lampu Tidur yang hemat energi 5 watt warna kuning, kabel secukupnya, cat atau pelitur, cat poxy clear, semen dan amplas.

Cara membuatnya:
1. Pilihlah bambu yang sudah kering untuk Kerajinan Lampu, yang cukup besar dengan diameter sekitar 10 cm. Potong bambu dengan panjang 1,5 m atau sesuai kebutuhan.

2. Amplas dan cat kesuluruhan bambu dengan warna coklat atau pelitur. Tunggu sampai kering.
3. Pilih salah satu ruas yang akan menjadi dudukan Lampu Hiasan. Bagian atas dari ruas itu digergaji sebagian (lihat foto). Jangan lupa ada bagian dari ruas itu yang tetap utuh untuk dudukan lampu.
4. Amplas bagian yang sudah terbuka agar serbuk bambu hilang.
5. Lubangi bagian tengah bambu untuk kabel.
6. Untuk membuat dudukan Lampu Kerajinan bambu gunakan semen. Anda dapat memafaatkan ember kecil atau bekas cat untuk cetakan. Ketinggian dudukan antara 7 s.d. 10 cm.
7. Cat kembali seluruh bambu untuk Lampu Tidur hias, dudukannya, termasuk bagian dalam ruas yang sudah terbuka. Gunakan cat poxy clear untuk membuat warna coklat dan ruas terbuka itu mengkilap.
8. Pasang Lampu Kerajinan bambu dan letakkan lampu di tempat yang sudah direncanakan.
9. Bila Anda ingin meletakkan Kerajinan Lampu bambu di ruang terbuka., tutuplah bagian Lampu Hiasan yang terbuka dengan akrilik atau kaca.
Nah, Anda sekarang sudah mempunyai lampu hias buatan sendiri. Selamat mencoba!


Link Sumber 

Olahan Labu Kuning

Labu kuning atau waluh merupakan bahan pangan yang kaya vitamin A dan C, mineral, serta karbohidrat. Daging buahnya pun mengandung antiokisidan sebagai penangkal pelbagai jenis kanker. Sayang, sejauh ini pemanfaatannya belum optimal.
         Buah labu dapat digunakan untuk pelbagai jenis makanan dan cita rasanya enak. Daunnya berfungsi sebagai sayur dan bijinya bermanfaat untuk dijadikan kuaci. Air buahnya berguna sebagai penawar racun binatang berbisa, sementara bijinya menjadi obat cacing pita.
         Untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduk Indonesia yang hidup dalam lingkungan yang majemuk, memiliki anekaragam kebudayaan dan sumber pangan spesifik, strategi pengembangan pangan perlu diarahkan pada potensi sumber daya wilayah.
         Banyak bahan pangan lokal Indonesia yang mempunyai potensi gizi dan komponen bioaktif yang baik, namun belum termanfaatkan secara optimum. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan pengetahuan masyarakat akan manfaat komoditas pangan tersebut.
         Penelitian tentang karakterisasi dan potensi pemanfaatan komoditas pangan minor masih sangat sedikit dibandingkan komoditas pangan utama, seperti padi dan kedelai. Labu kuning atau waluh (Cucurbita moschata), yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai pumpkin, termasuk dalam komoditas pangan yang pemanfaatannya masih sangat terbatas.
         Tanaman labu tumbuh merambat dengan daun yang besar dan berbulu. Pucuk daun dan daun muda dapat digunakan sebagai bahan sayuran yang lezat, bisa dimakan sebagai sayuran bersantan, oseng-oseng, atau gado-gado. Selain daun, bagian dari tanaman ini yang memiliki nilai ekonomi dan zat gizi terpenting adalah buahnya.
         Walaupun tanaman labu kuning dipercaya berasal dari Ambon (Indonesia), budi daya tanaman tersebut secara monokultur dan besar-besaran belum lazim dilakukan oleh masyarakat kita. Tingkat konsumsi labu kuning di Indonesia masih sangat rendah, kurang dari 5 kg per kapita per tahun.
         Konsumsi labu kuning mencapai puncak pada bulan puasa. Sebab, komoditas ini sangat cocok untuk diolah menjadi kolak, yang umumnya menjadi menu utama pada bulan tersebut.

Sangat Awet
         Ada lima spesies labu yang umum dikenal, yaitu Cucurbita maxima Duchenes, Cucurbita ficifolia Bouche, Cucurbita mixta, Cucurbita moschata Duchenes, dan Cucurbita pipo L. Kelima spesies cucurbita tersebut di Indonesia disebut labu kuning (waluh) karena mempunyai ciri-ciri yang hampir sama.
         Labu kuning tergolong bahan pangan minor, sehingga data statistik nasional belum tersedia. Namun, di beberapa sentra produksi, baik di Jawa, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan Kalimantan Selatan, komoditas ini telah ditanam pada luasan tidak kurang dari 300 hektar.
         Penanaman labu dapat dilakukan di tanah tegalan, pekarangan, maupun di sawah setelah panen padi, baik monokultur maupun tumpangsari.
Labu ditanam di tanah petak-petak, dengan mengatur tanaman berjajar, jarak tanam antara 1-1,5 meter. Dalam satu hektar dapat ditanami sekitar 5.000 tanaman.
         Untuk jenis lokal, buah dapat dipanen pada umur 3-4 bulan, sedangkan jenis hibrida, seperti labu kuning taiwan, pada umur 85-90 hari. Apabila ditanam secara monokultur, tiap hektar lahan dapat menghasilkan buah sekitar 50 ton per musim.
          Buah labu kuning berbentuk bulat pipih, lonjong, atau panjang dengan banyak alur (15-30 alur). Ukuran pertumbuhannya cepat sekali, mencapai 350 gram per hari.
          Buahnya besar dan warnanya bervariasi (buah muda berwarna hijau, sedangkan yang lebih tua kuning pucat). Daging buah tebalnya sekitar tiga cm dan rasanya agak manis.
          Bobot buah rata-rata 3-5 kg. Untuk labu ukuran besar, beratnya ada yang dapat mencapai 20 kg per buah. Biji labu tua dapat dikonsumsi sebagai kuaci setelah digarami dan dipanggang.
          Buah labu kuning mempunyai kulit yang sangat tebal dan keras, sehingga dapat bertindak sebagai penghalang laju respirasi, keluarnya air melalui proses penguapan, maupun masuknya udara penyebab proses oksidasi. Hal tersebutlah yang menyebabkan labu kuning relatif awet dibanding buah-buahan lainnya. Daya awet dapat mencapai enam bulan atau lebih, tergantung pada cara penyimpanannya.
          Namun, buah yang telah dibelah harus segera diolah karena akan sangat mudah rusak. Hal tersebut menjadi kendala dalam pemanfaatan labu pada skala rumah tangga sebab labu yang besar tidak dapat diolah sekaligus. Oleh karena itu, di supermarket atau pasar tradisional, labu sering dijual dalam bentuk irisan.

Olahan Segar
            Buah labu dapat digunakan sebagai sayur, sup, atau desert. Masyarakat umumnya memanfaatkan labu yang masih muda sebagai sayuran (lodeh, asem-asem, brongkos). Olahan tradisional yang paling dikenal dari labu kuning ialah kolak.
            Buah yang sudah tua digunakan sebagai campuran dalam membuat bubur Manado dan sayur bayam ala Sulawesi Selatan. Labu kuning setelah dikukus dapat dibuat aneka makanan tradisional, seperti dawet, lepet, jenang, dodol, dan lain-lain.
             Sesuai namanya, labu kuning mempunyai warna kuning atau jingga akibat kandungan karotenoidnya yang sangat tinggi. Itulah sebabnya air perasan labu kuning sering digunakan sebagai pewarna alami dalam pengolahan berbagai makanan tradisional.
           Tepung labu juga sering dicampurkan ke dalam berbagai produk olahan untuk mendapatkan warna kuning. Karotenoid dalam buah labu sebagian besar berbentuk betakaroten.
           Air perasan buah dipercaya dapat mengobati luka akibat racun binatang. Sekitar 500-800 biji segar tanpa kulit bisa digunakan sebagai obat pembasmi cacing pita pada orang dewasa. Kadang-kadang diberikan sebagai obat emulsi (diminum beserta obat pencahar), setelah dicampur dengan air. Pengobatan demikian amat berkhasiat dan aman tanpa efek sampingan.
            Biji labu dikenal sebagai Semen Cucurbitae, yang kaya minyak dan dapat digunakan sebagai obat cacing pita. Kegunaan lain labu kuning adalah untuk obat digigit serangga berbisa (daging buah dan getahnya), disentri, dan sembelit.
            Labu kuning juga dapat digunakan untuk penyembuhan radang, pengobatan ginjal, demam, dan diare. Berdasarkan pemanfaatan labu kuning secara empiris dan turun-temurun untuk berbagai pengobatan, diduga komoditas ini mempunyai berbagai komponen bioaktif yang perlu dibuktikan secara ilmiah.

Tepung Labu
            Pengolahan produk setengah jadi merupakan salah satu cara pengawetan hasil panen, terutama untuk komoditas pangan yang berkadar air tinggi, seperti umbi-umbian dan buah-buahan. Keuntungan lain dari pengolahan produk setengah jadi, sebagai bahan baku yang fleksibel untuk industri pengolahan lanjutan, aman dalam distribusi, serta hemat ruang dan biaya penyimpanan.
          Teknologi pembuatan tepung merupakan salah satu proses alternatif produk setengah jadi yang dianjurkan karena lebih tahan disimpan, mudah dicampur (dibuat komposit), dibentuk, diperkaya zat gizi, dan lebih cepat dimasak sesuai tuntutan kehidupan modern yang serba praktis. Dari segi proses, pembuatan tepung hanya membutuhkan air relatif sedikit dan ramah lingkungan dibandingkan dengan pembuatan pati.
          Pada umumnya buah-buahan dan umbi-umbian mudah mengalami pencokelatan setelah dikupas. Hal ini disebabkan oksidasi oleh udara sehingga terbentuk reaksi pencokelatan oleh pengaruh enzim yang terdapat dalam bahan pangan tersebut (browning enzymatic). Pencokelatan karena enzim merupakan reaksi antara oksigen dan suatu senyawa fenol yang dikatalisis oleh enzim polifenol oksidase.
          Untuk menghindari terbentuknya warna cokelat pada bahan pangan yang akan dibuat tepung, dapat dilakukan melalui pencegahan sesedikit mungkin kontak antara bahan yang telah dikupas dan udara. Caranya, rendam dalam air (atau larutan garam 1 persen) dan/atau menginaktifkan enzim dalam proses blansir (perlakuan uap air panas).
         Tepung labu kuning mempunyai sifat spesifik dengan aroma khas. Secara umum, tepung tersebut berpotensi sebagai pendamping terigu dan tepung beras dalam berbagai produk olahan pangan. Produk olahan dari tepung labu kuning mempunyai warna dan rasa yang spesifik, sehingga lebih disukai oleh konsumen.
         Tahapan pembuatan tepung dari buah labu kuning sebagai berikut: Labu kuning harus dipilih yang mengkal, yaitu buah sudah tua tetapi belum masak optimum. Buah dipanen kira-kira 5-10 hari lebih awal dari umur panen semestinya. Buah yang masak optimum tidak sesuai dibuat tepung karena kadar airnya tinggi, daging buahnya lembek, serta kadar patinya rendah.
         Setelah dikupas kulitnya, labu dibelah-belah dan dilakukan pemblansiran, yaitu perlakuan dengan uap panas selama 5-10 menit. Dalam skala rumah tangga, tahapan ini dapat dilakukan seperti mengukus nasi tetapi tidak perlu ditutup.
         Selanjutnya labu dirajang dengan ketebalan 0,1-0,3 cm. Hasil perajangan tersebut dinamakan sawut. Pengeringan sawut dilakukan sampai diperoleh kadar air sekitar 14 persen.
Agar lebih efisien, penepungan sawut dilakukan dalam dua tahapan, yaitu 1) penghancuran sawut untuk menghasilkan butiran kecil (lolos 20 mesh), dan 2) penggilingan/penepungan menggunakan saringan lebih halus (80 mesh). Penggilingan sawut kering menjadi tepung labu kuning dapat menggunakan mesin penepung beras. @ Prof. DR. Made Astawan, Dosen di Departemen Teknologi Pangan dan Gizi IPB
                                                                          Kompas CyberMedia – G I Z I – Jumat, 9 April 2004

Link Sumber

Masih Seputar Tomcat, The First Aid

Tomcat yang memiliki nama ilmiah Paederus riparius ini tiada hentinya menyebar teror lewat racun yang dikeluarkannya. Meskipun Paederus kumbang tidak menggigit atau menyengat, Kumbang ini perlu diwaspadai, karena mereka dapat mengeluarkan toxin bila bersentuhan dengan kulit manusia secara langsung. Bisa juga dengan sentuhan tidak langsung melalui handuk, baju atau alat lain yang tercemar oleh racun tomcat tersebut. Itu sebabnya, jika sudah terkena dermatitis otomatis seperti seprei dan uba rampe-nya, handuk maupun alat-alat yang disinyalir terkena racun tomcat harus dibersihkan. Toxin yang dihasilkan biasa disebut Pederin menyebabkan Kulit  iritasi hasil dari kontak dengan pederin racun yg menyebabkan bengkak di Hemolimf. racun ini diproduksi, bukan oleh kumbang sendiri, tetapi oleh bakteri endosimbion, mungkin beberapa spesies Pseudomonas.


Berikut "first aid" untuk serangan/ efek yang ditimbulkan tomcat :
Cukup dikibas saja. Sebab, kalau Tomcat tersebut mati saat menempel di kulit, toksinnya juga ikut keluar. Itu yang menyebabkan luka merah yang gatal dan terasa panas.

Termasuk juga saat menjemur pakaian dan handuk di halaman rumah. Masyarakat diharap bisa sadar lingkungan. Hal ini supaya pakaian dan handuk yang diletakkan di luar ruangan tidak terjangkit toksin Serangga Tomcat.

Jika sudah terlanjur terkena toksin,  menyarankan supaya masyarakat berinisiatif untuk membersihkan kulit dengan air dan sabun.
Kalau digaruk, rasa gatalnya bisa semakin menimbulkan panas

Toxin/ racun dari Tomcat dikabarkan bisa menjadi racun yang sangat berbahaya untuk kulit manusia. Dari pemaparan korban-korban sengatan Tomcat, mereka mengalami luka memerah di kulit hampir seperti herpes. Luka itu kalau digaruk bisa semakin menyebar hingga ke seluruh bagian tubuh.Bahkan, luka memerah ini bisa menjadi sangat panas sekali bila terus digaruk. Kalaupun bisa disembuhkan, toksin TOmcat ini akan meninggalkan bekas luka yang menghitam di kulit.

Link Literatur

Pestisida Nabati untuk Tomcat

Ternyata pembasiman atau pengendalia serangga Tomcat yang rame dibicarakan dapat dilakukan dengan pembuatan ramuan pestisida nabati yang biasa dilakukan dalam pertanian oragnik. berikut kutipan sebuah sumber link yang memuat teknik peramuan pestisida nabati tersebut.

Ahli hama dari Dinas Pertanian Kota Surabaya, Radix Prima, mengatakan pestisida ini mudah dibuat oleh warga karena bahan-bahannya banyak tersedia di lingkungan warga.pestisida yang dibuat dari bahan nabati. Karena menggunakan bahan dari sari tanaman, pestisida ini aman bagi manusia.
“Pestisida itu terbuat dari daun mimbau, serai, dan laos. Campuran itu dicincang hingga lembut dan dicampur air,” papar Radix, Selasa (20/3/2012).Bahan-bahan tersebut kemudian direbus, setelah mendidih didiamkan selama satu hari agar terjadi fermentasi. Bahan yang sudah terfermentasi itu diperas dan dipisahkan dari ampasnya.

Cara kerja pestisida nabati ini lebih ramah lingkungan dibanding dengan pestisida yang dijual di pasaran. Pihaknya sudah membuat sekira 15 liter pestisida nabati.“Saat diujicobakan, pestisida ini membasmi Tomcat cukup ampuh. Hanya ditetesi, tak kurang dari satu menit Tomcat langsung mati,” terangnya.
Sementara itu Kepala Bidang Pertanian dan Kehutanan Dinas Pertanian Pemkot Surabaya Alexsandre S menambahkan, selain ditetes pestisida ini dapat disemprotkan. Penyemprotan sebaiknya dilakukan saat hari gelap atau magrib. Hal itu, sesuai dengan karakter serangga berfamili staphylinidae ini.
“Serangga ini memiliki karakter selalu mendekati cahaya. Makanya, pada waktu itu mereka banyak yang berkumpul keluar dari inangnya,” jelas Alex.

Link Literatur

Tomcat, Menjadi Sahabat Pembasmi Wereng


Tomcat... Nama ini akhir-akhir ini menjadi tak asing lagi bagi masyarakat. Serangga ini mendadak terkenal. Koran, tivi dan berbagai media sontak memberitakannya. Sesungguhnya bagaimana sih si Tomcat yang katanya lebih berbahaya dari ular kobra? 


Dari berbagai sumber artikel pendek ini mudah-mudahan menjadi pencerahan tentang bagaimana sesungguhnya Tomcat.

Tomcat adalah sejenis serangga yang selain membahayakan bagi manusia, tomcat ternyata juga menjadi sahabat manusia dalam mengendalikan wereng coklat. Hanya saja karena populasi tomcat yang tidak terkendali, si tomcat ini menyerang manusia. Berikut kutipan dari sebuah sumber tentang tomcat ini.

Bogor (ANTARA News) - Pakar entomologi (ilmu tentang serangga) dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Aunu Rauf, mengatakan serangga tomcat tidak berbahaya bagi manusia.

"Serangga tomcat ini lebih banyak manfaatnya dari pada mudarotnya. Karena dia merupakan sahabat manusia dalam mengendalikan hama wereng coklat," kata Rauf saat ditemui di kediamannya di Bogor Baru Kota Bogor, Selasa.

Dia mengatakan, serangga tersebut tidak akan menyerang manusia selama dirinya tidak diganggu. Karena serangga tersebut akan mengeluarkan racunnya bila ia merasa terancam.

Lebih lanjut Aunu menjelaskan, tomcat merupakan golongan kumbang dengan nama ilmiah Paederus riparius. Dia memiliki musuh sekaligus mangsa alami dari kalangan serangga juga, yaitu hama wereng, yang sering merusak pertumbuhan padi (Orizae sativa).

Jika tomcat merasa terganggu, dia "menyerang" organisme pengganggunya itu dengan cara menusukkan sejenis nozzle tajam ke kulit penyerang dan mengeluarkan eksudat, venerin, yang dapat melumpuhkan. Kehadiran eksudat itu di dalam tubuh manusialah yang kemudian menimbulkan efek "luka bakar" yang menyengat.

Tomcat ini sangat tertarik pada cahaya di malam hari. Diperkirakan, cahaya lampu apartemen tersebutlah yang menarik kedatangan tomcat ke pemukiman warga.

Serangga yang berukuran sekitar satu centimeter ini, memiliki sayap dan warna tubuh oranye kecoklatan.
"Warna oranye kecoklatan ini adalah warna peringatan bahwa serangga ini memiliki alat beladiri yang efeknya serupa racun," katanya.

Menurut dia sudah menjadi hal rutin setiap setahun sekali tomcat ini mendatangi pemukiman karena pola hidupnya yang pada malam aktif bergerak mencari mangsa ataupun mencari pasangan.

"Karena saat ini berkaitan dengan berakhirnya musim hujan ditambah pula musim panen jadi populasinya menjadi meningkat," kata Rauf.

Untuk menghindari serangan Tomcat, lanjut Aunu, masyarakat harus menghindari kontak fisik dengan serangga tersebut.

"Kalau terkena racunnya segeralah mencucinya dengan sabun dan kalau perlu ke dokter untuk meminta resep obat yang pas untuk menangkal racunnya," katanya.

Dia menambahkan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan serangan tomcat tersebut. Karena selama ini hama asli Indonesia tersebut juga ada di sejumlah negara, seperti Malaysia. Tetapi tidak pernah menyerang manusia.

Untuk menghindari tomcat masuk rumah dengan menutup jedela dan mengurangi pencahayaan di rumah agar tomcat tidak tertarik masuk rumah.


Link Bahan Sumber 

Selasa, 06 Maret 2012

Bonsai : Seniyang Tak Pernah Mati

Tidaklah berlebihan kiranya jika saya menyebutnya demikian, karena saya yakin…anda sebagai penggemar tentulah akan merasakan hal yang sama. Saya disini tidak akan menyampaikan darimana bonsai itu berasal, karena pada dasarnya tidak ada satupun literatur yang menyebutkan secara pasti darimana sebetulnya bonsai itu berasal. Banyak sekali Negara negara yang mengaku sebagai yang pertama menemukan bonsai, bahkan yang terakhir kali saya baca…taman gantung babillonia juga meng-klaim hal itu.
Buat saya sendiri hal itu tidaklah perlu karena untuk apa diperdebatkan, betul kan ? yang penting sekarang kita berbuat dan menghasilkan sebuah bonsai yang ber-estetika tinggi dan mempunyai nilai yang luar biasa…itu saja.

Bonsai menurut saya adalah sebuah pohon yang mempunyai sebuah arti seni yang tidak bisa di utarakan pengertiannya, karena pembentukan sebuah bonsai oleh  ” si empunya ” sudah di training menurut apa yang terkandung di dalam fikirannya. Kita sendiri tidak bisa mencampuri khasanah seseorang dalam membentuk sebuah bonsai terkecuali jika memang menyimpang dari aturan aturan yang terdapat di Alam. Apa saja sih sebetulnya aturan aturan yang murni muncul dari alam ? walau saya masih newbie, tapi akan saya coba jelaskan walau nantinya mungkin ada salah salah dikit, mohon dikoreksi.

Makna Bentuk Tajuk Segi Tiga
Sebuah pohon yang terdapat di alam tentulah telah mengalami proses ” OPSPEK ALAM ” dimana ujian itu terdapat atau dilakuakn oleh manusia atau alam sendiri, semisal angin ribut, hujan badai, Petir, bahkan kampak dan gergaji yang manusia bawa. Namun alam tetaplah alam yang mempunyai aturannya sendiri, ini terlihat dari bentuk tajuk pohon yang selalu mempunyai bentuk SEGITIGA. Ya…selalu mengacu kepada bentuk tersebut, bisakah kita bayangkan jika bentuk tajuk pohon di dunia ini berbentuk kotak atau persegi panjang…? saya yakin,,,tanah yang ada di dunia ini tidak akan pernah mendapat sorotan matahari sejak dulu kala, karena tentulah antara tajuk satu pohon dengan pohon lainnya akan saling bertautan dan menghalangi sinar matahari tembus ke tanah. Selain dari hal tersebut, TUHAN tentunya sudah mempunyai kebijaksanaan lain dengan membentuk pohon seperti itu. Kaitan segi tiga tersebut adalah Tuhan, Manusia dan Alam.

Nah jadi sudah jelas bukan, bahwa aturan segitiga itu akan selalu harus ada dalam setiap tanaman bonsai. Dan ini adalah aturan baku yang harus diikuti oleh para pebonsai pebonsai dimanapun dia berada.
Jenis Tanaman yang bisa di bonsai adalah tanaman keras yang bisa berumur puluhan hingga ratusan tahun, namun tentulah kita sendiri tidak bisa memungkiri bahwa banyak juga para penggemar bonsai lainnya yang memang mungkin belum mengerti arti dasar sebuah bonsai akan menyamaratakan persepsi bahwa semua tanaman bisa dibuat bonsai. Contoh konkret yang bisa saya utarakan disini adalah tetangga saya yang mencoba membuat bonsai dari pohon pisang, saya sudah mengutarakan bahwasannya idenya tersebut tidaklah salah namun kurang pas kiranya jika tanaman pisang tersebut dibuat bonsai.
Pohon pisang itu adalah pohon yang berumur pendek, jika pohon pisang dijadikan bonsai tentulah tidak akan bisa dinikmati lama…paling hanya dalam beberapa bulan saja. Namun apa dikata…saya sendiri tidak bisa menyalahkan dia, karena menurut saya itu sah sah saja dia lakukan sebab ilmu tentang bonsai yang dia miliki tentulah sangat minim sekali. Namun dengan semangat saya yang tinggi, saya sekarang berhasil meraihnya…hingga akhirnya dia sendiri kini memiliki bonsai yang semestinya. Hingga kini bonsai tetangga saya tersebut masih ada dan di urus setiap harinya, walaupun bentuk yang ada masih semrawut…namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus melakukan perubahan yang dalam pelaksanaannya meminta pendapat saya.  Hingga akhirnya sempat terucap kata dari mulutnya ” Bonsai itu adalah seni yang tak pernah mati “.

Sumber : http://blogbonsai.wordpress.com/tag/tanaman-bonsai/

Cara Perbanyakan Adenium

Ada berbagai cara membiakkan Adenium. Jaman dahulu kita tentu sudah akrab dengan tanaman Kamboja Jepang. Sebenarnya kamboja Jepang itu adalah sama dengan tanaman adenium. Jenis yang sudah tersebar luas ini tidak bisa berbiji karena bunganya tidak bisa menghasilkan biji sehingga perkembangbiakannya hanya dengan cara vegetatif.

Kemudian muncullah jenis-jenis baru yang datang dari pengembang dari Thailand ataupun Taiwan . Jenis baru ini tentu adalah hasil silangan dari berbagai macam jenis adenium. Jenis-jenis baru ini-pun diberi nama sesuai keinginan penyilang yang tentunya didasarkan pada ciri-ciri tertentu.

a. biji
Perkembangbiakan dari biji merupakan cara untuk mendapatkan jenis-jenis adenium baru. Adenium dari biji menunjukkan bonggol yang membesar, tidak seperti perbanyakan cara vegetatif.


b.sambung

Cara yang paling banyak dipakai untuk memperbanyak adenium hibrida adalah dengan cara sambung/grafting. Batang bawah berasal dari biji yang bonggolnya bagus dengan batang atas dari jenis hibrida yang dikehendaki. Setelah beberapa waktu, bekas sambungan akan menghilang dan jadilah tanaman baru yang bagus.

Batang bawah biasa dipilih yang berumur 9-12 bulan, namun batang bawah yang lebih besar juga bisa dipakai dengan menyambung di setiap cabangnya. Kandungan energi di bonggol akan memberi pertumbuhan yang baik dan sehat bagi batang atas sehingga cara sambung ini mempunyai tingkat kesuksesan tinggi.

Sambungan model v adalah yang paling sering dipakai karena memiliki tingkat keberhasilan yang paling tinggi, meski bisa juga dilakukan dengan model rata. Panduan menyambung adenium secara step by step dapat dilihat di halaman tips & trik.

Dibutuhkan waktu 10 sampai 30 hari agar sambungan menyatu. Jangan lupa melepas tali sambungan agar tidak menganggu penyerapan makanan ke batang atas. Setelah beberapa saat, cabang baru dapat muncul dari batang bawah, cabang ini sebaiknya dipangkas agar tidak mengganggu.


c. stek

Cara ini sangat sering digunakan karena kemudahannya. Namun tingkat keberhasilan tumbuhnya kecil karena mudahnya terjadi pembusukan. Dengan cara ini sulit didapat bonggol yang bagus, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyamai besar bonggol adenium yang berasal dari biji. Dahulu cara ini yang biasa dilakukan untuk memperbanyak kamboja jepang (adenium varietas “ Singapore ”) yang notabene mandul. Cara ini masih dilakukan untuk varietas-varietas yang murah. Namun untuk jenis hibrida sepertinya cara ini hanya dilakukan saat terpaksa saja, yaitu dimana tidak ada batang bawah yang bagus padahal ada batang atas yang terlanjur dipotong.

Cara-nya sederhana saja, potongan batang yang akan di-stek dipangkas daunnya. Setelah itu oleskan zat perangsang akar pada bekas potongan. Setelah satu malam diangin-anginkan baru ditancapkan pada media tanam. Biarkan media sedikit lembab, tidak basah, tidak pula kering. Setelah beberapa lama akar akan muncul diikuti dengan tumbuhnya tunas.



d. cangkok

Mencangkok dilakukan untuk mengurangi kegagalan yang biasa terjadi dengan cara stek. Dengan mencangkok, akar akan tumbuh lebih dulu baru ditanam, sehingga tanaman dapat langsung menyerap unsur hara dari tanah. Namun diperlukan tenaga ekstra untuk melakukan pencangkokan, sehingga cara ini jarang dipakai.

Pertamakali harus dipilih batang yang sudah cukup tua, ditandai dengan batang yang berwarna coklat, bukan hijau. Dipilih batang yang tua karena batang yang muda sangat rentan patah dan sukar untuk dikupas kulitnya secara benar. Hal ini terjadi karena batangnya yang masih lunak dan sulit dicari letak kambiumnya sehingga pengupasan kulit bisa tanpa sengaja terlalu dalam.

Cara mencangkok seperti mencangkok tanaman berkambium pada umumnya. Kulit dikupas melingkar batang sampai terlihat kambiumnya, kambium tersebut lalu dihilangkan dengan cara dikerok sampai kambiumnya tidak bersisa. Kemudian bekas kupasan itu ditutup dengan media tanam. Media tersebut harus selalu lembab untuk memastikan akar akan tumbuh. Setelah 2 bulan maka akan tumbuh akar yang cukup sehingga cangkokan siap dipindah menjadi tanaman tersendiri.

Link Sumber