Senin, 27 Juni 2016

Permentan Nomor 82 Tahun 2013 tentang Pedoman Pembinaan Poktan dan Gapoktan

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 82 Tahun 2013 tentang Pedoman Pembinaan Kelompoktani dan Gabungan Kelompok Tani merupakan revisi dari Permentan Nomor 273 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani. Materi dari Permentan Nomor 82 Tahun 2013 meliputi tiga pokok, yaitu: Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompoktani; Pedoman Penyusunan Rencana Definitif Kelompoktani (RDK) dan Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompoktani (RDKK); dan Pedoman Sistem Kerja Latihan dan Kunjungan.

Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompoktani
Pendekatan kelompok dalam penyuluhan dimaksudkan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan penyuluhan. Pendekatan kelompok juga dimaksudkan untuk mendorong penumbuhan kelembagaan petani (kelompoktani, gabungan kelompoktani). Hal ini dilakukan karena masih banyaknya jumlah petani yang belum bergabung dalam kelompoktani (poktan), terbatasnya jumlah tenaga penyuluh pertanian sebagai fasilitator, serta terbatasnya pembiayaan dalam pembinaan bagi poktan dan gabungan kelompoktani (gapoktan).

Pembinaan kelembagaan petani perlu dilakukan secara berkesinambungan, diarahkan pada perubahan pola pikir petani dalam menerapkan sistem agribisnis. Pembinaan kelembagaan petani juga diarahkan untuk menumbuhkembangkan poktan dan gapoktan dalam menjalankan fungsinya, serta meningkatkan kapasitas poktan dan gapoktan melalui pengembangan kerjasama dalam bentuk jejaring dan kemitraan.
Kondisi yang berkembang saat ini masih banyak gapoktan yang belum memiliki kekuatan hukum sehingga mempunyai posisi tawar yang rendah. Hal ini menyebabkan belum optimalnya pelaksanaan kemitraan usahatani. Untuk itu, bagi gapoktan yang berhasil dalam mengembangkan usahanya berpeluang untuk ditingkatkan kemampuannya membentuk kelembagaan ekonomi petani. Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompoktani diatur pada Lampiran I Peraturan Menteri Pertanian Nomor 82 Tahun 2013.

Pedoman Penyusunan Rencana Definitif Kelompoktani (RDK) dan Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompoktani (RDKK)
Petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian, perlu memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan sasaran produksi dan produktivitas target pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan. Instrumen yang digunakan dalam menyusun perencanaan sasaran tersebut, dilakukan melalui penyusunan Rencana Definitif Kelompok (RDK) dan Rencana Definitif kebutuhan Kelompok (RDKK).
RDK merupakan rencana kerja usahatani dari kelompoktani (poktan) untuk satu periode 1 (satu) tahun berisi rincian kegiatan tentang: sumber daya dan potensi wilayah, sasaran produktivitas, pengorganisasian dan pembagian kerja serta kesepakatan bersama dalam pengelolaan usahatani. RDK dijabarkan lebih lanjut menjadi RDKK.
RDKK merupakan alat perumusan untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi dan alat mesin pertanian, baik yang berdasarkan kredit/permodalan usahatani bagi anggota poktan yang memerlukan maupun dari swadana petani.
Penyusunan RDK/RDKK merupakan kegiatan strategis yang harus dilaksanakan secara serentak dan tepat waktu, sehingga diperlukan suatu gerakan untuk mendorong poktan menyusun RDK/RDKK dengan benar dan sesuai dengan kebutuhan petani. Mengingat kemampuan petani dalam penyusunan RDK/RDKK masih terbatas, maka penyuluh pertanian perlu mendampingi dan membimbing poktan.
Pedoman Sistem Kerja Latihan dan Kunjungan.
Pendekatan pembangunan dilakukan dengan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sebagai pelaku utama pembangunan pertanian, yaitu petani, pekebun, dan peternak, beserta keluarga intinya. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia tersebut diupayakan antara lain melalui penyuluhan pertanian.
Salah satu pendekatan dalam penyuluhan pertanian adalah dengan menggunakan Sistem Kerja “Latihan dan Kunjungan” (LAKU). Sistem Kerja LAKU yaitu pendekatan penyuluhan yang memadukan antara pelatihan bagi penyuluh sebagai upaya peningkatan kemampuan penyuluh dalam melaksanakan tugasnya, yang ditindaklanjuti dengan kunjungan kepada petani/kelompoktani (poktan) yang dilakukan secara terjadwal. Sistem kerja ini didukung dengan supervisi teknis dari penyuluh senior secara terjadwal dan ketersediaan informasi teknologi sebagai materi kunjungan. Sistem tersebut sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan petani, sehingga pada tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras.

Beberapa aspek positif Sistem Kerja LAKU diantaranya yaitu 1) penyuluh pertanian memiliki rencana kerja dalam setahun; 2) penyuluh pertanian mengunjungi petani secara teratur, dan berkelanjutan; 3) penyuluh pertanian cepat mengetahui masalah yang ada di petani dan cepat memecahkannya; 4) penyuluh pertanian secara teratur mendapat tambahan pengetahuan dan keterampilannya; 5) penyuluhan dilaksanakan melalui pendekatan kelompok; serta 6) penyelenggaaan penyuluhan pertanian mendapatkan supervisi dan pengawasan secara teratur.

Penerapan sistem kerja LAKU diharapkan dapat meningkatkan motivasi penyuluh pertanian dalam melaksanakan fungsinya sebagai pendamping dan pembimbing petani, serta menjamin kesinambungan pembinaan penyuluh kepada petani dalam melaksanakan kegiatan usahatani yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan produksi, produktivitas dan pendapatannya.
 
Sumber: 
Permentan Nomor 82 TAhun 2013

Jumat, 27 Mei 2016

Teknik Pencatatan Usaha Tani

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP

Usaha  dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mencapai kesejahteraan, yakni dalam memenuhi kebutuhan materil & spiritual dimana kebutuhan materil dapat dipenuhi melalui perolehan pendapatan (income), sementara kebutuhan spiritual dapat terpenuhi apabila pelaku agribisnis dapat memenuhi kebutuhan & kepuasan konsumen.  Untuk itu agribisnis harus dikelola secara benar agar kinerja usaha mempunyai tingkat efisiensi yang tinggi. Hal ini dapat diukur melalui analisis usaha / bisnis dari data-data yang tercatat. Ya..tentu saja diharapkan secara lengkap.

Pencatatan dan pembukuan usaha dalam agribisnis merupakan bentuk pengukuran tertulis dari tingkat keberhasilan usaha. Maka dari itu dua hal ini mutlak diperlukan.
Nah apa pula sebenarnya perbedaan dari keduanya. Mari kita bahas.

Pencatatan usaha sendiri merupakan serangkaian kegiatan untuk mencatat semua aktivitas
usaha yang dapat digunakan sebagai bahan laporan, sementara itu Pembukuan usaha merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam mencatat semua perubahan atau transaksi yang telah dilakukan  baik menyangkut uang atau barang-barang berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan guna kelancaran usaha tersebut

Lantas, apa saja jenis dan macam pencatatan usaha tersebut? Berikut penjelasannya saya tuangkan secara detail.

Macam-macam Pencatatan Usaha

1.  Pencatatan Data Inventaris, yakni mencatat seluruh inventaris yang dimiliki suatu perusahaan agribisnis pada waktu tertentu; menilai masing-masing inventaris untuk membantu dalam menetapkan kekayaan (assets) dan hutang (leabilities); membandingkan nilai inventaris pada tahun sekarang dengan tahun sebelumnya; sebagai bahan untuk membuat pencatatan neraca (balance sheet) untuk laporan  usaha.
  
2.  Pencatatan Data Produksi, merupakan mencatat kegiatan-kegiatan dalam proses produksi,  yaitu: tenaga kerja yg digunakan; jumlah produksi; bagian produksi yang dikonsumsi sendiri dan membandingkan jumlah produksi saat ini dengan tahun-tahun sebelumnya.

Produksi usaha pertaninan selalu dicatat dalam satuan. Pencatatan dalam bentuk fisik merupakan ciri dari catatan ini yang menunjukkan jumlah produksi; jumlah bahan / sarana produksi yang digunakan serta memberikan keterangan untuk persiapan suatu perencanaan usaha. Dalam jangka pendek, catatan produksi ini sangat penting untuk memilih tanaman / ternak / komoditi apa yang baik untuk pengembangan usaha.

Beberapa jenis pencatatan ini antara lain :
-          Catatan Produksi Tanaman.yang dicatat dalam buku sederhana tentang jenis komoditi, lahan /  tempat, biaya produksi/input & produksi/output.
-          Catatan Pengolahan Tanah yang mencatat tentang waktu, alat,  tenaga kerja dan biaya-biaya             yang dikeluarkan.
-          Catatan Ternak yakni pencatatan-pencatatan tentang  peningkatan  produktifitas         dan   untuk seleksi.
-          Catatan Tenaga Kerja yang dapat dibuat harian, jumlah tenaga kerja, jenis (Laki-laki, perempuan, anak-anak), biaya tenaga kerja (keluarga / upahan)      dan peralatan yang digunakan.
-          Catatan Pakan yakni volume pakan yg diberikan harus dicatat dengan tepat karena pakan merupakan bagian yang terbesar untuk kebutuhan ternak
-          Catatan Pemakaian Produksi Usaha yaitu berisi catatan pembelian & penjualan produksi usaha, jumlah pemakaian. Perubahan pada inventaris perlu tercatat dengan baik.

3.  Pencatatan Data Keuangan
Macam macamnya adalah
-          Catatan bukti transaksi bisnis, merupakan dokumen asli bahan utama berupa “ slip “ atau bukti-bukti penjualan; penerimaan; cek; faktur-faktur; kartu jam kerja; rekening; dsb.
-          Jurnal, adalah catatan semua transaksi bisnis dalam urutan kronologis, perkiraan berjalan (running account) dari transaksi kegiatan sehari-hari. Disebut juga sebagai catatan awal untuk    bisnis (book of original entry).
-          Buku Besar , disebut juga perkiraan / rekening (account).  Perkiraan adalah: catatan terpisah untuk setiap kategori informasi, misal: mengenai aktiva (assets); kewajiban / pasiva (leabilities); informasi tentang pendapatan dan beban. Pemindahan dari jurnal ke buku besar disebut pemosan (posting) dan untuk jangka yang teratur.


Pembukuan Usaha
1. Neraca, merupakan ikhtisar dari semua hak milik hutang dan penanaman modal yang telah dilakukan oleh pemilik dalam bisnis. Neraca terdiri dari 3 komponen, yaitu: komponen yang menggambarkan kekayaan (assets/aktiva); yg menggambarkan semua hutang (leabilities / pasiva); selisih antara kekayaan dan hutang (nilai bersih / saldo).
-  Assets lebih besar dari hutang : saldo positif dan merupakan kekayaan bersih perusahaan (owner’s equity).
-  Hutang lebih besar dari assets : maka nilai bersih disebut saldo negatif (perusahaan defisit).
 - Saldo disimpan disebelah neraca yang jumlahnya lebih kecil,untuk menjadikan neraca seimbang.

 Bentuk neraca
a.  Bentuk Staffel  (satu halaman), dimana daftar harta (kekayaan), hutang  dan  modal  tersusun secara berurutan dari atas kebawah.
b.  Bentuk Skontro (dua halaman), dimana daftar harta (kekayaan) sebelah kiri / debet, daftar hutang dan modal di sebelah kanan/ kredit.

2. Laporan Laba-rugi, adalah ringkasan dari semua penerimaan ditambah keuntungan dikurangi semua pengeluaran ditambah kerugian, sama dengan pendapatan bersih / kerugian bersih dalam jangka waktu tertentu, contoh terlampir.
Laba merupakan tolok ukur utama atas efisiensi manajemen.

3. Laporan arus tunai, disebut juga laporan arus sumber dan pemakaian uang, catatan keluar masuknya uang oleh transaksi-transaksi keuangan selama waktu tertentu, terdiri;

a.      Arus masuk tunai .
sumber berasal dari hasil-hasil penjualan produk dan pembayaran-pembayaran dari pemerintah (dana subsidi); hasil penjualan barang-barang produksi; pendapatan dari sumber luar pertanian seperti:       bunga modal, deviden dan upah; penjualan kertas berharga; pinjaman  dan   modal milik pribadi dari luar perusahaan agribisnis.

b.      Arus keluar tunai .
sumber berasal dari biaya operasional; investasi modal seperti:    tanah, bangunan dsb; pembelian kertas-kertas berharga; pembayaran hutang uang; pengeluaran uang tunai untuk konsumsi, pajak,   pembayaran deviden, bunga; penarikan modal milik pribadi untuk   hadiah dan liburan,dsb.

Selasa, 26 April 2016

Mengenal OPT Blas pada Tanaman Padi Sawah

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP

Penyakit Blas merupakan salah satu Organisme Pengganggun Tanaman (OPT) yang menjadi permasalahan dalam budidaya tanaman padi sawah. Nagari Sungai Landia, Kecamatan IV Koto merupakann salah satu Kecamatan yang memiliki riwayat penyakit Blas di Kabupaten Agam. Beberapa kali serangan pernah terjadi di sepanjang aliran anak sungai yang melintas di Nagari ini. Banyak petani yang belum mengenal penyakit ini secara mendalam.

Penyakit Blas sendiri disebabkan oleh meluasnya serangan jamur Pyricularia oryzae (P. grisea). Jamur ini menyerang tanaman padi pada masa vegetatif menimbulkan gejala blas daun (leaf blast) dengan ditandai adanya bintik-bintik kecil pada daun berwarna ungu kekuningan. Semakin lama bercak menjadi besar, berbentuk seperti belah ketupat dengan bagian tengahnya berupa titik berwarna putih atau kelabu dengan bagian tepi kecoklatan. Serangan pada fase generatif menyebabkan pangkal malai membusuk, berwarna kehitaman dan mudah patah (busuk leher). Penyakit blas merupakan salah satu kendala utama dalam budidaya padi karena bila terserang jamur Pyricularia oryzaeini bila tidak diwaspadai sejak awal akan mengakibatkan penurunan produksi hingga 70 %.

Pyricularia oryzae  menyerap  nutrisi tanaman padi untuk memperbanyak diri dan mempertahankan hidup. Bila menyerang pada daun muda, menyebabkan proses pertumbuhan tidak normal, beberapa daun menjadi kering dan mati.  Blas pada daun banyak menyebabkan kerusakan antara fase pertumbuhan hingga fase anakan maksimum. Infeksi pada daun setelah fase anakan maksimum biasanya tidak menyebabkan kehilangan hasil yang terlalu besar, namun infeksi pada awal pertumbuhan sering menyebabkan puso terutama varietas yang rentan. Penggunaan fungisida pada fase vegetatif sangat dianjurkan apabila guna menekan tingkat intensitas serangan blas daun dan juga dapat mengurangi infeksi pada tangkai malai (blas leher).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi berkembangnya penyakit Blas diantaranya:
1. Kondisi Lingkungan
    Apabila disuatu areal sudah pernah terjadi serangan blas, besar kemungkinan blas ini akan segera   menyebar apabila didukung oleh kelembapan dan suhu optimum yaitu antara 24º C - 28º C

2. Jarak Tanam
    Jarak tanam yang rapat bisa mengakibatkan kelembapan disekitar tanaman akan meningkat, sehingga bisa mempercepat perkembangan jamur

3. Pemupukan
    Pemupukan unsur Nitrogen dimusim penghujan yang tinggi juga akan memicu pertumbuhan Pyricularia oryzae. Pemupukan nitrogen yang tinggi menyebabkan ketersediaan nutrisi yang ideal dan lemahnya jaringan daun, sehingga spora blas pada awal pertumbuhan dapat menginfeksi optimal dan menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi.

4.Kebersihan Lahan
   Kebersihan lahan dari gulma juga sangat mempengaruhi serangan blas, pada lahan yang gulmanya tidak dikendalikan serangan blas lebih tinggi bila dibandingkan dengan lahan yang bebas gulma, karena gulma merupakan salah satu inang tempat berkembangnya jamur Pyricularia ini.

5. Benih yang tidak sehat
    Budidaya padi dengan menggunakan benih yang kurang sehat, apalagi menggunakan benih yang sebelumnya pernah terserang blas, bisa menyebabkan berkembangnya serangan blas apabila benih tersebut ditanam kembali, karena jamur ini bisa bertahan beberapa tahun didalam benih padi.

Usaha Pencegahan dan Pengendalian blas bisa dilakukan dengan berbagai cara diantaranya :

1. Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) pada tanaman padi .

Salah satu tujuan PTT adalah mampu menekan penurunan hasil akibat OPT(Organisme penggangu Tumbuhan) antara lain dengan jalan sebagai berikut :
a. Penggunaan varietas tahan & pembenaman jerami
Penggunaan varietas baru yang tahan terhadap blas sangat dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas antara lain : Inpari 13, Luk ulo, Silugonggo, Batang Piaman, Inpago dll.
Proses dekomposisasi jerami selain dapat berfungsi sebagai pupuk organik juga dapat membunuh miselia blas dan tidak berpotensi untuk berkembang.
b. Pemupukan berimbang
Penggunaan pupuk sesuai anjuran terutama pada daerah-daerah endemi penyakit blas terutama dengan penggunaan Nitrogen yang tidak berlebihan dan dengan penggunaan kalium dan phosfat, dianjurkan agar dapat mengurangi infeksi blas di lapangan. Penggunaan kalium mempertebal lapisan epidermis pada daun sehingga penetrasi spora akan terhambat dan tidak akan berkembang di lapangan.
      c.  Waktu tanam yang tepat
Pengaturan waktu tanam pada saat yang bertepatan banyak embun perlu dihindari agar pertanaman terhindar dari serangan penyakit blas yang berat. Keadaan ini memerlukan data iklim spesifik dari wilayah-wilayah pertanaman padi setiap lokasi.
 

2. Penggunaan Fungisida
    Penggunaan fungisida dianjurkan untuk daerah endemis penyakit blas dengan ketentuan pengendalian hama secara terpadu dan tepat guna. ada beberapa fungisida kimia yang bekerja secara sistemik untuk mengendalikan penyakit blas dan sudah banyak beredar di pasaran dengan bahan aktif Propikonazol, Trisiklazol, difenokonazol.

Minggu, 14 Februari 2016

Teknik Pembuatan Profil Keluarga dalam Participatory Rural Appriences (PRA)

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP

Dalam Participatory Rural Appriences (PRA), pembuatan profil keluarga sebagai gambaran yang berisi gambaran data dan informasi ekonomi rumaha tangga tani (KK Tani).

Adapun tujuan dari Profil ini sendiri adalah :
1.      Untuk dapat mengetahui potensi dan masalah keluarga lebih teliti.
2.      Untuk digunakan sebagai informasi dasar dalam penyusunan rencana Agribisnis keluarga.

Berikut beberapa bentuk data yang dihasilkan dari pembuatan Profil Keluarga










Minggu, 07 Februari 2016

Teknik Pemanfaatan Rebung Bambu sebagai Nutrisi Tanaman


by ICHSAN KURNIAWAN,SP

Nutrisi tanaman sangat dibutuhkan dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan agar dapat berproduksi optimal. Mikro organisme lokal (MOL) merupakan salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh petani. Selain menghemat biaya produksi, MOL juga disinyalir memiliki kemampuan dalam pengendalian hama penyakit.
 
Pembuatan MOL ditujukan tak lain dan tak bukan sebagai komposer yang membantu pelapukan bahan organik, sebagai sumber energi serta zat pengatur tumbuh pada tanaman. Setelah mengenal pembuatan MOL I-V serta MOL Sabut kelapa, sekarang mari kita lihat bagaimana pula teknik pembuatan MOL dengan bahan dasar rebung bambu.

Alat dan Bahan yang kita butuhkan adalah :
        - Ember atau kaleng bekas cat ukuran 25 liter
        - 2 buah Rebung bambu kurang lebih 3 kg
        - Air beras 5 liter
        - Slang plastic dan botol aqua
        - Gula merah 1.5 ons
Cara membuatnya sebagai berikut :
-Rebung bambu ditumbuk halus atau di iris – iris masukan pada ember atau kaleng bekas cat
-Tambahkan gula merah yang telah dihaluskan dan aduk sampai rata
-Tutup rapat ember adan berikan slang plastic yang disambungkan dengan air yang berada pada botol aqua dan biarkan selama 15 hari
 
Cara penggunaanya :
- Sebagai katalisator dalam pengomposan  : dapat digunakan sebagai decomposer dengan konsentrasi  1 : 5 ( 1 liter cairan MOL ditambah dengan 5 liter air ), kemudian tambahkan gula merah 1 ons dan aduk hingga rata, disiramkan pada  saat proses pembutan kompos.
-Penggunaan pada tanaman : Penyemprotan dilakukan pagi/sore hari  dengan kosentrasi  400 cc cairan dicampur dengan  14 liter air, pada umur  10, 20, 30, 40, hari setelah tanaman .

Senin, 01 Februari 2016

Kaidah Hara dan Nutrisi Tanaman



Oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP

Bicara tentang hubungan tanah, air dan tanaman artinya tentu mengarah dan akan bermuara pada bagaimana unsur hara tersedia bagi tanaman dan proses penyerapannya. Beberapa syarat dari ketersediaan unsur hara tersebut di tanah adalah apabila :
1)      Telah diubah bentuknya menjadi unsur yang siap diserap (mineralisasi)
2)      Tidak hilang, hanyut, larut, dan menguap.
3)      Unsur ada pada saat dibutuhkan tanaman
4)      Unsur dapat diserap

Dari syarat ketersediaan unsur hara bagi tanaman tersebut, maka selanjutnya bagaimana unsur hara dapat diserap oleh tanaman. Maka proses yang akan dilalui adalah :
    1. Mengikuti aliran massa air
Mineral hara berupa larutan yang turut bersama air ketika air diserap tanaman dari dalam tanah.
Kerugian: membutuhkan waktu dari akar ke daun, dan mutlak membutuhkan air tanah.
    1. Diserap oleh sel tanaman
Jika biji diletakkan dalam wadah berisi air maka biji akan menyerap air dan mengembang (difusi). Proses penyerapan larutan hara oleh sel daun tanaman tak jauh beda dengan proses difusi.
Kerugian: jika pupuk terlalu pekat, yang terjadi bukan penyerapan hara, melainkan membanjirnya air dari organ tanaman ke luar, sehingga tanaman layu. 
    1. Pertukaran ion (muatan listrik)
Proses ini terjadi di dalam tanah, melibatkan mineral lempung, akar, dan mikroorganisme. KPK adalah sifat kimia yang menentukan penyerapan hara di dalam tanah.

Dok. Kelompok Tani Mubarakah Nagari Sungai Landia Kecamatan IV Koto Agam (Ichsan Kurniawan,SP)

Namun, ada beberapa hal yang dapat menghambat laju proses penyerapan hara oleh tanaman tersebut. Beberapa di antaranya yakni :
1.       Sifat kimia : pH (terlalu masam atau basa) dan KPK rendah
2.       Ketersediaan air tanah sedikit
3.       Perakaran tanaman tidak berkembang.

(Disari dari materi pelatihan Pertanian Organik IPO Aie Angek)

Jumat, 29 Januari 2016

Teknik Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok Tani


Kelompoktani adalah kumpulan petani/ peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 82 Tahun 2013 tentang Pedoman Pembinaan Kelompoktani dan Gabungan Kelompok Tani merupakan revisi dari Permentan Nomor 273 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani. Materi dari Permentan Nomor 82 Tahun 2013 meliputi tiga pokok, yaitu: Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompoktani; Pedoman Penyusunan Rencana Definitif Kelompoktani (RDK) dan Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompoktani (RDKK); dan Pedoman Sistem Kerja Latihan dan Kunjungan.
Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompoktani
Pendekatan kelompok dalam penyuluhan dimaksudkan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan penyuluhan. Pendekatan kelompok juga dimaksudkan untuk mendorong penumbuhan kelembagaan petani (kelompoktani, gabungan kelompoktani). Hal ini dilakukan karena masih banyaknya jumlah petani yang belum bergabung dalam kelompoktani (poktan), terbatasnya jumlah tenaga penyuluh pertanian sebagai fasilitator, serta terbatasnya pembiayaan dalam pembinaan bagi poktan dan gabungan kelompoktani (gapoktan).

Pembinaan kelembagaan petani perlu dilakukan secara berkesinambungan, diarahkan pada perubahan pola pikir petani dalam menerapkan sistem agribisnis. Pembinaan kelembagaan petani juga diarahkan untuk menumbuhkembangkan poktan dan gapoktan dalam menjalankan fungsinya, serta meningkatkan kapasitas poktan dan gapoktan melalui pengembangan kerjasama dalam bentuk jejaring dan kemitraan.
Kondisi yang berkembang saat ini masih banyak gapoktan yang belum memiliki kekuatan hukum sehingga mempunyai posisi tawar yang rendah. Hal ini menyebabkan belum optimalnya pelaksanaan kemitraan usahatani. Untuk itu, bagi gapoktan yang berhasil dalam mengembangkan usahanya berpeluang untuk ditingkatkan kemampuannya membentuk kelembagaan ekonomi petani. Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompoktani diatur pada Lampiran I Peraturan Menteri Pertanian Nomor 82 Tahun 2013

Prinsip dalam penumbuhan Kelompok Tani
  1. Kebebasan,
  2. Keterbukaan,
  3. Partisipatif,
  4. Keswadayaan,
  5. Kesetaraan,
  6. Kemitraan,

Pengembangan Kelompok Tani :
  1. Adanya pertemuan pengurus secara berkala  dan berkesinambungan;
  2. Disusunannya rencana kerja kelompok secara bersama  dan dilaksanakan  oleh para pelaksana sesuai dengan kesepakatan bersama dan setiap  akhir pelaksanaan dilakukan evaluasi secara partisipasi;
  3. Memiliki aturan/norma yang disepakati dan ditaati bersama.
  4. Memiliki  pencatatan/pengadministrasian organisasi yang rapih;
  5. Memfasilitasi   kegiatan-kegiatan usaha bersama di sektor hulu dan hilir;
  6. Memfasilitasi  usaha tani secara komersial dan berorientasi pasar;
  7. Sebagai sumber serta pelayanan informasi dan teknologi  untuk usaha para petani umumnya dan anggota kelompoktani  khususnya;
  8. Adanya kemitraan dengan pihak lain;
  9. Adanya pemupukan modal usaha baik iuran dari anggota atau penyisihan hasil usaha/kegiatan kelompok. 
Dok. Ichsan Kurniawan (Test Ballot Box untuk Mengetahui Kemampuan Petani)

Ciri-ciri Kelompok Ideal
  1. Adanya pengurusan yang aktif sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing
  2. Adanya administrasi dan pembukuan yang lengkap dan transparan
  3. Adanya RUK, AD/ART dan profil kelompok
  4. Adanya sekretariat/ saung tani yang berfungsi: tempat bermusyawarah, tempat data-data pokok maupun penunjang, memiliki papan kel tan dan informasi
  5. Adanya kegiatan bersama
  6. Adanya pertemuan secara berkala dan rutinitas
  7. Adanya kemitraan dengan pelaku usaha
  8. Adanya pengkaderan
  9. Adanya pemupukan dan pengembangan modal bersama dan kemitraan
  10. Pengurus rajin mencari informasi teknis, sosial maupun ekonomi
  11. Terciptanya kelembagaan keuangan (koperasi tani/ simpan pinjam dlll)