Jumat, 29 Januari 2016

Teknik Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok Tani


Kelompoktani adalah kumpulan petani/ peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 82 Tahun 2013 tentang Pedoman Pembinaan Kelompoktani dan Gabungan Kelompok Tani merupakan revisi dari Permentan Nomor 273 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani. Materi dari Permentan Nomor 82 Tahun 2013 meliputi tiga pokok, yaitu: Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompoktani; Pedoman Penyusunan Rencana Definitif Kelompoktani (RDK) dan Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompoktani (RDKK); dan Pedoman Sistem Kerja Latihan dan Kunjungan.
Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompoktani
Pendekatan kelompok dalam penyuluhan dimaksudkan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan penyuluhan. Pendekatan kelompok juga dimaksudkan untuk mendorong penumbuhan kelembagaan petani (kelompoktani, gabungan kelompoktani). Hal ini dilakukan karena masih banyaknya jumlah petani yang belum bergabung dalam kelompoktani (poktan), terbatasnya jumlah tenaga penyuluh pertanian sebagai fasilitator, serta terbatasnya pembiayaan dalam pembinaan bagi poktan dan gabungan kelompoktani (gapoktan).

Pembinaan kelembagaan petani perlu dilakukan secara berkesinambungan, diarahkan pada perubahan pola pikir petani dalam menerapkan sistem agribisnis. Pembinaan kelembagaan petani juga diarahkan untuk menumbuhkembangkan poktan dan gapoktan dalam menjalankan fungsinya, serta meningkatkan kapasitas poktan dan gapoktan melalui pengembangan kerjasama dalam bentuk jejaring dan kemitraan.
Kondisi yang berkembang saat ini masih banyak gapoktan yang belum memiliki kekuatan hukum sehingga mempunyai posisi tawar yang rendah. Hal ini menyebabkan belum optimalnya pelaksanaan kemitraan usahatani. Untuk itu, bagi gapoktan yang berhasil dalam mengembangkan usahanya berpeluang untuk ditingkatkan kemampuannya membentuk kelembagaan ekonomi petani. Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompoktani diatur pada Lampiran I Peraturan Menteri Pertanian Nomor 82 Tahun 2013

Prinsip dalam penumbuhan Kelompok Tani
  1. Kebebasan,
  2. Keterbukaan,
  3. Partisipatif,
  4. Keswadayaan,
  5. Kesetaraan,
  6. Kemitraan,

Pengembangan Kelompok Tani :
  1. Adanya pertemuan pengurus secara berkala  dan berkesinambungan;
  2. Disusunannya rencana kerja kelompok secara bersama  dan dilaksanakan  oleh para pelaksana sesuai dengan kesepakatan bersama dan setiap  akhir pelaksanaan dilakukan evaluasi secara partisipasi;
  3. Memiliki aturan/norma yang disepakati dan ditaati bersama.
  4. Memiliki  pencatatan/pengadministrasian organisasi yang rapih;
  5. Memfasilitasi   kegiatan-kegiatan usaha bersama di sektor hulu dan hilir;
  6. Memfasilitasi  usaha tani secara komersial dan berorientasi pasar;
  7. Sebagai sumber serta pelayanan informasi dan teknologi  untuk usaha para petani umumnya dan anggota kelompoktani  khususnya;
  8. Adanya kemitraan dengan pihak lain;
  9. Adanya pemupukan modal usaha baik iuran dari anggota atau penyisihan hasil usaha/kegiatan kelompok. 
Dok. Ichsan Kurniawan (Test Ballot Box untuk Mengetahui Kemampuan Petani)

Ciri-ciri Kelompok Ideal
  1. Adanya pengurusan yang aktif sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing
  2. Adanya administrasi dan pembukuan yang lengkap dan transparan
  3. Adanya RUK, AD/ART dan profil kelompok
  4. Adanya sekretariat/ saung tani yang berfungsi: tempat bermusyawarah, tempat data-data pokok maupun penunjang, memiliki papan kel tan dan informasi
  5. Adanya kegiatan bersama
  6. Adanya pertemuan secara berkala dan rutinitas
  7. Adanya kemitraan dengan pelaku usaha
  8. Adanya pengkaderan
  9. Adanya pemupukan dan pengembangan modal bersama dan kemitraan
  10. Pengurus rajin mencari informasi teknis, sosial maupun ekonomi
  11. Terciptanya kelembagaan keuangan (koperasi tani/ simpan pinjam dlll)

Jumat, 11 Desember 2015

Kelompoktani Mubarakah Kembangkan Lagi Budidaya Cabe Merah

IV Koto (BMC) - Untuk mencapai peningkatan target produksi komoditas cabe merah, Kementerian Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) berupaya untuk terus mengembangkan inovasi teknologi terutama dalam mengatasi perubahan iklim saat ini. Selalu ada teknologi yang bisa kita manfaatkan seperti pemakaian mulsa plastik perak dan sistem penanaman dengan bedengan (20-30) cm di musim hujan, jaring atau shadding net, rumah plastik, penggunaan perangkap. Sesuai dengan keadaan pada saat ini bahwa harga cabe merah sama pedas dengan namanya diamana terus mengalami peningkatan.

Di Nagari Sungai Landia Kecamatan IV Koto baru-baru ini, petani yang tergabung dalam Kelompoktani Mubarakah sedang melaksanakan budidaya komoditas cabe merah bertempat di lahan kolektif kelompoktani tersebut. Pada lahan kolektif kelompok seluas lebih kurang 0,5 hektare di Jorong Kampuang Baruah akan ditanami cabe merah yang diiringi dengan paket Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
Perencanaan kegiatan kelompok berkaitan budidaya cabe ini dilakukan dalam pertemuan kelompok bertempat di lahan kolektif kelompoktani Mubarakah Jorong Kampuang Baruah yang didampingi oleh Ichsan Kurniawan, SP. Pada pertemuan tersebut membahas pengaturan pola tanam dan jadwal tanam serta prediksi kebutuhan pasar khususnya komoditas cabe merah.

Pertemuan ini juga di hadiri Susi Wahyuni, seorang mahasiswa Universitas Andalas yang tengah melakukan penelitian dalam tugas akhirnya yang mengambil tema penelitian "Evaluasi Penerapan SL-PHT" di Kelompotani Mubarakah. Diskusi panjang diselingi dengan istirahat siang sebentar bersama seluruh anggota diharapkan akan memberikan gambaran tentang penelitian yang tengah dia dilakukan.
 
(Dok. Mubarakah, Selalu Terjalin Keakraban dalam Pertemuan Kelompok bersama PPL Ichsan Kurniawan,SP)
 
Disela percakapan dalam pertemuan, Ichsan Kurniawan menyampaikan: "Alhamdulillah sampai saat ini dengan berpedoman kepada pengalaman, informasi (internet) serta kondisi lainnya anggota masih bisa memperoleh panen bagus di saat harga mulai merangkak naik (tinggi) khusus untuk komoditas cabe merah".

Sesuai pengalaman 2 kali musim tanam sebelumnya, dengan penerapan paket yang sama melalui penerapan paket PHT cabe merah di kelompoktani ini, alhamdulillah dapat meminimalisir biaya produksi hampir 70 % dibandingkan dengan budi daya secara konvensional, ujar Junaidi sekretaris kelompoktani Barokah.

Selain guna memperkirakan panen di saat harga "pedas" pembahasan pengaturan strategi pola tanam yang juga dilakukan pada awal pembukaan areal dimana disesuaikan dengan kondisi lokal dengan budidaya yang dilaksanakan kelompok pada beberapa lokasi lahan kolektif kelompok dan alhamdulillah membuahkan hasil sehingga pengupayaan "panen berlanjut" dapat terlaksana meski masih jauh dari perkiraan. Mudah2an pengalaman, perhitungan tepat serta kegigihan mampu berbuah baik dalam budidaya ini, (Ichsan K).
 

Kamis, 08 Oktober 2015

BP4K2P Tetap Pertahankan Sinergi Demi Suksesnya Upsus

Rabu (7/10) dilakukan pemancangan area lokasi kegiatan pengembangan sarana dan prasarana pertanian berupa pembangunan Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani yang dilaksanakan Kelompok Tani Batu Gadang, Jorong Ranah, Nagari Sungai Landia. Kegiatan yang merupakan salah satu item Upaya Khusus (Upsus) Tahun 2015 yang bersumber dari APBN-P ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi areal persawahan di sekitarnya menimbang kebutuhan irigasi di lokasi ini memang sudah sangat urgen dengan areal persawahan yang diliputinya cukup luas hingga 40 Ha dengan panjang tali banda seluruhnya 3 km sampai perbatasan Jorong Kampuang Baruah.
Kegiatan ini dihadiri seluruh elemen yang bersinergi terkait mulai dari jajaran Camat IV Koto yang diwakili Sekcam Alidar,SP , Amrizal dan Netti Hando, pihak Koramil 09/IV Koto yang diwakili Danang A, pendamping dari akademisi Hendra Susilo, Kepala UPT BP4K2P Afrizal, Koordinator Al Jufri, penyuluh pertanian Ichsan Kurniawan,SP serta jajaran UPT BP4K2P IV Koto dan seluruh anggota Kelompok Tani. 
(Dok. Ichsan Kurniawan,SP. Peletakan Batu Pertama Pembangunan Irigasi Puraweh 8/10/2015)



Selain itu pemancangan sekaligus ramah tamah bersama kelompok ini juga menghadirkan unsur Gapoktan dan tokoh masyarakat yakni Ketua KAN Sungai Landia Taslim Dt. Sati. Perjalanan ke lokasi ditempuh dengan berjalan kaki beberapa kilometer dengan topografi berbukit bukit ini tak menyurutkan semangat untuk sampai ke lokasi.
Semoga kegiatan ini mendatangkan manfaat besar terhadap peningkatan kualitas pertanaman melalui peningkatan produksi serta dapat memberikan kontribusi dalam pencapaian swasembada pangan ke depan. (Ichsan Kurniawa,SP)

Selasa, 22 September 2015

Hasil Ubinan Meningkat, Jarwo Mulai Jadi Primadona

IV Koto - Fungsi Balai Penyuluhan Kecamatan sebagai organisasi penyelenggara penyuluhan sekaligus sebagai tempat untuk bertukar informasi dan teknologi, baik itu penyuluh dengan penyuluh maupun penyuluh dengan petani tampaknya sudah melekat di UPT BP4K2P Kecamatan IV Koto.
Hal inilah yang membuat pelaku utama dan pelaku usaha di Kecamatan IV Koto tanpa sungkan menjejakkan kaki, untuk datang ke kantor UPT BP4K2P IV Koto. Selasa (22/9), pengurus Kelompok Tani Bawah Tampaik, Nagari Sungai Landia berkunjung dan konsultasi di ruang Bapak Kepala UPT BP4K2P Kecamatan IV Koto, Afrizal. 
Dalam pertemuan bersama pendamping Upsus dari akademisi Hendra Susilo juga didiskusikan perkembangan kegiatan Optimasi Pemanfaatan Lahan (OPL) Padi Sawah yang dilaksanakan oleh kelompok yang pada beberapa titik lokasi telah panen. Hasil pengambilan ubinan pada dua titik lokasi didapat hasil 8,8 ton/ha dan 7,2 ton/ha yang memberikan implikasi terhadap antusiasme masyarakat sekitar untuk mencoba menerapkan teknik Jajar Legowo (Jarwo). Secara sederhana saja peningkatan riil tersebut tentu akan lebih mudah dilihat dari hasil hitungan tradisional masyarakat yakni penghitungan hasil "katidiang" atau bakul pada akhir panen. 
(Dok. UPT BP4K2P IV Koto, Konsultasi Kelompok Bawah Tampaik bersama Kepala UPT, Ichsan Kurniawan,SP dan Hendra Susilo,SP di ruang Kepala BPK Koto Tuo)
Menurut pengurus terlihat perkembangan cukup baik dari teknik yang diterapkan. Pada lokasi Buk Nar di Napa, biasa hanya 18-20 katidiang hasil panen, saat ini dapat 25 katidiang, itupun sudah diserang hama babi. Sementara sawah Enti berlokasi di Sungai Lanca, dari hasil sebelumnya berkisar 40-45 katidiang, saat ini menurut Buk Lis dan Yurmaini, pengurus kelompok, didapat 60 katidiang. 
Mendengar laporan dari pengurus tersebut, Afrizal yang didampingi Ichsan KurniawanSP selaku Penyuluh Pertanian Sungai Landia menyambut gembira hasil ubinan tersebut. Afrizal berharap hasil panen pada titik titik lokasi lain juga menunjukkan peningkatan serupa menimbang beberapa titik lokasi termasuk lokasi kritis yang berproduksi sangat rendah dan rentan serangan penyakit khsusnya dekat aliran sungai di Nagari tersebut. 
"Semoga teknik jajar legowo dapat berkembang di IV Koto", pungkas Afrizal. (IchsanK).

Rabu, 20 Mei 2015

Mubarakah Susun Rencana Kerja Sukseskan Pengembangan Cabe

Menegaskan kebulatan tekad untuk tetap konsisten dengan pertanian pola budidaya cabe sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Kelompok Tani Mubarakah, Jorong Kampuang Baruah, Nagari Sungai Landia bersama penyuluh pertanian serta jajaran UPT BP4K2P Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat mulai merancang format kegiatan pengembangan cabe ke depan. 
 
Bentuk kegiatan kelompok tersebut berpegang teguh pada kaidah pertanian PHT yang telah juga dilaksanakan tahun lalu namun diarahkan pada bagaimana tercipta kemandirian kelompok berusaha tani yang sudah tentu berorientasi bisnis dengan tingkat produktivitas yang meningkat dari sebelumnya.
 
Pasca menyelesaikan pendidikan non-formal melalui sekolah lapang tahun lalu, kelompok yang berdiri penghujung tahun 2008 ini mencoba mengaplikasikan hasilnya dengan pengembangan ditunjang aneka ramuan nabati beberapa jenis tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati tambahan. Hal ini sebagai tahap lanjut dalam meminimalisir pemakaian bahan kimia berbahaya yang terdapat dalam pestisida sintetis setelah kelompok mampu meramu sendiri pupuk organik.

“Sebagai langkah selanjutnya bagi kami adalah menyiapkan amunisi tambahan berupa pestisida nabati dengan meramu dari beberapa jenis tanaman, kami berharap selain bisa meramu pupuk sendiri, kami juga menghasilkan pestisida sendiri ke depannya Jadi, di lahan ini selain tempat berproduksi, juga dilengkapi pabrik pupuk dan pestisidanya.” ungkap Junaidi- Sekretaris Kelompok yang juga bertindak sebagai Ketua Pos Informasi Pengendalian Agen Hayati (Pos IPAH) Sungai Landia.
 
(Dok. Mubarakah, Pertemuan Penyusunan Rencana Kegiatan Kelompok bersama PPL Ichsan Kurniawan,SP)
 
Tanaman-tanaman tersebut memang populer sebagai pestisida botani. Misalnya saja daun dan biji mimba. Bagian tanaman bernama ilmiah Azadirachta indica  ini mengandung bahan azadirachtin, salanin, nimbenin dan meliantriaol. Kandungan azadirachtin sendiri merujuk berbagai penelitian memiliki multi-fungsi dalam mengatasi masalah hama penyakit di lapangan. Zat ini terbukti sebagai pengendali lebih dari 200 jenis serangga dan ulat pengganggu bagi tanaman pangan dan hortikultura. Sebut saja pengganggu yang tenar seperti belalang, wereng, kumbang hingga thrips. Selain itu, zat ini juga dapat mengendalikan bakteri dan jamur penyebab penyakit busuk, karat, layu daun dan embun tepung (powdery mildew).  Potensi tanaman ini sampai bertindak sebagai antivirus. Akar tuba juga merupakan tanaman pestisida nabati yang mengandung unsur seperti rotenon yang efektif untuk mengendalikan hama.
 
Kelompok sendiri menegaskan rencana akan mengembangkan penanaman tanaman pestisida ini dari jenis lain. Kami akan usahakan lahan kami juga lengkap dengan ditanami paling kurang empat atau lima jenis lagi tanaman yang mempunyai potensi sebagai pestisida alami.
 
Hal ini mendapat apresiasi dari Ichsan Kurniawan,SP yang ikut membidani kelahiran kelompok ini 2008 silam di sela diskusi pada pertemuan kelompok Selasa siang (19/5). "Hanya berawal dari perkenalan dan pembicaraan mendalam dengan sebagian anggota yang merupakan pengurus mesjid yang berkeinginan membudidayakan cabe tanpa merusak lingkungan, alhamdulillah Ustad Junaidi Imam Sati dan kawan kawan saat ini masih konsisten bahkan pada setiap pengajian Imam pun memotivasi masa untuk ikut berbudidaya dengan memperhatikan keseimbangan ekosistem" 
 
Semoga kelompok Mubarakah dapat menjadi barometer dalam pengembangan dan budidaya cabe berbasis ramah lingkungan sesuai harapan meninmbang eksistensi yang diperlihatkan sampai hari ini. Sukses terus Bapak bapak. (IchsanK)

Rabu, 31 Desember 2014

Terus Bergiat, Sumber Rezeki Lengkapi ADM

Sebagai salah satu Kelompok yang aktif 2014 ini, Sumber Rezeki terus bergiat dalam beraktivitas. Rabu (31/12/2014) diadakan rutin pertemuan dengan kelompok tani Sumber Rezeki yang berlokasi di Jorong Ranah Nagari Sungai Landia.Dihadiri Ichsan Kurniawan,SP, penyuluh pertanian Nagari Sungai Landia, Kecamatan IV Koto, diskusi berlangsung dengan antusias penuh anggota kelompok.

(Dok. Keltan Sumber Rezeki. Ichsan Kurniawan,SP, penyuluh pertanian Nagari Sungai Landia 
sedang memberikan materi penyuluhan)

Topik pertemuan pada pertemuan kedua kali ini membahas manfaat kelengkapan dan penerapan administrasi keoompok tani yang baik. Untuk kelengkapan administrasi kelompok ini diserahka beberapa buku ADM Kelompok tani. Mudah2an buku2 ini dapat diisi di setiap kegiatan sehingga terdapat kerapian dalam berkegiatan kelompok dan kelomopok dapat menerapkan administrasi denga teratur. Buku2 tersebut di antaranya Buku Kas, Rencana Kegiatan, Buku Inventaris, Buku Daftar Hadir, Buku Tamu dan beberapa buku lain. 

Mudah-mudahaan selain giatnya kelomopok di lahan kolektif dan memecahkan berbagai permasalahan di lapangan, anggota dan pengurus juga dapat menerapkan administrasi yang baik. (ikj)

Senin, 08 Desember 2014

Teknik Pembuatan MOL Keong Mas ( Siput Murbay )

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP

Selain pembuatan MOL sabut kelapa dan MOL rebung bambu sebagaimana kita bahas pada sesi terdahulu, sebagai bahan dasar pembuatan MOL juga dapat dipakai siput murbay (keong mas). Bagaimana pula teknik pembuatan MOL ini. Berikut paparannya.
a. Alat dan bahan
       -Ember atau kaleng cat ukuran 25 liter
       -5 kg keong  mas yang masih hidup/segar
       -Gula merah 1 kg atau cairan tebu 1 liter
       -Slang plastic dan botol aqua
       -Air kelapa 10 liter
  
b. Cara membuatnya
       -Keong mas di tumbuk hingga halus masukan pada ember
       -Campurkan gula merah yang lebih dulu dihaluskan/cairan tebu
       -Tambahkan 10 liter air kelapa dan aduk hingga rata
       -Tutup rapat dengan plastik dan berikan slang plastic sambungankan pada botol  aqua yang telah berisikan air
       - Fermentasikan selama 15 hari
 
c. Cara penggunaannya
       -Pengomposan  : Dengan kosentrasi  1 : 5 ( 1 liter cairan MOL ditambah dengan 5 liter air ) tambahkan 1 ons  gula merah, aduk rata dan siramkan pada bahan organik yang mau dikomposkan.
      -Penggunaan pada tanaman : Dapat disemprotkan pada berbagai tanaman dengan konsentrasi 400 cc dicampur dengan 14 liter air,disemprotkan pada pagi/sore hari
      -Disemprotkan pada umur  10, 20,30,40,hari setelah tanam


Pemerintah Nagari Koto Gadang Perkuat Kelembagaan Tani

Rabu (4/2) Pemerintahan Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam melaksanakan pembinaan Kelompok Tani dan Perkumpulan Petani Pem...