Selamat datang di Dangau Petani Kreatif. Blog ini berisikan informasi kreatif seputar pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan dan Ketahanan Pangan. Semoga materi blog ini memberikan manfaat bagi kita semua. Aamiin Yaa Rabbal 'alamin.
Jumat, 21 Januari 2022
KUNJUNGAN ANGGOTA DPRD PROVINSI BPK H.ISMET AMZIS, SH KE SUNGAI LANDIA
Sabtu, 06 Maret 2021
TAHUN 2021, DISTAN AGAM KEMBALI OPTIMALKAN RJIT
Salah satu komponen yang penting dalam mendukung kegiatan pertanian adalah ketersediaan air untuk lahan. Oleh sebab itu, water management yang baik sangat dibutuhkan agar bisa menyalurkan air ke lahan pertanian. Salah satu contoh water management yang bisa dilakukan adalah dengan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT).
RJIT sendiri adalah bagian dari water management yang
bertujuan bukan hanya untuk memperbaiki saluran irigasi yang rusak. Tetapi juga
memaksimalkan dan meningkatkan fungsi irigasi. Sehingga luas areal tanam
meningkat dan tentunya produktivitas juga bisa meningkat
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL)
mengatakan bahwa kegiatan RJIT dilakukan untuk memastikan lahan pertanian
mendapatkan irigasi yang akan menjamin kebutuhan air hingga panen.
Di tahun 2021, Kabupaten Agam melalui Dinas Pertanian dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan IV Koto terus berusaha meningkatkan produksi padi yang salah satunya dengan mengoptimalkan pegnuatan sarana prasarana pertanian salah satunya melalui Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) di berbagai Nagari. Salah satu Kelompok Petani Pemakai Air (P3A) yang mendapatkan kegiatan adalah P3A Pondok Sakato yang berlokasi di Jorong Sutijo Nagari Koto Gadang. Di lokasi ini sendiri memang kesulitan dalam hal pengairan. Hal tersebut mengakibatkan puluhan sawah terkendala dalam pertanaman dikarenakan irigasi yang tidak mendukung.
RJIT menjadi sangat penting karena berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan air untuk lahan. Kebutuhan air untuk tanaman padi sawah mencakup perhitungan air yang masuk dan keluar dari lahan sawah. Kebutuhan ini tergantung dari jenis varietas, umur tanaman, waktu pertanaman, sifat tanahnya, teknik pemberian air, jarak ke sumber air dan luas areal yang akan diairi.
Berdasarkan hasil penelitian yang ada, jumlah air yang diperlukan untuk menghasilkan produksi padi yang optimal adalah 180-300 mm per bulan. Jadi, untuk 1 periode musim tanam, dibutuhkan air sebanyak 1.240 mm. Untuk sawah irigasi, dari tanam sampai panen membutuhkan debit air yang berbeda-beda. Untuk padi yang berumur 100 hari memerlukan air 520-1.620 mm. Sedangkan padi umur 130 hari membutuhkan air sebanyak 720-2.160 mm. “Ini bervariasi, tergantung dari sistem pengelolaannya
Rehabilitasi jaringan irigasi tersier (RJIT) sendiri merupkan
bagian vital dari proses produksi di areal sawah. Artinya, kegiatan RJIT
dilakukan bukan hanya untuk memperbaiki atau membenahi, tetapi juga
memaksimalkan fungsi saluran irigasi. Muaranya dengan maksimalisasi fungsi
saluran tersebut, maka luas areal tanam akan bertambah. Hasil akhir yang juga
diharapkan dapat meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan produktivitas.
RJIT dapat dilakukan dengan swakelola. Dengan swakelola dan melibatkan masyarakat sekitar terutama Kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) semangat partisipasi masyarakat semakin tinggi. Sehingga rasa tanggung jawab dan rasa memiliki saluran yang dibangun semakin baik, karena telah merasakan manfaatnya secara langsung (IKJ).
Jumat, 13 Desember 2019
DRYER UV, SOLUSI PENGERINGAN PADI MUSIM PENGHUJAN
| Dok. BPP Kecamatan Tilatang Kamang (2019) |
Kamis, 26 September 2019
Mengenal Spodoptera frugiperda, Hama Baru pada Jagung
oleh ICHSAN KURNIAWAN,SP
Spodoptera frugiperda atau Fall Armyworm (FAW) adalah hama jenis baru di Indonesia. Hama ini menyerang tanaman jagung. Dikenal dengan sebutan ulat grayak (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) atau Fall Armyworm, hama ini muncul mulai tahun 2018. Pada tahun tersebut, FAW masuk Benua Asia di kawasan India, Myanmar, dan Thailand. Sekitar bulan Maret tahun 2019 serangan dilaporkan dengan tingkat berat justru memasuki Provinsi Sumatera Barat tepatnya di Kabupaten Pasaman Barat, selanjutnya menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Di Kabupaten Agam sendiri, hama ini juga muncul berdekatan dengan kemunculannya pertama kali di Sumbar. Penulis yang bertugas di Kecamatan Tilatang Kamang, pertama kali menemukan kasus bersama Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) setelah mendapatkan laporan sekitar awal September 2019 dan langsung melakukan pengamatan serangan di lapangan.
Sebagai
jenis hama baru yang menyerang pertanaman jagung, ulat grayak
atau Spodoptera frugiperda ini eksistensinya sudah menjadi ancman
berat bagi para petani jagung di Negara kita. Hama ini mejadi momok menakutkan
dikarenakan dapat merusak tanman jagung dalam waktu singkat. Hal ini membuat informasi
melalui pengamatan langsung di pertanaman jagung atau sistem scounting sangatlah penting sekali yang selanjutnya
akan melahirkan gerakan pencegahan dan pengendalian yang dilakukan
secara dini.
Sejauh ini mayoritas pengendalian UGJ banyak mengandalkan insektisida. Di Afrika insektisida yang sering digunakan adalah lambda-cyhalothrin, cypermethrin, chlor- pyrifos ethyl, emamectin benzoate, ethyl palmitate, monocrotophos, malathion (Rwomushana et al. 2018). Pengendalian insektisida memang merupakan pengendalian jangka pendek yang dapat digunakan dengan cepat untuk mengatasi meluasnya persebaran hama ini dengan cepat. Namun penggunaan insektisida seyogyanya tidak dapat digunakan dalam jangka panjang secara terus menerus karena memiliki beberapa dampak negatif seperti: dapat membunuh serangga non-target, menyabkan resistensi, dan meningkatkan biaya produksi (Ruíz-Nájera et al. 2007; Day et al. 2017; Prasanna et al. 2018).
Sampai saat ini, petani di Indonesia sangat
mengandalkan penggunaan pestisida sintetik. Padahal beberapa penelitian telah
menunjukan bahwa resistensi ternyata
cepat sekali terbentuk di populasi UGJ. Kumela et al. (2018),
menemukan bahwa hasil penggunaan pestisida pada UGJ teryata kurang
efektif karena resistensi cepat terbentuk. Resistensi ini juga ditemukan
terjadi pada populasi S. frugiperda dari Indonesia. Resistensi
diakibatkan oleh mutasi gen yang berpotensi resisten terhadap insektisida piretroid, organofosfat dan karbamat
(Boaventura et al. 2019). Di negara
lain seperti Brazil dan Puerto Rico telah ditemukan mutasi gen yang berpotensi
menimbulkan resistensi terhadap emamektrin benzoat, diamida, organofosfat,
siponosin, benzoylureas (Boaventura et
al. 2019), dan spinosad (Lira et al. 2019)
serta insektisida dengan bahan aktif Bt (Bacillus
thuringiensis) (Jakka et al. 2019).
Beberapa tanda dan gejala
terjadinya serangan ulat grayak antara lain Pada tanaman terdapatnya tanda gesekan
yang berbekas dari larva atau ulat, selain itu pada permukaan atas dari daun
atau daerah di sekitaran pucuk tanaman, akan didapati serbuk kasar yang
bentuknya menyerupai serbuk gergaji. Bagian pucuk tanaman jagung ini akan
rusak, begitu juga dengan daun muda sehingga akan berakibat tanaman akhirnya
mati. Peningkatan populasi yang cepat akan mengakibatkan serangan juga
meluas ke bagian tongkol. Secara umum akan menyebabkan gagal tumbuh atau panen.
Mencari dan mengumpulkan
kelompok telur dan dihancurkan dengan tangan adalah uspaya mekanis yang dapat
dilakukan pada tanaman yang terserang. Monitoring lahan seminggu dua kali di
masa vegetatif, terutama pada saat tingginya peletakan telur. Larva muda
sebaiknya diambil sebelum melakukan penetrasi lebih jauh. Untuk pengendalian
hayati dapat dilakukan dengan menjaga musuh alami tetap hidup. Begitu juga dengan
predator dari Spodoptera ini yang diantaranya Cocopet (Dermaptera:
Forficulidae), Kumbang Kepik (Coleoptera: Coccinellidae), Kumbang Tanah
(Coleoptera: Carabidae), Semut (Hymenoptera: Formicidae). Cara ini
ditempuh dengan pelestarian Mikro Organisme Lokal atau pengkoleksian MOL seperti
cendawan Beauviria bassiana dan Metharizium. Dalam pemakaian pestisida sesuai
dengan literature dan hasil pleno pestisida di tingkat Pusat, maka pemakaian
pestisida adalah dengan bahan aktif Emamektin benzoate Siantraniliprol Spinetoram
dan Tiametoksam.
Semoga tulisan ini dapat
membantu dalam mengendalikan atau bahkan kita dapat mencegah serangan hama ini
meluas di Kabupaten Agam secara umum, khususnya di Kecamatan Tilatang Kamang
yang dengan luasan tanam jagung cukup luas tersebar pada ketiga Nagari yakni
Koto Tangah, Kapau dan Gadut.
Senin, 03 Oktober 2016
IMAM RAIH PENGHARGAAN, ICHSAN : CEMOOHAN ITU BERBUAH MANIS
IV Koto - DANGAU KREATIF
"Cemo'ohan itu berbuah manis". Begitulah ungkapan yang diungkapkan Ichsan Kurniawan,SP, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang hampir 8 tahun menemani Junaidi Imam Sati dalam mengeksplor inovasi teknologi budidaya pertanian secara alami. Ia mengungkapkan bahwa Imam, sapaan akrab Junaidi, petani asal Nagari Sungai Landia, Kecamatan IV Koto ini pantas mendapatkan penghargaan dalam ajang Petani Berprestasi Tahun 2016 yang penyerahan penghargaannya dilakukan Kamis (29/9) lalu. Imam meraih penghargaan peringkat II berkat inovasi penggunaan teknologi ramah lingkungan dengan pemanfaatan nutrisi hara organik yang diracik sendiri.
Masih segar dalam ingatan Ichsan bagaimana mereka (red- Imam dan Ichsan) yang kala itu mulai menerapkan teknologi organik di salah satu lahan cabe, sempat dicemo'oh oleh masyarakat yang ada di sekitar. Mereka dianggap "tak waras" dan "menyimpang" atas perlakuan mereka dalam berbudidaya menggunakan bahan dan perlakuan alami. Misalnya salah satu contoh saja doktrin pemakaian ragam sarana produksi baik pupuk maupun pestisida nabati dalam berbudidaya cabe diasumsikan sebagai salah satu hal "wajib" menimbang tingginya resiko seranga hama penyakit pada tanaman cabe yang bisa mengakibatkan kegagalan total pada panen. Sementara mereka justru tidak mengindahkan cenderung membuat bahan sendiri sebagai sarana produksi. Perlakuan lain pun juga banyak dianggap "anomali" bagi pembudidaya cabe sekitar karena bersifat "melawan arus" dari kebiasaan budidaya petani.
"Namun seiring waktu berlalu. Ibarat pepatah bahwa waktu yang kan menjawab semua. Pernah pertengahan Tahun 2013, disaat hampir semua lahan sekitar lokasi pertanaman Imam mendapat serangan virus kuning. Kala itu hanya lahan Imam yang "adem-ayem" tanpa gaduh serangan. Ini juga berkat bantuan dampingan dari Adri,SP POPT Kecamatan IV Koto sebagai tempat berkonsultasi terhadap pengendalian penyakit yang tepat serta ramah lingkungan. Sejak saat itu, beberapa orang petani sering singgah untuk mencari tahu resep apa yang diberikan hingga akhirnya sampai saat ini banyak petani yang mampir untuk "berkonsultasi" dan mulai mengadopsi pertanian ramah lingkungan ala Imam." kenang Ichsan yang pernah meraih penghargaan Penyuluh Teladan peringkat II Provinsi Sumatra Barat dua tahun lalu ini.
Alhamdulillah, meskipun penerapan teknologi ini masih jauh dari sempurna, setidaknya Imam telah mampu memebrikan kontribusi terhadap pembangunan pertanian di Kecamatan IV Koto dalam perspektif pertanian ramah lingkungan. Petani yang juga salah seorang mubaligh ini juga getol menyampaikan pengalamannya ketika berdakwah. Kelebihan lain yang didapat, Imam bahkan mulai mengerti tentang keilmuan dalam pertanian seperti metabolisme tumbuh, kandungan unsur hara dan lain sebagainya sebagaimana seorang akdemisi.
Semoga apa yang diraih Imam menjadi amalan dan motivasi dalam memberikan kontribusi berarti terhadap dunia pertanian dan kesejahteraan masyarakat tani Indonesia. Selamat Pak Imam. (tim DG, 1/10/2016)
BUAH KETEKUNAN, PARA PETANI IV KOTO RAIH PENGHARGAAN
IV Koto - DANGAU PETANI KREATIF
Di tengah sumringahnya perayaan hari tani yang diperingati setiap 24 September, para petani IV Koto Kabuapten Agam juga ikut merasakan sepercik keahagiaan. Pasalnya Kamis (29/9) tiga orang petani lintas sektor Kecamatan ini diserahi penghargaan dalam ajang Kompetisi Petani Berprestasi Tahun 2016 yang diadakan BP4K2P Kabupaten Agam yang diserahkan Drs. Martias Wanto, Sekretaris Daerah Kabupaten Agam.
Tiga kategori yang disabet mendapat peringkat runner-up. Pada sektor perikanan, dengan inovasi budidaya lele dengan kolam semi permanen tampil sebagai runner-up Hidayatul Khairi dari Nagari Balingka. Sementara Junaidi Imam Sati, petani asal Nagari Sungai Landia tampil peringkat kedua untuk sektor pertanian dengan inovasi cerdas pembuatan aneka nutrisi dan hara organiknya. Untuk sektor kehutanan, Robi Suwandi dari Nagari Koto Gadang juga meraih peringkat serupa.
Afrizal, Kepala UPT BP4K2P Kecamatan IV Koto mengaku sangat senang atas apa yang telah diraih para petani IV Koto. "Hal ini merupakan buah ketekunan para petani dalam menggali dan menerapkan inovasi pada bidang mereka masing-masing serta tak terlepas dari peran rekan-rekan di lapangan yang telah setia mendampingi mitra kerja mereka (red-para petani) dalam menemukan teknologi yang tepat bagi mereka". ucap Beliau dalam sebuah diskusi pendek.
Semoga apa yang telah diraih dapat menjadi motivasi untuk terus berinovasi dalam memberikan sumbangsih terhadap dunia pembangunan pertanian ke depan. (ikj, 29/9).
Jumat, 16 September 2016
DIPERTAHORNAK AGAM APRESIASI PERKEMBANGAN BAWANG TARATAK BARU
IV Koto - DANGAU PETANI KREATIF
Rabu (14/9), Kelompok Tani Taratak Baru yang berlokasi di Jorong Koto Hilalang, Nagari Balingka Kecamatan IV Koto dikunjungi pihak Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (Dipertahornak) Kabupaten Agam. Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka monitoring kegiatan Hortikultura Tahun 2016.
Kelompok yang diketuai Irman dan tengah mengembangkan komoditi Bawang Merah seluas 1 Ha merasa senang. Pasalnya pihak Dipertahornak Agam yang meninjau kondisi lapangan ini mengapresiasi keadaan pertanaman yang ada. Sampai saat ini kondisi pertanaman telah menggambarkan bayangan produksi yang cukup baik. Hal ini terlihat dari jumlah umbi yang ada.
Turun langsung ke lapangan meninjau ke lokasi yakni Zulmarni,SP Kepala Bidang Hortikultura dan Miswarni,SP yang didampingi Afrizal, Kepala UPT BP4K2P Kabupaten Agam. Turut hadir dalam kegiatan monitoring ini Aljufri,SP, Koordinator Penyuluh Kecamatan IV Koto, Winarni Elridhova,A.Md dan Nova Mustika,S.TP selaku penyuluh pertanian. (IchsanK)
Rabu, 14 September 2016
TRAINING UPT BP4K2P IV KOTO BAHAS CAPAIAN KEGIATAN
Training bulanan yang dilaksanakan pekan kedua setiap bulan di UPT BP4K2P Kecamatan IV Koto, Selasa (13/9) membahas monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan yang tengah dilaksanakan pada wilayah kerja UPT BP4K2P IV Koto baik sektor pertanian, perikanan maupun kehutanan. Kegiatan rutin yang dihadiri seluruh penyuluh pertanian IV Koto dan ini kembali mengupas perkembangan ragam program yang tengah berlangsung di Kecamatan IV Koto. Selain pengembangan hortikultura meliputi cabe dan bawang merah, upaya penyebaran teknologi tanaman pangan juga tetap menjadi trending topic. Konten utama dari semua item tersebut sebenarnya tak terlepas dari usaha menjaga konsistensi pelaksanaan tupoksi penyuluh yang tetap menuntut kerja keras dan pemikiran cerdas dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan pertanian.
Sebagaimana diungkapkan oleh Afrizal, Kepala UPT BP4K2P IV Koto bahwa selain mendukung uapaya pemerintah dalam penggenjotan angka produksi melalui program yang ada, sumbangsih paling berarti penyuluh yakni pendampingan petani dan kelembagaan terhadap petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani. Senada dengan hal tersebut, Aljufri, Koordinator Penyuluh Kecamatan IV Koto juga menekankan pentingnya kontinuitas pembinaan terhadap kelompok sebagai bentuk komitmen dalam mendampingi petani dalam memajukan usaha taninya melalui pentransferan teknologi yang tepat dan spesifik lokasi.
Setidaknya ada poin penting yang diharapkan dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan misalnya saja paling tidak, terjadi peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan masyarakat tani yang salah satunya bisa dibuktikan melalui peningkatan produksi.
Selain beberapa unit Sekolah Lapang (SL), beberapa paket kursus, rembug dan unit demplot juga telah sukses dilaksanakan pada beberapa Nagari pada tahun 2016 ini. Sementara beberapa kegiatan yang bersifat fisik sarana prasaran seperti rehab irigasi juga Alhamdulillah rampung dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat tani yakni di Nagari Sungai Landia, Koto Tuo dan Guguak Tabek Sarojo. Semoga seluruh kegiatan dapat memberikan hasil dan mafaat yang optimal. (IchsanK, 13/9)
Rabu, 03 Agustus 2016
Peringati 7 Tahun Berdiri, Mubarakah Reinstal Visi dan Tekad
Selain itu Kelompok yang baru saja usai melaksanakan kegiatan kursus dan rembug tani desa terkait pengembangan komoditi cabe ini juga menyusun pengorganisasian baru terkait banyaknya kegiatan yang dirancang. Pembentukan beberapa seksi yang sebelumnya tidak ada dirasa akan mempermudah pelaksanaan Rencana Usaha Tani kelompok yang akan dilaksanakan yang tentunya dengan menjalankan seluruh fungsi organisasi yang telah disepakati.
Pertemuan ini juga dijadikan sekaligus peringatan 7 tahun berdirinya Kelompok Tani dengan aneka ragam warna dalam perjalanannya dari dikukuhkannya pada tahun 2009 silam. Kelompok yang tetap keukeuh memberikan sumbangsih terhadap dunia pertanian ini cukup banyaki melalui berbagai cerita sebelum terbilang sukses dan mandiri seperti saat ini. Semoga semangat membangun dari masing-masing anggota tidak pernah pudar. Aamiin. (IchsanK)
Pemerintah Nagari Koto Gadang Perkuat Kelembagaan Tani
Rabu (4/2) Pemerintahan Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam melaksanakan pembinaan Kelompok Tani dan Perkumpulan Petani Pem...
-
oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP Pada tahun 2014 pertanian organik mulai diminati di Nagari Sungai Landia. Beberapa kelompok tani mulai eksis de...
-
Penyuluhan Pertanian adalah suatu usaha atau upaya untuk mengubah perilaku petani dan keluarganya, agar mereka mengetahui dan mem...
