Tampilkan postingan dengan label Warta Tani Agam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta Tani Agam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Januari 2022

KUNJUNGAN ANGGOTA DPRD PROVINSI BPK H.ISMET AMZIS, SH KE SUNGAI LANDIA

 


Rabu (19/1) kunjungan anggota DPRD Provinsi Sumbar Bpk H. Ismet Amzis, SH beserta Tim dalam rangka silaturahmi dan dialog dengan Kelompok Tani di Kecamatan IV Koto. Acara yang bertempat di Kantor Walinagari Sungai Landia ini diahdiri Camat IV Koto, Bpp Kecamatan Ampek Koto UPT Puskeswan, Gapoktan, PPS, KTNA, Ketua Bamus,, Ketua KAN dan sejumlah tokoh masyarakat. Diskusi yang berlangsung hangat membuahkan harapan bagi Kelompok Tani agar di tahun ini serta tahun depan akan lebih banyak lagi pengalokasian dana Pokok Pikiran Anggota DPRD untuk membantu usaha tani Kelompok. Dan hal tersebut disambut baik oleh Bpk H. Ismet Amzis, SH selaku Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat.
Forum dialog kemudian dilanjutkan pada siang hari dengan kunjungan lapang ke salah satu Kelompok yang mendapatkan bantuan dari dana Pokok Pikiran beliau.. Acara ditutup dengan makan bersama di rumah Pengurus Kelompok (by : Ichsan KJ)

Sabtu, 06 Maret 2021

TAHUN 2021, DISTAN AGAM KEMBALI OPTIMALKAN RJIT

Salah satu komponen yang penting dalam mendukung kegiatan pertanian adalah ketersediaan air untuk lahan. Oleh sebab itu, water management yang baik sangat dibutuhkan agar bisa menyalurkan air ke lahan pertanian. Salah satu contoh water management yang bisa dilakukan adalah dengan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT).



RJIT sendiri adalah bagian dari water management yang bertujuan bukan hanya untuk memperbaiki saluran irigasi yang rusak. Tetapi juga memaksimalkan dan meningkatkan fungsi irigasi. Sehingga luas areal tanam meningkat dan tentunya produktivitas juga bisa meningkat

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan bahwa kegiatan RJIT dilakukan untuk memastikan lahan pertanian mendapatkan irigasi yang akan menjamin kebutuhan air hingga panen.

Di tahun 2021, Kabupaten Agam melalui Dinas Pertanian dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan IV Koto terus berusaha meningkatkan produksi padi yang salah satunya dengan mengoptimalkan pegnuatan sarana prasarana pertanian salah satunya melalui Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) di berbagai  Nagari. Salah satu Kelompok Petani Pemakai Air (P3A) yang mendapatkan kegiatan adalah P3A Pondok Sakato yang berlokasi di Jorong Sutijo Nagari Koto Gadang. Di lokasi ini sendiri memang kesulitan dalam hal pengairan. Hal tersebut mengakibatkan puluhan sawah terkendala dalam pertanaman dikarenakan irigasi yang tidak mendukung. 

RJIT menjadi sangat penting karena berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan air untuk lahan. Kebutuhan air untuk tanaman padi sawah mencakup perhitungan air yang masuk dan keluar dari lahan sawah. Kebutuhan ini tergantung dari jenis varietas, umur tanaman, waktu pertanaman, sifat tanahnya, teknik pemberian air, jarak ke sumber air dan luas areal yang akan diairi.

Berdasarkan hasil penelitian yang ada, jumlah air yang diperlukan untuk menghasilkan produksi padi yang optimal adalah 180-300 mm per bulan. Jadi, untuk 1 periode musim tanam, dibutuhkan air sebanyak 1.240 mm. Untuk sawah irigasi, dari tanam sampai panen membutuhkan debit air yang berbeda-beda. Untuk padi yang berumur 100 hari memerlukan air 520-1.620 mm. Sedangkan padi umur 130 hari membutuhkan air sebanyak 720-2.160 mm. “Ini bervariasi, tergantung dari sistem pengelolaannya

Rehabilitasi jaringan irigasi tersier (RJIT) sendiri merupkan bagian vital dari proses produksi di areal sawah. Artinya, kegiatan RJIT dilakukan bukan hanya untuk memperbaiki atau membenahi, tetapi juga memaksimalkan fungsi saluran irigasi. Muaranya dengan maksimalisasi fungsi saluran tersebut, maka luas areal tanam akan bertambah. Hasil akhir yang juga diharapkan dapat meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan produktivitas.

RJIT dapat dilakukan dengan swakelola. Dengan swakelola dan melibatkan masyarakat sekitar terutama Kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) semangat partisipasi masyarakat semakin tinggi. Sehingga rasa tanggung jawab dan rasa memiliki saluran yang dibangun semakin baik, karena telah merasakan manfaatnya secara langsung (IKJ).

Jumat, 13 Desember 2019

DRYER UV, SOLUSI PENGERINGAN PADI MUSIM PENGHUJAN


Musim penghujan menjadi salah satu kendala terhadap kegiatan pasca panen komoditi padi sawah. Komoditi yang menjadi induk dari komoditi pangan tanah air ini mengalami permasalahan pelik sejak hujan hampir turun setiap hari. Proses pengeringan yang konvensional dengan mengharapkan sinar matahari terganggu sehingga mengakibatkan rangkaian kegiatan produksi beras pun melambat dan memakan waktu cukup panjang. Termasuk di wilayah dengan luasan padi sawah yang cukup besar seperti Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam.

Namun di tahun 2019, Kementan melalui Ditjen Pangan dan Dinas TPHP Sumbar serta Dinas Pertanian Kabupaten Agam membantu alat pengeringan alternative yang cukup menjadi solusi terhadap permasalahan tersebut. Kelompok Tani Fajar Indah, Nagari Kapau Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam adalah salah satu kelompok yang beruntung menerima bantuan tersebut dan merasakan manfaat dari keberadaan bangunan Dryer UV ini. Hal ini diungkapkan Alwel Kamis (12/12/2019) di sela kunjungan PT ASABI ke lokasi Dryer UV, Ketua Kelompok Fajar Indah mengakui telah merasakan efektifitas dan efisiensi penggunaan Dryer UV di tengah kondisi cuaca yang sering hujan ini. Sementara Pihak Dinas Pertanian Kabupaten Agam memberikan dukungan penuh demi mengatasi kendala produksi usaha tani di tingkat petani dengan menyampaikan semua usulan/proposal yang disusun Kelompok Tani bersama Penyuluh Pertanian di lapangan berdasarkan identifikasi kebutuhan di tingkat petani.



Dok. BPP Kecamatan Tilatang Kamang (2019)

Diperkenalkan PT Agricon Sentra Agribisnis Indonesia (ASABI) yang bekerjasama dengan Kementrian Pertanian, Rumah Pengering Suryakancana (sebutan untuk pengering) ini memanfaatkan efek rumah kaca dengan fasilitas plastic UV untuk membuat kondisi pengeringan tetap stabil dalam menghantar panas sehingga mampu membantu kegiatan pengeringan meskipun dalam kondisi hujan. Kelebihan Dryer UV sebagai rumah pengering ini yakni lebih efektif dan efisien. Selain itu bangunan ini ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan baku listrik dan lebih ekonomis bebas hama tikus dan serangga serta mudah pemeliharaannya.

Jika gabah yang dijemur, maka kualitasnya menjadi lebih baik. Misalnya, saat panen kadar air gabah mencapai 24 persen. Untuk mengeringkan hingga kadar air 14 persen hanya perlu 2-3 hari sudah kering. Perbedaan suhu di luar bangunan dan di dalam Rumah Pengering Suryakancana berkisar antara 5-10 derajat. Jadi, dengan bantuan Rumah Pengering Suryakancana, proses pengeringan dapat tetap berjalan walaupun cuaca hujan. Pada saat kondisi cuaca cerah pengeringan dapat dilakukan selama 2-3 hari.

Dengan manfaat yang cukup besar ini, mudah-mudahan ke depan Kementrian Pertanian melalui Ditjen Pangan dapat menyalurkan kembali bantuan pengering seperti Dryer UV untuk unit-unit RMU yang dikelola Kelompok Tani sehingga kendala hujan tidak lagi memperlambat proses produksi beras.

Kamis, 26 September 2019

Mengenal Spodoptera frugiperda, Hama Baru pada Jagung

 oleh ICHSAN KURNIAWAN,SP

Spodoptera frugiperda atau Fall Armyworm (FAW) adalah hama jenis baru di Indonesia. Hama ini menyerang tanaman jagung. Dikenal dengan sebutan ulat grayak (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) atau Fall Armyworm, hama ini muncul mulai tahun 2018. Pada tahun tersebut, FAW masuk Benua Asia di kawasan India, Myanmar, dan Thailand. Sekitar bulan Maret tahun 2019 serangan dilaporkan dengan tingkat berat justru memasuki Provinsi Sumatera Barat tepatnya di Kabupaten Pasaman Barat, selanjutnya menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Di Kabupaten Agam sendiri, hama ini juga muncul berdekatan dengan kemunculannya pertama kali di Sumbar. Penulis yang bertugas di Kecamatan Tilatang Kamang, pertama kali menemukan kasus bersama Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) setelah mendapatkan laporan sekitar awal September 2019 dan langsung melakukan pengamatan serangan di lapangan.

Sebagai jenis hama baru yang menyerang pertanaman jagung, ulat grayak atau Spodoptera frugiperda ini eksistensinya sudah menjadi ancman berat bagi para petani jagung di Negara kita. Hama ini mejadi momok menakutkan dikarenakan dapat merusak tanman jagung dalam waktu singkat. Hal ini membuat informasi melalui pengamatan langsung di pertanaman jagung atau sistem scounting sangatlah penting sekali yang selanjutnya akan melahirkan gerakan pencegahan dan pengendalian yang dilakukan secara dini.

Sejauh ini mayoritas pengendalian UGJ banyak mengandalkan insektisida. Di Afrika insektisida yang sering digunakan adalah lambda-cyhalothrin, cypermethrin, chlor- pyrifos ethyl, emamectin benzoate, ethyl palmitate, monocrotophos, malathion (Rwomushana et al. 2018). Pengendalian insektisida memang merupakan pengendalian jangka pendek yang dapat digunakan dengan cepat untuk mengatasi meluasnya persebaran hama ini dengan cepat. Namun penggunaan insektisida seyogyanya tidak dapat digunakan dalam jangka panjang secara terus menerus karena memiliki beberapa dampak negatif seperti: dapat membunuh serangga non-target, menyabkan resistensi, dan meningkatkan biaya produksi (Ruíz-Nájera et al. 2007; Day et al. 2017; Prasanna et al. 2018).


dok. Ichsan Kurniawan,SP BPP Tilatang Kamang (24 September, 2019)

Sampai saat ini, petani di Indonesia sangat mengandalkan penggunaan pestisida sintetik. Padahal beberapa penelitian telah menunjukan bahwa resistensi ternyata cepat sekali terbentuk di populasi UGJ. Kumela et al. (2018), menemukan bahwa hasil penggunaan pestisida pada UGJ teryata kurang efektif karena resistensi cepat terbentuk. Resistensi ini juga ditemukan terjadi pada populasi S. frugiperda dari Indonesia. Resistensi diakibatkan oleh mutasi gen yang berpotensi resisten terhadap insektisida piretroid, organofosfat dan karbamat (Boaventura et al. 2019). Di negara lain seperti Brazil dan Puerto Rico telah ditemukan mutasi gen yang berpotensi menimbulkan resistensi terhadap emamektrin benzoat, diamida, organofosfat, siponosin, benzoylureas (Boaventura et al. 2019), dan spinosad (Lira et al. 2019) serta insektisida dengan bahan aktif Bt (Bacillus thuringiensis) (Jakka et al. 2019).

Beberapa tanda dan gejala terjadinya serangan ulat grayak antara lain Pada tanaman terdapatnya tanda gesekan yang berbekas dari larva atau ulat, selain itu pada permukaan atas dari daun atau daerah di sekitaran pucuk tanaman, akan didapati serbuk kasar yang bentuknya menyerupai serbuk gergaji. Bagian pucuk tanaman jagung ini akan rusak, begitu juga dengan daun muda sehingga akan berakibat tanaman akhirnya mati. Peningkatan populasi yang cepat akan mengakibatkan serangan juga meluas ke bagian tongkol. Secara umum akan menyebabkan gagal tumbuh atau panen.

Mencari dan mengumpulkan kelompok telur dan dihancurkan dengan tangan adalah uspaya mekanis yang dapat dilakukan pada tanaman yang terserang. Monitoring lahan seminggu dua kali di masa vegetatif, terutama pada saat tingginya peletakan telur. Larva muda sebaiknya diambil sebelum melakukan penetrasi lebih jauh. Untuk pengendalian hayati dapat dilakukan dengan menjaga musuh alami tetap hidup. Begitu juga dengan predator dari Spodoptera ini yang diantaranya Cocopet (Dermaptera: Forficulidae), Kumbang Kepik (Coleoptera: Coccinellidae), Kumbang Tanah (Coleoptera: Carabidae),  Semut (Hymenoptera: Formicidae). Cara ini ditempuh dengan pelestarian Mikro Organisme Lokal atau pengkoleksian MOL seperti cendawan Beauviria bassiana dan Metharizium. Dalam pemakaian pestisida sesuai dengan literature dan hasil pleno pestisida di tingkat Pusat, maka pemakaian pestisida adalah dengan bahan aktif Emamektin benzoate Siantraniliprol Spinetoram dan Tiametoksam.

Semoga tulisan ini dapat membantu dalam mengendalikan atau bahkan kita dapat mencegah serangan hama ini meluas di Kabupaten Agam secara umum, khususnya di Kecamatan Tilatang Kamang yang dengan luasan tanam jagung cukup luas tersebar pada ketiga Nagari yakni Koto Tangah, Kapau dan Gadut.

Senin, 03 Oktober 2016

IMAM RAIH PENGHARGAAN, ICHSAN : CEMOOHAN ITU BERBUAH MANIS

IV Koto - DANGAU KREATIF
"Cemo'ohan itu berbuah manis". Begitulah ungkapan yang diungkapkan Ichsan Kurniawan,SP, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang hampir 8 tahun menemani Junaidi Imam Sati dalam mengeksplor inovasi teknologi budidaya pertanian secara alami. Ia mengungkapkan bahwa Imam, sapaan akrab Junaidi, petani asal Nagari Sungai Landia, Kecamatan IV Koto ini pantas mendapatkan penghargaan dalam ajang Petani Berprestasi Tahun 2016 yang penyerahan penghargaannya dilakukan Kamis (29/9) lalu. Imam meraih penghargaan peringkat II berkat inovasi penggunaan teknologi ramah lingkungan dengan pemanfaatan nutrisi hara organik yang diracik sendiri.

Masih segar dalam ingatan Ichsan bagaimana mereka (red- Imam dan Ichsan) yang kala itu mulai menerapkan teknologi organik di salah satu lahan cabe, sempat dicemo'oh oleh masyarakat yang ada di sekitar. Mereka dianggap "tak waras" dan "menyimpang" atas perlakuan mereka dalam berbudidaya menggunakan bahan dan perlakuan alami. Misalnya salah satu contoh saja doktrin pemakaian ragam sarana produksi baik pupuk maupun pestisida nabati dalam berbudidaya cabe diasumsikan sebagai salah satu hal "wajib" menimbang tingginya resiko seranga  hama penyakit pada tanaman cabe yang bisa mengakibatkan kegagalan total pada panen. Sementara mereka justru tidak mengindahkan cenderung membuat bahan sendiri sebagai sarana produksi. Perlakuan lain pun juga banyak dianggap "anomali" bagi pembudidaya cabe sekitar karena bersifat "melawan arus" dari kebiasaan budidaya petani.

"Namun seiring waktu berlalu. Ibarat pepatah bahwa waktu yang kan menjawab semua. Pernah pertengahan Tahun 2013, disaat hampir semua lahan sekitar lokasi pertanaman Imam mendapat serangan virus kuning. Kala itu hanya lahan Imam yang "adem-ayem" tanpa gaduh serangan. Ini juga berkat bantuan dampingan dari Adri,SP POPT Kecamatan IV Koto sebagai tempat berkonsultasi terhadap pengendalian penyakit yang tepat serta ramah lingkungan. Sejak saat itu, beberapa orang petani sering singgah untuk mencari tahu resep apa yang diberikan hingga akhirnya sampai saat ini banyak petani yang mampir untuk "berkonsultasi"  dan mulai mengadopsi pertanian ramah lingkungan ala Imam." kenang Ichsan yang pernah meraih penghargaan Penyuluh Teladan peringkat II Provinsi Sumatra Barat dua tahun lalu ini.

Alhamdulillah, meskipun penerapan teknologi ini masih jauh dari sempurna, setidaknya Imam telah mampu memebrikan kontribusi terhadap pembangunan pertanian di Kecamatan IV Koto dalam perspektif pertanian ramah lingkungan. Petani yang juga salah seorang mubaligh ini juga getol menyampaikan pengalamannya ketika berdakwah. Kelebihan lain yang didapat, Imam bahkan mulai mengerti tentang keilmuan dalam pertanian seperti metabolisme tumbuh, kandungan unsur hara dan lain sebagainya sebagaimana seorang akdemisi.

Semoga apa yang diraih Imam menjadi amalan dan motivasi dalam memberikan  kontribusi berarti terhadap dunia pertanian dan kesejahteraan masyarakat tani Indonesia. Selamat Pak Imam. (tim DG, 1/10/2016)

BUAH KETEKUNAN, PARA PETANI IV KOTO RAIH PENGHARGAAN

IV Koto - DANGAU PETANI KREATIF
Di tengah sumringahnya perayaan hari tani yang diperingati setiap 24 September, para petani IV Koto Kabuapten Agam juga ikut merasakan sepercik keahagiaan. Pasalnya Kamis (29/9) tiga orang petani lintas sektor Kecamatan ini diserahi penghargaan dalam ajang Kompetisi Petani Berprestasi Tahun 2016 yang diadakan BP4K2P Kabupaten Agam yang diserahkan Drs. Martias Wanto, Sekretaris Daerah Kabupaten Agam.

Tiga kategori yang disabet mendapat peringkat runner-up. Pada sektor perikanan, dengan inovasi budidaya lele dengan kolam semi permanen tampil sebagai runner-up Hidayatul Khairi dari Nagari Balingka. Sementara Junaidi Imam Sati, petani asal Nagari Sungai Landia tampil peringkat kedua untuk sektor pertanian dengan inovasi cerdas pembuatan aneka nutrisi dan hara organiknya. Untuk sektor kehutanan, Robi Suwandi dari Nagari Koto Gadang juga meraih peringkat serupa.

Afrizal, Kepala UPT BP4K2P Kecamatan IV Koto mengaku sangat senang atas apa yang telah diraih para petani IV Koto. "Hal ini merupakan buah ketekunan para petani dalam menggali dan menerapkan inovasi pada bidang mereka masing-masing serta tak terlepas dari peran rekan-rekan di lapangan yang telah setia mendampingi mitra kerja mereka (red-para petani) dalam menemukan teknologi yang tepat bagi mereka". ucap Beliau dalam sebuah diskusi pendek.

Semoga apa yang telah diraih dapat menjadi motivasi untuk terus berinovasi dalam memberikan sumbangsih terhadap dunia pembangunan pertanian ke depan. (ikj, 29/9).

Jumat, 16 September 2016

DIPERTAHORNAK AGAM APRESIASI PERKEMBANGAN BAWANG TARATAK BARU

IV Koto - DANGAU PETANI KREATIF
Rabu (14/9), Kelompok Tani Taratak Baru yang berlokasi di Jorong Koto Hilalang, Nagari Balingka Kecamatan IV Koto dikunjungi pihak Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (Dipertahornak) Kabupaten Agam. Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka monitoring kegiatan Hortikultura Tahun 2016.

Kelompok yang diketuai Irman dan tengah mengembangkan komoditi Bawang Merah seluas 1 Ha merasa senang. Pasalnya pihak Dipertahornak Agam yang meninjau kondisi lapangan ini mengapresiasi keadaan pertanaman yang ada. Sampai saat ini kondisi pertanaman telah menggambarkan bayangan produksi yang cukup baik. Hal ini terlihat dari jumlah umbi yang ada.

Turun langsung ke lapangan meninjau ke lokasi yakni Zulmarni,SP Kepala Bidang Hortikultura dan Miswarni,SP yang didampingi Afrizal, Kepala UPT BP4K2P Kabupaten Agam. Turut hadir dalam kegiatan monitoring ini Aljufri,SP, Koordinator Penyuluh Kecamatan IV Koto, Winarni Elridhova,A.Md dan Nova Mustika,S.TP selaku penyuluh pertanian. (IchsanK)

Rabu, 14 September 2016

TRAINING UPT BP4K2P IV KOTO BAHAS CAPAIAN KEGIATAN

Training bulanan yang dilaksanakan pekan kedua setiap bulan di UPT BP4K2P Kecamatan IV Koto, Selasa (13/9) membahas monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan yang tengah dilaksanakan pada wilayah kerja UPT BP4K2P IV Koto baik sektor pertanian, perikanan maupun kehutanan. Kegiatan rutin yang dihadiri seluruh penyuluh pertanian IV Koto dan ini kembali mengupas perkembangan ragam program yang tengah berlangsung di Kecamatan IV Koto. Selain pengembangan hortikultura meliputi cabe dan bawang merah, upaya penyebaran teknologi tanaman pangan juga tetap menjadi trending topic. Konten utama dari semua item tersebut sebenarnya tak terlepas dari usaha menjaga konsistensi pelaksanaan tupoksi penyuluh yang tetap menuntut kerja keras dan pemikiran cerdas dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan pertanian.

Sebagaimana diungkapkan oleh Afrizal, Kepala UPT BP4K2P IV Koto bahwa selain mendukung uapaya pemerintah dalam penggenjotan angka produksi melalui program yang ada, sumbangsih paling berarti penyuluh yakni pendampingan petani dan kelembagaan terhadap petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani. Senada dengan hal tersebut, Aljufri, Koordinator Penyuluh Kecamatan IV Koto juga menekankan pentingnya kontinuitas pembinaan terhadap kelompok sebagai bentuk komitmen dalam mendampingi petani dalam memajukan usaha taninya melalui pentransferan teknologi yang tepat dan spesifik lokasi.

Setidaknya ada poin penting yang diharapkan dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan misalnya saja paling tidak, terjadi peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan masyarakat tani yang salah satunya bisa dibuktikan melalui peningkatan produksi.

Selain beberapa unit Sekolah Lapang (SL), beberapa paket kursus, rembug dan unit demplot juga telah sukses dilaksanakan pada beberapa Nagari pada tahun 2016 ini. Sementara beberapa kegiatan yang bersifat fisik sarana prasaran seperti rehab irigasi juga Alhamdulillah rampung dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat tani yakni di Nagari Sungai Landia, Koto Tuo dan Guguak Tabek Sarojo. Semoga seluruh kegiatan dapat memberikan hasil dan mafaat yang optimal. (IchsanK, 13/9)

Rabu, 03 Agustus 2016

Peringati 7 Tahun Berdiri, Mubarakah Reinstal Visi dan Tekad

IV Koto - Selasa (2/8/2016) pertemuan bersama Keltan Mubarakah. Berlokasi di Bawah Kelok, Jorong Ranah, Nagari Sungai Landia, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Diskusi berlangsung hangat bersama Penyuluh Pertanian  Lapang (PPL). Konten penting pertemuan yakni evaluasi dan "re-installisasi" visi dan kebulatan tekad kelompok menyangkut aktivitas yang brlangsung selama ini. Selain itu kendala yang dihadapi termasuk perkembangan kegiatan Pos Informasi dan Pelayanan Agens Hayati (Pos IPAH).

Selain itu Kelompok yang baru saja usai melaksanakan kegiatan kursus dan rembug tani desa terkait pengembangan komoditi cabe ini juga menyusun pengorganisasian baru terkait banyaknya kegiatan yang dirancang. Pembentukan beberapa seksi yang sebelumnya tidak ada dirasa akan mempermudah pelaksanaan Rencana Usaha Tani kelompok yang akan dilaksanakan yang tentunya dengan menjalankan seluruh fungsi organisasi yang telah disepakati.
 (Dok.Keltan Mubarakah. Pertemuan dan diskusi hangat Kelompok Mubarakah 3/8/2016)
Alhamdulillah diskusi hari ini melahirkan rencana jangka pendek yang menjadi poin penting demi terwujudnya cita cita pendirian kelompok. Selain dihadiri Ichsan Kurniawan,SP penyuluh pertanian Nagari Sungai Landia, pertemuan juga dihadiri Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan IV Koto Adri,SP. Semoga "mimpi" itu bisa terwujud dalam memberikan kontribusi dalam pembangunan pertanian di Kabupaten Agam.

Pertemuan ini juga dijadikan sekaligus peringatan 7 tahun berdirinya Kelompok Tani dengan aneka ragam warna dalam perjalanannya dari dikukuhkannya pada tahun 2009 silam. Kelompok yang tetap keukeuh memberikan sumbangsih terhadap dunia pertanian ini cukup banyaki melalui berbagai cerita sebelum terbilang sukses dan mandiri seperti saat ini. Semoga semangat membangun dari masing-masing anggota tidak pernah pudar. Aamiin. (IchsanK)

Pemerintah Nagari Koto Gadang Perkuat Kelembagaan Tani

Rabu (4/2) Pemerintahan Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam melaksanakan pembinaan Kelompok Tani dan Perkumpulan Petani Pem...