Jumat, 27 Januari 2012

Teknik Pemfermentasi Kakao

by : ICHSAN KURNIAWAN,SP

Kakao merupakan komoditi penting negara kita. Komoditi ini memberikan kontribusi besar setiap tahunnya. Indonesia juga merupakan salah satu negara pemasok utama kakao dunia setelah Pantai Gading (38,3%) dan Ghana (20,2%) dengan persentasi 13,6%.



Peningkatan produksi kakao mempunyai arti yang strategis karena pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum tergarap. Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dengan penerapan fermentasi pada pengolahan biji pasca panen dan pengembangan produk hilir kakao berupa serbuk kakao.

dok. ICHSAN K
(Jorong Kp.Ateh, S.Landia)


Proses fermentasi akan menghasilkan kakao dengan cita rasa setara dengan kakao yang berasal dari Ghana. Selain itu, kakao Indonesia memiliki kelebihan tidak mudah meleleh sehingga cocok untuk blending. Fermentasi merupakan suatu proses produksi suatu produk dengan mikroba sebagai organisme pemroses. Fermentasi biji kakao merupakan fermentasi tradisional yang melibatkan mikroorganisme indigen dan aktivitas enzim endogen. Fermentasi biji kakao tidak memerlukan penambahan kultur starter (biang), karena pulp kakao yang mengandung banyak glukosa, fruktosa, sukrosa dan asam sitrat dapat mengundang pertumbuhan mikroorganisme sehingga terjadi fermentasi.



Tujuan dari pemfermentasian :

•         penurunan kadar air biji kakao

•         penghilangan lender/pulp biji kakao

•         pengeluaran aroma biji kakao

•         pemberian warna coklat

•         pemberian rasa getah

•         pematian lembaga biji agar tidak tumbuh (menghilangkan daya tumbuh) biji sehingga perubahan- perubahan di dalam biji akan mudah terjadi, seperti warna keping biji, peningkatan aroma dan rasa

•         pengurangan rasa pahit


Berikut teknik pemfermentasian kakao yang dirangkum dari berbagai sumber :



Alat pemfermentasian :

•       Kotak pemeraman yang berlubang/keranjang bambu, daun pisang, karung goni

•    Wadah fermentasi yang baik terbuat dari papan kayu berbentuk kotak dilengkapi lubang-lubang yang berfungsi sebagai tempat pengeluaran cairan dan aerasi. Jarak lubang biasanya 10-15 cm dengan diameter 1 cm





Tahapan teknik  pemfermentasian kakao ini adalah :

•    Biji yang sudah dikeluarkan ditampung dan dimasukkan dalam wadah/peti fermentasi, tutup dengan karung goni/daun pisang

•    Hari ke 3 (setelah 48 jam) dilakukan pembalikan agar fermentasi biji merata atau dilakukan sambil memindahkan biji dari kotak satu ke kotak lainnya. Pembalikan hanya dilakukan satu kali untuk menjaga suhu fermentnsi

•      Berlangsung  4 -  6  hari. Waktu fermentasi bervariasi sesuai dengan jenis kakao yang difermentasi. Waktu fermentasi yang dianjurkan untuk kakao lindak adalah 5 hari.



Ciri-ciri proses pemfermentasian telah selesai yakni :

•         biji berwarna coklat dan agak kering serta aroma cuka yang kuat

•         lendir di permukaan biji mudah terkelupas dan lepas

•         penampang biji telah mempunyai rongga

•         pembersihan penutup dari kulit biji menjadi gampang


Pasca Fermentasi

          Selanjutnya biji kakao dikeringkan untuk menghentikan proses fermentasi. Pengeringan dilakukan sampai kadar air menjadi 7 - 8 % (setimbang dengan udara berkelembaban 75 %). Kadar air kurang dari 6 %, biji akan rapuh sehingga penanganan dn pengolahan lanjutan menjadi lebih sulit. Kadar air lebih dari 9 % memungkinkan pelapukan biji oleh jamur. Pengeringan dapat dilakukan secara tradisional menggunakan sinar matahari selama 14 hari, sedangkan dengan oven pengeringan selama 2 - 3 hari dengan temperature 45 - 600C.

          Setelah pengeringan, biji kakao disortir dan dilanjutkan dengan penyangraian pada suhu 2100C selama 10 - 15 menit. Tujuan dari penyangraian adalah untuk mensterilisasi biji serta pembentukan cita rasa dari prekursor cita rasa (hasil fermentasi) melalui reaksi Maillard.

Keuntungan  Kakao Fermentasi           

          Proses fermentasi kakao sebelum diekspor ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing kakao nasional. Juga untuk menjawab peluang tren kenaikan harga komoditas perkebunan andalan itu di pasar dunia. Kualitas kakao akan terpengaruh langsung, aroma dan warna biji kakao akan optimal. Selain itu, biji kakao fermentasi menjadi dapat dimanfaatkan mulai dari lemaknya, bungkil, dan pastanya. Sedangkan kakao non fermentasi hanya dapat diambil lemaknya saja.

          Keadaan alam Indonesia merupakan potensi awal produksi kakao Indonesia, namun produksi yang optimal tidak bisa mengandalkan sumber daya saja, tapi dibutuhkan sumber daya manusia yang baik, kepedulian Pemerintah serta modal yang cukup. Produksi yang optimal bukan hanya dalam bentuk kuantitas namun juga kualitasnya. Mutu kakao harus ditingkatkan untuk mendapatkan kembali kepercayaan pasar dunia.

          Kebijakan pengembangan kakao pada saat ini dan di masa depan harus diarahkan kepada upaya mewujudkan agroindustri kakao yang berdaya saing dan berkeadilan, sehingga dapat memberikan kesejahteraan bagi pelaku usahanya, khususnya petani secara berkelanjutan. Menteri Pertanian pun mengharapkan agar penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib bagi biji kakao dan dapat diterapkan mulai tahun 2010 yang akan datang (Anonimd, 2009).


Link literatur :

 http://majarimagazine.com/2009/06/teknik-fermentasi-dalam-pengolahan-biji-kakao/
http://ditjenbun.deptan.go.id/bbp2tpsur/index.php?option=com_content&view=article&id=38:teknologi-fermentasi-untuk-meningkatkan-kualitas-biji-tanaman-kakao-indonesia&catid=6:iptek&Itemid=24

Teknik Pembuatan Pakan Organik


Oleh : ICHSAN KURNIAWAN

Seperti yang telah dibahas pada artikel yang lalu dengan judul “Korelasi Pertanian Organik dengan Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP)” bahwa pelaksanaan pertanian organic sendiri sejalan dengan gerakan pensejahteraan petani. Secara garis besar harapan dari GPP sendiri yakni mengintegrasikan kegiatan usaha tani dengan peternakan, perikanan atau lainnya hingga pensejahteraan petani dapat tercapai melalui maksimalisasi jam kerja dari bidang yang telah terintegrasi.
Khusus untuk pengentegrasian pertanian dengan peternakan, kegiatan pertanian organik yang notabene melibatkan pemanfaatan sumber daya lokal yang salah satunya berupa kotoran ternak termasuk urinnya sebenarnya secara langusng dapat memberikan tambahan pendapatan pada petani..
Kotoran ternak sendiri secara terpisah juga dapat mendatangkan “kocek lebih” selain penggunaannya secara langsung sebagai sarana produksi dalam kegiatan usaha tani organik tersebut. Lihat saja akhir-akhir ini banyak bermunculan produk saprodi berupa pupuk organik pabrikan atau kompos yang hanya dipack secara sederhana dalam plastik.
Terlepas dari bahasan di atas selain pembuatan pupuk yang menjadi keuntungan dalam pertanian organik dan juga merupakan bentuk dari keintegrasian pertanian dengan bidang peternakan, yakni pengolahan pakan secara organik.
Terkait dengan makin terbatasnya jumlah lahan yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat pakan segar berupa rumput – rumputan maka dibutuhkan teknologi pembuatan pakan ternak yang bisa mengatasi masalah ketersediaan lahan namun tetap bisa menjamin integritas pertanian organik tanpa melakukan pemberian bahan pakan berupa konsentrat tambahan yang berbahan dasar kimia sintetis atau bahan lain yang dapat memicu pertumbuhan ternak secara tidak wajar dalam waktu yang singkat.
Pemberian pakan yang rutin masalah lain yang juga harus diperhatikan adalah adanya efisiensi waktu sehingga upaya penyediaan pakan tidak menyita waktu bagi petani organik, sehingga petani juga bisa memanfaatkan waktu mereka untuk aktifitas lain guna menambah penghasilan.
Dalam melaksanakan budidaya peternakan khususnya ternak kambing, petani banyak menuai masalah terutama dalam penyediaan pakan. Pemahaman dan konsep dalam penyediaan pakan kerap diartikan dengan penyediaan rumputan segar yang identik dengan penyediaan lahan untuk penanaman rumput. Padahal dalam kondisi dewasa ini hal tersebut merupakan konsep dengan pemikiran yang “sempit”. Kenapa. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi penyiapan pakan ternak dengan memanfaatkan jasa mikroba dalam proses fermentasi pakan yang juga tahan lama dalam penyimpanan.

Secara umum dalam penyediaan pakan ternak kambing, beberapa hal yang patut menjadi perhatian khusus yakni :
1.       Pemberian rerumputan yang masih berada dalam keadaan basah kepada ternak kambing dihindari. Hal ini karena air yang melekat pada rumput basah ini berpotensi menimbulkan kembung dan mengurangi nafsu makan ternak kambing.
2.       Pemberian rerumputan yang memiliki kandungan getah juga dihindarkan karena justru dapat memicu penyakit lambung pada ternak kambing sehingga sebaiknya rumput yang mengandung getah ini dilayukan terlebih dahulu untuk mengurangi atau menghilangkan kandungan getah tersebut.

Pakan ternak organik merupakan salah satu solusi pintar dalam mengatasi permasalahan yang menjadi bahasan di atas. Pakan ini mempunyai kandungan gizi sangat baik serta nutrisi yang lengkap sehingga sangat baik untuk pertumbuhan kambing.

Teknik pembuatan pakan ternak organic adalah dengan langkah sebagai berikut :
Bahan dasar :
-          dedak halus
-          ampas tapioka
-          ampas tahu
-          jagung giling
-          tepung kedelai
-          rumput
-          nutrisi
-          mineral

Nutrisi yang dibutuhkan :
a.       Nutrisi ikan/keong
b.      Nutrisi usus
c.       Mikroba 2
d.      Nutrisi nenas
e.      Nutrisi jantung pisang
f.        Nutrisi tomat
g.       Kuning telur
h.      Nutrisi cangkang telur
i.         Asam laktat

Teknik pembuatan nutrisi :
a.       Masing-masing bagian nutrisi diambil 1 sendok teh
b.      Dicampurkan dengan air bersih sebanyak 3 liter atau 5 botol aqua menengah dikembalikan lagi ke botol
c.       Difermentasi selama 4 – 7 hari baru bisa dipakai

Teknik pencampuran :

a.       Tahap 1 :
·         Dedak halus  : 1 kg
·         Ampas tahu, tepung jagung, tepung kedelai : 7,5 kg
·         Nutrisi  : 5 tutup botol
·         Air : 5 liter
·         Dicampur di fermentasi kedap udara : ± 4 hari

b.      Tahap 2 :
·     Rumput dipotong-potong ± 1 cm
·    Apa bila rumput yang akan digunakan masih dalam kondisi basah mesti ditunggu sampai dalam kondisi kering

c.       Tahap 3 :
·    Dedak yang telah difermentasi seperti tahap 1 (satu) dicampur dengan rumput dengan perbandingan 1: 5
·      Setelah dicampur kemudian formula ini  difermentasi dan ditempatkan pada plastik/ember, dll dengan kondisi kedap udara. Artinya tidak bocor atau bercampur dengan udara dari luar minimal 4 – 7 hari.

Pemberian pakan :
a.   Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari dengan waktu pemberian pada pagi hari dan sore hari.
b. Volume pemberian pakan pada pagi hari jumlahnya lebih sedikit dari jumlah pakan yang diberikan pada sore hari
c.  Untuk kambing dengan bobot atau berat antara 15 – 20 kg cukup diberikan pakan sebanyak 1,5 kg untuk 1 kali makan
Untuk kambing dengan bobot atau berat lebih dari 20 kg maka pakan yang diberikan sebanyak 2 kg atau lebih

Kamis, 26 Januari 2012

Korelasi Positif Pertanian Organik dan Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP)

-->oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP
Dok. Kelompok Tani Organik Mubarakah, Nagari Sungai Landia



Pola pertanian konvensional yang serba instan memang mulai terasa kian menimbulkan ragam masalah. Pencemaran lingkungan sekitar area pertanaman sebagai akibat dari pemakaian pestisida dan pupuk sintetik pun mulai tampak. Belum lagi kondisi tanah pertanian dimana sistem ini diterapkan. Sejak beberapa tahun silam pemakaiannya, efek perubahan tingkat kesuburan tanah pertanian semakin hari kian terlihat. Tanah menjadi semakin keras.
Hal lain yang mulai kita sadari yakni akumulasi racun yang hampir setiap hari singgah di meja makan rumah kita. Berbagai penelitian mengungkapkan residu bahan kimia berbahaya dari pemakaian pestisida sintetis terakumulasi di dalam tubuh manusia. Endapan yang sedikit demi sedikit terus bertambah tersebut akan mencapai ambang batas dimana melahirkan masalah serius pada kesehatan. Residu tersebut bersifat toksik dan menimbulkan jenis-jenis penyakit yang mampu membunuh semisal kanker. 
Tiga tahun belakangan pertanian organik bisa dibilang menjadi sebuah trend. Produk dari pola pertanian ramah lingkungan ini semakin mendapat tempat. Harga hasil pertaniannya pun bisa menjadi dua sampai tiga kali lipat dibanding produk usaha tani konvensional.
Serta merta program pemerintah pun mulai diarahkan ke sana. Dinas atau instansi mencanangkan visi dan misi yang merancangkan program atau kegiatan berkaitan dengan pengembangan pertanian organik yang dituding sangat membela petani. Namun terlepas dari hal tersebut, pertanian organik memang mengandung banyak nilai positif dan baik.
Bagaimana tidak, petani diajarkan untuk sadar dan konsisten menjaga moral dalam bertani. Pemanfaatan potensi serta sumber daya alam pun sekaligus menjadi solusi dalam mengatasi berbagai masalah sarana produksi (saprodi) sebagai misal kelangkaan pupuk, harga pupuk maupun pestisida yang kian tak terjangkau.
Selain itu pertanian organik dipapah menuju kemandirian petani dalam bersuaha tani. Menuntut jiwa fair dalam beragribisnis serta merancang pola pikir sumber daya manusia (SDM) yang kreatif, berilmu-pengetahuan dan teknologi dengan kemandiriannya tersebut.
Tentu saja. Bukankah pertanian organik menuntut petani dalam memadukan kegiatan pertanian dengan elemen lain seperti peternakan. Selanjutnya mau tak mau, petani dengan dibekali kemampuan dasar yang diberikan melalui penyuluhan, akan memahami kaidah pertanian organik. Prinsip-prinsip dasar tersebut berilmu-pengetahuan dan merangsang pola pikir masyarakat tani. Tak menutup kemungkinan juga berawal dari hal tersebut, akan melahirkan petani-petani peneliti. Dengan mengetahui ilmu dasar seperti prinsip mikroba, kandungan unsur hara, kebutuhan tanah dan lainnya, maka lambat laun- selama petani mau bertahan untuk konsisten di pertanian organik, pengetahuan tersebut akan berkembang terus dan terus.
Hal ini tak lain dan tak bukan akan memuara pada kemampuan petani mengintegrasikan berbagai aspek untuk mencapai satu titik yakni kesejahteraan. Dengan menerapkan pertanian organik, secara otomatis petani akan membutuhkan ternak sebagai produsen pupuk mereka.
Pemerintah provinsi Sumatera Barat pun telah beberapa tahun ini gencar mengkampanyekannya. Ditambah lagi tahun lalu, tujuan akhir berbagai program tersebut mulai tampak jelas yakni dengan dikuatkannya melalui Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP). Gerakan ini dirancang sebagai bentuk dari upaya percepatan perekonomian Sumatera Barat. Dan sebagai wujudnya adalah tuntutan penambahan jam kerja petani dengan minimal tiga jenis usaha. Inilah pertanian terpadu. Terintegrasi dengan peternakan, perikanan, perkebunan maupun kehutanan.
Setiap kabupaten dialokasikan 4 nagari dengan  memberdayakan kelompok tani- kelompok tani yang ada di wilayah tersebut. Termasuk nagari di lingkup Kabupaten Agam. Penyuluh sebagai ujung tombak dari pensuksesan gerakan tersebut. Gerakan ini diwujudkan dengan pemberdayaan kelompok tani yang ada di nagari. Dengan minimal 3 jenis usaha tersebut, diharapkan pendapatan petani bisa minimal 2 juta per bulannya.
Di tahun 2015 mendatang dari 62 nagari yang ditargetkan di tahun ini di Sumatera Barat, bisa berkembang menjadi 310 nagari dengan 12.400 KK tani sasaran. Salah satu program yang efektif  dan mendukung dalam pewujudan kegiatan tersebut yakni dengan memulai menyuarakan pertanian organik dan manfaatnya. Selain memiliki beragam keuntungan dari segi peminimalan biaya produksi, sistem pertanian ramah lingkungan dan sehat juga polanya menuntut integrasi antara pertanian dan peternakan.

BERTANI KREATIF DENGAN AGEN CERDAS DAN KUAT II : BEAUVERIA BASSIANA

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP


Beauveria bassiana adalah golongan jamur entomopatogen yang menyerang hama jenis serangga. Beberapa hama yang diserang antara lain seperti wereng, kepinding tanah, kepik dan beragam jenis ulat. Jenis jamur ini berkembang dan menyebar dengan konidia yang berbentuk bulat seperti bola berdiameter kecil dari 3.5 µm. Beauveria bassiana. Cendawan ini biasa dikenal sebagai cendawan patogen serangga yaitu cendawan yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga dengan cara membuat sakit serangga hama baru yang kemudian membunuh hama tersebut.
Secara teknis infeksi dimulai dengan perkecambahan konidia dan mempenetrasi kulit serangga. Beauveria menghasilkan berbagai enzim yang dapat menguraikan kulit serangga. Infeksi juga dapat terjadi pada jaringan saluran pencernaan, jika konidia termakan oleh serangga. Serangga yang rentan terhadap serangan jenis cendawan ini adalah pada saat ganti kulit. Infeksi jamur ini pada saat ganti kulit, menyebabkan serangga tidak dapat tumbuh dengan sempurna dan kemudian mati. Setelah menginfeksi jamur ini berkembang dan tumbuh, sehingga pada kulit serangga terlihat konidia yang berwarna putih. Pada tahap awal tubuh buah jamur terlihat pada rongga antara kutikula, kemudian berkembang dan menutupi tubuh serangga.
Beauveria, Sumber Wikipedia

Cara Perbanyakan Beauveria basiana 
Cendawan jenis Beauveria ini dapat diperbanyak dengan menggunakan media cair. Untuk sumber nutrisi media perbanyakan dapat digunakan kentang, sedangkan bahan lain yang dipelukan adalah, gula pasir, antibiotik, air bersih dan starter (bibit)  cendawan ini.   
Sebagai sumber nutrisi, kentang diperlukan sebanyak 1 kg dicuci dan diiris tipis, selanjutnya  masak dengan air 5 liter air bersih sampai mendidih selama 15 menit. Kemudian larutan tersebut disaring untuk diambil dan dalam keadaaan panas tersebut masukkan gula pasir  sebanyak 50 gram. Setelah larutan dingin baru dimasukan antibiotik sebanyak 1 tablet dan 5 gram biang Beauveria. Pasang aerator kedalam larutan dan biarkan selama 4 – 7 hari. Beauveria siap untuk digunakan dan didistribusikan.


Cara Sederhana lain perbanyakannya

•    Rebus air sampai mendidih , masukkan beras selama 4 – 5 menit. Setelah itu langsung dikukus selama 15 menit. Lalu pindahkan kedalam baskom/baki, setelah dingin masukkan kedalam kantong plastik sebanyak seperempat volume kantong.
•    Kemudian, ambil bibit Beauveria dengan sendok sebanyak 4 – 5 butir dan masukkan ke dalam kantong plastik tadi, lalu digoyang-goyang hingga rata, lipatkan ujung kantong seterusnya diklep dengan posisi vertikal .
•    Tempatkan pada rak-rak yang tidak kena sinar matahari langsung. Setelah 1 minggu Beauveria  tumbuh secara merata pada media.Berwarna putih, dan selanjutnya Beauveria siap dipakai.
Perbanyakan Sederhana, Sumber Koleksi Pribadi

Pengaplikasian Cendawan Beauveria
Pengaplikasian cendawan entomopatogen ini dilakukan dengan penyemprotan. Dosis yang digunakan adalah  10 ml/ 1 liter air. Aplikasi sebaiknya pada saat populasi hama masih rendah dan mengingat perkembangan cendawan entomopatogen tersebut lebih baik pada saat suhu tinggi dan kelembaban tinggi, maka waktu aplikasi sebaiknya dilakukan sore hari.
Serangga yang telah terinfeksi Beauveria bassiana selanjutnya akan mengkontaminasi lingkungan, baik dengan cara mengeluarkan spora menembus kutikula keluar tubuh inang, maupun melalui fesesnya yang terkontaminasi. Serangga sehat kemudian akan terinfeksi.

Psidium guajava, Pahlawan ketika Diserang DBD


oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP 

Demi zat Allah yang meminjamkan bumi dan sekalian isinya untuk kita. Bahwa setiap penyakit yang kita derita selalu ada obatnya. Walaupun kerap disepelekan, tapi semua itu terbukti bahwa banyak komoditi pertanian yang berkhasiat sebagai obat dari berbagai macam penyakit. 
Komoditi pertanian khususnya hortikultura (buah-buahan) bukan hanya sebagai penghasil beragam produk yang dapat kita nikmati baik secara langsung (rasanya sperti buah-buahan) atau secara tak langsung (kalau hasil budidayanya di jual, akan menghasilkan uang), namun juga khasiatnya untuk kita dan keluarga. Ditumbuhkannya beragam jenis tanaman yang beragam oleh Allah termasuk buah-buahan ternyata memiliki multi manfaat. Berikut salah satu komoditi yang menjadi pahlawan kita ketika diserang penyakit yang sering kita kenal dengan nama DBD.
Daun Psidium guajava (Jambu biji). Bagian dari komoditi buah-buahan inilah yang mengandung khasiat dalam mengatasi DBD (demam berdarah dengue). Beberapa bagian dari tanaman ini terbukti mampu mengatasi penyakit berbahaya tersebut. Kandungan senyawa yang menjadi “senjata” adalah tannin dan flavonoid yang bersifat quersetin dalam ekstrak daun jambu biji. Cara kerjanya dengan menghambat aktivitas enzim reverse transcriptase yang berarti menhambat pertumbuhan virus beranti RNA.
Secara umum kandungan dari jambu biji sendiri adalah Energi sebesar 49 kal, Vitamin A lebih kurang 25 SI, kandungan Protein + 0,90 gr, Vitamin B1 sebesar 0,05 mg, Lemak 0,30 gr, Vitamin B2 0,04 mg, Karbohidrat 12,20 gr, Vitamin C 87,00 mg, Kalsium 14,00 mg, Niacin 1,10 mg, Fosfor 28,00 mg, Serat 5,60 gr, Besi 1,10 mg dan kandungan Air sebesar 82 gram
Seperti hal yang ada sampai saat ini, kebanyakan pengobatan penyakit ini secara medis lebih cenderung bersifat supportif yakni mengatasi kehilangan cairan plasma akibat peningkatan yang terjadi terhadap permeabilitas pembuluh darah kapiler.
Nah, sebenarnya beberapa produk pertanian khususnya hortikultura (buah-buahan) mempunyai unsur penting dalam mengatasi permasalahan yang ditimbulkan penyakit ini dan telah melalui beberapa pengujian termasuk daun jambu biji (Psidium guajava) ini. Hasil pengujian menunjukkan pemberian ekstrak daun jambu biji ini mempercepat peningkatan trombosit. Rebusannya dapat meningkatkan jumlah trombosit hingga 100.000/mm3. Hal ini hanya berlangsung dalam waktu 1-6 jam setelah mengkonsumsinya.
Teknik Penggunaan Daun Jambu Biji
Cara penggunaan daun tanaman ini adalah dengan mengambil bahan berupa daun jambu biji sebanyak + 10 lembar. Daun tersebut direndam dan direbus dalam 5 gelas air. Setelah perebusan selesai, hasilnya tersebut disaring dan kemudian didinginkan. Hasil ekstrak daun jambu biji ini diminum sekitar 3 jam sekali. Maka khasiatnya akan terlihat dalam frekuensi waktu yang diuraikan di atas. InsyaAllah.   

Selasa, 24 Januari 2012

Penerapan Good Agribicultural Practices dan Sinergis ala Basamo Mangkonyo Manjadi



Oleh : ICHSAN KURNIAWAN

Sekali lagi wacana hangat bahwa negara kita menuju peningkatan pengembangan komoditi hortikultura kian menjadi, baik secara nasional maupun daerah termasuk provinsi Sumatera Barat terkhusus juga Kabupaten Agam, bahkan secara nasional bulan lalu isu mengenai rencana pengembangan Hortikultura Park diluncurkan Ditjen Hortikultura Kementrian Pertanian RI. Hortikultura Park sendiri menjalankan konsep taman sayur-sayuran atau buah-buahan dengan pemanfaatan lahan kosong yang  terletak di daerah perkotaan. Konsepnya dirancang demi mengatasi permasalahan kurangnya  jumlah pasokan tanaman hortikultura memenuhi permintaannya yang berlebih.  Hal ini seperti diungkapkan Ditjen Hortikultura bahwa  kondisi pertumbuhan neraca perdagangan  horti kita minus. Untuk sayuran angka minusnya Rp 2,5 triliun sementara buah mencapai Rp 5 triliun. Yang menjadi persoalan ialah potensi yang kita miliki justru dianggap mampu menyuplai kebutuhan yang ada.
Terpisah namun sejalan dengan hal tersebut, negara kita yang tengah dihadang globalisasi yang menuntut produk-produk pertanian dengan juga tak hanya kuantitas yang mampu memenuhi kebutuhan pasar, akan tetapi kualitas hasil yang juga mampu bersaing. Produk bersaing tentunya memiliki kualitas kokoh dan mampu bertahan di tengah lalu lintas produk negara lain yang masuk ke negara kita, terutama produk pertanian.

Good Practices, dari Hulu sampai Hilir
Demi memperbaiki kondisi tersebut,untuk komoditi hortikultura berbagai usaha tengah dilakukan untuk bagaimana produksi hortikultura meningkat baik jumlah, pun jua mutu. Karena jumlah yang banyak tanpa dibarengi kualitas yang bagus, maka produk kita akan tereliminasi dari pasar bahkan bisa terjadi secara dini. Selain memberdayakan keadaan yang dianggap berpotensi layaknya rencana pengembangan Hortikultura Park, perbaikan sistem budidaya sendiri dibenahi guna mencapai peningkatan tersebut. Berpedoman pada Permentan No.58/OT.140/8/2007 tentang pelaksanaan sistem standardisasi di bidang pertanian serta Permentan No.48 Tahun 2009 yang diterbitkan pada tanggal 19 Oktober Tahun 2009 tentang Good Agricultural Practices komoditi sayuran dan buah, dengan berpatokan pada pola pertanian sukses negara-negara lain yang telah menerapkannya, mengikuti tuntutan pasar global patutlah dilakukan perbaikan sistem/ tata kerja. Hal yang dapat kita istilahkan dengan Good Practices ini meliputi dari mulai hulu sampai dengan hilir.
Dalam isu aktual strategis pengembangannya sebagai komoditi penting, untuk konteks good pratices ini terdapat konsorsium hortikultura. Konsorsium ini sendiri merupakan wujud usaha dalam peningkatan pengembangan hortikultura dengan melibatkan berbagai elemen penting dalam rantai agribisnis. Unsur tersebut harus bersinergis untuk mendukung penerapan Good Agricultural Practices (GAP), Good Handling Practices (GHP) sampai Good Manufacturing Practices (GMP) yang merupakan uraian dari bentuk Good Practices. GAP sendiri adalah perbaikan teknis budidaya (on-farm) dengan empat sasaran yakni aman konsumsi, bermutu baik, berwawasan kelestarian lingkungan serta berdaya saing (berproduktifitas tinggi). GAP sendiri bertitik tolak pada penerapan 100 titik kendali penting dengan kriteria 14 titik kendali wajib, 54 titik kendali yang sangat dianjurkan serta 32 titik anjuran. Dengan memenuhi ketentuan tersebut diharapkan hasil produksi pertanian akhirnya mampu bersaing di pasar global dengan negara-negara lain yang telah lebih dahulu membekali diri dengan system ini seperti Thailand, Malaysia, Cina, Uni Eropa dan beberapa Negara lain dengan bentuk implementasi penerapannya seperti Q-system (Tahiland), Fresh Care (Australia), Assured Produce Scheme (Inggris) bahkan Malaysia yang telah menerapkan SALM. Sementara GHP dan GMP adalah perbaikan lini off-farm yang menggerakkan peningkatan pada pengolahan produk dengan memberikan nilai tambah terhadap produk baik proses pengolahan biasa atau melahirkan produk baru sehingga juga mampu berkompetisi di kancah pasar.

Sebagaimana ditegaskan dalam Permentan 48/2009, tujuan Penerapan Pedoman Budidaya yang Baik (GAP) hortikultura ini adalah;
  • Meningkatkan produksi dan produktivitas,
  • Meningkatkan mutu hasil termasuk keamanan konsumsi,
  • Meningkatkan efisiensi produksi,
  • Meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam,
  • Mempertahankan kesuburan lahan, kelestarian lingkungan dan sistem produksi yang berkelanjutan,
  • Mendorong petani dan kelompok tani untuk memiliki sikap mental yang bertanggung jawab terhadap produk yang dihasilkan, kesehatan dan keamanan diri dan lingkungan,
  • Meningkatkan daya saing dan peluang penerimaan produk oleh pasar (pasar ekspor dan domestik).  Sebagai Tujuan akhir adalah memberikan jaminan keamanan terhadap konsumen serta meningkatkan kesejahteraan petani pelaku usaha.

Foto by ICHSAN KURNIAWAN,SP

Sinergis ala "Basamo Mangkonyo Manjadi"
Penerapan Good Practices baik GAP, GHP maupun GMP ini tak terlepas dari banyak tangan yang bekerjasama menggerakkannya. Semua stakeholders pembangunan agribisnis harus terlibat dalam mensukseskannya, mulai dari petani sebagai pelaksana langsung Good Practices, penyuluh sebagai penjembatan informasi teknologi, peneliti sebagai penghasilnya, pelaku usaha juga sampai pemerintah sebagai polish maker.
Istilah MP3 yang dimunculkan dalam konsorsium hortikultura tersebut dapat menggambarkan keterlibatan banyak pihak. MP3 ini untuk menyebut satuan perangkat yang beraliansi yakni M untuk Masyarakat yang teridiri dari Petani, Pekebun, Kelompoktani, Gapoktan, LSM, Kontak Tani, Pemuda Tani dan lain sebagainya. Huruf P yang pertama untuk Pelaku usaha yang terurai menjadi Penangkar Benih, Nursery, pedagang, pengusaha, industriawan, champions. Sementara P kedua untuk Pakar yang meliputi Dosen PT, Peneliti, Sarjana, Praktisi dari Ilmu Tertentu, otodidak, termasuk penyuluh. Sedangkan aksara P terakhir bagi Pelayan Publik melingkupi pemerntah secara umum seperti mulai Ditjen Hortikultura, Dinas Pertanian Provinsi, Dinas Pertanian Kabupaten/Kota serta BUMN/BUMD.

Bupati Agam Indra Catri


Dengan potensi pengembangan yang dimiliki, Kabupaten Agam dengan beberapa kecamatan yang telah menjadi sentra produksi horti serta kecamatan lainnya juga siap menyonsong perbaikan demi perbaikan untuk pembangunan pertanian ke depan. Selain tertumpang kepada penyuluh dalam wadah BP4K2P Kabupaten Agam sebagai aset penting ujung tobak penjembatan antara informasi dan teknologi, pensuksesan pencapaian harapan tersebut juga diletakkan pada banyak pihak yang saling bekerjasama dengan baik sehingga tercipta hubungan harmonis yang bersinergi. Dengan modal motto Basamo Mangkonyo Manjadi dibawah pimpinan Bupati Agam Bapak Indra Catri, diharapkan semua pihak di Kabupaten Agam bahu-membahu untuk berkomposisi penuh dalam mewujudkan Good Practices demi meningkatkan kualitas dalam menyokong pembangunan pertanian khususnya hortikultura. Aamiin.

Pestisida Nabati I, Pengendali Hama dan Cendawan


oleh : ICHSAN KURNIAWAN

Pestisida Nabati merupakan ramuan pestisida yang bahnnya bersumber dari bahan-bahan alami. Pembuatannya sendiri secara garis besar ditujukan bermaksud paling kurang untuk 3 hal yakni :
- Penekanan biaya produksi
- Pengendalian hama penyakit tanaman dengan tetap menjaga kelestarian alam
- Memanfaatkan potensi sumber daya alam di sekitar petani
Seiring dengan perkembangan berbagai penelitian, pestisida nabati (alami) sendiri terdiri dari banyak jenis tergantung kepada kebutuhan pengendalian hama/ penyakit dari berbagai komoditi. Selain itu dari sudut penggunaan dan sifat dari kandungan bahannya juga ada beberapa macam, diantaranya yang bersifat hanya sekedar repelen (penolakan terhadap hama) atau langsung bunuh.

Dalam sesi ini berdasarkan banyak sumber dan pengalaman yang saya dapatkan, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut. 

1.Pestisida nabati untuk pengendalian hama/serangga penghisap
Bahan :
-    Daun surian 5 ons
-    Daun sirsak 5 ons
-    Daun sirih ½ ikat
-    Daun cengkeh 5 ons
-    Serai harum 4 ons
-    Daun sicerek 4 ons
-    Daun mahoni 5 ons
-    Daun kulit manis 5 ons
-    Garam ½ ons
-    Urine kambing 4 l
Cara pembuatan :
-    Semua bahan ditumbuk satu persatu
-    Bahan yang sudah ditumbuk direndam dalam urine kambing
-   Rendaman bahan direbus dan diambil ekstraknya kemudian disaring dan hasil saringan ditambah garam
-    Kemudian disimpan dalam botol/dirigen dan diberi label yang berisi keterangan tentang ramuan dan tanggal pembuatan
Cara penggunaan
-    500 cc cairan diencerkan dengan air sebanyak 10 l diaduk dan kemudian dimasukkan ke dlaam tanki penyemprot
-     Penyemprotan pada tanaman dilakukan terutama pada pucuk kemudian bagian atas dan bawah daun
-   Aplikasi tanaman dilakukan sebanyak 2 kali dalam seminggu sampai dengan populasi kutu tidak membahayakan lagi 

 
2.Ramuan untuk pengendalian penyakit cendawan / jamur
Bahan :
-    Daun galinggang gajah 5 ons
-    Lengkuas 3 ons
-    Jahe 3 ons
-    Ekstrak titonia 3 l
-    Bawang putih 3 ons
      Cara:
-    Daun galinggang gajah ditumbuk halus
-    Lengkuas  dan jahe diparut halus
-    Ketiga bahan tersebut dimasukkan kedalam ekstrak titonia kemudian diperas dan disaring
-   Disimpan dalam botol/ derigen dan diberi label yang berisi keterangan tentang ramuan dan tanggal pembuatan.
      Cara penggunaan
-   500 cc cairan ramuan diencerkan dengan air sebanyak 10 l diaduk dan kemudian dimasukkan ke dalam tanki penyemprot
-   Penyemprotan pada tanaman dilakukan sebanyak 2 kali dalam seminggu sampai tidak membahayakan lagi
Penyemprotan dilakukan pada seluruh bagian tanaman.

Pemerintah Nagari Koto Gadang Perkuat Kelembagaan Tani

Rabu (4/2) Pemerintahan Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam melaksanakan pembinaan Kelompok Tani dan Perkumpulan Petani Pem...