Minggu, 29 Januari 2012

PEMELIHARAAN TANAMAN PISANG

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP

1. Pemeliharaan Buah
Adapun tujuan pengerondongan tandan yakni :
-       Perlindungan/ menghalangi serangga penghisap buah.
-       Meningkatkan mutu buah.
Pengerondongan dilakukan dengan memasang plastik transparan berwarna biru dengan tujuan pemilihan warna untuk menolak ketertarikan serangga.
Sebelum pengerondongan dilakukan, pada tandan pisang diikatkan larutan pupuk yang telah dimasukkan ke dalam plastik. Hal ini dilakukan untuk peningkatan kualitas buah.
a.   Pemilihan tanaman pisang yang akan dilakukan pemotongan jantungnya.
b. Potong jantung pisang yang telah berjarak 25 cm dari sisir buah terakhir. Dapat secara organik (tanpa pemberian pupuk), dapat pula dengan mengikatkan kantong kecil berisi larutan NPK.
Dok. Adri,SP. Pengembangan Pisang di Kampuang Pisang Kabupaten Agam

c. Setelah sisir pisang mengembang sempurna, tandan pisang dibungkus kantung plastik bening polietilen tebal 0,5 mm, diberi lubang diameter 1,25 cm. Jarak tiap lubang 7,5 cm. Usahakan kantung menutupi 15 -45 cm di atas pangkal sisir teratas dan 25 cm di bawah ujung buah dari sisir terbawah.
d. Batang tanaman disangga dengan bambu yang dibenamkan sedalam 30 cm ke dalam tanah.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan secara umum sebelumnya yakni :
- Satu rumpun hanya 3 - 4 batang.
- Pemotongan anak dilakukan sedemikian rupa sehingga dalam satu rumpun terdapat anakan yang masing-masing berbeda umur (fase pertumbuhan).
- Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan yang tak terlalu dalam dan penimbunan dapuran dengan tanah.
- Pangkas daun kering.
- Pengairan harus terjaga. Dengan disiram atau mengisi parit saluran air.
2.Pemeliharaan dari Hama dan Penyakit Tanaman Pisang
1. Hama
a. Ulat daun (Erienota thrax.)
Menyerang daun. Gejala: daun menggulung seperti selubung dan sobek hingga tulang daun.
b. Nematoda (Rotulenchus similis, Radopholus similis)
Menyerang akar. Gejala : tanaman kelihatan merana, terbentuk rongga atau bintik kecil di dalam akar, akar bengkak. Pengendalian: gunakan bibit yang tahan, tingkatkan humus tanah dan gunakan lahan dengan kadar lempung kecil.
d. Ulat bunga dan buah (Nacoleila octasema.)
Menyerang bunga dan buah. Gejala: pertumbuhan buah abnormal, kulit buah berkudis. Adanya ulat sedikitnya 70 ekor di tandan pisang.

2. Penyakit
a. Penyakit darah
Penyebab : Xanthomonas celebensis (bakteri). Menyerang jaringan tanaman bagian dalam. Gejala: jaringan menjadi kemerah-merahan seperti berdarah.
b. Layu Fusarium
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum. Menyerang daun. Gejala : daun layu dan putus, mula-mula daun luar lalu bagian dalam, pelepah daun membelah membujur, keluarnya pembuluh getah berwarna hitam.
Menggunakan agensia hayati seperti Trichoderma sp dan Gliocadium sp dan Pseudomonas Fluorescens
c. Bintik daun
Penyebab: jamur Cercospora musae. Menyerang daun dengan gejala bintik sawo matang yang makin meluas.
d. Layu
    Penyebab : bakteri Bacillus sp. menyerang akar. Gejala: tanaman layu dan mati. Pengendalian : membongkar dan membakar tanaman yang sakit,
e. Daun pucuk
Penyebab : virus dengan perantara kutu daun Pentalonia nigronervosa. Menyerang daun pucuk. Gejala: daun pucuk tumbuh tegak lurus secara berkelompok.

Teknis Pembuatan MOL Sabut Kelapa

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP

Pada sesi terdahulu kita telah membahas pembuatan MOL I-V. Pelibatan mikroba dalam kegiatan usaha tani dalam bentuk pembuatan MOL sangatlah beragam. Berikut cara pembuatan MOL lain yakni MOL sabut kelapa. MOL merupakan salah satu MOL penting dibandingkan dengan ramuan MOL yang lain. Hal ini dikarenakan MOL ini sangat kaya akan unsur K. Berikut tahapan pembuatannya. Semoga bermanfaat.


a. Bahan-bahan:
1. Sabut Kelapa
2. Air bersih

b. Cara pembuatan:
1. Masukkan sabut kelapa ke dalam drum. Jangan penuh-penuh.
2. Masukkan air sampai semua sabut kelapa terendam air.
3. Drum ditutup dan dibiarkan selama dua minggu.
4. Air yang sudah berwarna coklat kehitaman digunakan sebagai MOL.
Foto by : ICHSAN KURNIAWAN

Selain sabut kelapa bisa juga ditambahkan dengan jerami kering. Penambahan jerami bisa bermanfaat sebagai pestisida nabati untuk tanaman.

c. Pemakaian:
MOL bisa disiramkan/ dicor atau disemprotkan langsung ke tanaman.

Teknis Pembuatan Bokashi

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP

1. Bokashi Jerami
Bahan yang digunakan:
§   Jerami sebanyak 10 kg (bisa juga rumput atau tanaman kacangan) yang telah dipotong-potong sehingga jerami berukuran panjang sekitar 5-10 cm.
§   Dedak sebanyak 0,5 kg dan sekam sebanyak 10 kg.
§   EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml).
§   Molases atau gula sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.

Cara pembuatan :
§   Pertama-tama dibuat larutan dari EM4, molasses/ gula dan air dengan perbandingan 1 ml : 1 ml :1 liter air.
§   Bahan jerami, sekam dan dedak dicampur merata di atas lantai yang kering.
§   Selanjutnya bahan disiram larutan EM4 secara perlahan dan bertahap sehingga terbentuk adonan. Adonan yang terbentuk jika dikepal dengan tangan, maka tidak ada air yang keluar dari adonan. Begitu juga bila kepalan dilepaskan maka adonan kembali mengembang (kandungan air sekitar 30%).
§   Adonan selanjutnya dibuat menjadi sebuah gundukan setinggi 15-20 cm. Gundukan selanjutnya ditutup dengan karung goni selama 3-4 hari. Selama dalam proses, suhu bahan dipertahankan antara 40-50 o C. Jika suhu bahan melebihi 50 o C, maka karung penutup dibuka dan bahan adonan dibolak-balik dan selanjutnya gundukan ditutup kembali.

2. Bokashi Pupuk Kandang
Bahan yang digunakan :
§   Pupuk kandang sebanyak 15 kg.
§   Sekam sebanyak 10 kg dan dedak sebanyak 0,5 kg.
§   Molases atau gula sebanyak dua sendok makan (10 ml).
§   EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.

Cara pembuatan :
Cara pembuatan bokashi pupuk kandang mirip dengan pembuatan bokashi jerami, hanya jerami digantikan dengan pupuk kandang. Penggunaan: Penggunaan bokashi pupuk kandang sama dengan penggunaan bokashi jerami. Selain itu bokashi pupuk kandang baik untuk digunakan di dalam pembibitan tanaman. Dalam hal tersebut bokashi pupuk kandang diaplikasikan dengan tanah pada perbandingan 1:1.

Teknis Pembuatan Kompos Jerami


Salah satu bentuk dari pemanfaatan potensi yang ada dalam konsep Pertanian Organik yang umum dilakukan untuk komoditi tanaman pangan yakni padi sawah adalah pembuatan kompos jerami. Selain dalam rangka penghematan biaya produksi, kegiatan ini dilakukan demi memanfaatkan jerami agar tak terjadi pemanggangan atau pembakaran jerami di sela kalender pertanaman petani. Berikut adalah teknis pembuatan kompos jerami berdasarkan pengalaman lapangan dan rangkuman dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

1.
Alat dan Bahan
:
-          Jerami 1 m­­3
-          Pupuk Kandang 20 Kg
-          Tricoderma 1 Kg
-          Plastik hitam
-          Air
-          Ember­
2.
Langkah Kerja
:
-          Jerami dicincang halus
-          Tumpuk jerami tersebut setinggi 25 cm
-          Diatasnya ditabur pupuk kancang seperempat bagian
-          Kemudian ditabur tricoderma seperempat bagian
-          Dan selanjutnya disiram dengan air
-          Ulangi lagi penumpukan jerami dan pupuk kandang + tricodrma sampai 4 lapis
-          Tutup lapisan atas degan jerami dan siran dengan air
-          Kemudian tumpukan jerami tersebut ditutup dengan plastic hitam

Jumat, 27 Januari 2012

Teknik Pemfermentasi Kakao

by : ICHSAN KURNIAWAN,SP

Kakao merupakan komoditi penting negara kita. Komoditi ini memberikan kontribusi besar setiap tahunnya. Indonesia juga merupakan salah satu negara pemasok utama kakao dunia setelah Pantai Gading (38,3%) dan Ghana (20,2%) dengan persentasi 13,6%.



Peningkatan produksi kakao mempunyai arti yang strategis karena pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum tergarap. Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dengan penerapan fermentasi pada pengolahan biji pasca panen dan pengembangan produk hilir kakao berupa serbuk kakao.

dok. ICHSAN K
(Jorong Kp.Ateh, S.Landia)


Proses fermentasi akan menghasilkan kakao dengan cita rasa setara dengan kakao yang berasal dari Ghana. Selain itu, kakao Indonesia memiliki kelebihan tidak mudah meleleh sehingga cocok untuk blending. Fermentasi merupakan suatu proses produksi suatu produk dengan mikroba sebagai organisme pemroses. Fermentasi biji kakao merupakan fermentasi tradisional yang melibatkan mikroorganisme indigen dan aktivitas enzim endogen. Fermentasi biji kakao tidak memerlukan penambahan kultur starter (biang), karena pulp kakao yang mengandung banyak glukosa, fruktosa, sukrosa dan asam sitrat dapat mengundang pertumbuhan mikroorganisme sehingga terjadi fermentasi.



Tujuan dari pemfermentasian :

         penurunan kadar air biji kakao

         penghilangan lender/pulp biji kakao

         pengeluaran aroma biji kakao

         pemberian warna coklat

         pemberian rasa getah

         pematian lembaga biji agar tidak tumbuh (menghilangkan daya tumbuh) biji sehingga perubahan- perubahan di dalam biji akan mudah terjadi, seperti warna keping biji, peningkatan aroma dan rasa

         pengurangan rasa pahit


Berikut teknik pemfermentasian kakao yang dirangkum dari berbagai sumber :



Alat pemfermentasian :

       Kotak pemeraman yang berlubang/keranjang bambu, daun pisang, karung goni

    Wadah fermentasi yang baik terbuat dari papan kayu berbentuk kotak dilengkapi lubang-lubang yang berfungsi sebagai tempat pengeluaran cairan dan aerasi. Jarak lubang biasanya 10-15 cm dengan diameter 1 cm





Tahapan teknik  pemfermentasian kakao ini adalah :

    Biji yang sudah dikeluarkan ditampung dan dimasukkan dalam wadah/peti fermentasi, tutup dengan karung goni/daun pisang

    Hari ke 3 (setelah 48 jam) dilakukan pembalikan agar fermentasi biji merata atau dilakukan sambil memindahkan biji dari kotak satu ke kotak lainnya. Pembalikan hanya dilakukan satu kali untuk menjaga suhu fermentnsi

      Berlangsung  4 -  6  hari. Waktu fermentasi bervariasi sesuai dengan jenis kakao yang difermentasi. Waktu fermentasi yang dianjurkan untuk kakao lindak adalah 5 hari.



Ciri-ciri proses pemfermentasian telah selesai yakni :

         biji berwarna coklat dan agak kering serta aroma cuka yang kuat

         lendir di permukaan biji mudah terkelupas dan lepas

         penampang biji telah mempunyai rongga

         pembersihan penutup dari kulit biji menjadi gampang


Pasca Fermentasi

          Selanjutnya biji kakao dikeringkan untuk menghentikan proses fermentasi. Pengeringan dilakukan sampai kadar air menjadi 7 - 8 % (setimbang dengan udara berkelembaban 75 %). Kadar air kurang dari 6 %, biji akan rapuh sehingga penanganan dn pengolahan lanjutan menjadi lebih sulit. Kadar air lebih dari 9 % memungkinkan pelapukan biji oleh jamur. Pengeringan dapat dilakukan secara tradisional menggunakan sinar matahari selama 14 hari, sedangkan dengan oven pengeringan selama 2 - 3 hari dengan temperature 45 - 600C.

          Setelah pengeringan, biji kakao disortir dan dilanjutkan dengan penyangraian pada suhu 2100C selama 10 - 15 menit. Tujuan dari penyangraian adalah untuk mensterilisasi biji serta pembentukan cita rasa dari prekursor cita rasa (hasil fermentasi) melalui reaksi Maillard.

Keuntungan  Kakao Fermentasi           

          Proses fermentasi kakao sebelum diekspor ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing kakao nasional. Juga untuk menjawab peluang tren kenaikan harga komoditas perkebunan andalan itu di pasar dunia. Kualitas kakao akan terpengaruh langsung, aroma dan warna biji kakao akan optimal. Selain itu, biji kakao fermentasi menjadi dapat dimanfaatkan mulai dari lemaknya, bungkil, dan pastanya. Sedangkan kakao non fermentasi hanya dapat diambil lemaknya saja.

          Keadaan alam Indonesia merupakan potensi awal produksi kakao Indonesia, namun produksi yang optimal tidak bisa mengandalkan sumber daya saja, tapi dibutuhkan sumber daya manusia yang baik, kepedulian Pemerintah serta modal yang cukup. Produksi yang optimal bukan hanya dalam bentuk kuantitas namun juga kualitasnya. Mutu kakao harus ditingkatkan untuk mendapatkan kembali kepercayaan pasar dunia.

          Kebijakan pengembangan kakao pada saat ini dan di masa depan harus diarahkan kepada upaya mewujudkan agroindustri kakao yang berdaya saing dan berkeadilan, sehingga dapat memberikan kesejahteraan bagi pelaku usahanya, khususnya petani secara berkelanjutan. Menteri Pertanian pun mengharapkan agar penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib bagi biji kakao dan dapat diterapkan mulai tahun 2010 yang akan datang (Anonimd, 2009).


Link literatur :

 http://majarimagazine.com/2009/06/teknik-fermentasi-dalam-pengolahan-biji-kakao/
http://ditjenbun.deptan.go.id/bbp2tpsur/index.php?option=com_content&view=article&id=38:teknologi-fermentasi-untuk-meningkatkan-kualitas-biji-tanaman-kakao-indonesia&catid=6:iptek&Itemid=24

Teknik Pembuatan Pakan Organik


Oleh : ICHSAN KURNIAWAN

Seperti yang telah dibahas pada artikel yang lalu dengan judul “Korelasi Pertanian Organik dengan Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP)” bahwa pelaksanaan pertanian organic sendiri sejalan dengan gerakan pensejahteraan petani. Secara garis besar harapan dari GPP sendiri yakni mengintegrasikan kegiatan usaha tani dengan peternakan, perikanan atau lainnya hingga pensejahteraan petani dapat tercapai melalui maksimalisasi jam kerja dari bidang yang telah terintegrasi.
Khusus untuk pengentegrasian pertanian dengan peternakan, kegiatan pertanian organik yang notabene melibatkan pemanfaatan sumber daya lokal yang salah satunya berupa kotoran ternak termasuk urinnya sebenarnya secara langusng dapat memberikan tambahan pendapatan pada petani..
Kotoran ternak sendiri secara terpisah juga dapat mendatangkan “kocek lebih” selain penggunaannya secara langsung sebagai sarana produksi dalam kegiatan usaha tani organik tersebut. Lihat saja akhir-akhir ini banyak bermunculan produk saprodi berupa pupuk organik pabrikan atau kompos yang hanya dipack secara sederhana dalam plastik.
Terlepas dari bahasan di atas selain pembuatan pupuk yang menjadi keuntungan dalam pertanian organik dan juga merupakan bentuk dari keintegrasian pertanian dengan bidang peternakan, yakni pengolahan pakan secara organik.
Terkait dengan makin terbatasnya jumlah lahan yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat pakan segar berupa rumput – rumputan maka dibutuhkan teknologi pembuatan pakan ternak yang bisa mengatasi masalah ketersediaan lahan namun tetap bisa menjamin integritas pertanian organik tanpa melakukan pemberian bahan pakan berupa konsentrat tambahan yang berbahan dasar kimia sintetis atau bahan lain yang dapat memicu pertumbuhan ternak secara tidak wajar dalam waktu yang singkat.
Pemberian pakan yang rutin masalah lain yang juga harus diperhatikan adalah adanya efisiensi waktu sehingga upaya penyediaan pakan tidak menyita waktu bagi petani organik, sehingga petani juga bisa memanfaatkan waktu mereka untuk aktifitas lain guna menambah penghasilan.
Dalam melaksanakan budidaya peternakan khususnya ternak kambing, petani banyak menuai masalah terutama dalam penyediaan pakan. Pemahaman dan konsep dalam penyediaan pakan kerap diartikan dengan penyediaan rumputan segar yang identik dengan penyediaan lahan untuk penanaman rumput. Padahal dalam kondisi dewasa ini hal tersebut merupakan konsep dengan pemikiran yang “sempit”. Kenapa. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi penyiapan pakan ternak dengan memanfaatkan jasa mikroba dalam proses fermentasi pakan yang juga tahan lama dalam penyimpanan.

Secara umum dalam penyediaan pakan ternak kambing, beberapa hal yang patut menjadi perhatian khusus yakni :
1.       Pemberian rerumputan yang masih berada dalam keadaan basah kepada ternak kambing dihindari. Hal ini karena air yang melekat pada rumput basah ini berpotensi menimbulkan kembung dan mengurangi nafsu makan ternak kambing.
2.       Pemberian rerumputan yang memiliki kandungan getah juga dihindarkan karena justru dapat memicu penyakit lambung pada ternak kambing sehingga sebaiknya rumput yang mengandung getah ini dilayukan terlebih dahulu untuk mengurangi atau menghilangkan kandungan getah tersebut.

Pakan ternak organik merupakan salah satu solusi pintar dalam mengatasi permasalahan yang menjadi bahasan di atas. Pakan ini mempunyai kandungan gizi sangat baik serta nutrisi yang lengkap sehingga sangat baik untuk pertumbuhan kambing.

Teknik pembuatan pakan ternak organic adalah dengan langkah sebagai berikut :
Bahan dasar :
-          dedak halus
-          ampas tapioka
-          ampas tahu
-          jagung giling
-          tepung kedelai
-          rumput
-          nutrisi
-          mineral

Nutrisi yang dibutuhkan :
a.       Nutrisi ikan/keong
b.      Nutrisi usus
c.       Mikroba 2
d.      Nutrisi nenas
e.      Nutrisi jantung pisang
f.        Nutrisi tomat
g.       Kuning telur
h.      Nutrisi cangkang telur
i.         Asam laktat

Teknik pembuatan nutrisi :
a.       Masing-masing bagian nutrisi diambil 1 sendok teh
b.      Dicampurkan dengan air bersih sebanyak 3 liter atau 5 botol aqua menengah dikembalikan lagi ke botol
c.       Difermentasi selama 4 – 7 hari baru bisa dipakai

Teknik pencampuran :

a.       Tahap 1 :
·         Dedak halus  : 1 kg
·         Ampas tahu, tepung jagung, tepung kedelai : 7,5 kg
·         Nutrisi  : 5 tutup botol
·         Air : 5 liter
·         Dicampur di fermentasi kedap udara : ± 4 hari

b.      Tahap 2 :
·     Rumput dipotong-potong ± 1 cm
·    Apa bila rumput yang akan digunakan masih dalam kondisi basah mesti ditunggu sampai dalam kondisi kering

c.       Tahap 3 :
·    Dedak yang telah difermentasi seperti tahap 1 (satu) dicampur dengan rumput dengan perbandingan 1: 5
·      Setelah dicampur kemudian formula ini  difermentasi dan ditempatkan pada plastik/ember, dll dengan kondisi kedap udara. Artinya tidak bocor atau bercampur dengan udara dari luar minimal 4 – 7 hari.

Pemberian pakan :
a.   Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari dengan waktu pemberian pada pagi hari dan sore hari.
b. Volume pemberian pakan pada pagi hari jumlahnya lebih sedikit dari jumlah pakan yang diberikan pada sore hari
c.  Untuk kambing dengan bobot atau berat antara 15 – 20 kg cukup diberikan pakan sebanyak 1,5 kg untuk 1 kali makan
Untuk kambing dengan bobot atau berat lebih dari 20 kg maka pakan yang diberikan sebanyak 2 kg atau lebih

Pemerintah Nagari Koto Gadang Perkuat Kelembagaan Tani

Rabu (4/2) Pemerintahan Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam melaksanakan pembinaan Kelompok Tani dan Perkumpulan Petani Pem...