Rabu, 01 Mei 2013

Hadist Tentang Mendapatkan Pahala dari Menanam

Menanam tanaman sesungguhnya merupakan pekjerjaan yang mulia. Berikut petikan hadist yang berbunyi : Dari Anas ra bahwa Rasulullah berkata (bersabda),"seorang muslim yang menanam pohon atau tanaman atau binatang maka orang yang menanam itu mendapat pahala"

Oleh karena itu, mari kita menanamkan kemuliaan menanam dalam diri kita. Semoga apa yang kita mendatangkan manfaat bagi kita dan lingkungan karena sesungguhnya sebaik dan semulia suatu pekerjaan adalah pekerjaan yang mendatangkan manfaat bagi orang lain/ lingkungan.

Do'a Ketika Melihat Tanaman Berbuah

Adakah do'a ketika melihat tanaman berbuah? Inilah do'anya.
Allaahumma baarik lanaa fii tsamaarinaa wa baariklana fii sho'ina .
Artinya:
"Ya Allah, berilah keberkahan pada tanaman kami, berkatilah apa yang ada di negeri kami dan berkatilah kesukaan kami" 


Sumber : Web Blog 

Senin, 29 April 2013

Angin, Penyerbukan, Air dan Tanaman (Tumbuhan)

by ICHSAN KURNIAWAN,SP

Subhanallah.. Walhamdulillahi.. Wallahu Akbar...

Inilah literratur Al-Qur'an tentang proses ditumbuhkannya tanaman. Apabila kita cermati proses tersebut mulai dari pembawaan kabar gembira (termasuk benih tanaman yang penyerbukan dibantu oleh angin), kemudian diturunkan hujan dengan ragam kandunga  hara yang selanjutnya membantu proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Berikut petikan suraah tersebut.

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.
(QS: Al-A'raf Ayat: 57)

Tentang Tanah dan Tanaman

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.
(QS: Al-A'raf Ayat: 58)

Mengetahui Sifat Pupuk



Oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP

Dok. BPP Koto Tuo Kecamatan IV Koto Agam

Beberapa waktu yang lalu pada artikel Pertanian Organik I, kita telah membahas tentang kaidah pertanian organik dan menyinggung sedikit tentang urea. Pada hakikatnya saya mengajak pembaca/ petani untuk lebih memahami dahulu suatu saprodi sebelum kita bulatkan niat untuk memakainya dalam berusaha tani.

Beberapa sifat dasar dari sarana produksi sebenarnya sangat penting untuk diketahui seperti sifat dasar dari penggunaan pupuk dan pestisida. Hal ini akan memudahkan dalam pemilihan aplikasi yang tepat bila terjadi sesuatu pada tanaman. Dari gejala-gejala yang ada kita dapat mengambil langkah yang tepat. Atau misalnya dalam waktu pengaplikasian. Tampaknya memang sepele, tapi hal ini tentu berpengaruh bagi efektivitas pemakaian sarana produksi kita.

Ada beberpaa sifat-sifat penting pupuk yang perlu kita ketahui. Mari kita bahas beberapa pupuk umum yang dipakai oleh petani.
    1. Pupuk Urea
Unsur N dalam pupuk urea berbentuk senyawa NH4+ , yang mempunyai sifat: mudah menguap. Mempupuk urea dengan disebar menyebabkan kehilangan unsur N untuk tanaman sebesar 40 %.

    1. Pupuk TSP
Unsur P mempunyai sifat tidak segera diserap oleh tanaman. Jadi pemupukan P yang dilakukan bersamaan dengan N dengan harapan segera memberikan hasil adalah sia-sia. Pada saat panen unsur P masih tersisa banyak di tanah.

    1. Pupuk KCl
Unsur K adalah unsur yang mahal karena ketersediaannya di alam sangat terbatas dibanding kebutuhan tanaman. Sifatnya tidak mudah berubah. Sumber K selain KCl adalah air irigasi dan abu. Terkadang bisa digantikan oleh garam dapur (dalam porsi sangat sedikit).


(disari dari Materi Pelatihan Pertanian Organik)

Kamis, 04 April 2013

Aplikasi SIG dalam Bidang Penyuluhan






Penggunaan teknologi berbasis komputer untuk mendukung perencanaan pembangunan pertanian dewasa ini sangatlah terasa begitu bermanfaat. Salah satu teknologi tersebut adalah Sistem Informasi Geografi (SIG) yang mempunyai kemampuan membuat model yang memberikan gambaran, penjelasan dan perkiraan dari suatu kondisi faktual sepertri kondisi real yang ada di lapangan. Untuk mendapatkan model, gambaran dan informasi tentang komoditas yang cocok untuk ditanam, potensi wilayah yang memungkinkan, maka dilakukan pembuatan peta dan analisis kesesuaian lokasi serta lahan dengan menggunakan metode Ssitem Informasi Geografis.


Pembuatan peta dan analisis kesesuaian lokasi dan lahan ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi wilayah yang ada pada wilayah kerja penyuluh dan kemudian menyajikan data dan informasi yang akurat, obyektif dan lengkap sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan kebijaksanaan sehingga khusus bagi bidang penyuluhan hal ini akan sangat berguna dalam penyusunan programa baik kabupaten, kecamatan sampai kepada penyusunan Rencana Kerja Penyuluh Pertanian (RKPP). Selain itu juga bertujuan untuk mendorong peningkatan produktifitas sektor pertanian sesuai dengan kemampuan dan daya dukung lahan sesuai dengan hasil analisis.
Sajian informasi dari analisis kesesuaian lokasi dan lahan yang telah dilakukan diharapkan akan memberikan manfaat antara lain sebagai berikut:
1. Sebagai pedoman dan arahan bagi petani untuk memilih komoditas yang sesuai (spesifik lokasi)
2.Tersedianya informasi yang cukup bagi para penyuluh di lapangan sehingga berangkat dari data yang ada penyuluh dapat memplotkan metode serta materi penyuluhan yang cocok pada wilayah tersebut.
3.Sebagai bahan acuan dan referensi dalam membuat perencanaan terkait  di wilayah kerja masing-masing.
4.Sebagai pemandu bagi instansi yang berwenang dalam menentukan kebijakan yang akhirnya akan bersifat bottom up  yang sesuai dengan kebutuhan petani / masyarakatb tani.
Sistem Informasi Geografi (SIG) dapat digunakan untuk membantu mengelola sumberdaya pertanian, seperti luas kawasan untuk tanaman, pepohonan saluran air. Selain itu SIG juga dapat digunakan untuk menetapkan masa panen, mengembangkan sistem rotasi tanam dan melakukan perhitungan secara tahunan terhadap kerusakan tanah yang terjadi karena perbedaan pembibitan, penanaman atau teknik yang digunakan dalam masa panen.

Kamis, 06 Desember 2012

Budidaya Gaharu


oleh : ICHSAN KURNIAWAN
Beberapa waktu yang lalu, Nagari Sungai Landia melaksanakan kegiatan Kebun Bibit Rakyat (KBR). Salah satu komoditi yang dipilih anggota Kelompok Masyarakat dalam KBR adalah Gaharu. Namun ada sedikit keragu-raguan akan pertumbuhannyasehingga Kelompok memutuskan jumlah pembibitan pada KBR untuk komoditi ini hanya 500 batang.

Sebenarnya bagaimana dan apa keuntungan yang dapat diperoleh dari Gaharu ini? Berikut beberapa ulasan mengenai Gaharu yang dirangkum dari berbagai sumber.
Gaharu merupakan komoditi kehutanan dengan warna kayu kehitaman dan mengandung resin khas yang dihasilkan oleh sejumlah spesies pohon dari marga Aquilaria, terutama A. malaccensis. Resin ini digunakan dalam industri wangi-wangian (parfum dan setanggi) karena berbau harum. Gaharu sejak awal era modern (2000 tahun yang lalu) telah menjadi komoditi perdagangan dari Kepulauan Nusantara ke India, Persia, Jazirah Arab, serta Afrika Timur.

Berdasarkan studi dari Ng et al. (1997), diketahui jenis-jenis berikut ini menghasilkan resin gaharu apabila terinfeksi oleh kapang gaharu :
Bentuk dan Morfologi Gaharu
Gaharu tingginya dapat mencapai 40 m dengan diameter bisa sampai 50-60 cm. Kayunya keras dengan permukaan batangnya licin, berwarna keputih-putihan, kadang-kadang beralur. Daun lonjong memanjang dengan ukuran panjang 6-8 cm, lebar 3-4 cm. Tulang daun sekunder berjumlah 12-15 pasang. Bunga terdapat pada ujung ranting, ketiak daun. atau kadang-kadang di bawah ketiak daun.  Bentuk bunga lancip berwarna hijau kekuningan atau putih, berbau harum. Sementara buah berbentuk bulat telur atau agak lonjong, panjangnya sampai 4 cm, lebar 2,5 cm. 
Syarat Tumbuh Gaharu
Rentang pertumbuhan komoditi Gaharu mulai dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 700-800 mdpl.

Perbanyakan Bibit
Secara Generatif
Secara generatif dapat dilakukan seleksi yakni dengan syarat pemilihan :
  • Buah yang sudah tua di batang dikumpulkan pada musim buah.
  • Buah yang diperoleh dikeringkan selama beberapa hari dengan cara diangin-anginkan atau dijemur selama 2 (dua) jam pada pagi hari, yaitu antara jam 08.00-10.00.
  • Biji yang sudah kering ditaruh di dalam karung dan disimpan dengan baik, jangan sampai terkena air, lembab, berjamur atau dimakan serangga dan tikus, sampai waktunya untuk disemaikan.
Pembuatan bibit secara puteran
  • Tanaman Gaharu dapat dikembangbiakkan secara alami melalui pemencaran biji.  Pohon yang sehat biasanya dapat menghasilkan banyak biji dengan daya kecambah yang cukup tinggi.  Umumnya, pohon yang berasal dari biji baru bisa menghasilkan buah setelah berumur ± 8 (delapan) tahun.
  • Anakan gaharu dapat diambil pada awal musim penghujan.  Pengambilan anakan ini harus disertai dengan tanah disekitarnya dan dilakukan dengan hati-hati agar akar jangan sampai rusak.  Kemudian anakan tersebut ditempatkan di polybag dan dipelihara di bedengan sampai siap untuk ditanam.
Cara Vegetatif
Perbanyakan bibit tanaman gaharu secara vegetatif dapat dengan cangkok, okulasi, stek pucuk dan lain sebagainya.  Namun cara vegetatif ini memiliki kelemahan, antara lain :
  • Perakaran tanaman kurang lengkap, sehingga mudah roboh bila tertiup angin kencang.
  • Tanaman kurang tahan menghadapi keadaan kurang air, khususnya di musim kemarau panjang, karena sifat perakarannya yang dangkal dan kurang mampu mengambil air tanah.
Namun perbanyakan dengan cara vegetatif ini adalah bibit relatif lebih cepat dibandingkan dengan cara generatif.

Penanaman
Penanaman benih gaharu sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan di pagi hari sampai jam 11.00, dan dapat dilanjutkan pada jam 4 petang harinya.

Jarak Tanam
Jarak tanam 3x3 m (1.000 pohon/ha.), namun dapat juga 2.5x3 m sampai 2.5x5 m. Jika tanaman gaharu ditanam pada lahan yang sudah ditumbuhi tanaman lain, maka jarak tanaman gaharu minimal 3 m dari tanaman tersebut.

Lubang tanam
Ukuran lubang tanam adalah 40x40x40 cm. Lubang yang sudah digali dibiarkan minimal 1 minggu, agar lubang beraerasi dengan udara luar. Kemudian masukkan pupuk dasar, campuran serbuk kayu lapuk dan kompos dengan perbandingan 3:1 sampai mencapai ¾ ukuran lubang. Kemudian setelah beberapa minggu pohon gaharu, siap untuk ditanam.
PemeliharaanPemupukan dapat dilakukan sekali 3 bulan, namun dapat juga setiap 6 bulan dengan kompos sebanyak 3 kg melalui pendangiran dibawah canopy. Penggunaan pupuk kimia seperti NPK dan majemuk dapat juga ditambahkan setiap 3 bulan dengan dosis rendah (5 gr/tanaman) setelah tanaman berumur 1 tahun, kemudian dosisnya bertambah sesuai dengan besarnya batang tanaman. Hama tanaman gaharu yang perlu diperhatikan adalah kutu putih yang hidup di permukaan daun bawah, bila kondisi lingkungan lembab. Pencegahan dilakukan dengan pemangkasan pohon pelindung agar kena cahaya matahari diikuti penyemprotan pestisida seperti. Pembersihan gulma dapat dilakukan 3 bulan sekali atau pada saat dipandang perlu.
Pemangkasan pohon dilakukan pada umur 3 sampai 5 tahun, dengan memotong cabang bagian bawah dan menyisakan 4 sampai 10 cabang atas. Pucuk tanaman dipangkas dan dipelihara cukup sekitar 5 m, sehingga memudahkan pekerjaan inokulasi gaharu.

Proses Pembentukan Gaharu
Gaharu dihasilkan tanaman sebagai respon dari masuknya mikroba yang masuk ke dalam jaringan yang terluka. Luka pada tanaman berkayu dapat disebabkan secara alami karena adanya cabang dahan yang patah atau kulit terkelupas, maupun secara sengaja dengan pengeboran dan penggergajian. Masuknya mikroba ke dalam jaringan tanaman dianggap sebagai benda asing sehingga sel tanaman akan menghasilkan suatu senyawa fitoaleksin yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap penyakit atau patogen. Senyawa fitoaleksin tersebut dapat berupa resin berwarna coklat dan beraroma harum, serta menumpuk pada pembuluh xilem dan floem untuk mencegah meluasnya luka ke jaringan lain. Namun, apabila mikroba yang menginfeksi tanaman dapat mengalahkan sistem pertahanan tanaman maka gaharu tidak terbentuk dan bagian tanaman yang luka dapat membusuk. Ciri-ciri bagian tanaman yang telah menghasilkan gaharu adalah kulit batang menjadi lunak, tajuk tanaman menguning dan rontok, serta terjadi pembengkakan, pelekukan, atau penebalan pada batang dan cabang tanaman. Senyawa gaharu dapat menghasilkan aroma yang harum karena mengandung senyawa guia dienal, selina-dienone, dan selina dienol. Untuk kepentingan komersil, masyarakat mengebor batang tanaman penghasil gaharu dan memasukkan inokulum cendawan ke dalamnya. Setiap spesies pohon penghasil gaharu memiliki mikroba spesifik untuk menginduksi penghasilan gaharu dalam jumlah yang besar. Beberapa contoh cendawan yang dapat digunakan sebagai inokulum adalah Acremonium sp., Cylindrocarpon sp., Fusarium nivale, Fusarium solani, Fusarium fusariodes, Fusarium roseum, Fusarium lateritium dan Chepalosporium sp.

Proses Pembentukan Gaharu secara Bauatan:
Teknologi sederhana untuk membentuk gaharu, diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Melukai batang pohon 
  2. Cara pembenihan mikroorganisme
  3. Pemberian oli dan gula merah
  4. Memasukan potongan gaharu
  5. Cara bor spiral pada batang gaharu (Aquilaria malaccensis) yang berumur minimal 5 tahun
Spesifikasi
Gaharu dikelompokkan menjadi 3 (tiga) sortimen, yaitu gubal gaharu, kemedangan dan abu gaharu.

Cara Pemungutan
  • Gubal gaharu dan kemedangan diperoleh dengan cara menebang pohon penghasil gaharu yang telah mati, sebagai akibat terjadinya akumulasi damar wangi yang disebabkan oleh infeksi pada pohon tersebut.
  • Pohon yang telah ditebang lalu dibersihkan dan dipotong-potong atau dibelah-belah, kemudian dipilih bagian-bagian kayunya yang telah mengandung akumulasi damar wangi, dan selanjutnya disebut sebagai kayu gaharu.
  • Potongan-potongan kayu gaharu tersebut dipilah-pilah sesuai dengan kandungan damarnya, warnanya dan bentuknya.
  • Agar warna dari potongan-potongan kayu gaharu lebih tampak, maka potongan-potongan kayu gaharu tersebut dibersihkan dengan cara dikerok.
  • Serpihan-serpihan kayu gaharu sisa pemotongan dan pembersihan atau pengerokan, dikumpulkan kembali untuk dijadikan bahan pembuat abu gaharu.
Pengolahan Minyak Gaharu
Sebelum dijadikan bahan baku parfum, gaharu harus diolah terlebih dahulu untuk mendapatkan minyak dan senyawa aromatik yang terkandung di dalamnya. Sebagian kayu gaharu dapat dijual ke ahli penyulingan minyak yang biasanya menggunakan teknik distilasi uap atau air untuk mengekstraksi minyak dari kayu tersebut. Untuk mendapatkan minyak gaharu dengan distilasi air, kayu gaharu direndam dalam air kemudian dipindahkan ke dalam suatu tempat untuk menguapkan air hingga minyak yang terkandung keluar ke permukaan wadah dan senyawa aromatik yang menguap dapat dikumpulkan secara terpisah. Teknik distilasi uap menggunakan potongan gaharu yang dimasukkan ke dalam peralatan distilasi uap. Tenaga uap yang menyebabkan sel tanaman dapat terbuka sehingga minyak dan senyawa aromatik untuk parfum dapat keluar. Uap air akan membawa senyawa aromatik tersebut kemudian melalui tempat pendinginan yang membuatnya terkondensasi kembali menjadi cairan. Cairan yang berisi campuran air dan minyak akan dipisahkan hingga terbentuk lapisan minyak di bagian atas dan air di bawah. Salah satu metode digunakan saat ini adalah ekstraksi dengan [superkritikal CO2], yaitu CO2 cair yang terbentuk karena tekanan tinggi. CO2 cair berfungsi sebagai pelarut aromatik yang digunakan untuk ekstraksi minyak gaharu. Metode ini menguntungkan karena tidak terdapat residu yang tersisa, CO2 dapat dengan mudah diuapkan saat berbentuk gas pada suhu dan tekanan normal.

Nilai Ekonomi
Gaharu banyak diperdagangan dengan harga jual yang sangat tinggi terutama untuk gaharu dari tanaman famili Themeleaceae dengan jenis Aquilaria spp. yang dalam dunia perdangangan disebut sebagai gaharu beringin. Untuk jenis gaharu dengan nilai jual yang relatif rendah, biasanya disebut sebagai gaharu buaya. Selain ditentukan dari jenis tanaman penghasilnya, kualitas gaharu juga ditentukan oleh banyaknya kandungan resin dalam jaringan kayunya. Semakin tinggi kandungan resin di dalamnya maka harga gaharu tersebut akan semakin mahal dan begitu pula sebaliknya. Secara umum perdagangan gaharu digolongkan menjadi tiga kelas besar, yaitu gubal, kemedangan, dan abu. Gubal merupakan kayu berwarna hitam atau hitam kecoklatan dan diperoleh dari bagian pohon penghasil gaharu yang memiliki kandungan damar wangi beraroma kuat. Kemedangan adalah kayu gaharu dengan kandungan damar wangi dan aroma yang lemah serta memiliki penampakan fisik berwarna kecoklatan sampai abu-abu, memiliki kasar, dan kayu lunak. Kelas terakhir adalah abu gaharu yang merupakan serbuk kayu hasil pengerokan atau sisa penghancuran kayu gaharu.

Prospek Bisnis GaharuSebanyak 2000 ton/tahun gaharu memenuhi pusat perdagangan gaharu di Singapura. Gaharu tersebut 70% berasal dari Indonesia dan 30% dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. Hutan alam sudah tidak mampu lagi menyediakan gaharu. Gaharu hasil budidaya merupakan alternatif pilihan untuk mendukung kebutuhan masyarakat dunia secara berkelanjutan.
Jika satu pohon gaharu hasil budidaya menghasilkan 10 kg gaharu (semua kelas), maka diperlukan pemanenan 200.000 pohon setiap tahun.
Dengan harga mulai dari 500.000-30 juta/kg bahkan bisa lebih, tergantung asal species pohon dan kualitas gaharu dan minyak gaharu yang disuling dari gaharu kelas rendah (kemedangan) memiliki harga mulai dari 50.000-100.000/ml maka keuntungan dari budidaya gaharu dapat mengubah tingkat kesejahteraan masyarakat

sumber : Wikipedia

Pemerintah Nagari Koto Gadang Perkuat Kelembagaan Tani

Rabu (4/2) Pemerintahan Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam melaksanakan pembinaan Kelompok Tani dan Perkumpulan Petani Pem...