Rabu, 18 Januari 2012

SIMBIOSIS MUTUALISME PETANI DAN MIKROBA


by : ICHSAN KURNIAWAN,SP  

Pola pertanian konvensional yang serba instan memang mulai terasa kian menimbulkan ragam masalah. Pencemaran lingkungan sekitar area pertanaman sebagai akibat dari pemakaian pestisida dan pupuk sintetik pun mulai tampak. Belum lagi kondisi tanah pertanian dimana sistem ini diterapkan. Sejak beberapa tahun silam pemakaiannya, efek perubahan tingkat kesuburan tanah pertanian semakin hari kian terlihat. Tanah menjadi semakin keras.
Hal lain yang mulai kita sadari yakni akumulasi racun yang hampir setiap hari singgah di meja makan rumah kita. Berbagai penelitian mengungkapkan residu bahan kimia berbahaya dari pemakaian pestisida sintetis terakumulasi di dalam tubuh manusia. Endapan yang sedikit demi sedikit terus bertambah tersebut akan mencapai ambang batas dimana melahirkan masalah serius pada kesehatan. Residu tersebut bersifat toksik dan menimbulkan jenis-jenis penyakit yang mampu membunuh semisal kanker 

Illustrasi. Dok. Ichsan Kurniawan,SP- Nutrisi dan Mikroba Kelompok Mubarakah
Tiga tahun belakangan pertanian organik bisa dibilang menjadi sebuah trend. Produk dari pola pertanian ramah lingkungan ini semakin mendapat tempat. Harga hasil pertaniannya pun bisa menjadi dua sampai tiga kali lipat dibanding produk usaha tani konvensional.
Serta merta program pemerintah pun mulai diarahkan ke sana. Dinas atau instansi mencanangkan visi dan misi yang merancangkan program atau kegiatan berkaitan dengan pengembangan pertanian organik yang dituding sangat membela petani. Namun terlepas dari hal tersebut, pertanian organik memang mengandung banyak nilai positif dan baik.
Bagaimana tidak, petani diajarkan untuk sadar dan konsisten menjaga moral dalam bertani. Pemanfaatan potensi serta sumber daya alam pun sekaligus menjadi solusi dalam mengatasi berbagai masalah sarana produksi (saprodi) sebagai misal kelangkaan pupuk, harga pupuk maupun pestisida yang kian tak terjangkau.
Selain itu pertanian organik dipapah menuju kemandirian petani dalam bersuaha tani. Menuntut jiwa fair dalam beragribisnis serta merancang pola pikir sumber daya manusia (SDM) yang kreatif, berilmu-pengetahuan dan teknologi dengan kemandiriannya tersebut.
Tentu saja. Bukankah pertanian organik menuntut petani dalam memadukan kegiatan pertanian dengan elemen lain seperti peternakan. Selanjutnya mau tak mau, petani dengan dibekali kemampuan dasar yang diberikan melalui penyuluhan, akan memahami kaidah pertanian organik. Prinsip-prinsip dasar tersebut berilmu-pengetahuan dan merangsang pola pikir masyarakat tani. Tak menutup kemungkinan juga berawal dari hal tersebut, akan melahirkan petani-petani peneliti. Dengan mengetahui ilmu dasar seperti prinsip mikroba, kandungan unsur hara, kebutuhan tanah dan lainnya, maka lambat laun- selama petani mau bertahan untuk konsisten di pertanian organik, pengetahuan tersebut akan berkembang terus dan terus.
Secara garis besar harapan pertanian organik adalah kelestarian lingkungan yang bersahaja. Hal ini akan tergambar dari terjalinnya hubungan baik (simbiosis mutualisme = saling menguntungkan) antara petani dengan lingkungan termasuk mikroorganisme.

TEKNIS PENGKOLEKSIAN
Berikut adalah beberapa tahapan pemanfaatan jasa mikroba dalam usaha tani. Pengkoleksian mikroba yang dikenal dengan MOL dilakukan dalam membantu penyuburan tanah yang berarti juga kita mengkondisikan mikroba pada habitat yang benar tanpa membunuhnya dengan pemakaian sarana produksi berbahan kimia berbahaya. Pengkoleksian ini dengan tujuan dapat dimanfaatkan dalam kegiatan usaha tani berbagai komoditi.

Mikroba I
-          Beras dimasak dengan kondisi akhir menjadi nasi yang agak keras atau belum menjadi nasi 1 kilogram
-          Sesudah langkah pertama kemudian nasi didinginkan
-          Masukkan ke dalam wadah dapat berupa ruas bambu yang di belah dan kemudian di ikat pada kedua sisinya
-          Simpan di bawah pohon bambu selam ± 3 – 4 hari
-          Pindahkan nasi dari ruas bambu ke pot tanah atau stoples

Mikroba II
-          Kedalam pot tanah atau stoples yang telah diisi dengan mikroba I dengan perbandingan 1 : 1 ( 1kg mikroba : 1 kg gula merah (saka))
-          Tutup pot tanah atau stoples dengan kertas yang berpori dan di ikat dengan karet.
-          Lakukan fermentasi di tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung  ± 5 – 7 hari
-          Sudah bisa dipakai untuk kompos dan campuran pakan ternak

Mikroba III
-          Encerkan mikroba II dengan air 1000 x ( 1 cc mikroba 2 dua ditambahkan 1 ltr air).
-          Basahi dedak halus dengan mikroba 2 (dua) yang telah di encerkan dengan air dengan kebasahan 65 – 70 % dengan indikasi apabila di kepal akan bulat dan dijatuhkan akan pecah.
-          Fermentasi di atas lantai tanah dengan ketebalan ±10 – 15 cm.
-          Tutup dengan jerami atau daun-daunan, kemudian diatasnya tutup dengan plastik untuk menghindarkan dari air hujan selama ± 7 hari, di aduk 2 – 3 kali selama proses fermentasi.
-          Sudah bisa di pakai untuk pengomposan.
Mikroba IV
-          Tambahkan tanah lahan dan tanah gunung atau tanah rumpun bambu ke dalam mikroba III dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (satu bagian mikroba III ditambah tanah gunung satu bagian dan ditambah tanah dari lahan satu bagian kemudian diaduk rata)
-          Ditebar dan didatarkan di atas tanah dengan ketebalan 15 – 20 cm.
-          Tututp dengan jerami, kemudian tutup dengan plastik agar terhindar dari air hujan.
-          Biarkan, fermentasi selama ±7 hari.
-          Baru bisa diaplikasikan ke lahan, sebaiknya ditambahkan abu dapur 1/3 bagian dengan dosis 1,5 ons/m2.
Mikroba V
-          Tambahkan pupuk kandang yang telah kering ke dalam mikroba 4 (empat) dengan perbandingan 1 : 1 (satu bagian mikroba IV ditambahkan satu bagian pupuk kandang)
-          Kemudian di aduk rata dan di gelar di atas tanah ketebalan 15 – 20 cm.
-          Tutup dengan jerami atau daun-daunan, kemudian ditutup dengan plastik, untuk menghindari dari air hujan.
-          Fermentasi selama ±7 hari.
-          Mikroba 5 (lima) siap untuk dipakai di lahan dengan dosis 1,5 ons/m2.

Kamis, 05 Januari 2012

Pertanian Terpadu dan Warisan Kearifan Lokal

by : ICHSAN KURNIAWAN,SP


Nan lereng ditanami tabu

Nan tunggang ditanami kayu

Nan gambua dijadikan ladang

Nan bancah dijadikan sawah

Nan rawang jadikan tampaik paranangan itiak

Nan gauang jadikan ka tabek ikan

Nan padang jadikan pagubaloan taranak

Begitulah tata penggunaan lahan menurut adat Minangkabau. Terdapat kompleksitas dalam adagium ini.
Dan lihat baris kedua. Nan tunggang ditanami kayu jika di Indonesiakan yakni “yang curam atau terjal ditanami kayu. Ini ranah kehutanan terutama kaitannya dengan fungsi dan peranan tegaknya tanaman kayu pada lahan curam atau terjal.
Adapun yang menjadi esensi dari pesan tersebut yakni pemeliharaan hutan dan penanaman tanaman dalam rangka konservasi lahan menimbang sebagian besar wilayah Kabupaten Agam terdiri dari wilayah bertopografi perbukitan dengan tingkat kemiringan lahan yang rawan erosi.
Beberapa sebab dari terjadinya bencana tersebut masih berawal dari kita. Tingkat kesadaran akan pemanfaatan lahan dengan memenuhi kaidah konservasi menjadi alasan utama saat ini. Lihat saja di beberapa wilayah, pembukaan lahan pada tingkat kemiringan rawan tidak disertai dengan penanaman tanaman pemegang air. Selain itu pemanfaatannya terkadang tidak membelah kontur sehingga dengan mudah saat hujan datang malah memicu ancaman serius bagi wilayah di sekitarnya.
Masyarakat cenderung berpikir bagaimana pemnfaatan lahan pada tingkat kemiringan yang rawan tersebut hanya untuk meraih keuntungan sesaat (jangka pendek) tanpa memperhatikan efek yang akan ditimbulkan di jangka panjang. Masyarakat pun ragu untuk mengisi lahan mereka dengan tanaman kayu-kayuan sebagai rehabilitasi hutan ketimbang menanam tanaman semisal komoditi hortikultura dengan dalih penanaman tanaman kehutanan walaupun produktif membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dapat menikmati hasilnya sementara tanaman hortikultura punya nilai imbal dalam waktu.
Sebenarnya usaha untuk mengembalikan fungsi dan “membumikan” pelestarian hutan di tengah masyarakat ini dilakukan secara bersama-sama pada seluruh lini mulai dari pengambil kebijakan, seluruh stakeholders baik pemerintah maupun kelembagaan lain hingga masyarakat dengan penuh kesadaran.
Kambali ka Nagari yang sejak beberapa tahun silam dicanangkan sebenarnya diharapkan menjadi momentum penting dalam pengelolaan parak dan kawasan hutan. Sebagai kepala pemerintahan di Nagari, Walinagari mempunyai wewenang dan kewajiban dalam mengawasi hal ini.
Selain itu kelembagaan lain seperti Karapatan Adat Nagari, Lembaga Syarak, Parik Paga dan lainnya juga mempunyai peranan penting yakni “membicarakan” kembali tuntutan adat mengenai penggunaan lahan sesuai dengan amanah yang dititipkan leluhur kita. Seperti kita ketahui menurut adat Minangkabau, penggunaan lahan sendiri telah diatur dengan munculnya petuah diantaranya terkait dengan pertanian, perkebunan serta kehutanan yakni ”nan lereng ditanami tabu, nan tunggang ditanami kayu, nan gambua dijadikan ladang dan nan bancah dijadikan sawah..”
Selain hal tersebut, pelestarian kawasan hutan juga berarti menginvestasikan sesuatu yang kelak dapat dipanen anak cucu kita. Dan dengan merujuk kembali aturan adat, dengan bersama “sairiang sajalan” dan saling menumbuhkan kesadaran masyarakat, akhirnya diharapkan pelestarian hutan dapat diwujudkan demi keselamatan jiwa kita dari masa ke masa karena “menyelamatkan hutan berarti menyelamatkan jiwa kita”.   
(Penulis adalah Penyuluh Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam, Sumatera Barat)

URINE SEBAGAI SUMBER HARA DALAM PRODUKSI BAWANG MERAH


Oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP

Bawang merah adalah jenis sayuran yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia, terutama sebagai bumbu penyedap masakan dan sebagai obat-obatan untuk penyakit tertentu sehingga bawang merah dikenal sebagai tanaman rempah dan obat. Tanaman ini termasuk komoditas unggulan dalam Rencana Strategis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Tanaman Perkebunan dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi.
Di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Agam, komoditi ini juga termasuk menjadi item andalan yang dikembangkan, karena selalu dibutuhkan pasar. Dan tentunya nilai ekonomis komoditi ini membuatnya menjadi salah satu budidaya hortikultura yang “menjanjikan” setelah cabe. Dan juga tak jarang pada sebagian petani, penanaman komoditi ini bergandengan dengan cabe, akan memberikan keuntungan berlipat. Hal ini juga tentunya dengan menyesuaikan dengan pola tanam yang tepat sehingga dapat menempati posisi harga yang baik saat panen karena harga pasar sayuran sangat sangat fluktuatif.
Krisis ekonomi yang berdampak hingga saat ini telah menyisakan masalah pada sektor pertanian karena ketergantungan petani kepada pupuk dan pestisida berbahan kimia yang harganya semakin mahal. Sementara di satu sisi, budaya bertani kita yang terbiasa dengan pola instant merupakan masalah tersendiri dalam menerapkan sistem pertanian berkelanjutan termasuk komoditi sayuran ini. Kebiasaan petani menggunakan pupuk dan pestisida yang tidak menurut rekomendasi, justru menimbulkan dampak negatif terhadap tanaman, lingkungan dan rusaknya habitat pertanian itu sendiri. Akibatnya seiring waktu keproduktifan lahan juga semakin berkurang.

Penelitian tentang Limbah Ternak
Di kabupaten Agam sendiri, pengembangan kawasan organik yang melibatkan pemakaian bahan yang salah satunya limbah ternak sebagai solusi permasalahan kompleks pertanian dewasa ini juga dilakukan. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Agam di tahun 2011 merencanakan 13 kelompok tani di kecamatan sebagai pengembang. Dengan melibatkan penyuluh dari BP4K2P Kabupaten Agam sebagai pentransfer teknologi, kegiatan ini diharapkan bisa berkembang dan pemahaman mengenai teknologi efektif dan efisien bisa diterapkan sebagai.
Berbagai penelitian sebagai bahan rujukan teknologi mengenai hal ini sebenarnya telah lama dilakukan, baik pada skala besar (balai penelitian) maupun sederhana  (lapang) dilakukan sebagai alternatif terutama untuk komoditi-komoditi strategis termasuk bawang merah ini. Pemanfaatan pupuk organik dalam mensubstitusi pupuk sintetis ternyata memiliki berbagai keuntungan terutama yang berasal dari bahan alami. Selain rendahnya efek samping pemanfaatan bahan organik, biaya produksi juga dapat ditekan.
Limbah ternak sebagai salah satu bahan organik yang bermanfaat, banyak mengandung unsur hara makro seperti Nitrogen (N), Fospat (P2O5), Kalium (K2O) dan Air (H2O). Meskipun jumlahnya tidak besar, dalam limbah ini juga terkandung unsur hara mikro diantaranya Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Tembaga (Cu), Mangan (Mn), dan Boron (Bo). Kandungan berbagai unsur pada bahan organik membuatnya berpotensi dalam menggantikan posisi pupuk anorganik.
Penelitian yang dilakukan Adijaya, Yasa dan Guntoro (2006) menyatakan penggunaan pupuk kandang padat dan cair pada tanaman mampu memberikan produksi yang tidak berbeda dengan penggunaan pupuk  anorganik. Pemupukan organik kompos dan urine sapi pada mampu meningkatkan produksi sebesar 92,26% dan 90,21%, sedangkan pemupukan dengan urea memberikan peningkatan produksi sebesar 93,24%.  Sementara itu pada bawang merah,  pemberian urine kambing mampu menekan penggunaan pupuk kimia. Tingkat produksi hasil penelitian ini bahkan lebih tinggi ± 5% dibandingkan penggunaan pupuk kimia anjuran.
Analisa kandungan unsur yang telah dilakukan BPTPH Provinsi Sumatera Barat, urine kambing memberikan kontribusi unsur N sebesar 37,1 %. Apabila dilakukan konversi per ton bahan, maka urin kambing mengandung 371 kg N. Hal ini berarti setara dengan 824,4 kg Urea. Pemberian urin kambing dosis 4000 liter/ha dengan konsentrasi 33% mampu menekan penggunaan pupuk kimia sampai 50% dengan tingkat produksi yang lebih tinggi ± 5% dibandingkan penggunaan pupuk kimia anjuran 



Hasil Pengujian Manfaat Urine
Merujuk pada penemuan pemanfaatan urine, pengujian lapangan yang pernah dilakukan penulis pada lahan UPT BP4K2P Kecamatan IV Koto beberapa waktu yang lalu menunjukkan bahwa tingkat peranan pemakaian bahan organik khususnya urine kambing mampu mensubstitusi atau menggantikan pemakaian pupuk berbahan sintetis seperti urea.
Pengujian sendiri dilakukan dengan melibatkan tiga jenis bahan organik yakni urine kambing, sapi dan ekstrak bunga pahit (Tithonia sp.) dan penggunaan pupuk sintetis berupa teknologi konvensional (paket urea, TSP dan KCl rekomendasi) sebagai pembanding. Tujuan penelitian lapang ini sendiri untuk mengujikan seberapa besar peran penggunaan bahan organik dalam budidaya komoditi hortikultura khususnya bawang merah. 
Pengujian penggunaan bahan organik menunjukkan bahwa bobot umbi kering per plot dan per Ha bawang merah berkisar antara 2006,66 – 2316,66 g per plot dan kisaran 6,87 – 7,23 ton/Ha. Pemupukan dengan urine kambing dengan berat bawang 2233,33 g/ plot atau 7,23 ton/ Ha, dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal ini diduga karena kombinasi pupuk organik urine kambing mengandung unsur yang lebih sesuai untuk meningkatkan bobot umbi bawang. Semakin berat umbi yang dihasilkan, maka semakin banyak pula unsur hara yang dimanfaatkan untuk pertumbuhan umbi.
Hampir semua tolok ukur pengamatan menunjukkan hasil nyata dari pemberian bahan organik ini mulai dari Hari Muncul Tunas (HMT), jumlah batang, tinggi tanaman, jumlah siung, ketahanan terhadap hawar daun serta produksi itu sendiri.
Terlepas dari dampak jangka panjang serta harga pupuk sintetis itu sendiri, pemberian berbahan kimia buatan ini memang memberikan hasil cukup tinggi pada beberapa tolok ukur khususnya pada pengujian ini. Namun hasil-hasil signifikan tetap dipimpin dan diperlihatkan oleh pemakaian urine kambing.
Pada tinggi tanaman saja pemberian pupuk sintetis saja tertinggal dibanding semua bahan organik yakni rata-rata 38,66 cm, sedangkan urine kambing 55,66 cm. Tolok ukur lain yang menentukan yakni jumlah siung per rumpun. Untuk pemakaian bahan organik, dipimpin urine kambing dengan jumlah rata-rata 11 siung, sementara bahan lain 7,33 siung untuk urine sapi dan tithonia serta angka 8,00 rata-rata yang ditunjukkan pemakaian paket urea,TSP dan KCl.
Selain itu, pengaruh terhadap perlkuan bahan organik ini juga ditunjukkan ketahanan tanaman terhadap penyakit hawar daun bawang. Tanaman yang diberi perlakuan urine kambing terserang hanya sebesar 4,00 %, perlakuan urine sapi terserang 6,80 %, tithonia 8,17 % dan intensitas tertinggi terletak pada paket konvensional (urea, TSP, KCl dengan angka 9,67 %.
Pengaruh lain yang signifikan dari pemakaian bahan organik yakni aroma khas bawang yang lebih gurih dan berbeda dengan pemakaian bahan sintetis yang cenderung memberikan aroma yang cenderung datar. Hal ini disimpulkan dari beberapa responden yang diujikan tanpa memberitahukan jenis perlakuan masing-masing umbi yang dicobakan.

Tabel  Bobot umbi kering/ Ha akibat pengaruh pupuk organik dan  sintetis.


Bobot umbi kering per Ha (ton)
Rata-rata
Pupuk organik
A
B

Urine kambing
7,08 
7,23
7,16 A
Urine sapi
6,71
6,69
6,70 B
Ekstrak Tithonia
6,30
6,61
6,46 B
Urea, TSP dan KCl
6,56
6,87
6,72 B
Rata-rata
6,66 a
6,85 a


Sumber : Ichsan Kurniawan (2010)- “ Pengaruh Pupuk Organik dan Pseudomonad fluorescens terhadap Pertumbuhan, Hasil dan Ketahanan terhadap Hawar Daun Bakteri pada Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
 

MELIRIK POTENSI AMPAS TEBU SEBAGAI BAHAN PAKAN

Oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP


Tebu merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai nilai ekonomis yang baik dalam pengembangannya. Di kabupaten Agam, Sumatera Barat sendiri, beberapa daerah dikenal produktif sebagai sentra dalam budidaya tebu. Sebut saja Lawang Kecamatan Matua, Bukik Batabuah Kecamatan Canduang, Sungai Landia Kecamatan IV Koto dan beberapa wilayah lain. Walaupun khusus kabupaten kita lebih cenderung pada produk hasilan berupa saka (gula merah), prospek pengembangannya justru makin terbuka lebar.
Bahkan baru-baru ini Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Agam membuka kesempatan khusus untuk pengembangan komoditi tebu ini. Pihak Dishutbun mengharapkan adanya penambahan luas tanaman tebu menjadi setidaknya + 30.000 Ha  untuk beberapa waktu ke depan menimbang komoditi ini memiliki nilai ekonomis yang dapat mendorong pertumbuhan perekonomian daerah khususnya daerah sentra. Bahkan tak tanggung-tanggung, rencana pembangunan pabrik pengolah yang menampung hasil dari luasan yang ditargetkan menjadi muara dari rencana ini. 


Dok. Ampas Tebu Hasil Pengolahan di Kelompok Batu Gadang Sungai Landia
Namun diluar daripada itu, beberapa alternatif lain yang membuka prospek cerah bagi petani tebu dan membuat pembudidayaan tebu semakin bergairah yakni selain memasarkan dalam bentuk produk olahan gula merah, tebu dalam bentuk batangan pun saat ini mempunyai pasar tersendiri yang membuat pemenuhan pemintaannya malah semakin kewalahan akibat keterbatasan luasan lahan.
Pada beberapa wilayah sentra atau pengembang komoditi tebu dengan tingkat populasi ternak yang tinggi, selain meraup rupiah dari beragam hasil tebu termausk olahan seperti gula merah (saka), ampas tebu sendiri bisa dimanfaatkan menjadi banyak hal berguna, bahkan bernilai ekonomis. Selain sebagai sumber energi bahan bakar, ampas dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dan bila skala besar, hal ini juga bahkan membuka satu lagi peluang bisnis dari komoditi tebu yakni pakan ternak seperti halnya kompos.  
Di daerah-daerah sentra budidaya tebu dan pabrik gula, ratusan kilo bahkan tontan ampas hanya menjadi sampah yang jarang dimanfaatkan. Begitu juga di daerah kita. Walaupun produk olahan yang dihasilkan sedikit berbeda, namun sampah dari olahan tersebut tetap sama.
Saat ini belum banyak peternak menggunakan ampas tebu sebagai bahan pakan, hal ini mungkin karena ampas tebu memiliki serat kasar dengan lignin yang dikandung tergolong sangat tinggi yakni sekitar 19 – 20 % dengan kadar protein kasar rendah sekitar 26 - 28%. Akan tetapi limbah ini sangat berpotensi sebagai bahan pakan ternak. Melalui fermentasi menggunakan probiotik (mikroba), kualitas dan tingkat kecernaan ampas tebu akan diperbaiki sehingga dapat digunakan. Tahapan fermentasi ampas tebu sama dengan fermentasi jerami. Namun penambahan beberapa bahan untuk melengkapi kebutuhan mineral yang dibutuhkan dalam bahan pakan tersebut perlu dilakukan.
Ampas tebu sendiri mengandung beberapa bahan pokok antara lain air, gula, serat dan mikroba. Berdasarkan bahan kering, ampas sendiri terdiri dari 47 % karbon, 6,5 % hidrogen, 44 % oksigen dan abu dengan tingkat potensi yang cukup baik sehingga saat ini banyak diteliti dalam rangka mencari sumber energi alternatif.
Dalam pemanfaatannya sebagai bahan pembuat pakan ternak, sumber bahan pokok di atas berperan penting sehingga mempunyai peran dalam memberikan asupan nutrisi terhadap ternak. Potensi ampas tebu ini cukup tinggi menimbang tebu sendiri mengandung gula yang merupakan sumber nutrisi yang baik. Untuk skala sederhana, bahan dan dosis yang perlu dicampurkan dalam fermentasi ampas tebu ini antara lain untuk 1 ton ampas tebu diperlukan 1 kg mikroba/ starbio, 1 kg pupuk urea serta masing-masing 200 gr untuk pupuk TSP dan ZA. Penambahan bahan-bahan tersebut mempunyai peran tersendiri dalam pembuatan pakan ternak menggunakan ampas tebu. Mikroba/ starbio sudah barang tentu diberdayakan untuk mengurai lignin dan selulosa serat kasar sehingga memiliki tingkat kecernaan yang memenuhi syarat untuk ternak. Sementara urea sendiri diperlukan untuk meningkatkan kadar  protein ampas tebu dan sumber nitrogen yang berperan menstimulir aktivitas mikroba dalam proses penguraian. Dan untuk pupuk TSP tetap sebagai sumber phosphor serta ZA sebagai sumber sulfurnya.

Selasa, 27 Desember 2011

Pertanian Organik I, Petani Kreatif dan Logika Situasi

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP
foto : ICHSAN KURNIAWAN
 
Pertanian Organik. Istilah ini terasa mulai akrab belakangan ini di telinga kita. walaupun sebagian pihak masih meragukan keeksisan pertanian organik di tengah teknologi mutakhir yang notabene justru menghasilkan beragam pupuk siap pakai yang membuat petani tak perlu lagi bersusah payah membuat pupuk.

Pertanian organik sebenarnya apa sih ? Pertanian organik secara garis besar yakni pemanfaatan sumber daya lokal yang ada di sekitar petani guna petani memenuhi kebutuhan sarana produksi. Selain itu pertanian organik sendiri merupakan konsep pertanian ramah lingkungan yang meminimalisir bahkan menghilangkan pemakaian bahan kimia sintesis yang terbukti dapat merusak tanah dan lingkungan sekitarnya.

Sekarang mari kita coba renungkan. Kita ambil contoh persawahan. Apakah dewasa ini sawah sawah yang ada tidak semakin dangkal. Kenapa bisa terjadi demikian?
Beragam pupuk sintesis yang ada misalnya saja urea dianggap sebagai biang permasalahan ini. Mari kita tinjau. Urea sendiri merupakan pupuk dengan kandungan nitrogen 46 %. Lalu apa kandungan 54 % lagi sementara petani dengan memberikan urea artinya mengharapkan kandungan nitrogen yang 46 % itu sendiri (sesuai dengan yang tertera pada karung/ kemasannya).

Yup. Ini dia logikanya. Nitrogen 46 % membutuhkan pembawa atau kemasan berupa butiran yang kuat yang dapat menjadi tempatnya berada sebelum menyerap dan menyatu dengan tanah. Ibarat tabung gas. Lebih berat kemasannya yang berupa tabung besi dari pada gas nya. demikian juga dengan urea dan nitrogen di dalamnya.

Kenapa sawah menjadi dangkal. Mari kita ambil kembali analogi dengan tabung gas tersebut. Pemberian urea yang notabene mempunyai kemasan yang seperti dianalogikan. Kemasan urea sendirilah yang padat tersebut lama-lama menumpuk dan membuat tanah sawah menjadi keras walaupun memang nitrogen menyerap dan dipakai padi dalam perkembangannya. Namun efek terhadap tanah tersebut menyebabkan petani dari tahun ke tahun menjadi merana karena tanah menjadi semakin keras.

Dalam upaya untuk mengembalikan kondisi tanah tersebutlah, harus ada pengembalian kondisi seperti sedia kal sebelum tanah tersebut terkontaminasi. Pertanian organik dengan pemberian/ pengembalian bahan-bahan organik tanah akan lambat laun mengembalikan tanah sehingga tanah menjadi gembur dan subur kembali. 
Bahasan sedrhana di atas merupakan latar belakang kenapa Pertanian Organik ada. Hal tersebut tak lain dan tak bukan didasarkan dari logika situasi saat ini.

Selain itu penggunaan pupuk organik justru membunuh mikro organisme yang tadinya sangat berperan besar dalam menunjang kesuburan tanah.

Saatnya petani berpikir lebih kreatif demi masa depan. Jangan dininabobokkan oleh sarana prasarana siap pakai yang bermasalah dalam jangka waktu panjang. Permasalahan yang dihadapi petani saat ini baik dari segi lahan, hama penyakit dan lainnya harus dikaji secara logika. Demikian juga dengan ledakan hama penyakit. InsyaAllah akan kita bahas pada sesi dua secara mendalam.

Minggu, 09 Oktober 2011

Kecamatan IV Koto Tetap Usulkan Dua Kelompok Pertanian Organik


Memulai Tahun baru 2011, kecamatan IV Koto melalui UPT BP4K2P mengusulkan dua kelompok tani (poktan) sebagai calon pengembang sayuran organik. Usulan dan rekomendasi tersebut mendapat tanggapan positif dari Dinas Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Agam.
Hal ini terlihat dari kunjungan pihak Dipertahor pekan lalu meninjau kedua poktan tersebut sembari melakukan identifikasi calon petani dan calon lokasi (CP/CL). Dalam rencananya, kedua kelompok akan diberikan bantuan penguatan modal untuk pengembangan komoditi hortikultura yang dibudidayakan secara organik. Tak lain dan tak bukan kegiatan tersebut ditujukan sebagai suatu bentuk program demi peningkatan kesejahteraan petani melalui peningkatan kualitas dan kuantitas hasil pertanian hortikultura dengan tetap menjaga keseimbangan alam secara berkesinambungan.
Dua kelompok tani usulan tersebut yakni kelompok Subarang Sepakat, Jorong Subarang, kenagarian Balingka dan Kelompok Tani Mubarakah Jorong Kampuang Baruah, Nagari Sungai Landia Kecamatan IV Koto. Kelompok tani tersebut diusulkan berdasarkan pemantauan dan hasil binaan penyuluh di lapangan. Keduanya dianggap berpotensi dalam pengembangan pertanian organik ke depan.
Seperti diungkapkan saat pertemuan bersama kelompok tani Mubarakah dan Subarang Sepakat tersebut, pihak Dipertahor (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortiukultura) Kabupaten Agam menjelaskan bahwa kegiatan yang termasuk ke dalam pengembangan kawasan sayuran dan biofarmaka program peningkatan produktivitas dan mutu produk tanaman hortikultura berkelanjutan ini mengarahkan kelompok pada sertifikasi lahan yang merupakan tahap lanjut dari penerapan sistem budidaya yang baik dan benar selama kelompok tetap konsisten menggelutinya minimal dalam waktu 4 tahun. Dan kelak akan melahirkan sertifikat organik yang merupakan pegangan yang mampu menjadi modal kelompok untuk memasarkan hasil pertanian tersebut dengan jangkauan pasar yang lebih luas dan besar. Hal ini karena animo masyarakat luas terhadap produk pertanian sehat kian hari cenderung meningkat.
“Pengembangan ini akan menuntun kelompok untuk dapat disertifikasi oleh lembaga khusus sesuai prosedur yang ada. Selama kelompok tetap teguh untuk menerapkan pola ini dengan baik dan mampu mengantongi sertifikat organik, maka peluang pasar yang lebih bagus dan menggiurkan menantinya.”
Hal ini juga disambut hangat oleh Wali Nagari Sungai Landia Refli Suhemi menimbang pertanian organik masih cukup langka diminati masyarakat tani. Beliau tetap menghimbau masyarakat tani atau kelompok tani lain yang ada di Nagari Sungai Landia mempedomani semangat dari Kelompok Tani Mubarakah dan berharap kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik serta tujuan jga esensi darinya dapat tercapai.

Catatan Lomba Nagari Berprestasi Nagari Sunga Landia



Tim Penilai Nagari Berprestasi Kabupaten Agam Rabu (23/3) menilai kenagarian Sungai Landia yang maju mewakili Kecamatan IV Koto. Diringi dengan penyuguhan air tabu panggang, walinagari menyampaikan eksposnya terkait bidang ekonomi masyarakat.
Seperti diungkapkan Refli Suhemi- walinagari Sungai Landia bahwa salah satu sektor andalan yang menjadi tumpuan harapan ekonomi masyarakat selain sektor pertanian dan peternakan bidang lain yang dianggap urgen yakni sektor perkebunan, khususnya komoditi tebu. Sektor ini dianggap mampu mengangkat ekonomi masyarakat daerah ini. Puluhan tahun silam, komoditi ini adalah komoditi yang memasyarakat dan rata-rata masyarakat nagari ini mempunyai parak tabu. Namun semakin lama semakin terjadi penurunan dengan peralihan komoditi ke komoditi lain. Kendati demikian geliat kebangkitannya kembali mulai dirasakan. Bekerjasama dengan penyuluh serta jajaran UPT BP4K2P serta pihak kecamatan IV Koto, hal ini menjadi target. Saat ini, mulai ada petani yang membuka lahan baru. Selain itu juga ada bentuk lain dari usaha terkait komoditi ini. Bahkan walinagari sendiri menstimulasi masyarakat dengan melakukan penanaman lahan tebu baru sebanyak 1000 batang.
Dengan pertambahan luas 154 Ha di tahun 2009 menjadi 159 Ha pada tahun 2010, hasil produk dari komoditi ini memberikan kontribusi dengan nilai produksi sebesar lebih dari Rp. 900 juta/tahun. Dan angka ini masih berpotensi lebih dalam memberikan kontribusi untuk perekonomian apabila terdapat optimalisasi peran dari komoditi ini.
Demi peningkatan ekonomi masyarakat nagari, dukungan pemerintah untuk sektor dan komoditi ini sangat dibutuhkan. Peralihan pengolahan hasil dari tradisionil ke mekanisasi adalah tuntutan perubahan yang diperlukan. Hal ini mengingat kebutuhan pasar yang membutuhkan gula tebu/ saka dengan kualitas serta kuantitas yang ditentukan. Dan pengolahan tradisionil cenderung belum mampu mencetak produk sesuai permintaan tersebut.
Selain itu, dari kuantitas pun jauh berbeda, kilangan mekanik bekerja lebih efektif dengan mampu menghasilkan produk olahan 3-4 kali lebih banyak dibanding tradisionil dalam sehari. Dan tak ketinggalan sarana serta prasarana seperti pembanguna jalan usaha tani juga sangat dibutuhkan menimgbang geografis dan topografis wilayah yang berbukit-bukit.
Bak gayung bersambut, hal ini mendapat tanggapan positif dari pihak tim penilai. Menurut Safriandi, salah seorang anggota tim dari dinas koperindag setelah mendengar penjelasan dari wawancara di kelompok bidang ekonomi masyarakat, dukungan tersebut akan diberikan dinas koperindag. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa dinas koperindag juga meliputi penjembatanan antara petani tebu selaku produsen dengan konsumen atau pengumpul melalui acara lelang. Hal tersebut memang telah dirasakan petani tebu yang rutin mengikuti program lelang dinas koperindag tersebut.
Meski demikian agaknya petani tebu juga berpeluang masuk pasar melalui penjualan produk hasil berupa minuman tabu panggang. “Memang warga kami telah ada yang melakoni, namun kami harapkan juga permodalan untuk usaha kecil menengah ini dibantu oleh dinas koperindag” jelas walinagari.

Dengan semangat basamo mangkonyo manjadi, bekerjasama dengan seluruh elemen, baik penyuluh dan jajaran BP4K2P, dinas pertanian, perkebunan kehutanan dan dinas koperindag peningkatan eknomi masyarakat melalu sektor-sektor ini dapat terwujud.

Pemerintah Nagari Koto Gadang Perkuat Kelembagaan Tani

Rabu (4/2) Pemerintahan Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam melaksanakan pembinaan Kelompok Tani dan Perkumpulan Petani Pem...