Selasa, 06 Agustus 2013

The Farmer In The Dell

The farmer in the dell
The farmer in the dell
Heigh ho the derry-o
The farmer in the dell

The farmer takes a wife
The farmer takes a wife
Heigh ho the derry-o
The farmer takes a wife
The wife takes the child
The wife takes the child
Heigh ho the derry-o
The wife takes the child
The child takes the cow
The child takes the cow
Heigh ho the derry-o
The child takes the cow

The cow takes the pig
The cow takes the pig
Heigh ho the derry-o
The cow takes the pig
The pig takes the dog
The pig takes the dog
Heigh ho the derry-o
The pig takes the dog

The dog takes the cat
The dog takes the cat
Heigh ho the derry-o
The dog takes the cat
The cat takes a mouse
The cat takes a mouse
Heigh ho the derry-o
The cat takes a mouse

The mouse takes the cheese
The mouse takes the cheese
Heigh ho the derry-o
The mouse takes the cheese
The cheese stands alone
The cheese stands alone
Heigh ho the derry-o
The cheese stands alone
Heigh ho the derry-o
The cheese stands alone

Senin, 24 Juni 2013

Mengkaji Ulang tentang Predikat Haram si Mr.Gele


Judul buku    : Hikayat Pohon Ganja; 12000 Tahun Menyuburkan Peradaban Manusia
Penulis         : Tim LGN (Lingkar Ganja Nusantara)
Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan        : Pertama, Desember 2011
Tebal buku    : 386 halaman
Harga        : Rp. 75,000

Saya ingat ketika baru-baru saja buku ini dilaunching, saya hunting buku ini di salah satu toko buku besar di Kota Padang. Dalam searching engine computernya, bukunya distok sebanyak 8 buah tapi persediaan tinggal 2 buah buku. Tetapi ketika dicari oleh petugas toko buku, buku ini tidak ditemukan. Hampir beberapa jam saya menunggu untuk buku ini,namun tetap tidak ditemukan.

Hunting saya lanjutkan di toko buku lain di Padang dan keesokan harinya saya lanjutkan di Bukittinggi. Ternyata setelah sekian hari buku tersebut tidak ditemukan. Entah rasa apa yang membuat saya "ngebet" ingin membaca buku ini. Mungkin daya tarik dari inti buku ini yang secara gambalang menguak rahasia dan konspirasi yang membuat si Mr.Gele ini dijatuhi predikat "Haram".

Hampir semua melaknat daun ini yang dianggap merusak moral. Ganja dituding membuat ketergantungan walaupun itu tergantung pada beberapa faktor termasuk mental dan kontrol diri sang pengguna. Penelitian mengatakan 8- 9 % dari pengguna akan menjadi ketergantungan.  Penelitian tentang pemakaian akan menimbulkan gangguan persepsi dan pemikiran, atau paranoid

Tetapi benarkah demikian riilnya? Dan apakah hanya itu yang dapat dimanfaatkan dari si cimeng? Kenapa penelitian mengatakan bahwa si Mr. Gele ini justru disebut :"pohon kehidupan" atau "pohon pengetahuan" dengan ragam manfaat yang dahsyat? Lantas kenapa ternyata si cimeng telah dimanfaatkan bahkan sejak tahun 1200 sebelum Masehi. Lalu, ada apa dengan konspirasi ini? Kenapa ganja dikonspirasi sehingga dilarang? Nah, hal inilah yang berlalulintas ria di pikiran saya selama sebulan lebih ketika buku ini belum saya dapatkan. Buku ini dapat menjadi literatur yang dapat meluruskan tentang fakta, manfaat serta jati diri si Mr.Gele.

Kita bisa berangkat dari ajaran Rasulullah bahwa tak satu pun diciptakan oleh Allah dimuka bumi ini yang hanya sia-sia. Melainkan pasti ada manfaat yang dibawanya kecuali Ganja adalah buatan manusia seperti zat aditif lain. Lalu kenapa manusia menjustifikasi ciptaan Allah ini dengan predikat yang buruk.

(by Ichsan Kurniawan,SP)



ganja lebih dikenal sebagai pohon kehidupan karena manfaatnya untuk menopang peradaban manusia; seratnya untuk pakaian dan kertas, bijinya sebagai sumber protein dan minyak nabati, bunga dan daunnya sebagai obat dan sarana rekreasi maupun spiritual. Lalu, mengapa pohon sejuta manfaat ini dilarang? Mengapa kita semua terkena tipu. - See more at: http://www.legalisasiganja.com/buku-hikayat-pohon-ganja-bisa-dipesan-online-di-website-gramedia/#sthash.RZ3H1D5U.dpuf
ganja lebih dikenal sebagai pohon kehidupan karena manfaatnya untuk menopang peradaban manusia; seratnya untuk pakaian dan kertas, bijinya sebagai sumber protein dan minyak nabati, bunga dan daunnya sebagai obat dan sarana rekreasi maupun spiritual. Lalu, mengapa pohon sejuta manfaat ini dilarang? Mengapa kita semua terkena tipu. - See more at: http://www.legalisasiganja.com/buku-hikayat-pohon-ganja-bisa-dipesan-online-di-website-gramedia/#sthash.RZ3H1D5U.dpuf
ganja lebih dikenal sebagai pohon kehidupan karena manfaatnya untuk menopang peradaban manusia; seratnya untuk pakaian dan kertas, bijinya sebagai sumber protein dan minyak nabati, bunga dan daunnya sebagai obat dan sarana rekreasi maupun spiritual. Lalu, mengapa pohon sejuta manfaat ini dilarang? Mengapa kita semua terkena tipu. - See more at: http://www.legalisasiganja.com/buku-hikayat-pohon-ganja-bisa-dipesan-online-di-website-gramedia/#sthash.RZ3H1D5U.dpuf

Tarian Modero, Tanda Syukur Saat Panen

Madero adalah nama tarian daerah Sulawesi tepatnya Kabupaten Poso. Tarian ini merupakan tarian sukacita dan bergembira yang menggambarkan kebahagiaan dan rasa syukur masyarakat Suku Pamona atas hasil panen yang didapatkan dari bercocok tanam.

Suku Pamona sendiri merupakan penduduk pribumi asli Kabupaten ini yang mendiami hampir seluruh wilayah kabupaten bahkan sampai ke sebagian wilayah kabupaten Morowali. Nenek moyang suku pamona sendiri berasal dari Luwu Timur daerah yang masuk ke wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Suku Pamona adalah kesatuan dari beberapa etnis di wilayah Sulawesi tengah. Meskipun demikian masyarakat Suku Pamona hidup rukun dan berdampinagn. Hal ini tergambar dari salah satu kesenian yang berasal dari suku tersebut yaitu tari dero poso.

Bagi masyarakat Suku pamona, Tari Dero adalah tari yang melambangkan sukacita atau kebahagiaan. Tarian ini telah lama dipertahankan oleh masyarakat Poso khususnya masyarakat di yang tinggal di sepanjang lembah danau Poso. Bagi masyarakat setempat tarian ini adalah  bentuk rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. Tarian ini sudah dikenal sejaka masyarakat mengenal bertani atau bercocok tanam sebagai mata pencaharian. Dahulu tarian ini lazim dilakukan oleh masyarakat di masa panen terutama panen padi.

Tarian ini cukup sederhana, biasanya dilakukan di daerah atau lapangan yang luas. ini dikarenakan jumlah peserta tarian ini tidak dibatasi. Tarian ini disebut juga dengan Tari pontanu atau sejenis tarian yang mengajak para penonton ikut menari. Siapapun yang mau mengikuti tari ini bisa bergabung tanpa harus memikirkan skill atau bakat. Untuk melakukan tarian ini tidak sulit, para penari membuat sebauah lingkaran sambil berpegangan tangan kemudian melakukan hentakan kaki dua kali ke kiri dan dua kali ke kanan. Gerakan-gerakan ini dilakukan sesuai dengan irama pantun yang saling bersahutan. Tarian ini juga diiiringi oleh hentakan alat music ganda yaitu alat music tradisional sejenis gendang dan ngongi yaitu alat music tradisional sejenis gong yang dimainkan oleh para pemuda dan orang tua.
Selain sebagai ungkapan rasa syukur terhadap hasil panen, masyarakat Poso juga menganggap tarian Dero sebagai wujud kerukunan dan persahabatan serta sebagai kesempatan untuk mendapatkan jodoh. Tarian ini juga bisa dianggap sebagai tarian pemersatu karena dalam tarian unsur-unsur diskriminasi, sentiment agama dan ras serta kelas social tidak dihiraukan. Dalam tarian ini semua orang dari berbagai latar belakang adalah sama, yang ada hanyalah perasaan sukacita dan rasa syukur yang sama-sama dirasakan oleh para penari Dero Poso.

Tari Dero sampai saat ini masih menjadi tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat setempat. Seiring dengan perkembangan zaman, eksistensi Tari Dero juga masih bertahan sebagai aset kebudayaan dari kabupaten Poso. Kekinian, tari dero tidak hanya dapat disaksikan atau diikuti pada saat panen saja, tari Dero juga biasa dilakukan saat malam setelah pesta pernikahan atau pada acara-acara besar adat.

Alat musik yang dipergunakannya pun tidak harus ganda dan ngongi, alat music modern seperti organ tunggal atau electune juga bisa menjadi pengiring tari pemersatu ini. Walaupun masih ada, tari dero kini hanya bisa ditemukan di beberapa desa atau daerah saja di Kabupaten Poso itu pun tidak sering dilakukan, dalam  setahun mungkin hanya 3 atau 4 kali kali kita bisa mengikuti tari Dero. Konflik  dan perselisihan antar agama dan suku yang terjadi di kabupaten Poso menjadi salah satu alasan tari dero sulit dijumpai. Hal ini seolah menjadi ironi bagi kehidupan masyarakat Poso yang dahulu cinta damai dan terkenal dengan tari Dero nya.


(disarikan dari artikel Kebudayaan berjudul "Tarian Dero Atau Modero")
Link Sumber Artikel : Kebudayaan Indonesia)

Kamis, 06 Juni 2013

Pertanian Bebas “Kutukan”

Judul artikel dari Pusbangsitek UIN ini begitu menarik bagi saya, berikut saya postingkan, semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca.

Pertanian Bebas “Kutukan”
Ada obrolan di warung kopi yang mengatakan bahwa dunia pertanian di Indonesia itu penuh “kutukan”.  Ada kampus pertanian terkenal yang menghasilkan sarjana yang ahli dalam banyak hal, kecuali pertanian. Alumni kampus itu banyak yang menjadi wartawan terkenal, ekonom terkenal, politisi terkenal, bahkan ustadz terkenal, tetapi tidak ada karya pertanian mereka yang fenomenal seperti halnya inovasi pertanian dari Thailand.
Dan dalam beberapa tahun terakhir ini, Kementerian Pertanian ternyata memang belum mampu menjadikan negeri ini berswasembada pangan.  Tahun lalu harga kedelai meroket, sampai tahu-tempe yang merupakan makanan rakyat kecil ikut jadi mahal.  Kemudian harga daging sapi ikut meroket, konon karena permainan kuota impor sapi, yang bahkan lalu menyeret beberapa tokoh sebagai tersangka KPK.  Dan hari-hari ini, harga bawang pun demikian.  Niatan mendorong produksi lokal dengan pembatasan impor ternyata malah menjadi masalah baru, karena akar masalah seperti akurasi data kebutuhan, problem skala produksi dan rantai distribusi (transportasi, gudang, pasar) tidak teratasi.  Yang terjadi malah harga naik karena pasokan berkurang, dan importir yang sudah kolusi dengan otoritas pengatur kuota justru menikmati untung besar karena kenaikan harga.
Antara penguasaan teknologi dan swasembada pangan memang terkait erat.  Andaikata umat Islam memiliki ahli-ahli pertanian yang andal, maka kita akan relatif lebih mudah untuk mewujudkan sistem swasembada pangan, yang akan menjaga kita dari pusaran impor pangan yang penuh dengan “kutukan”.
Sayangnya, saat ini bila kita bicara pertanian Islam, orang cenderung hanya terpikir soal kurma.  Padahal Nabi datang ke dunia tidak untuk mengajarkan ilmu pertanian.  Semua ini masuk dalam teknologi yang menurut Nabi “kalian lebih tahu urusan dunia kalian”.  Hanya saja, masih banyak kaum Muslimin yang belum memahami perbedaan antara “sistem” dan “ilmu”.  Dunia kapitalisme memang telah mencampuradukkan antara sistem yang dipengaruhi pandangan hidup (“hadharah”) dan cara-cara teknis hasil eksperimen ilmiah (“madaniyah”).
Bila Ibnu Sina meletakkan tujuh aturan dasar uji klinis atau Ishaq bin Ali Rahawi menulis kode etik kedokteran, maka di dunia pertanian ada Al-Asma’i (740-828 M) yang mengabadikan namanya sebagai ahli hewan (zoologist) dengan bukunya, seperti Kitab tentang Hewan Liar, Kitab tentang Kuda, kitab tentang Domba, dan Ābu Ḥanīfah Āḥmad ibn Dawūd Dīnawarī (828-896), sang pendiri ilmu tumbuh-tumbuhan (botani), yang menulis Kitâb al-nabât dan mendeskripsikan sedikitnya 637 tanaman sejak dari “lahir” hingga matinya.  Dia juga mengkaji aplikasi astronomi dan meteorologi untuk pertanian, seperti soal posisi matahari, angin, hujan, petir, sungai, mata air.  Dia juga mengkaji geografi dalam konteks pertanian, seperti tentang batuan, pasir dan tipe-tipe tanah yang lebih cocok untuk tanaman tertentu.
Pada abad 9/10 M, Abu Bakr Ahmed ibn ‘Ali ibn Qays al-Wahsyiyah (sekitar tahun 904 M) menulis Kitab al-falaha al-nabatiya. Kitab ini mengandung 8 juz yang kelak merevolusi pertanian di dunia, antara lain tentang teknik mencari sumber air, menggalinya,  menaikkannya ke atas hinga meningkatkan kualitasnya.  Di Barat teknik ibn al-Wahsyiyah ini disebut “Nabatean Agriculture”.
Para insinyur Muslim merintis berbagai teknologi terkait dengan air, baik untuk menaikkannya ke sistem irigasi, atau menggunakannya untuk menjalankan mesin giling.  Dengan mesin ini, setiap penggilingan di Baghdad abad 10 sudah mampu menghasilkan 10 ton gandum setiap hari.   Pada 1206 al-Jazari menemukan berbagai variasi mesin air yang bekerja otomatis.  Berbagai elemen mesin buatannya ini tetap aktual hingga sekarang, ketika mesin digerakkan dengan uap atau listrik.
Di Andalusia, pada abad-12, Ibn Al-‘Awwam al Ishbili menulis Kitab al-Filaha yang merupakan sintesa semua ilmu pertanian hingga zamannya, termasuk 585 kultur mikrobiologi, 55 di antaranya tentang pohon buah.  Buku ini sangat berpengaruh di Eropa hingga abad-19.
Kitab al-Filaha dalam bahasa Latin.
                                          Kitab al-Filaha dalam bahasa Latin.
 

Kitab Al-Filaha dalam bahasa Perancis.
                                      Kitab Al-Filaha dalam bahasa Perancis.
 
Pada awal abad 13, Abu al-Abbas al-Nabati dari Andalusia mengembangkan metode ilmiah untuk botani, mengantar metode eksperimental dalam menguji, mendeskripsikan, dan mengidentifikasi berbagai materi hidup dan memisahkan laporan observasi yang tidak bisa diverifikasi.
Muridnya Ibnu al-Baitar (wafat 1248) mempublikasikan Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada, yang merupakan kompilasi botani terbesar selama berabad-abad.  Kitab itu memuat sedikitnya 1400 tanaman yang berbeda, makanan, dan obat, yang 300 di antaranya penemuannya sendiri.  Ibnu al-Baitar juga meneliti anatomi hewan dan merupakan bapak ilmu kedokteran hewan, sampai-sampai istilah Arab untuk ilmu ini menggunakan namanya.
Sebuah halaman di kitab al-Filaha
                                          Sebuah halaman di kitab al-Filaha
 
Kemajuan pemikiran Islam tergambar pada realitas bahwa mereka sudah memikirkan ekologi dan rantai makanan.  Al-Jāḥiẓ atau nama aslinya Abu Utsman Amr ibn Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri (781-869) dalam bukunya Kitab al-Hayawan sudah berteori akan adanya perubahan berangsur pada mahluk hidup akibat seleksi alam dan lingkungan.  Meski ada perbedaan, pemikiran ini 1000 tahun mendahului Alfred Wallace atau Charles Darwin.
Ini adalah fakta-fakta yang terkait langsung dengan ilmu pertanian dalam arti sempit.  Namun revolusi pertanian yang sesungguhnya terjadi dengan berbagai penemuan lain.  Alat-alat untuk memprediksi cuaca, peralatan untuk mempersiapkan lahan, teknologi irigasi, pemumpukan, pengendalian hama, teknologi pengolahan pasca panen, hingga manajemen perusahaan pertanian.  Kombinasi sinergik dari semua teknologi ini selalu menghasilkan akselerasi dan pada momentum tertentu cukup besar untuk disebut “revolusi pertanian muslim”.
Revolusi ini menaikkan panenan hingga 100 persen pada tanah yang sama.  Kaum Muslim mengembangkan pendekatan ilmiah yang berbasis tiga unsur: sistem rotasi tanaman, irigasi yang canggih, dan kajian jenis-jenis tanaman yang cocok dengan tipe tanah, musim, serta jumlah air yang tersedia.  Ini adalah cikal bakal “precission agriculture”.
Revolusi ini ditunjang juga dengan berbagai hukum pertanahan Islam, sehingga orang yang memproduktifkan tanah mendapat insentif.  Tanah tidak lagi dimonopoli kaum feodal dan tak ada lagi petani yang merasa dizalimi sehingga malas-malasan mengolah tanah.  Negara juga menyebarkan informasi teknologi pertanian sampai ke para petani di pelosok-pelosok.
Mungkin ada pertanyaan: kalau kita pernah merevolusi pertanian, mengapa kita tidak ikut merevolusi industri?  Penjelasannya adalah: siapapun yang tetap melakukan riset hingga abad-19 akan memiliki peluang lebih besar untuk mengkombinasikan lebih banyak teknologi dasar menjadi berbagai teknologi yang lebih kompleks.
Namun riset ini hanya tumbuh subur ketika ada negara yang mengayominya, memberikan iklim yang sehat untuk para ilmuwannya, serta memiliki komitmen untuk menggunakan semua hasil riset itu untuk maslahat umat manusia.  Sayangnya justru sejak abad-19 itu, negara yang seperti itu di tengah kaum Muslimin mulai redup, bahkan akhirnya punah sama sekali di tahun 1924.  Sejak itulah, pertanian di dunia Islam mulai terkena “kutukan”.

Sumber Artikel : Pusbangsitek UIN

Sumbangan Islam Bagi Dunia Pertanian

Oleh: Rusdiono Mukri*

Dunia pertanian dan perkembangannya saat ini tak lepas dari fondasi dan capaian ilmu pertanian oleh para petani dan pakar pertanian di era keemasan Islam, 12 abad silam. Para ilmuwan Barat seperti Vaux, Mc Cabe, Bolens, Watson, Scott, dan Artz, mengakui kontribusi umat Islam ini. Mereka menyebutkan, pada awal abad ke-9, sistem pertanian modern telah menjadi urat nadi kehidupan ekonomi dan segala aktivitas di negeri-negeri Muslim.

Kota-kota besar Islam, baik di Timur Tengah, Afrika Utara, maupun Spanyol, telah didukung oleh sistem pertanian yang canggih. Para petani saat itu telah mengembangkan teknik-teknik pengolahan tanah, sistem irigasi, pemuliaan tanaman dan ternak, serta cara-cara mengatasi hama dan penyakit tanaman.

Dalam artikel bertajuk “Muslim Contribution to Agriculture” yang dipubliksikan oleh Foundation for Science Technology and Civilisation menyebutkan, pada masa itu orang-orang Islam telah mengembangkan peternakan domba, kuda, menanam anggrek, serta memelihara kebun-kebun buah dan sayuran. Ada jeruk, tebu, sutra, kapas, bakung, persik, plum, tulip, mawar, melati, dan tanaman lainnya.
Baron Carra de Vaux, orientalis dari Prancis, menyebutkan sejumlah tanaman dan hewan dari Timur dibawa ke Spanyol oleh umat Islam untuk beragam keperluan. Tanaman dan hewan itu tidak hanya untuk keperluan pertanian dan peternakan, tapi juga untuk pengembangan perkebunan, perdagangan, dan status sosial.
Vaux memaparkan, beberapa tanaman penting yang diperkenalkan oleh umat Islam di Spanyol, antara lain kapas dan tebu. Kapas mulai dibudidayakan di Spanyol (Andalusia) pada akhir abad ke-11. Perkebunan kapas di Andalusia ini berkembang pesat sehingga wilayah ini menjadi penghasil kapas ternama dan mampu mengekspor kapas ke berbagai daerah.
Para petani Muslim saat itu telah mengetahui cara membasmi insektisida, hama, dan penyakit tanaman lainnya. Mereka juga sudah menerapkan teknologi pengolahan tanah, teknik pemupukan, dan cara-cara untuk menyuburkan tanah. Bahkan mereka bisa 'menyulap' padang pasir menjadi perkebunan. Negeri-negeri Arab yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lahan kering dan padang pasir mampu dijadikan lahan-lahan pertanian berkat teknologi dan sistem irigasi yang baik. Begitu pun di Andalusia. Para petani menerapkan teknik irigasi dan membangun saluran-saluran irigasi untuk pengembangan pertaniannya.

Tak cuma itu, mereka juga pakar di bidang persilangan dan pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas-varietas tanaman baru, mencangkok, dan teknik-teknik pengembangbiakan tanaman lainnya. Karenanya tidak mengherankan jika saat itu kota-kota Islam mampu memenuhi kebutuhan penduduknya dengan beragam buah-buahan dan sayuran yang sebelumnya tidak dikenal di negara-negara Barat (Eropa). Itulah revolusi pertanian yang diperkenalkan oleh orang-orang Islam.

Revolusi pertanian untuk memperkenalkan tanaman-tanaman baru serta perluasan dan intensifikasi irigasi telah menciptakan sistem pertanian yang kompleks dan beragam. Lahan-lahan yang semula hanya menghasilkan satu jenis tanaman setiap tahun, oleh para petani Muslim 'disulap' bisa ditanami 2-3 jenis tanaman secara rotasi. Akibatnya produksi pertanian meningkat dan kebutuhan penduduk perkotaan yang jumlahnya terus meningkat dapat tercukupi.
Sementara Joseph Mc Cabe, cendekiawan berkebangsaan Inggris, mengatakan, di bawah kekuasaan Islam, Andalusia menjelma menjadi daerah perkebunan yang subur. Di sepanjang Guadalquivir, Spanyol, terdapat 12 ribu desa yang memiliki lahan pertanian subur. Para petani Muslim mengerjakan sendiri lahan-lahan perkebunan itu. Hal ini berbeda dengan saat Andalusia dikuasai oleh orang-orang Kristen dimana perkebunan digarap oleh para budak.

Begitu juga tanah-tanah pertanian di Mesir dan Irak. Para ahli mengungkapkan, di Provinsi Fayyum, Mesir, terdapat 360 desa yang masing-masing dapat menyediakan kebutuhan pangan bagi penduduk seluruh Mesir. Sebuah sensus yang dilakukan pada abad ke-8 di Mesir menyebutkan, dari 10 ribu desa di Mesir, tak ada satu desa pun yang memiliki bajak (alat untuk mengolah tanah) kurang dari 500 unit. Inilah bukti Mesir telah menjadi wilayah pertanian yang maju di abad ke-8.
Sementara di sepanjang Sungai Tigris, Irak, terdapat 200 desa yang pertaniannya juga maju. Kekhalifahan Islam membangun dan memelihara saluran-saluran irigasi untuk pertanian. Air dari Sungai Efrat dialirkan ke Mesopotamia, sedangkan air dari Tigris dialirkan ke Persia. Dengan demikian para petani bisa memperoleh air irigasi untuk pertaniannya.
Tak hanya itu, Kekhalifahan Abbasiyah memelopori pengeringan rawa-rawa untuk lahan pertanian. Mereka juga memperbaiki ladang yang mengering. Tak heran jika kemudian Irak dikenal sebagai daerah pertanian dan perkebunan terkemuka saat itu. Tidak heran jika Irak dijuluki surga dunia.

Kehadiran negeri-negeri Islam menjadi wilayah pertanian yang maju, tak lepas dari kontribusi para ahli/pakar pertanian Muslim. Mereka menulis buku-buku tentang pertanian yang menjadi referensi para petani dalam bercocok tanam.
Riyad al-Din al-Ghazzi al-Amiri, ahli pertanian dari Damaskus, Syriah, menulis buku tentang pertanian yang sangat rinci. Mulai dari jenis lahan pertanian, cara memilih tanah yang baik, jenis-jenis pupuk, pembibitan, pencangkokan tanaman, penanaman, hingga saluran irigasi.
Ia juga menulis tentang budidaya serealia, kacang-kacangan, umbi-umbian, sayuran, bunga, dan tanaman lainnya.

Sedangkan Abu'l Khair, ahli pertanian dari Andalusia, menulis Kitab Al-Filaha, sebuah kitab yang menjelaskan hal ihwal pertanian. Dalam kitabnya, ia menerangkan empat cara menampung air hujan untuk keperluan pertanian dan cara membuat irigasi untuk pertanian. Secara khusus ia menerangkan cara penggunaan air hujan untuk membantu proses reproduksi pohon zaitun. Abu'l Khair juga menjelaskan tentang proses pembuatan gula.
Sementara Al-Tignari, ahli agronomi dari Andalusia, membuat referensi tentang tanaman-tanaman yang mampu memberi keuntungan besar bagi usaha pertanian. Tanaman itu antara lain tebu dan kapas.

* Penulis adalah Alumni ESQ Eksekutif Angkatan 35 dan Penulis buku "Berani Tidak Populer: Mustafa Abubakar Memimpin Aceh Masa Transisi"

Sumber : ESQ News

Tentang Revolusi Hijau

Inilah sedikit petikan dari Wikipedia bahasa Indonesia tentang Revolusi Hijau
 
Revolusi Hijau adalah sebutan tidak resmi yang dipakai untuk menggambarkan perubahan fundamental dalam pemakaian teknologi budidaya pertanian yang dimulai pada tahun 1950-an hingga 1980-an di banyak negara berkembang, terutama di Asia. Hasil yang nyata adalah tercapainya swasembada (kecukupan penyediaan) sejumlah bahan pangan di beberapa negara yang sebelumnya selalu kekurangan persediaan pangan (pokok), seperti India, Bangladesh, Tiongkok, Vietnam, Thailand, serta Indonesia, untuk menyebut beberapa negara. Norman Borlaug, penerima penghargaan Nobel Perdamaian 1970, adalah orang yang dipandang sebagai konseptor utama gerakan ini. Revolusi hijau diawali oleh Ford dan Rockefeller Foundation, yang mengembangkan gandum di Meksiko (1950) dan padi di Filipina (1960)[1].Konsep Revolusi Hijau yang di Indonesia dikenal sebagai gerakan Bimas (bimbingan masyarakat) adalah program nasional untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya swasembada beras[2]. Tujuan tersebut dilatarbelakangi mitos bahwa beras adalah komoditas strategis baik ditinjau dari segi ekonomi, politik dan sosial. Gerakan Bimas berintikan tiga komponen pokok, yaitu penggunaan teknologi yang sering disabut Panca Usaha Tani, penerapan kebijakan harga sarana dan hasil reproduksi serta adanya dukungan kredit dan infrastruktur.Gerakan ini berhasil menghantarkan Indonesia pada swasembada beras.
Gerakan Revolusi Hijau yang dijalankan di negara – negara berkembang dan Indonesia dijalankan sejak rezim Orde Baru berkuasa. Gerakan Revolusi Hijau sebagaimana telah umum diketahui di Indonesia tidak mampu untuk menghantarkan Indonesia menjadi sebuah negara yang berswasembada pangan secara tetap, tetapi hanya mampu dalam waktu lima tahun, yakni antara tahun 19841989. Disamping itu, Revolusi Hijau juga telah menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi dan sosial pedesaan karena ternyata Revolusi Hijau hanyalah menguntungkan petani yang memiliki tanah lebih dari setengah hektar, dan petani kaya di pedesaan, serta penyelenggara negara di tingkat pedesaan. Sebab sebelum Revolusi Hijau dilaksanakan, keadaan penguasaan dan pemilikan tanah di Indonesia sudah timpang, akibat dari gagalnya pelaksanaan Pembaruan Agraria yang telah mulai dilaksanakan pada tahun 1960 sampai dengan tahun 1965.[3]

Revolusi hijau mendasarkan diri pada empat pilar penting[4]: penyediaan air melalui sistem irigasi, pemakaian pupuk kimia secara optimal, penerapan pestisida sesuai dengan tingkat serangan organisme pengganggu, dan penggunaan varietas unggul sebagai bahan tanam berkualitas. Melalui penerapan teknologi non-tradisional ini, terjadi peningkatan hasil tanaman pangan berlipat ganda dan memungkinkan penanaman tiga kali dalam setahun untuk padi pada tempat-tempat tertentu, suatu hal yang sebelumnya tidak mungkin terjadi.
Revolusi hijau mendapat kritik sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan kelestarian lingkungan karena mengakibatkan kerusakan lingkungan yang parah. Oleh para pendukungnya, kerusakan dipandang bukan karena Revolusi Hijau tetapi karena ekses dalam penggunaan teknologi yang tidak memandang kaidah-kaidah yang sudah ditentukan. Kritik lain yang muncul adalah bahwa Revolusi Hijau tidak dapat menjangkau seluruh strata negara berkembang karena ia tidak memberi dampak nyata di Afrika.

Dampak positif: Produksi padi dan gandum meningkat sehingga pemenuhan pangan (karbohidrat) meningkat. Sebagai contoh: Indonesia dari pengimpor beras mampu swasembada dan bisa mengekspor beras ke India.

Sementara dampak negatifnya :
1.Penurunan produksi protein, dikarenakan pengembangan serealia (sebagai sumber karbohidrat) tidak diimbangi pengembangan pangan sumber protein dan lahan peternakan diubah menjadi sawah.
2.Penurunan keanekaragaman hayati.
3.Penggunaan pupuk terus menerus menyebabkan ketergantungan tanaman pada pupuk. ]] 4.Penggunaan peptisida menyebabkan munculnya hama strain baru yang resisten[5].

Selasa, 04 Juni 2013

Kontribusi Petani dan Sarjana Pertanian Muslim

''Dengan penuh kecintaan terhadap alam dan kehidupan, masyarakat Islam klasik telah mencapai keseimbangan ekologi,'' papar Lucie Bolens, ilmuwan yang intens mempelajari sejarah pertanian Muslim. Sayangnya, keseimbangan ekologi yang diciptakan umat Islam melalui Revolusi Hijau-nya dihancurkan pasukan Mongol hingga tentara Perang Salib (Crusaders).


Invasi yang dilakukan Mongol hingga tentara Perang Salib telah menghancurkan jaringan irigasi, memusnahkan tumbuh-tumbuhan serta tanaman serta menutup rute perdagangan. Keseimbangan ekologi terus tergerus ketika era kolonialisme melanda dunia. Ekologi pun semakin hilang keseimbangan, terutama di era industri saat ini.

Sarjana pertanian dan petani Muslim di abad pertengahan tak hanya mengajarkan bagaimana keseimbangan ekologi dibangun, namun juga banyak memperkenalkan beragam inovasi di bidang pertanian. Mereka memperkenalkan bentuk-bentuk baru kedudukan lahan, memperbaiki irigasi dengan beragam metode irigasi yang mutakhir. Petani Muslim juga memperkenalkan pupuk serta sistem irigasi buatan.

Para petani dan sarjana pertanian Muslim juga mengembangkan sistem irigasi gravity-flow dari sungai dan mata air. Umat Islam pula yang pertama menggunakan noria dan rantai pompa untuk irigasi. Industri gula tebu dan perkebunan tebu juga merupakan rintisan petani dan sarjana pertanian Muslim.

Era kejayaan pertanian Islam juga telah melahirkan ilmuwan Muslim yang meletakan fondasi ilmu pertanian, seperti agronomi, botani, serta ilmu lingkungan. Salah satu ilmuwan pertanian Islam yang terkemuka adalah Abu al-Abbas al-Nabati - gurunya Ibnu Al-Baitar.

Ahli sejarah George Sarton mengungkapkan, ''Catatan-catatan Al-Baitar adalah karya terpenting dalam dunia tumbuhan dari seluruh periode kejayaan ahli botani, mulai dari masa Dioscorides sampai abad ke-16." Catatan Al-Baitar menyerupai kamus atau ensiklopedia lengkap tentang tumbuh-tumbuhan.

Dalam Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada, Al-Baitar menuliskan 1.400 macam tanaman, makanan dan obat-obatan. Sebanyak 300 di antaranya ditemukan sendiri. Kitab itu begitu berpengaruh di Eropa setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin serta masih digunakan hingga abal abad ke-19. Salah satu tokoh lainnya adalah Al-Dinawari, ahli botani di abad ke-9 merupakan pendiri botani Arab. Dia menulis sebuah ensiklopedia berjudul Kitab al-Nabat atau Book of Plants, yang terdiri dari enam volume. Itulah sebagain kontribusi Islam dalam bidang pertanian.

Sumber : khilafahcinta

Pemerintah Nagari Koto Gadang Perkuat Kelembagaan Tani

Rabu (4/2) Pemerintahan Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam melaksanakan pembinaan Kelompok Tani dan Perkumpulan Petani Pem...