Al Dinawari atau yang bernama lengkap Ahmad bin Daud Al-Dinawari atau
Abu Hanifah lahir di kota Dinawari pada tahun 820 Masehi. Ia adalah
seorang ilmuwan Islam yang terkenal karena salah satu karyanya yang
sangat berpengaruh dalam perkembangan ilmu botani, yaitu kitab Al Nabat.
Kitab ini memuat diskripsi mengenai ratusan jenis tanaman dan
penjelasan mengenai berbagai jenis tanah, karakteristik, kualitas,
sifat, serta tanah mana yang baik untuk ditanami.
Ayahnya bernama
Abu Hanifa Ahmad bin Dawud bin Wa nand. Sang ilmuwan Muslim ini se jak
kecil sudah menunjukkan mi nat nya yang tinggi terhadap ilmu pe
ngetahuan. Ia mempelajari bera gam ilmu, seperti astronomi, mate matika,
dan mekanik di Ishafan, Iran.
Ad-Dinawari Bapak Botani dari
Dunia Islam,Ketika Revolusi Pertanian Islam bergulir di era
kekhalifahan, para insinyur Mus lim berhasil mencapai kemajuan yang
begitu gemilang dalam ilmu tumbuh-tumbuhan alias botani. Para ahli
botani Mus lim di zaman keemasan Islam mam pu menampilkan keahliannya
dalam agronomi, agroteknik, meteorologi, klimatologi, hidrologi,
penguasaan lahan, serta manajemen usaha pertanian.
Tak cuma itu,
para ahli botani dan pertanian Muslim juga sudah menguasai beragam
pengetahuan lainnya, seperti ekologi, pertanian, pedologi, irigasi,
serta pengetahu an penunjang pertanian lainnya. Berkat penguasaan
pengetahuan itulah, Revolusi Hijau yang dikembangkan dunia Islam
mencapai puncak kesuksesan.
Salah seorang insinyur Muslim yang
menjadi otak di balik kesuksesan Revolusi Hijau itu adalah ad- Dinawari
(828-896 M). Toufic Fahd (1996), dalam bukunya bertajuk Botany and
Agriculture menabal kan ad-Dinawari sebagai pendiri botani atau ilmu
tumbuh-tumbuh an di dunia Islam. Sejatinya, dia layak ditahbiskan
sebagai Bapak Botani.
Botani merupakan kajian sainti fik untuk
kehidupan tumbuhan. Se bagai satu cabang biologi, botani kadang kala
dirujuk sebagai sains tumbuhan atau biologi tumbuhan. Botani merangkumi
berbagai disiplin saintifik yang mengkaji struktur, pertumbuhan,
pembiakan, me ta bolisme, perkembangan, pen y a kit, ekologi, dan
evolusi tumbuhan. Sang insinyur telah menulis sebuah buku botani yang
sangat menakjubkan pa da abad ke-9 M yang berjudul Kitab al-Nabat (Buku
Tumbuhtumbuhan).
Dalam kitabnya itu, ad-Dinawari mam pu
menjelaskan sekitar 637 jenis ta nam an. ‘’Ad-Dina wari pun memba has
evolusi tanam an mulai dari ke mun culan hingga kematian,’‘ ung kap
Taufic Fahd. Tak hanya itu, sang insinyur juga mengupas fase pertumbuhan
tanaman, produksi bunga, dan buah.
Sejatinya, ad-Dinawari ber na
ma lengkap Abu Hanifah Ahmad ibnu Dawud Dinawari. Insinyur asal Persia
itu dikenal sebagai il muwan serbabisa. Selain sebagai perintis botani,
ad-Dinawari juga dikenal menguasai beragam ilmu, seperti astronomi,
pertanian, metalurgi, geografi, matematika, dan sejarah.
Selain
itu, ilmu bahasa dan sas tra juga telah membetot perhatian ad-Dinawari.
Untuk mempelajari bahasa dan sastra, ad-Dinawari harus hijrah ke dua
kota penting di Irak pada zaman kejayaan Dinasti Abbasiyah, yakni Kufah
dan Bas rah. Sang ilmuwan Muslim fen o- me nal itu meninggal dunia pada
24 Juli 896 M di kota kelahirannya, Di na war. Nama ad-Dinawari pun
diambil dari kota tempat kelahiran dan kematiannya.
Prof MR Izady
dalam karyanya bertajuk The 1.100 Anniversary of Abu-Hanifa Dinawari
menuturkan, saat itu, Kota Dinawar telah menjelma sebagai kota besar di
Kurdis tan Selatan. Dinawar terletak di kawasan yang strategis karena
ber ada di antara wilayah Timur dan Barat yang dikenal sebagai jalur
utama perdagangan internasional, Jalur Sutera. ‘’Hingga kini, kota itu
dikenal sebagai penghasil ilmu wan dan pemikir, seperti ad-Dina wari,’‘
cetus Prof Izady.
Menurut catatan sejarah, ad-Di nawari adalah
keturunan bangsa Kurdi. Ia merupakan keturun an Wanand. Ad-Dinawari me
rupakan generasi kedua yang memeluk agama Islam. Dari kota itu, terlahir
juga seorang ula ma dan ahli agama ber nama Muham mad ibnu Abdullah
ibnu Mihran Dinawari dan ahli tata bahasa yang bernama Abu-Ali Ahmad
ibnu Jafar ibnu Badh Dinawari.
‘’Mereka juga ada lah generasi
kedua yang memeluk Islam,’‘ papar Prof Izady. Me nu rut dia, hingga ki
ni, pendu duk Kota Dinawar tak pernah melupakan jasa dan kontri busi
yang diberikan Abu Hanifa ad- Dinawari dalam mengembang kan ilmu
pengetahuan. Setiap ta hun, masyarakat di kota itu memperi ngati hari
Abu Hanifa Di nawari.
Sungguh luar biasa, penduduk asli kota itu
sangat menghormati Abu Hanifah Dinawari berkat kontribusinya bagi
sejarah dan kebudayaan,’‘ tegas Prof Izady. Salah satu kontribusi paling
penting yang diberikan ad-Dinawari bagi peradaban manusia adalah Kitab
al-Nabat. Itulah sebabnya dia dianggap sebagai penemu botani dari Arab.
Dia
juga dianggap sebagai penu lis pertama yang mendis kusi kan bang sa
Kurdi. Ia mengupas jejak dan sejarah bangsa Kurdi lewat bu kunya yang
bertajuk Ansab al-Ak rad (Keturunan Kurdi). Ad-Di na wari pun dikenal
sebagai se orang sejarawan. Karya sejarahnya ditu ang kan dalam buku
berjudul Kitab al-Akhbar al-Tiwal (Book of Long Narratives). Buku itu
mengi sahkan jejak kehidupan manusia mulai dari pra-Islam hingga era
Islam.
Ad-Dinawari dikenal sebagai seorang pemikir berkelas
dunia. Para ilmuwan modern mengagumi ketelitian, ketepatan, serta
keandalan ilmuwan Persia itu. Tak heran jika namanya disejajarkan dengan
ilmuwan Muslim legenda ris, seperti Ibnu Khaldun yang di kenal lewat
bukunya yang berjudul Al-Muqaddimah. Ad-Dinawari dikenal dengan keluasan
ilmu pengetahuannya. Karya ad-Dinawari yang sudah hilang ternyata bisa
ditemukan la gi dalam karya ilmuwan lain. Ba nyak ilmuwan yang menja di
kan buah pikirnya se bagai refe rensi dan ada pula yang menulis ulang
bukunya.
Sejarawan dan ahli etnografi terkenal, Mas’ udi, mengata
kan, Ibnu Qutayba Dina wari telah mengkopi Buku Orientasi Per bin
tangan (Book of Astral Orientati ons) karya Abu Hanifa ke dalam
karyanya. Dalam bidang astronomi, sosok ad-Dinawari pun begitu dihormati
dan dika gumi. Ia dikenal sebagai se orang as tro nom hebat asal Persia
yang me nemukan Galaksi Andro meda.
Sejarawan B Lewin dalam
biografi tentang Abu Hanifa ad- Di nawari mengatakan, generasi muda Mus
lim patut mencontoh sang ilmu wan. Salah satu hal yang menarik dari
ad-Dinawari adalah ketepatan dan ketelitiannya saat melakukan
penelitian. Satu lagi, kita menemukan tokoh Muslim yang begitu hebat
dari era kejayaan Islam. Seorang ilmuwan yang tak pernah dilupakan
masyarakat Kota Dinawar. Setiap tahun, masyarakat kota itu memperingati
hari wafat Abu Ha nifa ad-Dinawari. Semangat dan perjuang an hidupnya
tetap diles tarikan. Itulah sebabnya Dinawar menjadi kota penghasil
pemikir dan ilmuwan.
Kontribusi Sang Ilmuwan Botani
Pada
abad ke-9 M, ad-Dinawari telah menemukan ilmu tumbuhan-tumbuhan alias
botani. Ia mengupas dan membedah botani lewat karyanya Kitab al-Nabat
(Buku Tumbuh-tumbuhan) yang terdiri atas enam volume. Sayangnya,
beberapa volume telah punah, hanya volume ketiga dan kelima yang
tersisa. Meski begitu, volume keenam dari kitabnya itu telah menjadi
bagian rekonstruksi dasar dalam kutipan dari karya terakhirnya. Dalam
kitabnya itu, ad-Dinawari menguraikan sekitar 637 jenis tanaman. Buku
itu ditulis dalam bahasa Arab.
Sang ilmuwan menjelaskan aneka
jenis tanaman yang ditemuinya dari huruf sin sampai ya. Tak hanya itu,
dia juga mendiskusikan evolusi tanaman dari tumbuh/hidup sampai mati,
penjelasan tahap tanaman tumbuh, dan memproduksi buah dan bunga. Buku
itu menjadi sumber utama tentang tanaman-tanaman dan penggolongan
analisis (morfologi), morfologi tanah dan tentang ilmu air. Selain itu,
buku yang fenomenal itu juga menjadi risalah tata bahasa paling lengkap
dalam nama-nama tanaman.
Astronomi dan Meteorologi Bagian dari
bukunya tentang tanaman juga menguraikan peranan astronomi dan
meteorologi Islam dalam pertanian. Ia sudah bisa menentukan awal musim
dengan fenomena alam tersebut. Fenomena alam lainnya, seperti badai,
guntur, kilat, salju, banjir, lembah, sungai, danau, sumursumur, dan
sumber air lainnya dikaji dan dibahas. Semua itu digunakan untuk
kepentingan pertanian.
Ilmu Bumi Bagian dari buku tentang tanaman
milik ad-Dinawari juga menguraikan ilmu bumi dalam konteks pertanian.
Dia memasukkan batu dan pasir serta menjelaskan perbedaan tipe-tipe
tanah serta menandakan tipe-tipe yang cocok untuk tanaman, kualitasnya,
dan kandungan tanah yang baik.
Sejarah Lewat Kitab al-Akhbar
at-Tiwal, ad- Dinawari juga dianggap sebagai se orang sejarawan. Selain
menceritakan za man pra-Islam, buku sejarahnya juga mengi sahkan
hari-hari terakhir kekua saan Di nasti Umayyah di Khurasan. Da lam bu ku
itu, diceritakan bagaimana Marwan IIkhalifah terakhir Umay yahdi
kalahkan oleh pasukan Abbasiyah.
Selamat datang di Dangau Petani Kreatif. Blog ini berisikan informasi kreatif seputar pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan dan Ketahanan Pangan. Semoga materi blog ini memberikan manfaat bagi kita semua. Aamiin Yaa Rabbal 'alamin.
Selasa, 04 Juni 2013
Menengok Revolusi Pertanian di Era Islam
Negeri-negeri Islam berkembang pesat dan memiliki masyarakat makmur dari hasil pertanian.
Lahan pertanian telah lama menjadi karib
umat Islam. Dalam konteks ini, umat Islam tak sekadar mengolah lahan.
Namun, mereka juga mengenalkan sistem dan cara pengolahan lahan
pertanian secara lebih modern. Termasuk, cara tanam dan penggunaan
irigasi.
Bahkan, pada awal abad ke-9, sistem
pertanian modern menjadi pusat kehidupan ekonomi dan organisasi di
negeri-negeri Muslim. Pertanian di Timur Dekat, Afrika Utara, dan
Spanyol, didukung sistem pertanian yang maju.
Sebab, praktik pertanian di sana telah
menggunakan irigasi yang baik dan pengetahuan yang sangat memadai. Fakta
ini menunjukkan bahwa metode pertanian yang dipraktikkan merupakan
metode paling maju di dunia.
Umat Islam memiliki kuda-kuda terbaik,
ternak domba, dan kemampuan membudidayakan kebun buah-buahan dan
sayuran. Mereka tahu bagaimana cara membasmi serangga dan menggunakan
pupuk dengan dosis yang tepat.
Selain itu, mereka juga telah memiliki
kecakapan dalam mencangkok pohon dan tanaman untuk menghasilkan varietas
baru. Tak heran jika kemudian lahir varietas tanaman yang unggul dan
menambahkan keragaman tanaman yang ada.
Sejumlah jenis tanaman yang sebelumnya
tak dikenal, juga diperkenalkan oleh umat Islam. Pohon jeruk, misalnya,
dibawa umat Islam dari India ke Arab sebelum abad ke-10. Pohon ini
kemudian diperkenalkan ke wilayah lainnya.
Pada akhirnya, pohon jeruk ini juga
dikenal di Suriah, Asia Kecil, Palestina, Mesir, dan Spanyol. Berawal
dari Spanyol, lalu pohon jeruk tersebut menyebar ke seluruh wilayah yang
ada di Eropa Selatan.
Budidaya tebu dan pemurnian gula juga
disebarkan oleh orang-orang Arab Muslim dari India melalui Timur Dekat,
kemudian dibawa tentara Salib ke negara-negara Eropa. Kapas pertama kali
dibudidayakan di Eropa oleh bangsa Arab.
Pencapaian umat Muslim dalam bidang
pertanian mampu pula diwujudkan di tanah Arab, yang sebagian besar
merupakan lahan kering. Ini terwujud dengan menggunakan sistem irigasi
yang terorganisasi dengan baik.
Khalifah sebagai pemimpin pemerintahan,
membiayai pemeliharaan kanal-kanal besar demi kepentingan pertanian.
Sungai Efrat dialirkan ke Mesopotamia, sedangkan air dari Tigris
dialirkan ke Persia.
Tak hanya itu, pemerintahan Islam juga
membangun sebuah kanal besar yang menghubungkan dua sungai di Baghdad.
Kekhalifahan Abbasiyah merupakan dinasti yang memelopori pengeringan
rawa-rawa agar digunakan untuk pertanian.
Saat memerintah, mereka pun
merehabilitasi desa-desa yang hancur dan memperbaiki ladang yang
mengering. Pada abad ke-10, di bawah kepemimpinan pangeran-pangeran
Samanid, daerah antara Bukhara dan Samarkand, Uzbekistan berkembang
pesat.
Tak heran jika kemudian, daerah tersebut
ditetapkan sebagai salah satu dari empat surga dunia. Tiga wilayah
lainnya adalah Persia Selatan, Irak Selatan, dan kawasan yang ada di
sekitar Damaskus, Suriah.
Berdasarkan catatan sejarah dan komentar
para ilmuwan termasuk dari Barat, sistem pertanian pada era Spanyol
Muslim merupakan sistem pertanian yang paling kompleks dan paling
ilmiah, yang pernah disusun oleh kecerdikan manusia. Hal ini terjadi karena kaum Muslim
memperkenalkan banyak perubahan. Salah satu bukti, pada masa itu seluruh
Eropa hancur di bawah perbudakan, namun tanah di bawah kekuasaan Islam
mengalami kemajuan pesat di bidang pertanian.
Salah seorang cendekiawan berkebangsaan
Inggris, Joseph McCabe, mengungkapkan, di bawah kendali Muslim Arab,
perkebunan di Andalusia jarang dikerjakan oleh budak. Tapi, perkebunan
dikerjakan oleh para petani sendiri. Di sepanjang Sungai Guadalquivir, juga
terdapat 12 ribu desa yang berkecukupan, bahkan makmur. Revolusi
pertanian Islam telah diawali pada abad ke-7. Negeri-negeri Islam
berkembang pesat dan memiliki masyarakat makmur dari hasil pertanian.
Para ahli geografi awal mengungkapkan,
terdapat 360 desa di Fayyum, sebuah provinsi di selatan Kairo, Mesir,
yang masing-masing dapat menyediakan kebutuhan makanan bagi penduduk
seluruh Mesir setiap hari.
Di sisi lain, terdapat 12 ribu desa di
sepanjang Guadalquivir, Spanyol, yang memiliki lahan pertanian subur.
Ada pula 200 desa di sepanjang Sungai Tigris, Irak, yang pertaniannya
juga maju.
Bukti lain, yang menunjukkan kemajuan
umat Islam di bidang pertanian, yakni adanya sebuah sensus yang
dilakukan pada abad ke-8 di Mesir. Dalam sensus itu, dari 10 ribu desa
di Mesir, tak ada desa yang memiliki bajak kurang dari 500 unit.
Wilayah-wilayah yang kemudian berada di
bawah kekuasaan pemerintah Islam, juga mengalami perubahan ke arah
kemajuan yang drastis. Banyak wilayah yang sebelumnya tak maju, namun di
bawah pemerintah Islam, kemajuan kemudian terwujud.
Pada masa pra-Islam, Mediteranian kuno
pada umumnya hanya bisa memanen tanaman saat musim dingin. Itu pun, satu
bidang lahan hanya mampu menghasilkan satu jenis tanaman setiap
tahunnya.
Namun, datangnya Islam ke sana membuat segalanya berubah. Sebab, Muslim yang datang ke wilayah itu
memperkenalkan berbagai macam tanaman
baru. Dengan demikian, garapan pertanian pun kian beragam. Seorang ahli
agronomi Andalusia, seperti Al-Tignarî yang berasal dari Granada,
membuat referensi tentang tanaman-tanaman yang memberikan kontribusi
besar bagi peningkatan pertanian yang cukup signifikan.
Salah seorang orientalis dari Prancis,
Baron Carra de Vaux, bahkan menyebutkan, sejumlah tumbuhan dan hewan
yang berasal dari Timur dibawa ke Spanyol oleh umat Islam. Tumbuhan dan
hewan itu, kata dia, digunakan untuk beragam kebutuhan. Jadi, tak hanya
untuk keperluan pertanian maupun peternakan, tapi tumbuhan dan hewan itu
digunakan juga untuk keperluan pengembangan perkebunan, status
kemewahan, perdagangan, dan seni.
De Vaux membuat sebuah daftar. Tumbuhan
dan hewan itu adalah tulip, bakung, narcissi, lili, melati, mawar,
persik, plum, domba, kambing, kucing Anggora, ayam Persia, sutra, dan
katun. Salah satu tanaman penting yang diperkenalkan oleh umat Islam di
Spanyol adalah tebu. Sedangkan kapas, mulai dibudidayakan di Andalusia
pada akhir abad ke-11. Andalusia kemudian mampu berswasembada kapas.
Bahkan kemudian, para petani di
Andalusia mampu mengekspor kapas hingga ke luar negeri. Di sisi lain,
pengenalan tanaman baru kelak melahirkan sistem pertanian yang kompleks.
Termasuk, pembangunan irigasi. Semula sebidang lahan hanya menghasilkan
sekali panen satu macam tanaman per tahun. Namun, dengan makin
beragamnya tanaman dan adanya irigasi, petani mampu panen tiga atau
lebih tanaman per tahun.
Dengan produksi pertanian yang semacam
ini, penduduk kosmopolitan di kota-kota Islam, termasuk yang ada di
Spanyol, mampu memenuhi kotanya dengan beragam produk buah dan sayuran
yang sebelumnya tak dikenal di Eropa.
Paling tidak, ada beberapa faktor
penyebab revolusi pertanian Islam yang akhirnya sampai ke Spanyol.
Yaitu, pengenalan tanaman baru oleh umat Islam, penggunaan irigasi yang
intensif, dan penggunaan serta pengolahan tanah yang lebih baik.
Selain itu, faktor lain yang juga sangat
menentukan adalah banyaknya karya ilmiah, yang memperkenalkan inovasi
pertanian dan ilmu pengetahuan tentang pertanian.
Mereka yang Berjasa
Kemajuan pertanian di wilayah Islam,
termasuk di Spanyol, tentu tak lepas dari kontribusi ahli pertanian
Muslim. Mereka menyumbangkan pemikiran-pemikirannya dalam buku-buku
tentang pertanian. Karya mereka menjadi panduan dalam pengembangan
pertanian kala itu.
Abu’l Khair, seorang ahli pertanian di
Spanyol pada abad ke-12, misalnya, menulis Kitab Al-Filaha yang berisi
tentang hal ihwal pertanian. Dalam kitabnya itu, ia menuliskan empat
cara untuk menampung air hujan dan membuat perairan buatan.
Khair menegaskan perlunya penggunaan air
hujan untuk membantu proses reproduksi pohon zaitun dengan cara stek.
Ia juga menguraikan tentang proses pembuatan gula yang sebelumnya telah
diungkapkan ilmuwan lainnya, Ibn Al-Awwam.
Proses pembuatan gula diawali dengan
memanen tanaman tebu yang telah dewasa. Lalu, tebu-tebu tersebut
dipotong menjadi potongan-potongan kecil yang kemudian dihancurkan
dengan cara dimasukkan ke dalam alat penekan.
Setelah itu, ekstrak tebu direbus dalam
jangka waktu tertentu lalu hasilnya disaring. Hasil saringan ekstrak
tebu itu dimasak lagi sampai tinggal seperempat bagian dari jumlah
semula. Kemudian, ekstrak tebu yang terakhir ini dituangkan ke dalam
cetakan tanah liat.
Ekstrak tebu yang dimasukkan ke dalam
cetakan-cetakan berbentuk khusus itu, disimpan di tempat teduh hingga
mengeras atau mengkristal. Langkah selanjutnya, gula dikeluarkan dari
cetakan dan dikeringkan di tempat yang teduh.
Gula tersebut digunakan untuk pemanis
minuman maupun sebagai bahan campuran membuat makanan atau kue-kue yang
sangat lezat. Di sisi lain, sisi tanaman tebu tak dibuang sia-sia.
Namun, dijadikan makanan kuda, sebagai sumber kekuatan dan energi.
Ada pula ahli pertanian dari Damaskus
Suriah, Riyad al-Din al-Ghazzi al-Amiri (935/1529). Dia menulis sebuah
buku tentang pertanian yang perinci. Secara umum, para penulis Arab kuno
menuliskan tentang pertanian dalam berbagai subjek.
Di antaranya, soal jenis lahan pertanian
dan pilihan tanah, pupuk kandang dan pupuk lain, alat pertanian dan
karya budidaya, sumur, mata air, saluran irigasi, tanaman, pembibitan,
penanaman, pemangkasan, dan pencangkokan buah.
Mereka juga membahas soal budidaya
serealia, kacang-kacangan, sayuran, bunga, umbi-umbian, dan tanaman
untuk parfum. Pun, tentang tumbuhan dan hewan beracun serta pengawetan
buah. (Republika online, 27/10/2009)
sumber : suarakhilafah
Menyusuri Kemajuan Pertanian dalam Sejarah Islam
Kemajuan
menyentuh ranah pertanian. Serangkaian teori ditemukan oleh kaum
intelektual dan dipraktikkan hingga membuahkan hasil melimpah di
tanah-tanah negeri Muslim. Panen pun mengerek tingkat kesejahteraan. Ini
semua bermuara pada pengetahuan umat Islam yang memadai tentang
pertanian.
Tak hanya soal cara memanen. Mereka telah
tahu bagaimana memilih lahan bagi tanaman mereka. Mana yang cocok dan
mana pula yang tidak. Sistem pengairan bermunculan dan memicu perkembangan teknologi di bidang ini. Mereka hapal bagaimana membuat pupuk dan komposisi penggunaannya.
Dalam bukunya yang terkenal, Kitab
al-Filaha (Buku tentang Pertanian), cendekiawan dari Andalusia atau
Spanyol, Ibnu al-Awwan, menjelaskan sejumlah langkah memulai bertani.
Hal pertama yang perlu diketahui mengenai pertanian adalah lahan
pertanian itu. Apakah lahan tersebut baik atau tidak untuk ditanami.
Ia mengingatkan, siapa yang mengabaikan
masalah itu tak akan menuai keberhasilan saat menggarap lahan pertanian.
Ini bermakna para petani perlu memiliki pengetahuan tentang lahan,
karakteristiknya, jenisnya, tanaman, dan pohon yang mestinya ditanam
atau tidak di lahan tersebut.
Selain itu, al-Awwan mewanti-wanti pula
agar memahami betul tentang tingkat kelembapan tanah yang berdampak pada
semua tanaman. Perlu pula mengetahui jenis tanah, apakah lembut, keras,
berpasir, hitam, putih, kuning, merah, kemerah-merahan, atau kasar.
Pengetahuan dasar tentang lahan harus
didukung dengan langkah lain untuk mencapai hasil pertanian memuaskan.
Untuk hal ini, umat Islam telah mengembangkan teknologi sistem irigasi.
Bentuknya memang berbeda-beda di setiap wilayah, ada yang sederhana dan
ada pula yang lebih canggih.
Sejarawan al-Hamdani mengisahkan salah
satu bentuk sistem irigasi yang ada di Yaman, yang disebut dengan
alSamman. Ini merupakan sumber air terkenal. Kedalamannya mencapai tiga
meter. Di sekitarnya, terdapat sejumlah sumur dan telaga buatan sebagai
penampung air. Sisi-sisinya dibatasi dengan batu.
Pakar geografi Muslim bernama al Istakhri
dalam bukunya, Al-Masalik walMamalik, berbicara tentang sistem irigasi.
Menurut dia, di Marw (kini berada di wilayah Khurasan, Iran), terdapat
sebuah departemen yang secara khsusus dibentuk untuk menangani
pengelolaan air.
Departemen tersebut memiliki sebanyak 10 ribu staf.
Departemen tersebut memiliki sebanyak 10 ribu staf.
Menurut Jaser Abu Safieh dari Jordan
University, Amman, Yordania, sistem irigasi yang diwariskan oleh umat
Islam sangat efisien dan hingga kini masih digunakan di sejumlah wilayah
di Andalusia atau Spanyol. Badan seperti Water Court of Valencia masih
melakukan pertemuan mingguan pada Kamis seperti yang terjadi pada masa
Islam.
Pengembangan sistem irigasi lainnya untuk
keperluan pertanian terdapat juga di Irak. Tepatnya, di Fowkhara Gate
di tepi Sungai al-Nahrawan, Samarra. Adam Mitz, dalam Al-Hadarah
alIslamiyyah, menyebutkan bahwa ilmuwan Muslim saat itu telah mampu
mengalirkan air dari sumbernya dengan menggunakan pipa.
Mereka mempunyai sejumlah alat-alat
teknik yang bermanfaat untuk mengukur ketinggian tanah dan menggali
saluran irigasi di bawah tanah. Akhirnya, ujar Mitz, para ilmuwan itu
menemukan sejumlah mesin untuk mengukur tingkat air sungai. Dengan
berbagai penemuannya,
pertanian di dunia Islam kian berkembang.
Pupuk Pupuk telah sejak dini menjadi
perhatian. Bahkan, telah muncul pemikiran komposisi penggunaan pupuk.
Ilmuwan Muslim, Ibnu al-Hajjaj al-Ishbili, melalui bukunya Al-Muqni’ fi
al-Filahah, menjelaskan bahwa seorang petani mesti tahu jika lahan
pertanian tak dipupuk, kemampuannya akan melemah.
Di sisi lain, ia berkata agar penggunaan
pupuk tak berlebihan. Bila ini terjadi, tanah akan terbakar oleh pupuk.
Dengan pandangan yang disampaikan Ibnu al-Hajjaj ini, pengetahuan
pertanian umat Islam saat itu telah mencapai taraf yang tinggi. Sejalan
pada masa sekarang, penggunaan pupuk harus sesuai aturan pemakaian.
Pentingnya pemupukan untuk lahan
pertanian; Ibnu Bassal, Ibnu Hajjaj, dan Ibnu al-Awwam memberikan
penjelasan luas mengenai tipe pupuk dan tingkat kecocokan pupuk pada
tanaman dan lahan tertentu. Mereka menyinggung pula penggunaan daun-daun
pohon untuk menyuburkan lahan pertanian dan pemakaian pupuk kompos.
Penjelasan mengenai pupuk kompos ini di
antaranya terdapat dalam buku yang disusun Ibnu al-Awwam yang berjudul
Kitab al-Filaha al-Andalusiyyah. Manuskrip karyanya tersimpan di British
Museum. Sedangkan, Ibnu Bassal menjelaskan bagaimana membuat pupuk
kompos itu.
Paling tidak, Ibnu Bassal membagi kompos
menjadi tiga jenis. Salah satunya adalah kompos yang terbuat dari
campuran rumput, jerami, dan abu. Ketiga bahan itu dimasukkan ke dalam
sebuah lubang. Lalu, tuangkan air ke dalam lubang tersebut, tinggalkan
hingga membusuk. Ia menegaskan, penggunaan pupuk secukupnya saja.
Bassal pun berbagi pengetahuan lainnya.
Kali ini, terkait dengan penanaman yang ia sebut sebagai seni menanam.
Ada masa dan kondisi tertentu untuk menanam suatu jenis tumbuhan agar
bisa berkembang sempurna. Ia menunjuk budi daya labu. “Di negara-negara
dingin, seperti Andalusia, biji labu mesti ditanam selama bulan
Januari.” Lalu, pada bulan April, saat bibit tanaman telah kuat, baru
dipindahkan ke lahan permanen.
Sumber: Republika.co.id
Rabu, 01 Mei 2013
Planting trees is a Renewable Source of Hasanat
Anas also reported that the Prophet said, "If a Muslim plants a
tree or sows seeds, and then a bird, or a person or an animal eats from
it, it is regarded as a charitable gift (sadaqah) for him." (Bukhari)
Link : Onislam.net
Link : Onislam.net
The Hour is Established to Plant It
Anas (May Allah be pleased with him) reported that the Prophet (peace and blessings be upon him) said, “If
the Hour (the day of Resurrection) is about to be established and one
of you was holding a palm shoot, let him take advantage of even one
second before the Hour is established to plant it.” (Authinticated by Al-Albani)
Link : onislam
Link : onislam
Hadist Tentang Penghuni Surga yang Bercocok Tanam
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : "Pada suatu hari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bercerita dan disampingnya ada seorang lelaki dari penduduk kampung, bahwasanya seorang lelaki dari penghuni sorga, minta izin kepada Tuhannya untuk bercocok tanam. Tuhan berfirman : "Tidakkah kamu mendapati apa yang kamu inginkan ?" Ia menjawab : "Ya, akan tetapi saya senang bercocok tanam," maka dia bersegera dan menyemai dan sangat cepat tumbuhnya ujung, tegak dan panennya tumbuh-tumbuhan itu, dan digulungnya seperti gunung. Lalu Allah Yang Maha Tinggi berfirman : "Ambillah wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak dikenyangkan oleh sesuatu". Maka berkatalah orang dusun itu : "Wahai Rasulullah, engkau tidak mendapati orang ini kecuali orang-orang Quraisy atau orang-orang Anshar. Sesungguhnya mereka itu pemilik tanaman. Adapun kami bukanlah pemilik tanaman". Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tertawa. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
(Ilustrasi : http://www.masuk-islam.com/gambaran-surga-dan-ciri-wanita-ahli-surga.html)
Link Sumber : Kumpulan Hadist-Qudsi
Perumpamaan Ilmu dan Proses Pertumbuhan Tanaman
Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu, dia berkata Nabi Shalallahu Alaihi wa
sallam bersabda, “Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang oleh
karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat
jatuh ke bumi; bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula yang keras tidak
menyerap air sehingga tergenang, maka Allah memberi manfaat dengan hal
itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang
ternak dan sebagainya), dan untuk bercocok tanam. Ada pula hujan yang
jatuh kebagian lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air
dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang
belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah
mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu
pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli
dengan petunjuk Allah, yang aku diutus untuk menyampaikannya.
Link Sumber : Kitab Riyadushalihin
Langganan:
Postingan (Atom)
Pemerintah Nagari Koto Gadang Perkuat Kelembagaan Tani
Rabu (4/2) Pemerintahan Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam melaksanakan pembinaan Kelompok Tani dan Perkumpulan Petani Pem...
-
oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP Pada tahun 2014 pertanian organik mulai diminati di Nagari Sungai Landia. Beberapa kelompok tani mulai eksis de...
-
Oleh : ICHSAN KURNIAWAN Pacar air. Begitulah sebutan tanaman yang tegak dengan batangnya yang berair. Daunnya berbentuk mata tombak hi...

