Kamis, 26 Januari 2012

Korelasi Positif Pertanian Organik dan Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP)

-->oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP
Dok. Kelompok Tani Organik Mubarakah, Nagari Sungai Landia



Pola pertanian konvensional yang serba instan memang mulai terasa kian menimbulkan ragam masalah. Pencemaran lingkungan sekitar area pertanaman sebagai akibat dari pemakaian pestisida dan pupuk sintetik pun mulai tampak. Belum lagi kondisi tanah pertanian dimana sistem ini diterapkan. Sejak beberapa tahun silam pemakaiannya, efek perubahan tingkat kesuburan tanah pertanian semakin hari kian terlihat. Tanah menjadi semakin keras.
Hal lain yang mulai kita sadari yakni akumulasi racun yang hampir setiap hari singgah di meja makan rumah kita. Berbagai penelitian mengungkapkan residu bahan kimia berbahaya dari pemakaian pestisida sintetis terakumulasi di dalam tubuh manusia. Endapan yang sedikit demi sedikit terus bertambah tersebut akan mencapai ambang batas dimana melahirkan masalah serius pada kesehatan. Residu tersebut bersifat toksik dan menimbulkan jenis-jenis penyakit yang mampu membunuh semisal kanker. 
Tiga tahun belakangan pertanian organik bisa dibilang menjadi sebuah trend. Produk dari pola pertanian ramah lingkungan ini semakin mendapat tempat. Harga hasil pertaniannya pun bisa menjadi dua sampai tiga kali lipat dibanding produk usaha tani konvensional.
Serta merta program pemerintah pun mulai diarahkan ke sana. Dinas atau instansi mencanangkan visi dan misi yang merancangkan program atau kegiatan berkaitan dengan pengembangan pertanian organik yang dituding sangat membela petani. Namun terlepas dari hal tersebut, pertanian organik memang mengandung banyak nilai positif dan baik.
Bagaimana tidak, petani diajarkan untuk sadar dan konsisten menjaga moral dalam bertani. Pemanfaatan potensi serta sumber daya alam pun sekaligus menjadi solusi dalam mengatasi berbagai masalah sarana produksi (saprodi) sebagai misal kelangkaan pupuk, harga pupuk maupun pestisida yang kian tak terjangkau.
Selain itu pertanian organik dipapah menuju kemandirian petani dalam bersuaha tani. Menuntut jiwa fair dalam beragribisnis serta merancang pola pikir sumber daya manusia (SDM) yang kreatif, berilmu-pengetahuan dan teknologi dengan kemandiriannya tersebut.
Tentu saja. Bukankah pertanian organik menuntut petani dalam memadukan kegiatan pertanian dengan elemen lain seperti peternakan. Selanjutnya mau tak mau, petani dengan dibekali kemampuan dasar yang diberikan melalui penyuluhan, akan memahami kaidah pertanian organik. Prinsip-prinsip dasar tersebut berilmu-pengetahuan dan merangsang pola pikir masyarakat tani. Tak menutup kemungkinan juga berawal dari hal tersebut, akan melahirkan petani-petani peneliti. Dengan mengetahui ilmu dasar seperti prinsip mikroba, kandungan unsur hara, kebutuhan tanah dan lainnya, maka lambat laun- selama petani mau bertahan untuk konsisten di pertanian organik, pengetahuan tersebut akan berkembang terus dan terus.
Hal ini tak lain dan tak bukan akan memuara pada kemampuan petani mengintegrasikan berbagai aspek untuk mencapai satu titik yakni kesejahteraan. Dengan menerapkan pertanian organik, secara otomatis petani akan membutuhkan ternak sebagai produsen pupuk mereka.
Pemerintah provinsi Sumatera Barat pun telah beberapa tahun ini gencar mengkampanyekannya. Ditambah lagi tahun lalu, tujuan akhir berbagai program tersebut mulai tampak jelas yakni dengan dikuatkannya melalui Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP). Gerakan ini dirancang sebagai bentuk dari upaya percepatan perekonomian Sumatera Barat. Dan sebagai wujudnya adalah tuntutan penambahan jam kerja petani dengan minimal tiga jenis usaha. Inilah pertanian terpadu. Terintegrasi dengan peternakan, perikanan, perkebunan maupun kehutanan.
Setiap kabupaten dialokasikan 4 nagari dengan  memberdayakan kelompok tani- kelompok tani yang ada di wilayah tersebut. Termasuk nagari di lingkup Kabupaten Agam. Penyuluh sebagai ujung tombak dari pensuksesan gerakan tersebut. Gerakan ini diwujudkan dengan pemberdayaan kelompok tani yang ada di nagari. Dengan minimal 3 jenis usaha tersebut, diharapkan pendapatan petani bisa minimal 2 juta per bulannya.
Di tahun 2015 mendatang dari 62 nagari yang ditargetkan di tahun ini di Sumatera Barat, bisa berkembang menjadi 310 nagari dengan 12.400 KK tani sasaran. Salah satu program yang efektif  dan mendukung dalam pewujudan kegiatan tersebut yakni dengan memulai menyuarakan pertanian organik dan manfaatnya. Selain memiliki beragam keuntungan dari segi peminimalan biaya produksi, sistem pertanian ramah lingkungan dan sehat juga polanya menuntut integrasi antara pertanian dan peternakan.

BERTANI KREATIF DENGAN AGEN CERDAS DAN KUAT II : BEAUVERIA BASSIANA

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP


Beauveria bassiana adalah golongan jamur entomopatogen yang menyerang hama jenis serangga. Beberapa hama yang diserang antara lain seperti wereng, kepinding tanah, kepik dan beragam jenis ulat. Jenis jamur ini berkembang dan menyebar dengan konidia yang berbentuk bulat seperti bola berdiameter kecil dari 3.5 µm. Beauveria bassiana. Cendawan ini biasa dikenal sebagai cendawan patogen serangga yaitu cendawan yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga dengan cara membuat sakit serangga hama baru yang kemudian membunuh hama tersebut.
Secara teknis infeksi dimulai dengan perkecambahan konidia dan mempenetrasi kulit serangga. Beauveria menghasilkan berbagai enzim yang dapat menguraikan kulit serangga. Infeksi juga dapat terjadi pada jaringan saluran pencernaan, jika konidia termakan oleh serangga. Serangga yang rentan terhadap serangan jenis cendawan ini adalah pada saat ganti kulit. Infeksi jamur ini pada saat ganti kulit, menyebabkan serangga tidak dapat tumbuh dengan sempurna dan kemudian mati. Setelah menginfeksi jamur ini berkembang dan tumbuh, sehingga pada kulit serangga terlihat konidia yang berwarna putih. Pada tahap awal tubuh buah jamur terlihat pada rongga antara kutikula, kemudian berkembang dan menutupi tubuh serangga.
Beauveria, Sumber Wikipedia

Cara Perbanyakan Beauveria basiana 
Cendawan jenis Beauveria ini dapat diperbanyak dengan menggunakan media cair. Untuk sumber nutrisi media perbanyakan dapat digunakan kentang, sedangkan bahan lain yang dipelukan adalah, gula pasir, antibiotik, air bersih dan starter (bibit)  cendawan ini.   
Sebagai sumber nutrisi, kentang diperlukan sebanyak 1 kg dicuci dan diiris tipis, selanjutnya  masak dengan air 5 liter air bersih sampai mendidih selama 15 menit. Kemudian larutan tersebut disaring untuk diambil dan dalam keadaaan panas tersebut masukkan gula pasir  sebanyak 50 gram. Setelah larutan dingin baru dimasukan antibiotik sebanyak 1 tablet dan 5 gram biang Beauveria. Pasang aerator kedalam larutan dan biarkan selama 4 – 7 hari. Beauveria siap untuk digunakan dan didistribusikan.


Cara Sederhana lain perbanyakannya

    Rebus air sampai mendidih , masukkan beras selama 4 – 5 menit. Setelah itu langsung dikukus selama 15 menit. Lalu pindahkan kedalam baskom/baki, setelah dingin masukkan kedalam kantong plastik sebanyak seperempat volume kantong.
    Kemudian, ambil bibit Beauveria dengan sendok sebanyak 4 – 5 butir dan masukkan ke dalam kantong plastik tadi, lalu digoyang-goyang hingga rata, lipatkan ujung kantong seterusnya diklep dengan posisi vertikal .
    Tempatkan pada rak-rak yang tidak kena sinar matahari langsung. Setelah 1 minggu Beauveria  tumbuh secara merata pada media.Berwarna putih, dan selanjutnya Beauveria siap dipakai.
Perbanyakan Sederhana, Sumber Koleksi Pribadi

Pengaplikasian Cendawan Beauveria
Pengaplikasian cendawan entomopatogen ini dilakukan dengan penyemprotan. Dosis yang digunakan adalah  10 ml/ 1 liter air. Aplikasi sebaiknya pada saat populasi hama masih rendah dan mengingat perkembangan cendawan entomopatogen tersebut lebih baik pada saat suhu tinggi dan kelembaban tinggi, maka waktu aplikasi sebaiknya dilakukan sore hari.
Serangga yang telah terinfeksi Beauveria bassiana selanjutnya akan mengkontaminasi lingkungan, baik dengan cara mengeluarkan spora menembus kutikula keluar tubuh inang, maupun melalui fesesnya yang terkontaminasi. Serangga sehat kemudian akan terinfeksi.

Psidium guajava, Pahlawan ketika Diserang DBD


oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP 

Demi zat Allah yang meminjamkan bumi dan sekalian isinya untuk kita. Bahwa setiap penyakit yang kita derita selalu ada obatnya. Walaupun kerap disepelekan, tapi semua itu terbukti bahwa banyak komoditi pertanian yang berkhasiat sebagai obat dari berbagai macam penyakit. 
Komoditi pertanian khususnya hortikultura (buah-buahan) bukan hanya sebagai penghasil beragam produk yang dapat kita nikmati baik secara langsung (rasanya sperti buah-buahan) atau secara tak langsung (kalau hasil budidayanya di jual, akan menghasilkan uang), namun juga khasiatnya untuk kita dan keluarga. Ditumbuhkannya beragam jenis tanaman yang beragam oleh Allah termasuk buah-buahan ternyata memiliki multi manfaat. Berikut salah satu komoditi yang menjadi pahlawan kita ketika diserang penyakit yang sering kita kenal dengan nama DBD.
Daun Psidium guajava (Jambu biji). Bagian dari komoditi buah-buahan inilah yang mengandung khasiat dalam mengatasi DBD (demam berdarah dengue). Beberapa bagian dari tanaman ini terbukti mampu mengatasi penyakit berbahaya tersebut. Kandungan senyawa yang menjadi “senjata” adalah tannin dan flavonoid yang bersifat quersetin dalam ekstrak daun jambu biji. Cara kerjanya dengan menghambat aktivitas enzim reverse transcriptase yang berarti menhambat pertumbuhan virus beranti RNA.
Secara umum kandungan dari jambu biji sendiri adalah Energi sebesar 49 kal, Vitamin A lebih kurang 25 SI, kandungan Protein + 0,90 gr, Vitamin B1 sebesar 0,05 mg, Lemak 0,30 gr, Vitamin B2 0,04 mg, Karbohidrat 12,20 gr, Vitamin C 87,00 mg, Kalsium 14,00 mg, Niacin 1,10 mg, Fosfor 28,00 mg, Serat 5,60 gr, Besi 1,10 mg dan kandungan Air sebesar 82 gram
Seperti hal yang ada sampai saat ini, kebanyakan pengobatan penyakit ini secara medis lebih cenderung bersifat supportif yakni mengatasi kehilangan cairan plasma akibat peningkatan yang terjadi terhadap permeabilitas pembuluh darah kapiler.
Nah, sebenarnya beberapa produk pertanian khususnya hortikultura (buah-buahan) mempunyai unsur penting dalam mengatasi permasalahan yang ditimbulkan penyakit ini dan telah melalui beberapa pengujian termasuk daun jambu biji (Psidium guajava) ini. Hasil pengujian menunjukkan pemberian ekstrak daun jambu biji ini mempercepat peningkatan trombosit. Rebusannya dapat meningkatkan jumlah trombosit hingga 100.000/mm3. Hal ini hanya berlangsung dalam waktu 1-6 jam setelah mengkonsumsinya.
Teknik Penggunaan Daun Jambu Biji
Cara penggunaan daun tanaman ini adalah dengan mengambil bahan berupa daun jambu biji sebanyak + 10 lembar. Daun tersebut direndam dan direbus dalam 5 gelas air. Setelah perebusan selesai, hasilnya tersebut disaring dan kemudian didinginkan. Hasil ekstrak daun jambu biji ini diminum sekitar 3 jam sekali. Maka khasiatnya akan terlihat dalam frekuensi waktu yang diuraikan di atas. InsyaAllah.   

Selasa, 24 Januari 2012

Penerapan Good Agribicultural Practices dan Sinergis ala Basamo Mangkonyo Manjadi



Oleh : ICHSAN KURNIAWAN

Sekali lagi wacana hangat bahwa negara kita menuju peningkatan pengembangan komoditi hortikultura kian menjadi, baik secara nasional maupun daerah termasuk provinsi Sumatera Barat terkhusus juga Kabupaten Agam, bahkan secara nasional bulan lalu isu mengenai rencana pengembangan Hortikultura Park diluncurkan Ditjen Hortikultura Kementrian Pertanian RI. Hortikultura Park sendiri menjalankan konsep taman sayur-sayuran atau buah-buahan dengan pemanfaatan lahan kosong yang  terletak di daerah perkotaan. Konsepnya dirancang demi mengatasi permasalahan kurangnya  jumlah pasokan tanaman hortikultura memenuhi permintaannya yang berlebihHal ini seperti diungkapkan Ditjen Hortikultura bahwa  kondisi pertumbuhan neraca perdagangan  horti kita minus. Untuk sayuran angka minusnya Rp 2,5 triliun sementara buah mencapai Rp 5 triliun. Yang menjadi persoalan ialah potensi yang kita miliki justru dianggap mampu menyuplai kebutuhan yang ada.
Terpisah namun sejalan dengan hal tersebut, negara kita yang tengah dihadang globalisasi yang menuntut produk-produk pertanian dengan juga tak hanya kuantitas yang mampu memenuhi kebutuhan pasar, akan tetapi kualitas hasil yang juga mampu bersaing. Produk bersaing tentunya memiliki kualitas kokoh dan mampu bertahan di tengah lalu lintas produk negara lain yang masuk ke negara kita, terutama produk pertanian.

Good Practices, dari Hulu sampai Hilir
Demi memperbaiki kondisi tersebut,untuk komoditi hortikultura berbagai usaha tengah dilakukan untuk bagaimana produksi hortikultura meningkat baik jumlah, pun jua mutu. Karena jumlah yang banyak tanpa dibarengi kualitas yang bagus, maka produk kita akan tereliminasi dari pasar bahkan bisa terjadi secara dini. Selain memberdayakan keadaan yang dianggap berpotensi layaknya rencana pengembangan Hortikultura Park, perbaikan sistem budidaya sendiri dibenahi guna mencapai peningkatan tersebut. Berpedoman pada Permentan No.58/OT.140/8/2007 tentang pelaksanaan sistem standardisasi di bidang pertanian serta Permentan No.48 Tahun 2009 yang diterbitkan pada tanggal 19 Oktober Tahun 2009 tentang Good Agricultural Practices komoditi sayuran dan buah, dengan berpatokan pada pola pertanian sukses negara-negara lain yang telah menerapkannya, mengikuti tuntutan pasar global patutlah dilakukan perbaikan sistem/ tata kerja. Hal yang dapat kita istilahkan dengan Good Practices ini meliputi dari mulai hulu sampai dengan hilir.
Dalam isu aktual strategis pengembangannya sebagai komoditi penting, untuk konteks good pratices ini terdapat konsorsium hortikultura. Konsorsium ini sendiri merupakan wujud usaha dalam peningkatan pengembangan hortikultura dengan melibatkan berbagai elemen penting dalam rantai agribisnis. Unsur tersebut harus bersinergis untuk mendukung penerapan Good Agricultural Practices (GAP), Good Handling Practices (GHP) sampai Good Manufacturing Practices (GMP) yang merupakan uraian dari bentuk Good Practices. GAP sendiri adalah perbaikan teknis budidaya (on-farm) dengan empat sasaran yakni aman konsumsi, bermutu baik, berwawasan kelestarian lingkungan serta berdaya saing (berproduktifitas tinggi). GAP sendiri bertitik tolak pada penerapan 100 titik kendali penting dengan kriteria 14 titik kendali wajib, 54 titik kendali yang sangat dianjurkan serta 32 titik anjuran. Dengan memenuhi ketentuan tersebut diharapkan hasil produksi pertanian akhirnya mampu bersaing di pasar global dengan negara-negara lain yang telah lebih dahulu membekali diri dengan system ini seperti Thailand, Malaysia, Cina, Uni Eropa dan beberapa Negara lain dengan bentuk implementasi penerapannya seperti Q-system (Tahiland), Fresh Care (Australia), Assured Produce Scheme (Inggris) bahkan Malaysia yang telah menerapkan SALM. Sementara GHP dan GMP adalah perbaikan lini off-farm yang menggerakkan peningkatan pada pengolahan produk dengan memberikan nilai tambah terhadap produk baik proses pengolahan biasa atau melahirkan produk baru sehingga juga mampu berkompetisi di kancah pasar.

Sebagaimana ditegaskan dalam Permentan 48/2009, tujuan Penerapan Pedoman Budidaya yang Baik (GAP) hortikultura ini adalah;
  • Meningkatkan produksi dan produktivitas,
  • Meningkatkan mutu hasil termasuk keamanan konsumsi,
  • Meningkatkan efisiensi produksi,
  • Meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam,
  • Mempertahankan kesuburan lahan, kelestarian lingkungan dan sistem produksi yang berkelanjutan,
  • Mendorong petani dan kelompok tani untuk memiliki sikap mental yang bertanggung jawab terhadap produk yang dihasilkan, kesehatan dan keamanan diri dan lingkungan,
  • Meningkatkan daya saing dan peluang penerimaan produk oleh pasar (pasar ekspor dan domestik).  Sebagai Tujuan akhir adalah memberikan jaminan keamanan terhadap konsumen serta meningkatkan kesejahteraan petani pelaku usaha.

Foto by ICHSAN KURNIAWAN,SP

Sinergis ala "Basamo Mangkonyo Manjadi"
Penerapan Good Practices baik GAP, GHP maupun GMP ini tak terlepas dari banyak tangan yang bekerjasama menggerakkannya. Semua stakeholders pembangunan agribisnis harus terlibat dalam mensukseskannya, mulai dari petani sebagai pelaksana langsung Good Practices, penyuluh sebagai penjembatan informasi teknologi, peneliti sebagai penghasilnya, pelaku usaha juga sampai pemerintah sebagai polish maker.
Istilah MP3 yang dimunculkan dalam konsorsium hortikultura tersebut dapat menggambarkan keterlibatan banyak pihak. MP3 ini untuk menyebut satuan perangkat yang beraliansi yakni M untuk Masyarakat yang teridiri dari Petani, Pekebun, Kelompoktani, Gapoktan, LSM, Kontak Tani, Pemuda Tani dan lain sebagainya. Huruf P yang pertama untuk Pelaku usaha yang terurai menjadi Penangkar Benih, Nursery, pedagang, pengusaha, industriawan, champions. Sementara P kedua untuk Pakar yang meliputi Dosen PT, Peneliti, Sarjana, Praktisi dari Ilmu Tertentu, otodidak, termasuk penyuluh. Sedangkan aksara P terakhir bagi Pelayan Publik melingkupi pemerntah secara umum seperti mulai Ditjen Hortikultura, Dinas Pertanian Provinsi, Dinas Pertanian Kabupaten/Kota serta BUMN/BUMD.

Bupati Agam Indra Catri


Dengan potensi pengembangan yang dimiliki, Kabupaten Agam dengan beberapa kecamatan yang telah menjadi sentra produksi horti serta kecamatan lainnya juga siap menyonsong perbaikan demi perbaikan untuk pembangunan pertanian ke depan. Selain tertumpang kepada penyuluh dalam wadah BP4K2P Kabupaten Agam sebagai aset penting ujung tobak penjembatan antara informasi dan teknologi, pensuksesan pencapaian harapan tersebut juga diletakkan pada banyak pihak yang saling bekerjasama dengan baik sehingga tercipta hubungan harmonis yang bersinergi. Dengan modal motto Basamo Mangkonyo Manjadi dibawah pimpinan Bupati Agam Bapak Indra Catri, diharapkan semua pihak di Kabupaten Agam bahu-membahu untuk berkomposisi penuh dalam mewujudkan Good Practices demi meningkatkan kualitas dalam menyokong pembangunan pertanian khususnya hortikultura. Aamiin.

Pestisida Nabati I, Pengendali Hama dan Cendawan


oleh : ICHSAN KURNIAWAN

Pestisida Nabati merupakan ramuan pestisida yang bahnnya bersumber dari bahan-bahan alami. Pembuatannya sendiri secara garis besar ditujukan bermaksud paling kurang untuk 3 hal yakni :
- Penekanan biaya produksi
- Pengendalian hama penyakit tanaman dengan tetap menjaga kelestarian alam
- Memanfaatkan potensi sumber daya alam di sekitar petani
Seiring dengan perkembangan berbagai penelitian, pestisida nabati (alami) sendiri terdiri dari banyak jenis tergantung kepada kebutuhan pengendalian hama/ penyakit dari berbagai komoditi. Selain itu dari sudut penggunaan dan sifat dari kandungan bahannya juga ada beberapa macam, diantaranya yang bersifat hanya sekedar repelen (penolakan terhadap hama) atau langsung bunuh.

Dalam sesi ini berdasarkan banyak sumber dan pengalaman yang saya dapatkan, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut. 

1.Pestisida nabati untuk pengendalian hama/serangga penghisap
Bahan :
-    Daun surian 5 ons
-    Daun sirsak 5 ons
-    Daun sirih ½ ikat
-    Daun cengkeh 5 ons
-    Serai harum 4 ons
-    Daun sicerek 4 ons
-    Daun mahoni 5 ons
-    Daun kulit manis 5 ons
-    Garam ½ ons
-    Urine kambing 4 l
Cara pembuatan :
-    Semua bahan ditumbuk satu persatu
-    Bahan yang sudah ditumbuk direndam dalam urine kambing
-   Rendaman bahan direbus dan diambil ekstraknya kemudian disaring dan hasil saringan ditambah garam
-    Kemudian disimpan dalam botol/dirigen dan diberi label yang berisi keterangan tentang ramuan dan tanggal pembuatan
Cara penggunaan
-    500 cc cairan diencerkan dengan air sebanyak 10 l diaduk dan kemudian dimasukkan ke dlaam tanki penyemprot
-     Penyemprotan pada tanaman dilakukan terutama pada pucuk kemudian bagian atas dan bawah daun
-   Aplikasi tanaman dilakukan sebanyak 2 kali dalam seminggu sampai dengan populasi kutu tidak membahayakan lagi 

 
2.Ramuan untuk pengendalian penyakit cendawan / jamur
Bahan :
-    Daun galinggang gajah 5 ons
-    Lengkuas 3 ons
-    Jahe 3 ons
-    Ekstrak titonia 3 l
-    Bawang putih 3 ons
      Cara:
-    Daun galinggang gajah ditumbuk halus
-    Lengkuas  dan jahe diparut halus
-    Ketiga bahan tersebut dimasukkan kedalam ekstrak titonia kemudian diperas dan disaring
-   Disimpan dalam botol/ derigen dan diberi label yang berisi keterangan tentang ramuan dan tanggal pembuatan.
      Cara penggunaan
-   500 cc cairan ramuan diencerkan dengan air sebanyak 10 l diaduk dan kemudian dimasukkan ke dalam tanki penyemprot
-   Penyemprotan pada tanaman dilakukan sebanyak 2 kali dalam seminggu sampai tidak membahayakan lagi
Penyemprotan dilakukan pada seluruh bagian tanaman.

Senin, 23 Januari 2012

BERTANI KREATIF DENGAN AGEN CERDAS DAN KUAT I : TRICHODERMA


by ICHSAN KURNIAWAN,SP
Trichoderma. Inilah salah satu agens cerdas yang membantu kita dalam bertani. Sebagai agens hayati "multifungsi", karena selain berperan untuk pengendalian penyakit tanaman juga berandil penting dalam mempercepat pelapukan pada proses pembuatan kompos. Trichoderma sendiri adalah dari "kalangan" jamur tanah bersifat saprofit. Jenis ini kita ditemukan pada hampir semua jenis tanah dan tersebar luas di mana saja di muka bumi ini. 
Ada dua jenis Trichoderma yang familiar dalam pengendalian penyakit pada tanaman serta pembuatan kompos yaitu Trichoderma harzianum dan Trichoderma koningii.  Trichoderma potensial digunakan untuk pengendalian penyakit tanaman terutama yang disebabkan oleh patogen tular  tanah (soil berne disease).  Trichoderma merupakan cendawan antagonis terhadap beberapa cendawan patogen, terutama terhadap cendawan tanah. Mekanisme antagonis adalah akibat persaingan makanan dan tempat tumbuh, pengrusakan dinding sel patogen  dan antibiosis. Trichoderma sendiri mempunyai kemampuan berkembang sangat cepat, sehingga menguasai areal tumbuh yakni tanah dimana lokasinya berada. Oleh karena itu cendawan lain tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (dalam istilah saya pribadi saya sebut "cendawan bagak" (bahasa Minang, atau "Cendawan pemberani" (dalam bahasa Indonesia). Hal ini disebabkan peran dari hifa Trichoderma ini dapat menembus dinding sel dengan bantuan enzim kitinase, sehingga dapat membunuh cendawan patogen atau mengacaukan aktifitas patogen. Selain itu antibiotik ”trichoderin yang dikeluarkannya dapat membunuh cendawan patogen.
Peran Trichoderma dalam aplikasinya
Beberapa peran cendawan ini dalam aplikasinya antara lain :
-Seed treatment (Perlakuan benih)
Dalam perlakuan benih/bibit dapat dilakukan dengan perendaman benih dalam larutan/suspensi Trichoderma yang sedarhananya dapat dilakukan dengan  memasukkan 2 sendok makan biakan massal Trichoderma dalam wadah berisi 200 ml air, kemudian masukkan benih dan biarkan selama 15 menit.
-Bahan campur organik
Trichoderma (media beras atau dedak) dapat dijadikan campuran bahan organik pupuk kandang, kemudian dijadikan sebagai pupuk tanaman. Untuk pengendalian penyakit layu, seperti oleh cendawan Fusarium sp. pada tanaman pisang dapat digunakan 250 gram biakan Trichoderma yang dicampur dengan 0,5 karung (±  25 kg) pupuk kandang, kemudian dimasukkan dalam lobang tanam. Pengendalian berbagai penyakit pada tanaman sayuran terutama yang disebabkan oleh patogen tular tanah juga dapat dilakukan dengan pencampuran Trichoderma untuk tiap karung pupuk kandang yang selanjutnya digunakan sebagai pupuk dasar tanaman. Teknis praktisnya dapat dilakukan dengan memasukkan biakan Trichoderma sebanyak 3 sendok makan kedalam wadah berisi 200 ml air bersih (1 gelas air mineral). Setelah diaduk dapat digunakan untuk perlakuan benih dengan merendam biji sayuran dalam suspensi tersebut.
-Bahan pembuatan kompos
Dalam pembuatan kompos 1 kg biakan massal Trichoderma dicampur dengan 1 karung pupuk kandang. Campuran ini ditebar tipis dan merata pada sisa tanaman yang akan dijadikan kompos. Jika pembuatan kompos dibuat dengan cara menumpuk sisa tanaman (seperti jerami) dengan volume ± 1 m3, maka tumpukan dibagi atas 4 lapisan.  

Trichoderma yang digunakan adalah 1 kg dicampur dengan 1 karung pupuk kandang. Campuran ini dibagi 4 dan tiap bagian ditebar pada tiap lapisan dan disiram. Jika kompos dibuat dengan cara langsung pada jerami yang ditebar aplikasi campuran Trichoderma pupuk kandang dapat ditebar langsung pada sisa tanaman yang akan dijadikan kompos. 

InsyaAllah dalam sesi berikutnya kita akan bahas teknis pengkoleksian dan perbanyakan biang dari trichoderma ini. Semoga postingan ini dapat bermanfaat untuk kita semua, terutama petani kreatif seluruh Indonesia.

Jumat, 20 Januari 2012

Go Green Must Go On...!!!


oleh :
ICHSAN KURNIAWAN,SP
URI SAMSURI
(Penyuluh Kabupaten Agam)

Go Green.. Kata ini makn populer, setelah isu Global Warming beberapa tahun terakhir, istilah ini menjadi selalu mengiang-ngiang..

Ini wujud keprihatinan kitta pada kondisi bumi saat ini. Semakin panas. Lalu apa sebenarnya yang terjadi..??? Singkatnya Global Warming atau yang kita kenal dengan istilah keren "pemanasan global" merupakan gejala peningkatan suhu rata-rata dari permukaan bumi yang kita diami. Faktor yang memicu gejala ini menurut penelitian yang telah dilakukan beberapa dekade terakhir oleh para ahli menunjukkan bahwa ternyata makin panasnya planet bumi terkait secara langsung dengan gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktifitas yang dilakukan penghuni bumi sendiri yakni manusia. Hal ini pula lah yang membuat perubahan signifikan dari gejala permusiman seperti misalnya musim panas menjadi lebih panjang.


Menurut Wikipedia sendiri efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.


Selanjutnya menurut Wikipedia pemanasan global menyebabkan beberapa hal yakni :

- Iklim mulai tidak stabil

- Peningkatan permukaan laut

- Suhu global cenderung meningkat

- Gangguan ekologis

- Dampak Sosial dan Politik

Oleh sebab itulah, saat ini muncul sitilah Go Green yang notabene merupakan wujud dari bentuk kesadaran kita sebagai penghuni bumi (baca : yang meminjam bumi kepada Tuhan sebagai tempat berdiam). Prinsip dari kegiatannya adalah :

1. Reduce atau yang bisa kita sebut dengan mengurangi adalah upaya kita dalam kehidupan dalam mengurangi barang-barang ataupun material yang biasa kita gunakan. Karena dengan meminimalisir hal tersebut akan dapat mengurangi sampah yang dihasilkannya.

2. Reuse atau memakai kembali yaitu dengan cara membeli barang-barang yang bisa dipakai kembali atau barang yang bukan sekali pakai.

3. Recycle yaitu mendaur ulang, kini sudah banyak cara untuk dapat memanfaatkan sampah menjadi barang daur ulang yang bernilai, dengan cara seperti ini kita dapat mengurangi sampah dan menjadikannya barang yang berharga.

4. Replace yang bisa kita artikan dengan mengganti yaitu berusaha mengganti barang-barang yang merusak lingkungan dengan barang-barang yang ramah lingkungan, sehingga barang-barang tersebut jika menjadi sampah dapat di degradasi secara alami.

Kabupaten Agam sendiri di bawah kepemimpinan Bupati Agam Indra Catri menyuarakan gerakan ini seperti yang dilansir The Green Team from Agam yakni Program Agam Go Green 2012. Menurut The Green Team from Agam walaupun sedikit terlambat dari pencanangannya, kita sebagai masyarakat di Kabupaten Agam, perlu bersyukur dengan ditelorkannya program ini, dan mari kita dukung program ini dengan peran dan kemampuan kita. mari kita bahas satu persatu tindakan Go Green atau pencegahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk penyelamatan khusunya Kabupaten Agam yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Bumi ini agar menjadi Hijau dan Segar.


1. Menanam Pohon.

Tindakan ini adalah tindakan pertama yang harus kita lakukan, karena tak mungkin Agam ini hijau, apabila kita tidak menanam pohon, pohon jangan diartikan pohon yang terdapat di hutan saja, pohon banyak macamnya dan dapat ditanam dimana saja. Terutama tentu di lingkungan kita.

2. Menyuarakan dan mendorong agar semua elemen masyarakat, kalangan Pemerintahan, swasta, baik organisasi maupun Individu untuk dapat mensukseskan Green Campaign. Kita semua harus menjadi penyuluh untuk Agam Go Green, karena tanpa di komponyekan mustahil program ini berjalan sukses keseluruh bidang kehidupan di Kabupaten Agam.

Kompanye ini dilakukan guna tercipta budaya yang baik dengan kebiasaan kita Anak Bangsa Indonesia. Salah satu materi yang kita sampaikan adalah “ Jangan Membuang Sampah Sembarangan”, “Buanglah Sampah Dengan Baik & Benar”, “yakni memisahkan sampah Organik dan Non Organik”.

3. Mengefisienkan pengunaan Energi Listrik sehari-hari dan Mengurangi penggunaan bahan bakar Minyak. Tentu agar masyarakat Kabupaten Agam mengurangi penggunaan minyak dengan menggunakan kendaraan umum untuk beraktifitas. Dari segi regulator, pemerintah harus nyediakan angkutan umum yang memadai dan nyaman bagi masyarakatnya.

4. Mengurangi penggunaan kertas, dengan cara mengantikannya secara Electronik atau Online atau dengan menggunakan kertas dari bahan Daur Ulang. Tindakan yang satu ini sangat mungkin kita lakukan, karena bukankah sudah ada Undang-Undang tentang transaksi Elektonik yang dijamin legalitasnya. Dari segi pemerintahkan kenapa kita harus memprint surat yang banyak, dan mengantarkan ke tempat orang yang diundang, kalau bisa kita lakukan dengan Email, dan aplikasi online lainnya. Untuk melakukan ini, Kabupaten Agam harus menjadi Kabupaten Cyber, menyedikan jaringan Internet di perkantoran pemerintahan.

5. Mengefisienkan dan mengurangi pengunaan Air yang tidak perlu dalam penggunaannya sehari-hari, serta menggalakkan Pembuatan Lubang Biofory khususnya di Perkotaan.

6. Melakukan Perubahan ke Gaya Hidup Hijau yang Ramah Lingkungan dengan Mengunakan dan membeli produk- produk yang ramah lingkungan pula / Green Products. Membiasakan memakan buah dan sayuran lokal. Memang sangat menggoda memakan buah apel amerika atau sayuran impor lainnya dari negara lain, namun mengimpor buah dan sayuran tersebut menghabiskan banyak energi dan membuang karbon dalam perjalanannya. Indonesia, kaya akan buah dan sayuran lokal yang tak kalah lezat dan bergizi dibandingkan buah impor. Berjalanlah ke pasar tradisonal dan temukan buah-buahan lokal yang asli 100% dari Indonesia. Love Indonesia

7. Mencegah terjadinya kebakaran hutan. Untuk diketahui bahwa sebagian besar dari sumbangan emisi carbon dari Indonesia adalah dari kebakaran hutan. Untuk itu perlu dilakukan pencegahan kebakaran. Terutama yang berbasis masyarakat. Karena apabila hanya mengandalkan petugas tidak akan maksimal.

Semoga bumi yang kita pinjam untuk kita diami ini dapat kita pelihara dengan baik. Agam, Go Green Must Go on..!!! Mari kita berjuang..

Link of Agam :

http://thegreenteamfromagam.wordpress.com/

Pemerintah Nagari Koto Gadang Perkuat Kelembagaan Tani

Rabu (4/2) Pemerintahan Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam melaksanakan pembinaan Kelompok Tani dan Perkumpulan Petani Pem...