Senin, 23 Januari 2012

BERTANI KREATIF DENGAN AGEN CERDAS DAN KUAT I : TRICHODERMA


by ICHSAN KURNIAWAN,SP
Trichoderma. Inilah salah satu agens cerdas yang membantu kita dalam bertani. Sebagai agens hayati "multifungsi", karena selain berperan untuk pengendalian penyakit tanaman juga berandil penting dalam mempercepat pelapukan pada proses pembuatan kompos. Trichoderma sendiri adalah dari "kalangan" jamur tanah bersifat saprofit. Jenis ini kita ditemukan pada hampir semua jenis tanah dan tersebar luas di mana saja di muka bumi ini. 
Ada dua jenis Trichoderma yang familiar dalam pengendalian penyakit pada tanaman serta pembuatan kompos yaitu Trichoderma harzianum dan Trichoderma koningii.  Trichoderma potensial digunakan untuk pengendalian penyakit tanaman terutama yang disebabkan oleh patogen tular  tanah (soil berne disease).  Trichoderma merupakan cendawan antagonis terhadap beberapa cendawan patogen, terutama terhadap cendawan tanah. Mekanisme antagonis adalah akibat persaingan makanan dan tempat tumbuh, pengrusakan dinding sel patogen  dan antibiosis. Trichoderma sendiri mempunyai kemampuan berkembang sangat cepat, sehingga menguasai areal tumbuh yakni tanah dimana lokasinya berada. Oleh karena itu cendawan lain tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (dalam istilah saya pribadi saya sebut "cendawan bagak" (bahasa Minang, atau "Cendawan pemberani" (dalam bahasa Indonesia). Hal ini disebabkan peran dari hifa Trichoderma ini dapat menembus dinding sel dengan bantuan enzim kitinase, sehingga dapat membunuh cendawan patogen atau mengacaukan aktifitas patogen. Selain itu antibiotik ”trichoderin” yang dikeluarkannya dapat membunuh cendawan patogen.
Peran Trichoderma dalam aplikasinya
Beberapa peran cendawan ini dalam aplikasinya antara lain :
-Seed treatment (Perlakuan benih)
Dalam perlakuan benih/bibit dapat dilakukan dengan perendaman benih dalam larutan/suspensi Trichoderma yang sedarhananya dapat dilakukan dengan  memasukkan 2 sendok makan biakan massal Trichoderma dalam wadah berisi 200 ml air, kemudian masukkan benih dan biarkan selama 15 menit.
-Bahan campur organik
Trichoderma (media beras atau dedak) dapat dijadikan campuran bahan organik pupuk kandang, kemudian dijadikan sebagai pupuk tanaman. Untuk pengendalian penyakit layu, seperti oleh cendawan Fusarium sp. pada tanaman pisang dapat digunakan 250 gram biakan Trichoderma yang dicampur dengan 0,5 karung (±  25 kg) pupuk kandang, kemudian dimasukkan dalam lobang tanam. Pengendalian berbagai penyakit pada tanaman sayuran terutama yang disebabkan oleh patogen tular tanah juga dapat dilakukan dengan pencampuran Trichoderma untuk tiap karung pupuk kandang yang selanjutnya digunakan sebagai pupuk dasar tanaman. Teknis praktisnya dapat dilakukan dengan memasukkan biakan Trichoderma sebanyak 3 sendok makan kedalam wadah berisi 200 ml air bersih (1 gelas air mineral). Setelah diaduk dapat digunakan untuk perlakuan benih dengan merendam biji sayuran dalam suspensi tersebut.
-Bahan pembuatan kompos
Dalam pembuatan kompos 1 kg biakan massal Trichoderma dicampur dengan 1 karung pupuk kandang. Campuran ini ditebar tipis dan merata pada sisa tanaman yang akan dijadikan kompos. Jika pembuatan kompos dibuat dengan cara menumpuk sisa tanaman (seperti jerami) dengan volume ± 1 m3, maka tumpukan dibagi atas 4 lapisan.  

Trichoderma yang digunakan adalah 1 kg dicampur dengan 1 karung pupuk kandang. Campuran ini dibagi 4 dan tiap bagian ditebar pada tiap lapisan dan disiram. Jika kompos dibuat dengan cara langsung pada jerami yang ditebar aplikasi campuran Trichoderma pupuk kandang dapat ditebar langsung pada sisa tanaman yang akan dijadikan kompos. 

InsyaAllah dalam sesi berikutnya kita akan bahas teknis pengkoleksian dan perbanyakan biang dari trichoderma ini. Semoga postingan ini dapat bermanfaat untuk kita semua, terutama petani kreatif seluruh Indonesia.

Jumat, 20 Januari 2012

Go Green Must Go On...!!!


oleh :
ICHSAN KURNIAWAN,SP
URI SAMSURI
(Penyuluh Kabupaten Agam)

Go Green.. Kata ini makn populer, setelah isu Global Warming beberapa tahun terakhir, istilah ini menjadi selalu mengiang-ngiang..

Ini wujud keprihatinan kitta pada kondisi bumi saat ini. Semakin panas. Lalu apa sebenarnya yang terjadi..??? Singkatnya Global Warming atau yang kita kenal dengan istilah keren "pemanasan global" merupakan gejala peningkatan suhu rata-rata dari permukaan bumi yang kita diami. Faktor yang memicu gejala ini menurut penelitian yang telah dilakukan beberapa dekade terakhir oleh para ahli menunjukkan bahwa ternyata makin panasnya planet bumi terkait secara langsung dengan gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktifitas yang dilakukan penghuni bumi sendiri yakni manusia. Hal ini pula lah yang membuat perubahan signifikan dari gejala permusiman seperti misalnya musim panas menjadi lebih panjang.


Menurut Wikipedia sendiri efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.


Selanjutnya menurut Wikipedia pemanasan global menyebabkan beberapa hal yakni :

- Iklim mulai tidak stabil

- Peningkatan permukaan laut

- Suhu global cenderung meningkat

- Gangguan ekologis

- Dampak Sosial dan Politik

Oleh sebab itulah, saat ini muncul sitilah Go Green yang notabene merupakan wujud dari bentuk kesadaran kita sebagai penghuni bumi (baca : yang meminjam bumi kepada Tuhan sebagai tempat berdiam). Prinsip dari kegiatannya adalah :

1. Reduce atau yang bisa kita sebut dengan mengurangi adalah upaya kita dalam kehidupan dalam mengurangi barang-barang ataupun material yang biasa kita gunakan. Karena dengan meminimalisir hal tersebut akan dapat mengurangi sampah yang dihasilkannya.

2. Reuse atau memakai kembali yaitu dengan cara membeli barang-barang yang bisa dipakai kembali atau barang yang bukan sekali pakai.

3. Recycle yaitu mendaur ulang, kini sudah banyak cara untuk dapat memanfaatkan sampah menjadi barang daur ulang yang bernilai, dengan cara seperti ini kita dapat mengurangi sampah dan menjadikannya barang yang berharga.

4. Replace yang bisa kita artikan dengan mengganti yaitu berusaha mengganti barang-barang yang merusak lingkungan dengan barang-barang yang ramah lingkungan, sehingga barang-barang tersebut jika menjadi sampah dapat di degradasi secara alami.

Kabupaten Agam sendiri di bawah kepemimpinan Bupati Agam Indra Catri menyuarakan gerakan ini seperti yang dilansir The Green Team from Agam yakni Program Agam Go Green 2012. Menurut The Green Team from Agam walaupun sedikit terlambat dari pencanangannya, kita sebagai masyarakat di Kabupaten Agam, perlu bersyukur dengan ditelorkannya program ini, dan mari kita dukung program ini dengan peran dan kemampuan kita. mari kita bahas satu persatu tindakan Go Green atau pencegahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk penyelamatan khusunya Kabupaten Agam yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Bumi ini agar menjadi Hijau dan Segar.


1. Menanam Pohon.

Tindakan ini adalah tindakan pertama yang harus kita lakukan, karena tak mungkin Agam ini hijau, apabila kita tidak menanam pohon, pohon jangan diartikan pohon yang terdapat di hutan saja, pohon banyak macamnya dan dapat ditanam dimana saja. Terutama tentu di lingkungan kita.

2. Menyuarakan dan mendorong agar semua elemen masyarakat, kalangan Pemerintahan, swasta, baik organisasi maupun Individu untuk dapat mensukseskan Green Campaign. Kita semua harus menjadi penyuluh untuk Agam Go Green, karena tanpa di komponyekan mustahil program ini berjalan sukses keseluruh bidang kehidupan di Kabupaten Agam.

Kompanye ini dilakukan guna tercipta budaya yang baik dengan kebiasaan kita Anak Bangsa Indonesia. Salah satu materi yang kita sampaikan adalah “ Jangan Membuang Sampah Sembarangan”, “Buanglah Sampah Dengan Baik & Benar”, “yakni memisahkan sampah Organik dan Non Organik”.

3. Mengefisienkan pengunaan Energi Listrik sehari-hari dan Mengurangi penggunaan bahan bakar Minyak. Tentu agar masyarakat Kabupaten Agam mengurangi penggunaan minyak dengan menggunakan kendaraan umum untuk beraktifitas. Dari segi regulator, pemerintah harus nyediakan angkutan umum yang memadai dan nyaman bagi masyarakatnya.

4. Mengurangi penggunaan kertas, dengan cara mengantikannya secara Electronik atau Online atau dengan menggunakan kertas dari bahan Daur Ulang. Tindakan yang satu ini sangat mungkin kita lakukan, karena bukankah sudah ada Undang-Undang tentang transaksi Elektonik yang dijamin legalitasnya. Dari segi pemerintahkan kenapa kita harus memprint surat yang banyak, dan mengantarkan ke tempat orang yang diundang, kalau bisa kita lakukan dengan Email, dan aplikasi online lainnya. Untuk melakukan ini, Kabupaten Agam harus menjadi Kabupaten Cyber, menyedikan jaringan Internet di perkantoran pemerintahan.

5. Mengefisienkan dan mengurangi pengunaan Air yang tidak perlu dalam penggunaannya sehari-hari, serta menggalakkan Pembuatan Lubang Biofory khususnya di Perkotaan.

6. Melakukan Perubahan ke Gaya Hidup Hijau yang Ramah Lingkungan dengan Mengunakan dan membeli produk- produk yang ramah lingkungan pula / Green Products. Membiasakan memakan buah dan sayuran lokal. Memang sangat menggoda memakan buah apel amerika atau sayuran impor lainnya dari negara lain, namun mengimpor buah dan sayuran tersebut menghabiskan banyak energi dan membuang karbon dalam perjalanannya. Indonesia, kaya akan buah dan sayuran lokal yang tak kalah lezat dan bergizi dibandingkan buah impor. Berjalanlah ke pasar tradisonal dan temukan buah-buahan lokal yang asli 100% dari Indonesia. Love Indonesia

7. Mencegah terjadinya kebakaran hutan. Untuk diketahui bahwa sebagian besar dari sumbangan emisi carbon dari Indonesia adalah dari kebakaran hutan. Untuk itu perlu dilakukan pencegahan kebakaran. Terutama yang berbasis masyarakat. Karena apabila hanya mengandalkan petugas tidak akan maksimal.

Semoga bumi yang kita pinjam untuk kita diami ini dapat kita pelihara dengan baik. Agam, Go Green Must Go on..!!! Mari kita berjuang..

Link of Agam :

http://thegreenteamfromagam.wordpress.com/

Rabu, 18 Januari 2012

SIMBIOSIS MUTUALISME PETANI DAN MIKROBA


by : ICHSAN KURNIAWAN,SP  

Pola pertanian konvensional yang serba instan memang mulai terasa kian menimbulkan ragam masalah. Pencemaran lingkungan sekitar area pertanaman sebagai akibat dari pemakaian pestisida dan pupuk sintetik pun mulai tampak. Belum lagi kondisi tanah pertanian dimana sistem ini diterapkan. Sejak beberapa tahun silam pemakaiannya, efek perubahan tingkat kesuburan tanah pertanian semakin hari kian terlihat. Tanah menjadi semakin keras.
Hal lain yang mulai kita sadari yakni akumulasi racun yang hampir setiap hari singgah di meja makan rumah kita. Berbagai penelitian mengungkapkan residu bahan kimia berbahaya dari pemakaian pestisida sintetis terakumulasi di dalam tubuh manusia. Endapan yang sedikit demi sedikit terus bertambah tersebut akan mencapai ambang batas dimana melahirkan masalah serius pada kesehatan. Residu tersebut bersifat toksik dan menimbulkan jenis-jenis penyakit yang mampu membunuh semisal kanker 

Illustrasi. Dok. Ichsan Kurniawan,SP- Nutrisi dan Mikroba Kelompok Mubarakah
Tiga tahun belakangan pertanian organik bisa dibilang menjadi sebuah trend. Produk dari pola pertanian ramah lingkungan ini semakin mendapat tempat. Harga hasil pertaniannya pun bisa menjadi dua sampai tiga kali lipat dibanding produk usaha tani konvensional.
Serta merta program pemerintah pun mulai diarahkan ke sana. Dinas atau instansi mencanangkan visi dan misi yang merancangkan program atau kegiatan berkaitan dengan pengembangan pertanian organik yang dituding sangat membela petani. Namun terlepas dari hal tersebut, pertanian organik memang mengandung banyak nilai positif dan baik.
Bagaimana tidak, petani diajarkan untuk sadar dan konsisten menjaga moral dalam bertani. Pemanfaatan potensi serta sumber daya alam pun sekaligus menjadi solusi dalam mengatasi berbagai masalah sarana produksi (saprodi) sebagai misal kelangkaan pupuk, harga pupuk maupun pestisida yang kian tak terjangkau.
Selain itu pertanian organik dipapah menuju kemandirian petani dalam bersuaha tani. Menuntut jiwa fair dalam beragribisnis serta merancang pola pikir sumber daya manusia (SDM) yang kreatif, berilmu-pengetahuan dan teknologi dengan kemandiriannya tersebut.
Tentu saja. Bukankah pertanian organik menuntut petani dalam memadukan kegiatan pertanian dengan elemen lain seperti peternakan. Selanjutnya mau tak mau, petani dengan dibekali kemampuan dasar yang diberikan melalui penyuluhan, akan memahami kaidah pertanian organik. Prinsip-prinsip dasar tersebut berilmu-pengetahuan dan merangsang pola pikir masyarakat tani. Tak menutup kemungkinan juga berawal dari hal tersebut, akan melahirkan petani-petani peneliti. Dengan mengetahui ilmu dasar seperti prinsip mikroba, kandungan unsur hara, kebutuhan tanah dan lainnya, maka lambat laun- selama petani mau bertahan untuk konsisten di pertanian organik, pengetahuan tersebut akan berkembang terus dan terus.
Secara garis besar harapan pertanian organik adalah kelestarian lingkungan yang bersahaja. Hal ini akan tergambar dari terjalinnya hubungan baik (simbiosis mutualisme = saling menguntungkan) antara petani dengan lingkungan termasuk mikroorganisme.

TEKNIS PENGKOLEKSIAN
Berikut adalah beberapa tahapan pemanfaatan jasa mikroba dalam usaha tani. Pengkoleksian mikroba yang dikenal dengan MOL dilakukan dalam membantu penyuburan tanah yang berarti juga kita mengkondisikan mikroba pada habitat yang benar tanpa membunuhnya dengan pemakaian sarana produksi berbahan kimia berbahaya. Pengkoleksian ini dengan tujuan dapat dimanfaatkan dalam kegiatan usaha tani berbagai komoditi.

Mikroba I
-          Beras dimasak dengan kondisi akhir menjadi nasi yang agak keras atau belum menjadi nasi 1 kilogram
-          Sesudah langkah pertama kemudian nasi didinginkan
-          Masukkan ke dalam wadah dapat berupa ruas bambu yang di belah dan kemudian di ikat pada kedua sisinya
-          Simpan di bawah pohon bambu selam ± 3 – 4 hari
-          Pindahkan nasi dari ruas bambu ke pot tanah atau stoples

Mikroba II
-          Kedalam pot tanah atau stoples yang telah diisi dengan mikroba I dengan perbandingan 1 : 1 ( 1kg mikroba : 1 kg gula merah (saka))
-          Tutup pot tanah atau stoples dengan kertas yang berpori dan di ikat dengan karet.
-          Lakukan fermentasi di tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung  ± 5 – 7 hari
-          Sudah bisa dipakai untuk kompos dan campuran pakan ternak

Mikroba III
-          Encerkan mikroba II dengan air 1000 x ( 1 cc mikroba 2 dua ditambahkan 1 ltr air).
-          Basahi dedak halus dengan mikroba 2 (dua) yang telah di encerkan dengan air dengan kebasahan 65 – 70 % dengan indikasi apabila di kepal akan bulat dan dijatuhkan akan pecah.
-          Fermentasi di atas lantai tanah dengan ketebalan ±10 – 15 cm.
-          Tutup dengan jerami atau daun-daunan, kemudian diatasnya tutup dengan plastik untuk menghindarkan dari air hujan selama ± 7 hari, di aduk 2 – 3 kali selama proses fermentasi.
-          Sudah bisa di pakai untuk pengomposan.
Mikroba IV
-          Tambahkan tanah lahan dan tanah gunung atau tanah rumpun bambu ke dalam mikroba III dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (satu bagian mikroba III ditambah tanah gunung satu bagian dan ditambah tanah dari lahan satu bagian kemudian diaduk rata)
-          Ditebar dan didatarkan di atas tanah dengan ketebalan 15 – 20 cm.
-          Tututp dengan jerami, kemudian tutup dengan plastik agar terhindar dari air hujan.
-          Biarkan, fermentasi selama ±7 hari.
-          Baru bisa diaplikasikan ke lahan, sebaiknya ditambahkan abu dapur 1/3 bagian dengan dosis 1,5 ons/m2.
Mikroba V
-          Tambahkan pupuk kandang yang telah kering ke dalam mikroba 4 (empat) dengan perbandingan 1 : 1 (satu bagian mikroba IV ditambahkan satu bagian pupuk kandang)
-          Kemudian di aduk rata dan di gelar di atas tanah ketebalan 15 – 20 cm.
-          Tutup dengan jerami atau daun-daunan, kemudian ditutup dengan plastik, untuk menghindari dari air hujan.
-          Fermentasi selama ±7 hari.
-          Mikroba 5 (lima) siap untuk dipakai di lahan dengan dosis 1,5 ons/m2.

Kamis, 05 Januari 2012

Pertanian Terpadu dan Warisan Kearifan Lokal

by : ICHSAN KURNIAWAN,SP


Nan lereng ditanami tabu

Nan tunggang ditanami kayu

Nan gambua dijadikan ladang

Nan bancah dijadikan sawah

Nan rawang jadikan tampaik paranangan itiak

Nan gauang jadikan ka tabek ikan

Nan padang jadikan pagubaloan taranak

Begitulah tata penggunaan lahan menurut adat Minangkabau. Terdapat kompleksitas dalam adagium ini.
Dan lihat baris kedua. Nan tunggang ditanami kayu jika di Indonesiakan yakni “yang curam atau terjal ditanami kayu. Ini ranah kehutanan terutama kaitannya dengan fungsi dan peranan tegaknya tanaman kayu pada lahan curam atau terjal.
Adapun yang menjadi esensi dari pesan tersebut yakni pemeliharaan hutan dan penanaman tanaman dalam rangka konservasi lahan menimbang sebagian besar wilayah Kabupaten Agam terdiri dari wilayah bertopografi perbukitan dengan tingkat kemiringan lahan yang rawan erosi.
Beberapa sebab dari terjadinya bencana tersebut masih berawal dari kita. Tingkat kesadaran akan pemanfaatan lahan dengan memenuhi kaidah konservasi menjadi alasan utama saat ini. Lihat saja di beberapa wilayah, pembukaan lahan pada tingkat kemiringan rawan tidak disertai dengan penanaman tanaman pemegang air. Selain itu pemanfaatannya terkadang tidak membelah kontur sehingga dengan mudah saat hujan datang malah memicu ancaman serius bagi wilayah di sekitarnya.
Masyarakat cenderung berpikir bagaimana pemnfaatan lahan pada tingkat kemiringan yang rawan tersebut hanya untuk meraih keuntungan sesaat (jangka pendek) tanpa memperhatikan efek yang akan ditimbulkan di jangka panjang. Masyarakat pun ragu untuk mengisi lahan mereka dengan tanaman kayu-kayuan sebagai rehabilitasi hutan ketimbang menanam tanaman semisal komoditi hortikultura dengan dalih penanaman tanaman kehutanan walaupun produktif membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dapat menikmati hasilnya sementara tanaman hortikultura punya nilai imbal dalam waktu.
Sebenarnya usaha untuk mengembalikan fungsi dan “membumikan” pelestarian hutan di tengah masyarakat ini dilakukan secara bersama-sama pada seluruh lini mulai dari pengambil kebijakan, seluruh stakeholders baik pemerintah maupun kelembagaan lain hingga masyarakat dengan penuh kesadaran.
Kambali ka Nagari yang sejak beberapa tahun silam dicanangkan sebenarnya diharapkan menjadi momentum penting dalam pengelolaan parak dan kawasan hutan. Sebagai kepala pemerintahan di Nagari, Walinagari mempunyai wewenang dan kewajiban dalam mengawasi hal ini.
Selain itu kelembagaan lain seperti Karapatan Adat Nagari, Lembaga Syarak, Parik Paga dan lainnya juga mempunyai peranan penting yakni “membicarakan” kembali tuntutan adat mengenai penggunaan lahan sesuai dengan amanah yang dititipkan leluhur kita. Seperti kita ketahui menurut adat Minangkabau, penggunaan lahan sendiri telah diatur dengan munculnya petuah diantaranya terkait dengan pertanian, perkebunan serta kehutanan yakni ”nan lereng ditanami tabu, nan tunggang ditanami kayu, nan gambua dijadikan ladang dan nan bancah dijadikan sawah..”
Selain hal tersebut, pelestarian kawasan hutan juga berarti menginvestasikan sesuatu yang kelak dapat dipanen anak cucu kita. Dan dengan merujuk kembali aturan adat, dengan bersama “sairiang sajalan” dan saling menumbuhkan kesadaran masyarakat, akhirnya diharapkan pelestarian hutan dapat diwujudkan demi keselamatan jiwa kita dari masa ke masa karena “menyelamatkan hutan berarti menyelamatkan jiwa kita”.   
(Penulis adalah Penyuluh Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam, Sumatera Barat)

URINE SEBAGAI SUMBER HARA DALAM PRODUKSI BAWANG MERAH


Oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP

Bawang merah adalah jenis sayuran yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia, terutama sebagai bumbu penyedap masakan dan sebagai obat-obatan untuk penyakit tertentu sehingga bawang merah dikenal sebagai tanaman rempah dan obat. Tanaman ini termasuk komoditas unggulan dalam Rencana Strategis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Tanaman Perkebunan dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi.
Di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Agam, komoditi ini juga termasuk menjadi item andalan yang dikembangkan, karena selalu dibutuhkan pasar. Dan tentunya nilai ekonomis komoditi ini membuatnya menjadi salah satu budidaya hortikultura yang “menjanjikan” setelah cabe. Dan juga tak jarang pada sebagian petani, penanaman komoditi ini bergandengan dengan cabe, akan memberikan keuntungan berlipat. Hal ini juga tentunya dengan menyesuaikan dengan pola tanam yang tepat sehingga dapat menempati posisi harga yang baik saat panen karena harga pasar sayuran sangat sangat fluktuatif.
Krisis ekonomi yang berdampak hingga saat ini telah menyisakan masalah pada sektor pertanian karena ketergantungan petani kepada pupuk dan pestisida berbahan kimia yang harganya semakin mahal. Sementara di satu sisi, budaya bertani kita yang terbiasa dengan pola instant merupakan masalah tersendiri dalam menerapkan sistem pertanian berkelanjutan termasuk komoditi sayuran ini. Kebiasaan petani menggunakan pupuk dan pestisida yang tidak menurut rekomendasi, justru menimbulkan dampak negatif terhadap tanaman, lingkungan dan rusaknya habitat pertanian itu sendiri. Akibatnya seiring waktu keproduktifan lahan juga semakin berkurang.

Penelitian tentang Limbah Ternak
Di kabupaten Agam sendiri, pengembangan kawasan organik yang melibatkan pemakaian bahan yang salah satunya limbah ternak sebagai solusi permasalahan kompleks pertanian dewasa ini juga dilakukan. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Agam di tahun 2011 merencanakan 13 kelompok tani di kecamatan sebagai pengembang. Dengan melibatkan penyuluh dari BP4K2P Kabupaten Agam sebagai pentransfer teknologi, kegiatan ini diharapkan bisa berkembang dan pemahaman mengenai teknologi efektif dan efisien bisa diterapkan sebagai.
Berbagai penelitian sebagai bahan rujukan teknologi mengenai hal ini sebenarnya telah lama dilakukan, baik pada skala besar (balai penelitian) maupun sederhana  (lapang) dilakukan sebagai alternatif terutama untuk komoditi-komoditi strategis termasuk bawang merah ini. Pemanfaatan pupuk organik dalam mensubstitusi pupuk sintetis ternyata memiliki berbagai keuntungan terutama yang berasal dari bahan alami. Selain rendahnya efek samping pemanfaatan bahan organik, biaya produksi juga dapat ditekan.
Limbah ternak sebagai salah satu bahan organik yang bermanfaat, banyak mengandung unsur hara makro seperti Nitrogen (N), Fospat (P2O5), Kalium (K2O) dan Air (H2O). Meskipun jumlahnya tidak besar, dalam limbah ini juga terkandung unsur hara mikro diantaranya Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Tembaga (Cu), Mangan (Mn), dan Boron (Bo). Kandungan berbagai unsur pada bahan organik membuatnya berpotensi dalam menggantikan posisi pupuk anorganik.
Penelitian yang dilakukan Adijaya, Yasa dan Guntoro (2006) menyatakan penggunaan pupuk kandang padat dan cair pada tanaman mampu memberikan produksi yang tidak berbeda dengan penggunaan pupuk  anorganik. Pemupukan organik kompos dan urine sapi pada mampu meningkatkan produksi sebesar 92,26% dan 90,21%, sedangkan pemupukan dengan urea memberikan peningkatan produksi sebesar 93,24%.  Sementara itu pada bawang merah,  pemberian urine kambing mampu menekan penggunaan pupuk kimia. Tingkat produksi hasil penelitian ini bahkan lebih tinggi ± 5% dibandingkan penggunaan pupuk kimia anjuran.
Analisa kandungan unsur yang telah dilakukan BPTPH Provinsi Sumatera Barat, urine kambing memberikan kontribusi unsur N sebesar 37,1 %. Apabila dilakukan konversi per ton bahan, maka urin kambing mengandung 371 kg N. Hal ini berarti setara dengan 824,4 kg Urea. Pemberian urin kambing dosis 4000 liter/ha dengan konsentrasi 33% mampu menekan penggunaan pupuk kimia sampai 50% dengan tingkat produksi yang lebih tinggi ± 5% dibandingkan penggunaan pupuk kimia anjuran 



Hasil Pengujian Manfaat Urine
Merujuk pada penemuan pemanfaatan urine, pengujian lapangan yang pernah dilakukan penulis pada lahan UPT BP4K2P Kecamatan IV Koto beberapa waktu yang lalu menunjukkan bahwa tingkat peranan pemakaian bahan organik khususnya urine kambing mampu mensubstitusi atau menggantikan pemakaian pupuk berbahan sintetis seperti urea.
Pengujian sendiri dilakukan dengan melibatkan tiga jenis bahan organik yakni urine kambing, sapi dan ekstrak bunga pahit (Tithonia sp.) dan penggunaan pupuk sintetis berupa teknologi konvensional (paket urea, TSP dan KCl rekomendasi) sebagai pembanding. Tujuan penelitian lapang ini sendiri untuk mengujikan seberapa besar peran penggunaan bahan organik dalam budidaya komoditi hortikultura khususnya bawang merah. 
Pengujian penggunaan bahan organik menunjukkan bahwa bobot umbi kering per plot dan per Ha bawang merah berkisar antara 2006,66 – 2316,66 g per plot dan kisaran 6,87 – 7,23 ton/Ha. Pemupukan dengan urine kambing dengan berat bawang 2233,33 g/ plot atau 7,23 ton/ Ha, dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal ini diduga karena kombinasi pupuk organik urine kambing mengandung unsur yang lebih sesuai untuk meningkatkan bobot umbi bawang. Semakin berat umbi yang dihasilkan, maka semakin banyak pula unsur hara yang dimanfaatkan untuk pertumbuhan umbi.
Hampir semua tolok ukur pengamatan menunjukkan hasil nyata dari pemberian bahan organik ini mulai dari Hari Muncul Tunas (HMT), jumlah batang, tinggi tanaman, jumlah siung, ketahanan terhadap hawar daun serta produksi itu sendiri.
Terlepas dari dampak jangka panjang serta harga pupuk sintetis itu sendiri, pemberian berbahan kimia buatan ini memang memberikan hasil cukup tinggi pada beberapa tolok ukur khususnya pada pengujian ini. Namun hasil-hasil signifikan tetap dipimpin dan diperlihatkan oleh pemakaian urine kambing.
Pada tinggi tanaman saja pemberian pupuk sintetis saja tertinggal dibanding semua bahan organik yakni rata-rata 38,66 cm, sedangkan urine kambing 55,66 cm. Tolok ukur lain yang menentukan yakni jumlah siung per rumpun. Untuk pemakaian bahan organik, dipimpin urine kambing dengan jumlah rata-rata 11 siung, sementara bahan lain 7,33 siung untuk urine sapi dan tithonia serta angka 8,00 rata-rata yang ditunjukkan pemakaian paket urea,TSP dan KCl.
Selain itu, pengaruh terhadap perlkuan bahan organik ini juga ditunjukkan ketahanan tanaman terhadap penyakit hawar daun bawang. Tanaman yang diberi perlakuan urine kambing terserang hanya sebesar 4,00 %, perlakuan urine sapi terserang 6,80 %, tithonia 8,17 % dan intensitas tertinggi terletak pada paket konvensional (urea, TSP, KCl dengan angka 9,67 %.
Pengaruh lain yang signifikan dari pemakaian bahan organik yakni aroma khas bawang yang lebih gurih dan berbeda dengan pemakaian bahan sintetis yang cenderung memberikan aroma yang cenderung datar. Hal ini disimpulkan dari beberapa responden yang diujikan tanpa memberitahukan jenis perlakuan masing-masing umbi yang dicobakan.

Tabel  Bobot umbi kering/ Ha akibat pengaruh pupuk organik dan  sintetis.


Bobot umbi kering per Ha (ton)
Rata-rata
Pupuk organik
A
B

Urine kambing
7,08 
7,23
7,16 A
Urine sapi
6,71
6,69
6,70 B
Ekstrak Tithonia
6,30
6,61
6,46 B
Urea, TSP dan KCl
6,56
6,87
6,72 B
Rata-rata
6,66 a
6,85 a


Sumber : Ichsan Kurniawan (2010)- “ Pengaruh Pupuk Organik dan Pseudomonad fluorescens terhadap Pertumbuhan, Hasil dan Ketahanan terhadap Hawar Daun Bakteri pada Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)”
 

MELIRIK POTENSI AMPAS TEBU SEBAGAI BAHAN PAKAN

Oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP


Tebu merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai nilai ekonomis yang baik dalam pengembangannya. Di kabupaten Agam, Sumatera Barat sendiri, beberapa daerah dikenal produktif sebagai sentra dalam budidaya tebu. Sebut saja Lawang Kecamatan Matua, Bukik Batabuah Kecamatan Canduang, Sungai Landia Kecamatan IV Koto dan beberapa wilayah lain. Walaupun khusus kabupaten kita lebih cenderung pada produk hasilan berupa saka (gula merah), prospek pengembangannya justru makin terbuka lebar.
Bahkan baru-baru ini Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Agam membuka kesempatan khusus untuk pengembangan komoditi tebu ini. Pihak Dishutbun mengharapkan adanya penambahan luas tanaman tebu menjadi setidaknya + 30.000 Ha  untuk beberapa waktu ke depan menimbang komoditi ini memiliki nilai ekonomis yang dapat mendorong pertumbuhan perekonomian daerah khususnya daerah sentra. Bahkan tak tanggung-tanggung, rencana pembangunan pabrik pengolah yang menampung hasil dari luasan yang ditargetkan menjadi muara dari rencana ini. 


Dok. Ampas Tebu Hasil Pengolahan di Kelompok Batu Gadang Sungai Landia
Namun diluar daripada itu, beberapa alternatif lain yang membuka prospek cerah bagi petani tebu dan membuat pembudidayaan tebu semakin bergairah yakni selain memasarkan dalam bentuk produk olahan gula merah, tebu dalam bentuk batangan pun saat ini mempunyai pasar tersendiri yang membuat pemenuhan pemintaannya malah semakin kewalahan akibat keterbatasan luasan lahan.
Pada beberapa wilayah sentra atau pengembang komoditi tebu dengan tingkat populasi ternak yang tinggi, selain meraup rupiah dari beragam hasil tebu termausk olahan seperti gula merah (saka), ampas tebu sendiri bisa dimanfaatkan menjadi banyak hal berguna, bahkan bernilai ekonomis. Selain sebagai sumber energi bahan bakar, ampas dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dan bila skala besar, hal ini juga bahkan membuka satu lagi peluang bisnis dari komoditi tebu yakni pakan ternak seperti halnya kompos.  
Di daerah-daerah sentra budidaya tebu dan pabrik gula, ratusan kilo bahkan tontan ampas hanya menjadi sampah yang jarang dimanfaatkan. Begitu juga di daerah kita. Walaupun produk olahan yang dihasilkan sedikit berbeda, namun sampah dari olahan tersebut tetap sama.
Saat ini belum banyak peternak menggunakan ampas tebu sebagai bahan pakan, hal ini mungkin karena ampas tebu memiliki serat kasar dengan lignin yang dikandung tergolong sangat tinggi yakni sekitar 19 – 20 % dengan kadar protein kasar rendah sekitar 26 - 28%. Akan tetapi limbah ini sangat berpotensi sebagai bahan pakan ternak. Melalui fermentasi menggunakan probiotik (mikroba), kualitas dan tingkat kecernaan ampas tebu akan diperbaiki sehingga dapat digunakan. Tahapan fermentasi ampas tebu sama dengan fermentasi jerami. Namun penambahan beberapa bahan untuk melengkapi kebutuhan mineral yang dibutuhkan dalam bahan pakan tersebut perlu dilakukan.
Ampas tebu sendiri mengandung beberapa bahan pokok antara lain air, gula, serat dan mikroba. Berdasarkan bahan kering, ampas sendiri terdiri dari 47 % karbon, 6,5 % hidrogen, 44 % oksigen dan abu dengan tingkat potensi yang cukup baik sehingga saat ini banyak diteliti dalam rangka mencari sumber energi alternatif.
Dalam pemanfaatannya sebagai bahan pembuat pakan ternak, sumber bahan pokok di atas berperan penting sehingga mempunyai peran dalam memberikan asupan nutrisi terhadap ternak. Potensi ampas tebu ini cukup tinggi menimbang tebu sendiri mengandung gula yang merupakan sumber nutrisi yang baik. Untuk skala sederhana, bahan dan dosis yang perlu dicampurkan dalam fermentasi ampas tebu ini antara lain untuk 1 ton ampas tebu diperlukan 1 kg mikroba/ starbio, 1 kg pupuk urea serta masing-masing 200 gr untuk pupuk TSP dan ZA. Penambahan bahan-bahan tersebut mempunyai peran tersendiri dalam pembuatan pakan ternak menggunakan ampas tebu. Mikroba/ starbio sudah barang tentu diberdayakan untuk mengurai lignin dan selulosa serat kasar sehingga memiliki tingkat kecernaan yang memenuhi syarat untuk ternak. Sementara urea sendiri diperlukan untuk meningkatkan kadar  protein ampas tebu dan sumber nitrogen yang berperan menstimulir aktivitas mikroba dalam proses penguraian. Dan untuk pupuk TSP tetap sebagai sumber phosphor serta ZA sebagai sumber sulfurnya.

Selasa, 27 Desember 2011

Pertanian Organik I, Petani Kreatif dan Logika Situasi

oleh : ICHSAN KURNIAWAN,SP
foto : ICHSAN KURNIAWAN
 
Pertanian Organik. Istilah ini terasa mulai akrab belakangan ini di telinga kita. walaupun sebagian pihak masih meragukan keeksisan pertanian organik di tengah teknologi mutakhir yang notabene justru menghasilkan beragam pupuk siap pakai yang membuat petani tak perlu lagi bersusah payah membuat pupuk.

Pertanian organik sebenarnya apa sih ? Pertanian organik secara garis besar yakni pemanfaatan sumber daya lokal yang ada di sekitar petani guna petani memenuhi kebutuhan sarana produksi. Selain itu pertanian organik sendiri merupakan konsep pertanian ramah lingkungan yang meminimalisir bahkan menghilangkan pemakaian bahan kimia sintesis yang terbukti dapat merusak tanah dan lingkungan sekitarnya.

Sekarang mari kita coba renungkan. Kita ambil contoh persawahan. Apakah dewasa ini sawah sawah yang ada tidak semakin dangkal. Kenapa bisa terjadi demikian?
Beragam pupuk sintesis yang ada misalnya saja urea dianggap sebagai biang permasalahan ini. Mari kita tinjau. Urea sendiri merupakan pupuk dengan kandungan nitrogen 46 %. Lalu apa kandungan 54 % lagi sementara petani dengan memberikan urea artinya mengharapkan kandungan nitrogen yang 46 % itu sendiri (sesuai dengan yang tertera pada karung/ kemasannya).

Yup. Ini dia logikanya. Nitrogen 46 % membutuhkan pembawa atau kemasan berupa butiran yang kuat yang dapat menjadi tempatnya berada sebelum menyerap dan menyatu dengan tanah. Ibarat tabung gas. Lebih berat kemasannya yang berupa tabung besi dari pada gas nya. demikian juga dengan urea dan nitrogen di dalamnya.

Kenapa sawah menjadi dangkal. Mari kita ambil kembali analogi dengan tabung gas tersebut. Pemberian urea yang notabene mempunyai kemasan yang seperti dianalogikan. Kemasan urea sendirilah yang padat tersebut lama-lama menumpuk dan membuat tanah sawah menjadi keras walaupun memang nitrogen menyerap dan dipakai padi dalam perkembangannya. Namun efek terhadap tanah tersebut menyebabkan petani dari tahun ke tahun menjadi merana karena tanah menjadi semakin keras.

Dalam upaya untuk mengembalikan kondisi tanah tersebutlah, harus ada pengembalian kondisi seperti sedia kal sebelum tanah tersebut terkontaminasi. Pertanian organik dengan pemberian/ pengembalian bahan-bahan organik tanah akan lambat laun mengembalikan tanah sehingga tanah menjadi gembur dan subur kembali. 
Bahasan sedrhana di atas merupakan latar belakang kenapa Pertanian Organik ada. Hal tersebut tak lain dan tak bukan didasarkan dari logika situasi saat ini.

Selain itu penggunaan pupuk organik justru membunuh mikro organisme yang tadinya sangat berperan besar dalam menunjang kesuburan tanah.

Saatnya petani berpikir lebih kreatif demi masa depan. Jangan dininabobokkan oleh sarana prasarana siap pakai yang bermasalah dalam jangka waktu panjang. Permasalahan yang dihadapi petani saat ini baik dari segi lahan, hama penyakit dan lainnya harus dikaji secara logika. Demikian juga dengan ledakan hama penyakit. InsyaAllah akan kita bahas pada sesi dua secara mendalam.

Pemerintah Nagari Koto Gadang Perkuat Kelembagaan Tani

Rabu (4/2) Pemerintahan Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam melaksanakan pembinaan Kelompok Tani dan Perkumpulan Petani Pem...