Kamis, 14 Januari 2021

BAHAN ORGANIK TANAH

Bahan organik:  mencakup semua bahan yang berasal dr jaringan tanaman dan hewan, baik yang hidup maupun yg telah mati, pada berbagai tahana (stage) dekomposisi (Millar, 1955).  Bahan organik tanah: lebih mengacu pd bahan (sisa jaringan tanaman/hewan) yang telah mengalami perombakan/dekomposisi baik sebagian/seluruhnya, yg telah mengalami humifikasi maupun yg belum. Kononova (1966) dan Schnitzer (1978) membagi bahan organic tanah menjadi 2 kelompok, yakni: bahan yg tlah terhumifikasi, yg disebut sbg bahan humik (humic substances) dan bahan yg tidak terhumifikasi, yg disebut sbg bahan bukan humik (non-humic substances). Kelomp pertama lbh dikenal sbg “humus” yg merupakan hsl akhir proses dekomposisi bahan organic bersifat stabil dan tahan thd proses bio-degradasi (Tan, 1982). Terdiri atas fraksi asam humat, asam fulfat dan humin.  Humus menyusun 90% bag bahan organik tanah (Thompson & Troeh, 1978).  Kelomp kedua meliputi senyawa-senyawa organik spt karbohidrat, as amino, peptida, lemak, lilin, lignin, asam nukleat, protein.

Bahan organik tanah berada pada kondisi yang dinamik sbg akibat adanya mikroorganisme tanah yg memanfaatkannya sbg sumber energi dan karbon. Kandungan bahan organik tanah terutama ditentukan oleh kesetimbangan antara laju pelonggokan dengan laju dekomposisinya (Pal & Clark, 1989). Kandungan bahan organik tanah sangat beragam, berkisar ant 0,5% - 5,0% pada tanah-tanah mineral atau bahkan sampai 100% pada tana organik (Histosol) (Bohn, 1979). Faktor yg pengaruhi kand BO tnh adalah: iklim, vegetasi, topografi, waktu, bahan induk dan pertanaman (cropping). Sebaran vegetasi berkaitan erat dg pola tertentu dr agihan temperatur dan curah hujan. Pd wil yg CH rendah, mk vegetasi jg jarang shg akumulasi BO jg rendah. Pd wil yg temperatur dingin, mk keg mikroroganisme jg rendah shg proses dekomposisi lambat. Apabila terjadi laju pelonggokan bahan organik melampaui laju dekomposisinya, terutama pd daerah dengan kondisi jenuh air dan suhu rendah, mk kandungan bahan organik akan meningkat dengan tingkat dekomposisi yg rendah

Ciri dan kandungan bahan organik tanah merupakan ciri penting suatu tanah, krn BO tanah mempengaruhi sifat-sifat tanah melalui berbagai cara. Hasil perombakan bahan organik BO mampu mempercepat proses pelapka bahan2 mineal tanah; agihan (distribution) bahan organik di dlm tanah berpengaruh thd pemilahan (differentiation) horison. Proses perombakan bahan organik merupakan mekanisme awal yg selanjutnya menentukan fungsi dan peran bahan organik tsb di dlm tanah.

 

Gambar : Kelompok Tani Mubarakah (by Ichsan K)

Stevenson (1982) menyajikan proses dekomposisi BO dengan urutan sbb:

1.            Fase perombakan bahan organik segar. Proses ini akan merubah ukuran bahan menjadi lbh kecil.

2.            Fase perombakan lanjutan, yg melibatkan keg ensim mikroorganisme tnh. Fase ini dibagi lg menj bbrp tahana:

a.     tahana awal: dicirikan oleh kehil scr cpt bhn-bhn yg mudah terdekomposisi sbg akibat pembafaatan BO sbg sumber karbon dan energi oleh m.o. tnh, terutama bakteri. Dihslkan sejmlh seny sampingan (by products) spt: NH3, H2S, CO2, as organik dll.

b.      Tahana tengah: terbent seny organik tengahan/antara (intermediate products) dan biomasa baru sel organisme)

c.      Tahana akhir: dicirikan oleh terjadinya dekomposisi scr berangsur bag jaringan tnm/hewan yg lbh resisten (mis: lignin). Peran fungi dan Actinomycetes pd tahana ini sangat dominan

3.            Fase perombakan dan sintesis ulang senyawa senyawa organik (humifikasi) yg akan membentuk humus.


Jumat, 11 September 2020

MEMBUAT HIDROPONIK SEDERHANA MEDIA BAMBU

by : ICHSAN KURNIAWAN,SP

Berkebun hidroponik akhir akhir ini cukup digandrungi. Selain banyak keuntungan, budidaya ini dirasa lekat dengan sistem perkotaan. Namun metode ini tetap memerlukan biaya yang tidak sedikit karena biaya pembelian pipa yang lumayan. Nah kali ini kita bisa memanfaatkan Bambu sebagaipengganti Pipa bambu tumbuh banyak disekitar kita jadi tinggal tebang dan bikin.




Selengkapnya di Channel Ichsan KJ
https://www.youtube.com/watch?v=Jx00JFMN-zY&t=23s

Senin, 07 September 2020

JAMBU BIJI MINI DALAM POT RAJIN BERBUAH

 JAMBU BIJI MINI DALAM POT RAJIN BERBUAH

Jambu biji mini adalah salah satu tanaman buah dalam pot yang susah gampang dalam merawatnya. TIPS RUMAHAN ICHSAN KJ berbagi video jambu biji yang berbuah lebat dan rutin. Pengalaman kami merawat dari mulai kena penyakit sampai akhirnya sehat dan rajin berbuah 2 kali setahun.


Jangan lupa subscribed untuk dapat berpartisipasi membangun chanel ini.

Kamis, 28 Mei 2020

CARA CEPAT MENUMBUHKAN SEMAIAN BIJI ANTHURIUM GELOMBANG CINTA

 Masih bingung mau memperbanyak Gelombang Cinta.. Silahkan ikuti cara cepat menumbuhkan semaian biji Anthurium ini melalui kanal Youtube Ichsan KJ di https://www.youtube.com/watch?v=4JyHk7RbkVg



Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

Kamis, 09 April 2020

Antisipasi Dampak Pandemi Covid-19, BPP Tilatang Kamang bagi-bagi Benih Sayuran kepada Masyarakat

 Bupati Agam menghimbau melalui Distan Agam terkait Ketahanan Pangan Keluarga di tengah Pandemi Covid-19. BPP Tilatang Kamang atau BPP Gobah membagikan ragam benih sayuran sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat tani sekaligus merangsang petani untuk mengoptimalkan penyediaan bahan dapur di pekarangan. Pertanian tidak berhenti.



(Vid by Ichsan KJ)

Jumat, 13 Desember 2019

DRYER UV, SOLUSI PENGERINGAN PADI MUSIM PENGHUJAN


Musim penghujan menjadi salah satu kendala terhadap kegiatan pasca panen komoditi padi sawah. Komoditi yang menjadi induk dari komoditi pangan tanah air ini mengalami permasalahan pelik sejak hujan hampir turun setiap hari. Proses pengeringan yang konvensional dengan mengharapkan sinar matahari terganggu sehingga mengakibatkan rangkaian kegiatan produksi beras pun melambat dan memakan waktu cukup panjang. Termasuk di wilayah dengan luasan padi sawah yang cukup besar seperti Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam.

Namun di tahun 2019, Kementan melalui Ditjen Pangan dan Dinas TPHP Sumbar serta Dinas Pertanian Kabupaten Agam membantu alat pengeringan alternative yang cukup menjadi solusi terhadap permasalahan tersebut. Kelompok Tani Fajar Indah, Nagari Kapau Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam adalah salah satu kelompok yang beruntung menerima bantuan tersebut dan merasakan manfaat dari keberadaan bangunan Dryer UV ini. Hal ini diungkapkan Alwel Kamis (12/12/2019) di sela kunjungan PT ASABI ke lokasi Dryer UV, Ketua Kelompok Fajar Indah mengakui telah merasakan efektifitas dan efisiensi penggunaan Dryer UV di tengah kondisi cuaca yang sering hujan ini. Sementara Pihak Dinas Pertanian Kabupaten Agam memberikan dukungan penuh demi mengatasi kendala produksi usaha tani di tingkat petani dengan menyampaikan semua usulan/proposal yang disusun Kelompok Tani bersama Penyuluh Pertanian di lapangan berdasarkan identifikasi kebutuhan di tingkat petani.



Dok. BPP Kecamatan Tilatang Kamang (2019)

Diperkenalkan PT Agricon Sentra Agribisnis Indonesia (ASABI) yang bekerjasama dengan Kementrian Pertanian, Rumah Pengering Suryakancana (sebutan untuk pengering) ini memanfaatkan efek rumah kaca dengan fasilitas plastic UV untuk membuat kondisi pengeringan tetap stabil dalam menghantar panas sehingga mampu membantu kegiatan pengeringan meskipun dalam kondisi hujan. Kelebihan Dryer UV sebagai rumah pengering ini yakni lebih efektif dan efisien. Selain itu bangunan ini ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan baku listrik dan lebih ekonomis bebas hama tikus dan serangga serta mudah pemeliharaannya.

Jika gabah yang dijemur, maka kualitasnya menjadi lebih baik. Misalnya, saat panen kadar air gabah mencapai 24 persen. Untuk mengeringkan hingga kadar air 14 persen hanya perlu 2-3 hari sudah kering. Perbedaan suhu di luar bangunan dan di dalam Rumah Pengering Suryakancana berkisar antara 5-10 derajat. Jadi, dengan bantuan Rumah Pengering Suryakancana, proses pengeringan dapat tetap berjalan walaupun cuaca hujan. Pada saat kondisi cuaca cerah pengeringan dapat dilakukan selama 2-3 hari.

Dengan manfaat yang cukup besar ini, mudah-mudahan ke depan Kementrian Pertanian melalui Ditjen Pangan dapat menyalurkan kembali bantuan pengering seperti Dryer UV untuk unit-unit RMU yang dikelola Kelompok Tani sehingga kendala hujan tidak lagi memperlambat proses produksi beras.

Kamis, 26 September 2019

Mengenal Spodoptera frugiperda, Hama Baru pada Jagung

 oleh ICHSAN KURNIAWAN,SP

Spodoptera frugiperda atau Fall Armyworm (FAW) adalah hama jenis baru di Indonesia. Hama ini menyerang tanaman jagung. Dikenal dengan sebutan ulat grayak (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) atau Fall Armyworm, hama ini muncul mulai tahun 2018. Pada tahun tersebut, FAW masuk Benua Asia di kawasan India, Myanmar, dan Thailand. Sekitar bulan Maret tahun 2019 serangan dilaporkan dengan tingkat berat justru memasuki Provinsi Sumatera Barat tepatnya di Kabupaten Pasaman Barat, selanjutnya menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Di Kabupaten Agam sendiri, hama ini juga muncul berdekatan dengan kemunculannya pertama kali di Sumbar. Penulis yang bertugas di Kecamatan Tilatang Kamang, pertama kali menemukan kasus bersama Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) setelah mendapatkan laporan sekitar awal September 2019 dan langsung melakukan pengamatan serangan di lapangan.

Sebagai jenis hama baru yang menyerang pertanaman jagung, ulat grayak atau Spodoptera frugiperda ini eksistensinya sudah menjadi ancman berat bagi para petani jagung di Negara kita. Hama ini mejadi momok menakutkan dikarenakan dapat merusak tanman jagung dalam waktu singkat. Hal ini membuat informasi melalui pengamatan langsung di pertanaman jagung atau sistem scounting sangatlah penting sekali yang selanjutnya akan melahirkan gerakan pencegahan dan pengendalian yang dilakukan secara dini.

Sejauh ini mayoritas pengendalian UGJ banyak mengandalkan insektisida. Di Afrika insektisida yang sering digunakan adalah lambda-cyhalothrin, cypermethrin, chlor- pyrifos ethyl, emamectin benzoate, ethyl palmitate, monocrotophos, malathion (Rwomushana et al. 2018). Pengendalian insektisida memang merupakan pengendalian jangka pendek yang dapat digunakan dengan cepat untuk mengatasi meluasnya persebaran hama ini dengan cepat. Namun penggunaan insektisida seyogyanya tidak dapat digunakan dalam jangka panjang secara terus menerus karena memiliki beberapa dampak negatif seperti: dapat membunuh serangga non-target, menyabkan resistensi, dan meningkatkan biaya produksi (Ruíz-Nájera et al. 2007; Day et al. 2017; Prasanna et al. 2018).


dok. Ichsan Kurniawan,SP BPP Tilatang Kamang (24 September, 2019)

Sampai saat ini, petani di Indonesia sangat mengandalkan penggunaan pestisida sintetik. Padahal beberapa penelitian telah menunjukan bahwa resistensi ternyata cepat sekali terbentuk di populasi UGJ. Kumela et al. (2018), menemukan bahwa hasil penggunaan pestisida pada UGJ teryata kurang efektif karena resistensi cepat terbentuk. Resistensi ini juga ditemukan terjadi pada populasi S. frugiperda dari Indonesia. Resistensi diakibatkan oleh mutasi gen yang berpotensi resisten terhadap insektisida piretroid, organofosfat dan karbamat (Boaventura et al. 2019). Di negara lain seperti Brazil dan Puerto Rico telah ditemukan mutasi gen yang berpotensi menimbulkan resistensi terhadap emamektrin benzoat, diamida, organofosfat, siponosin, benzoylureas (Boaventura et al. 2019), dan spinosad (Lira et al. 2019) serta insektisida dengan bahan aktif Bt (Bacillus thuringiensis) (Jakka et al. 2019).

Beberapa tanda dan gejala terjadinya serangan ulat grayak antara lain Pada tanaman terdapatnya tanda gesekan yang berbekas dari larva atau ulat, selain itu pada permukaan atas dari daun atau daerah di sekitaran pucuk tanaman, akan didapati serbuk kasar yang bentuknya menyerupai serbuk gergaji. Bagian pucuk tanaman jagung ini akan rusak, begitu juga dengan daun muda sehingga akan berakibat tanaman akhirnya mati. Peningkatan populasi yang cepat akan mengakibatkan serangan juga meluas ke bagian tongkol. Secara umum akan menyebabkan gagal tumbuh atau panen.

Mencari dan mengumpulkan kelompok telur dan dihancurkan dengan tangan adalah uspaya mekanis yang dapat dilakukan pada tanaman yang terserang. Monitoring lahan seminggu dua kali di masa vegetatif, terutama pada saat tingginya peletakan telur. Larva muda sebaiknya diambil sebelum melakukan penetrasi lebih jauh. Untuk pengendalian hayati dapat dilakukan dengan menjaga musuh alami tetap hidup. Begitu juga dengan predator dari Spodoptera ini yang diantaranya Cocopet (Dermaptera: Forficulidae), Kumbang Kepik (Coleoptera: Coccinellidae), Kumbang Tanah (Coleoptera: Carabidae),  Semut (Hymenoptera: Formicidae). Cara ini ditempuh dengan pelestarian Mikro Organisme Lokal atau pengkoleksian MOL seperti cendawan Beauviria bassiana dan Metharizium. Dalam pemakaian pestisida sesuai dengan literature dan hasil pleno pestisida di tingkat Pusat, maka pemakaian pestisida adalah dengan bahan aktif Emamektin benzoate Siantraniliprol Spinetoram dan Tiametoksam.

Semoga tulisan ini dapat membantu dalam mengendalikan atau bahkan kita dapat mencegah serangan hama ini meluas di Kabupaten Agam secara umum, khususnya di Kecamatan Tilatang Kamang yang dengan luasan tanam jagung cukup luas tersebar pada ketiga Nagari yakni Koto Tangah, Kapau dan Gadut.

Pemerintah Nagari Koto Gadang Perkuat Kelembagaan Tani

Rabu (4/2) Pemerintahan Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam melaksanakan pembinaan Kelompok Tani dan Perkumpulan Petani Pem...